Terpaksa Menikahi Wanita Malam

Terpaksa Menikahi Wanita Malam
Bagaimana Alex?


__ADS_3

Veren mengubah posisi duduknya. Kini mereka saling berhadapan, saling menatap tapi tidak tahu apa yang ada dipikiran mereka masing-masing.


Alex tersenyum, dia menyelipkan rambut Veren kebelakang telinganya.


" Kenapa kau tidak menjawab? "


" Aku merasa bagian ini sangat bagus saat ada tato. "


Alex mengangguk meski dia tidak paham dengan alasan Veren. Meskipun sekarang dia adalah suaminya, tapi tubuh Veren tentu saja miliknya. Apa yang ingin dia lakukan dengan tubuhnya dia tidak boleh melarangnya, asalkan tidak berbahaya maka itu juga tidak akan Alex permasalahkan.


Setelah kegiatan mandi bersama mereka selesai dan sudah memakai baju untuk tidur, kini mereka sudah berada di tempat tidur. Mereka saling menghadap dan saling melempar senyum. Memang seperti mimpi apa yang terjadi sekarang ini. Ini untuk pertama kali bagi Alex bisa merasakan bagaimana melakukan kegiatan mandi, dan setelah mandi bersama wanita. Mengeringkan rambut bergantian, dan memakai perawatan tubuh sebelum tidur.


Lama kelamaan, mereka semakin mendekat karena suhu ruangan yang semakin dingin saat bertambahnya jam berlalu. Kini mereka tertidur lelap sembari saling memeluk.


Pagi hari.


Alex mengajak Veren untuk ikut sarapan. Tentu pada awalnya dia menolak, tapi karena Kevin terus bersikeras, maka Veren juga lelah untuk menolak lalu mengikuti saja titah suaminya. Sesampainya di meja makan tatapan Angel dan Ibu Mila jelas sekali begitu tak suka. Hah! tapi ya sudahlah, Veren sudah terbiasa dengan tatapan seperti itu. Eh, tapi tatapan itu ternyata bukan hanya tertuju padanya, tapi juga tertuju kepada Alex. Kenapa? tentu karena leher Alex dan Veren sama-sama memiliki banyak bekas ciuman. Sebenarnya Veren cukup malu karena ini, bahkan dia tidak bisa mengelak jika dia juga mengganas saat melakukan itu dengan Alex. Sebenarnya bukan hanya di leher Alex saja, tapi bagian dada mereka berdua juga banyak sekali tanda merah, dan yang paling terlihat jelas adalah di bagian rahang agak bawah sedikit tanda merah begitu nyata di kulit Alex.


Tak ada yang bicara, baik Angel ataupun Ibu Mila hanya menikmati makanan mereka meski hanya sesuap dua suap. Iya, tahu sekali kalau mereka pasti tidak nafsu makan karena melihat itu, tapi mau bagaimana lagi? saat sedang di buai rasa nikmat berhubungan badan kan bisa membuat orang lupa diri.


" Kau mau pergi hari ini? " Tanya Alex setelah selsai dengan sarapannya.


" Iya, aku ingin menemui Sofia, boleh? " Veren menjauhkan piringnya karena dia juga sudah selesai sarapan.


" Baiklah, aku akan mengantar mu kesana, baru aku ke kantor. " Ucap Alex seraya mengusap kepala Veren lembut. Veren tersenyum lalu mengangguk.


Angel dan Mila kompak menjauhkan piringnya. Angel yang masih bengkak karena menangis semalaman, kini hanya bisa membiarkan saja airmatanya jatuh. Sebenarnya Alex melihat bagaimana Angel menatapnya dengan begitu menyedihkan, tapi dia juga tidak mau lagi dikalahkan oleh ancaman-ancaman janji masa lalu yang tiada habisnya. Kasihan, tentu saja dia merasa kasihan, tapi mau sampai kapan? sekarang memang menangis, tapi saat mereka beradu argumen, Angel akan mnejadi garang dan kebiasaan melempar barang-barang pasti akan terjadi. Maka itulah Alex memilih untuk menghindari pembicaraan bersama Angel. Dan lagi, dia juga masih perlu menaklukan hati Veren dan mencari tahu apa yang terjadi di masa lalu mereka berdua.

__ADS_1


Empat puluh lima menit menempuh perjalanan, akhirnya Veren dan Alex sampai di kediaman Tuan Haris atau Ayah kandung Alex.


