Terpaksa Menikahi Wanita Malam

Terpaksa Menikahi Wanita Malam
Tanggung Jawab


__ADS_3

Veren terdiam dengan goncangan di hati yang begitu menyakitkan untuknya. Hari ini dia sengaja mengunjungi kediaman Tuan Haris karena Denzo merindukan Sofiana dan juga nenek dan kakeknya. Tapi siapa sangka, sesampainya disana Nyonya Nehra malah sedang kebingungan dan khawatir karena Putrinya seharian mengurung diri di kamar. Tidak makan, minum, apapun itu karena semua orang yang datang tidak di izinkan masuk olehnya.


Veren awalnya juga di usir oleh Sofiana, tapi karena bujukan lembut Veren, akhirnya dia di perbolehkan masuk, dengan catatan hanya Veren saja yamg boleh masuk menemuinya. Nyonya Nehra dan Tuan Haris memilih untuk menunggu saja di luar, dan nantinya akan bertanya melalui Veren.


" Sofi? " Veren begitu terkejut melihat kacaunya keadaan adik iparnya itu. Bukan hanya tubuhnya saja yang kacau, tapi juga seisi kamar sudah hancur berantakan di buatnya.


Veren berjalan mendekati Sofiana yang kini kembali duduk meringkuk di ujung ruangan. Matanya bahkan sangat sembab, sepertinya dua hari terakhir ini Sofiana tidak berhenti menangis.


" Ada apa? " Veren meraih tubuh Sofiana dan memeluknya erat. Ya Tuhan, tubuhnya bahkan terasa begitu dingin dan gemetar.


" Aku, aku, aku sudah hancur, kakak. " Jawan Sofiana tersedu-sedu.


Veren mengurai pelukannya, hancur? entah mengapa kini tubuhnya lah yang jadi gemetar. Veren jadi teringat saat Alex tak sengaja menodainya dulu, dan beginilah Veren, sama persisi seperti Sofiana yang terlihat kacau dan hancur.


Veren menarik nafas dalam-dalam, dia menelan salivanya sebelum benar-benar melihat bagaimana kondisi tubuh Sofiana. Pertama dia menatap dua bola mata Sofiana yang jelas sekali terlihat menderita. Kemudian satu persatu dia teliti, sampai akhirnya dia melihat keadaan bibir Sofiana yang pecah seperti bekas gigitan seseorang. Veren kini mulai tak bisa menahan nafasnya yang semakin cepat karena dia sendiri takut jika apa yang dia pikirkan benar. Tak mau mempercayai bagian bibir saja, Veren kini menurunkan pandangannya, perlahan dia melihat tanda bekas ciuman yang tertinggal di bagian leher Sofiana. Tidak! Veren masih menolak untuk percaya, sampai akhirnya dia membuka kemeja yang digunakan Sofiana.


Bruk!


Veren terjatuh lemas dihadapan Sofiana. Ini adalah hal yang paling menakutkan bagi seorang gadis. Melihat banyaknya tanda merah di sekujur tubuh Sofiana, tentu dia paham apa yang terjadi sekarang. Hancur? iya, dia sangat hancur dan sedih meski Sofiana bukan adik kandungnya. Rasanya dia ingin ikut menangis berbarengan dengan adik iparnya, tapi tentu saja dia menhan nya agar tidak semakin membuat Sofiana menderita.


" Kakak? " Sofiana semakin tidak bisa menahannya lagi, dia semakin tersedu-sedu saat melihat Veren yang begitu syok karena melihat tubuhnya.


Veren tersadar, dia dengan cepat meraih tubuh Sofiana, memeluknya erat dan mengusap punggungnya lembut.


" Semua akan baik-baik saja. Aku, Ayahmu, dan Ibumu akan selalu ada untukmu. Kau adalah gadis yang kuat, semua akan berlalu, semua akan membaik. "

__ADS_1


" Tidak mungkin, bagaimana aku bisa membaik setelah ini kakak? bagaimana aku bisa menghadapi Ibu? bagaimana aku bisa membantah tuduhan dan kutukan Nyonya Mila kalau aku seperti ini? aku tidak mau kakak! aku tidak sanggup melihat Ibu. " Sofiana semakin tak kuasa menahan tangisnya yang begitu pecah.


" Aku tahu, aku tahu rasanya, Sofi. Semua akan baik-baik saja seiring berjalannya waktu. Sekarang ada aku, ada Ibumu juga yang tidak akan tinggal diam jika ada yang menyakitimu lagi. Aku janji akan melindungi mu. " Sejujurnya, Veren juga terus saja menitihkan air mata dari balik punggung Sofiana. Meskipun dia sudah bersama Alex yang kini begitu baik padanya, tapi ingatan tentang rasa sakit itu masih saja bisa ia rasakan sampai detik ini.


Veren tak lagi meminta Sofiana tenang, dia membiarkan saja gadis di dalam pelukannya menangis sekencang yang dia inginkan. Barulah setelah dia mulai tenang, Perlahan-lahan Veren mulai menanyakan apa yang terjadi, dan siapa yang melakukanya.


Duar.......!


Mungkin inilah istilah yang bisa diceritakan, tersambar jutaan petir di tengah badai, belum lagi ada anak panah yang menembus melubangi dada. Erick, nama itulah yang kini Veren pikirkan setelah Sofiana menceritakan segalanya, dan juga ciri-ciri pria yang menodainya.


Ingin marah, ingin melampiaskan dengan menghancurkan sesuatu, tapi dia juga tidak bisa melakukanya di depan Sofiana yang sedang terluka fisik dan mental. Setelah Veren memberi tahu kejadian ini kepada Tuan Haris dan Nyonya Nehra, dia kini bergegas menuju ke parkiran mobil dan bersiap untuk menemui Erick.


Di dalam perjalanan dia hanya bisa menangis membayangkan wajah Nyonya Nehra yang terlihat begitu hancur, Tuan Haris yang biasanya berwajah dingin dan datar juga nampak begitu terluka. Bayangan, serta tangisan Sofiana seolah memenuhi kepalanya saat ini.


" Erick, kenapa kau tidak bisa menahan diri? kau bukanlah laki-laki yang mudah untuk terpancing hanya dengan tubuh wanita. Kau bahkan sudah menolak jutaan wanita, tapi hanya karena ingin membalas perbuatan kakaknya, kau sampai melakukan sejauh ini? " Veren mengusap air matanya yang berjatuhan membasahi pipinya. Meskipun dia tidak memiliki rasa cinta, tapi Veren sungguh merasakan kenyamanan berkat pria gigih dan penyayang itu. Jelas sekali dia bisa mengingat bagaimana Erick begitu berkarisma, sifatnya dingin tapi dia selalu menghargai wanita, tapi kenapa bisa seperti ini? bukankah secara tidak langsung, Veren adalah penyebab semua ini terjadi?


" Where are you? " Tanya Veren setelah panggilan telepon terhubung.


Babe, aku sedang makan siang bersama rekan bisnis.


" Mari bertemu setelah selesai. "


Ini sudah akan selesai, kau dimana?


" Di parkiran apartemen. "

__ADS_1


Bisakah menunggu satu jam? aku perlu waktu untuk kesana dengan satu jam.


" Biarkan aku yang datang kesana. Kirim saja alamatnya. "


Setelah mendapatkan alamat dari Erick, kini Veren bergegas mengemudikan kembali mobil yang ia tunggangi, dan menuju dimana Erick berada. Satu jam susah berlalu, Veren akhirnya kini bisa bertemu dengan Erick di sebuah restauran yang ada di hotel bintang lima.


" Hei? " Sapa Erick saat Veren datang menghampirinya. Dia juga bangkit hendak memberikan ciuman bibir seperti biasanya, tapi Veren menolehkan wajahnya menghindari ciuman itu.


" Ada apa? " Tanya Erick menatap wajah Veren.


" Kenapa, kau melakukan itu? " Veren kini tidak tahan lagi untuk tidak menitihkan air mata. Pandangannya begitu pilu seolah dia amat kecewa dengan apa yang dilakukan oleh Erick.


" Sorry, aku mengaku salah. Bisakah jangan menangis, Vero-ku? " Erick menyeka air mata Veren yang seakan tumpah begitu saja saat mendengar kalimat Erick yang selalu seperti itu kalau Veren sedang bersedih.


" Erick, aku begitu mempercayai mu, aku tidak pernah mempercayai seseorang seperti aku mempercayaimu, kenapa? kenapa kau tega melakukan ini? "


" Ini salahku. Aku hanya- "


" Temui dia, dan bertanggung jawablah atas apa yang kau lakukan padanya. "


Erick menatap bola mata Veren yang begitu bersungguh-sungguh.


" Are you sure? "


" Ya! "

__ADS_1


" Aku, tidak mau! "


TBC


__ADS_2