" Aku tidak ikut masuk tidak apa-apa kan? aku buru-buru karena ada meeting setengah jam lagi. "


" Tidak apa-apa, aku turun sekarang. Hati-hati di jalan, suami. " Ucap Veren lalu membuka pintu mobil.


" Tunggu! " Cegah Alex seraya menahan lengan Veren.


" Iya? " Veren menatap Alex dengan tatapan bertanya.


Alex menarik pelan lengan Veren agar posisi tubuhnya mendekat padanya, laku mengecup bibir Veren. Sebenarnya ini bukanlah ciuman pertama mereka, tapi tidak tahu mengapa mereka berdua merasa begitu gugup.


Veren berdehem untuk mengusir kecangungannya.


" Suami, aku keluar sekarang ya? "


Alex terdiam, matanya masih menatap Veren lekat.


Veren tersenyum lalu mengangguk. Tak mau membuang waktu lagi, dia mendekatkan lagi tubuhnya, lalu bergegas mengecup bibir Alex.


" Seperti ini? "


" Iya. " Alex menahan tengkuk Veren laku menciumnya lagi.


Setelah lumayan puas berciuman, mereka akhirnya berpisah untuk melakukan kegiatan mereka.


Veren menarik nafas dalam-dalam sebelum memasuki rumah besar man mewah milik Tuan Haris. Untungnya, Veren sudah memberikan kabar kepada Sofiana, jadi dia tida perlu menunggu di luar dan bisa langsung masuk ke dalam.

__ADS_1


" Ibu! " Denzo berlari menghampiri Veren yang baru saja masuk ke ruang tamu. Layaknya seorang Ibu, Veren yang sudah sangat merindukan putranya merentangkan tangan menyambut sang anak yang berlari ke arahnya ahar bisa langsung memeluknya erat.


" Ibu, aku merindukan Ibu. " Ucap Denzo saat tubuh mereka erat saking memeluk.


" Ibu juga, sangat merindukan mu. Mulai hari ini, Ibu akan datang setiap hari menemui mu ya? " Denzo mengangguk dengan semangat. Cukup lama mereka bersama menghabiskan waktu untuk melepas rindu, dan kini Denzo tengah bermain bersama dengan Sofiana. Veren dan Nyonya Nehra kini tengah duduk di bangku taman sembari menatap Sofiana dan Denzo.


" Veren, bagaimana suasana di sana? " Tanya Nyonya Nehra. Sejenak dia tersenyum, lalu meraih cangkir teh yang disediakan oleh pelayan untuk mereka berdua.


" Seperti yang ada di bayangan Ibu mertua. Mereka berdua sangat kompak sebagai menantu dan mertua. " Jawab Veren.


Nyonya Nehra meletakkan kembali cangkir teh yang baru saja ia minum sedikit. Dia tersenyum meski yang terlihat di mata Veren adalah gambaran tentang bagaimana sulitnya hidup karena harus terikat dengan mantan istri suaminya itu.


" Veren, kau adalah orang yang pertama membuatku merasa yakin. Dati awal aku melihatmu, aku bisa merasakan ketulusan, kesedihan, dan betapa kuatnya dirimu. Aku yakin, bahkan amat sangat yakin jika kau pasti bisa dengan mudah mendapatkan apa yang kau inginkan. "


Veren tersenyum pilu.


" Tidak, Ibu mertua. Aku tidak sehebat itu. Jika aku memang sehebat itu, aku tidak akan membiarkan orang-orang yang aku cintai meninggalkan ku. "


Nyonya Nehra meraih tangan Veren, lalu menggenggamnya dengan hangat.


" Veren, aku memang tidak tahu apa yang terjadi dengan masa lalu mu. Tapi aku yakin kau pasti bisa menghadapi semua ini. Tutup matamu, dan biakan hatimu yang merasakannya. Karena terkadang, apa yang kita lihat belum tentu sama seperti apa yang terjadi pada kenyataannya. "


Veren terdiam. Sebenarnya inilah yamg ia rasakan tentang Alex. Mungkinkah hatinya lebih bisa merasakan yang sesungguhnya?


" Ibu mertua, menurut mu Alex adalah orang yang seperti apa? "


Nyonya Nehra tersenyum.

__ADS_1


" Kau sudah merasakannya kan? seperti apa Alex, kau sudah mulai tahu. "


TBC


__ADS_2