
Setelah berbicara dengan Ibu Mila, Alex bergegas menemui Veren untuk memberikan makanan untuknya. Saat dia akan menyentuh handle pintu, samar-samar Alex mendengar suara Veren yang tengah berbicara. Sudah pasti, Veren sedang berbicara melalui sambungan telepon. Dia memutuskan untuk diam sesaat menunggu Veren selesai bicara dan mendengarkannya.
" Aku tahu, setelah semuanya selesai, aku akan segera meninggalkan rumah ini dan bercerai dari Alex. " Pembicaraan terjeda karena Erick tengah berbicara dari telepon.
" Maaf, aki tidak kesulitan berada di rumah ini. Baiklah, sampai jumpa. "
Veren menggenggam erat ponselnya. Dia terdiam mematung, memikirkan bagaimana dan apa yang harus dilakukan. Awalnya dia berniat membuat keluarga ini kacau. Benar, ini sudah mulai terjadi. Tapi hatinya terus saja berubah dan goyah karena Alex. Tentu dia paham benar jika perasaannya tidak bisa dibohongi.
Veren menghela nafasnya.
" Apa yang harus aku lakukan sekarang? kenapa aku goyah? kenapa hatiku mulai tidak rela? " Gumam Veren yang kini mulai tertunduk bingung.
Alex yang mendengar itu semua merasa kesal. Jika saja perasaan yang tidak biasa itu tidak muncul, mungkin ucapan Veren barusan adalah angin segar yang akan membawa kehidupannya seperti dulu. Tapi, saat ini benih-benih rasa itu mulai tumbuh subur di hatinya, bagaimana bisa dia akan menerima semua ini?
Veren, kau sendiri yang masuk kedalam hidupku. Aku tidak memaksamu, jika masalahmu adalah ingin balas dendam, maka kau pasti membenciku. Sekarang, biarkan saja kau semakin membenciku, dengan begitu kau akan tetap bertahan disini untuk membalas ku.
Alex membuka pintu kamar Veren, dia menatap lekat Veren yang kini tengah berbalik menatap nya. Veren meletakkan ponselnya di ranjang tidur, lalu berjalan mendekati Alex.
" Suami? tepat waktu sekali, aku sudah sangat lapar. "
Alex menatap Veren dengan dahi yang sedikit mengeryit.
" Sama, aku juga lapar. "
Veren tersenyum.
" Kalau begitu, kita makan bersama saja. "
" Tentu saja. "
Veren menadahkan tangannya agar Alex menyerahkan boks makanan yang tengah ia jinjing. Tapi kini Veren hanya bisa menatap bingung ke wajah Alex karena Alex justru meletakan boks makanan itu ke meja lampu tidur, lalu menatapnya dengan tatapan yang tidak biasa. Marah, itulah yang bisa Veren artikan.
" Suami? ada apa? " Veren menelan salivanya. Sungguh dia sama sekali tidak pernah merasa tertekan hanya karena tatapan seorang laki-laki.
" Menurutmu, aku kenapa? " Tanya Alex, pria itu menatap dingin sembari membuka kancing lengan kemejanya, lalu beralih ke kancing kemeja bagian depan.
" Suami, kau mabuk? " Veren memundurkan langkahnya saat Alex terus mendekatinya hingga tubuh mereka hampir menempel. Karena mencium bau alkohol, Veren yakin jika Alex pasti sangat mabuk saat ini. Tapi, bukankah belum lama dua menghubungi Alex, dan Alex juga baik-baik saja kan.
__ADS_1
Alex tak menjawab pertanyaan Veren, setelah kancing kemejanya terbuka separuh, dia meraih pundak Veren. Ditatap nya lekat kedua bola mata Veren.
" Kau, adalah istriku. Sekarang lakukan tugasmu sebagai istri. "
" Tunggu, suami em! "
Veren tidak bisa lagi melanjutkan kata-katanya, karena mulutnya kini tengah dibungkam rapat menggunakan bibir Alex. Tentu saja Veren memberontak, tapi saat tangan Alex menahan pinggang dan tengkuknya dengan kuat, dia sama sekali tidak bisa melepaskan diri.
" Em! " Anya sedetik ciuman itu terlepas, tapi Alex lagi-lagi melakukanya.
Brengsek! aku benar-benar tidak bisa lepas.
Veren ingin sekali lagi memukul dada Alex dengan kuat, tapi saat matanya tak sengaja melihat ke pintu yang tidak tertutup rapat, dia mengurungkan niatnya. Iya, Angel lagi-lagi tengah mengintip sembari menahan suara tangis karena ia membekap mulut menggunakan telapak tangannya.
Veren menggerakkan kedua tangannya untuk memeluk tengkuk Alex, dia dengan sengaja merespon ciuman Alex. Tentu saja Alex semakin tidak bisa menahan diri. Dia memeluk erat pinggang Veren, lalu menuntunnya untuk menuju ke tempat tidur. Hanya butuh beberapa langkah saja, sekarang Veren dan Alex sudah berada di tempat tidur.
" Maaf, tapi aku harus melakukan ini. Sekarang kau harus ingat dengan benar siapa dan apa posisimu sebenarnya. Hal yang sudah dianggap sebagai bagian dari hidupku, tidak akan aku biarkan lepas kecuali aku menginginkannya. " Ucap Alex lirih.
Veren memang mendengarnya, tapi dia sama sekali tidak konsentrasi karena matanya sebentar-sebentar dia harus melirik ke arah pintu untuk memastikan bahwa Angel sudah pergi. Sayang sekali, dia masih betah disana meski matanya sudah bercucuran air mata.
Alex yang beruntung malam ini benar-benar tidak mau melewatkannya. Dress tidur yang Veren gunakan benar-benar begitu mudah untuk ditanggalkan. Ditambah lagi, Veren tidak menggunakan bra, jadilah semuanya lebih mudah untuknya.
Sialan! kenapa juga dia tidak mau pergi?!
" Ah! " Kaget Veren saat bagian intinya diterobos oleh Alex.
Sialan! gara-gara terus memperhatikan Angel, aku sampai tidak menyadari kalau posisi kami sudah begini.
Beberapa saat kemudian.
Alex menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Veren setelah ia menuntaskan kegiatannya. Veren juga hanya bisa diam membiarkan saja Alex disana. Benar-benar tidak bisa dipercaya, bagaimana bisa dia begitu menikmati apa yang mereka lakukan hingga tidak menyadari kapan Angel pergi dari sana.
Apa jiwa wanita murahan sudah mulai masuk kedalam tubuhku?
" Maaf. " Alex mengecup kening Veren dengan lembut. Dia menempelkan keningnya bersamaan dengan kening Veren, di tatapnya lagi bola mata indah milik Veren.
Aku benar-benar tidak bisa berkata-kata. Ini aku yang murahan, atau pria ini sangat mahir? aku bahkan sampai merasakan puncak, padahal sebelumnya aku begitu sulit untuk merasakan puncaknya.
__ADS_1
" Kau istirahat dulu ya? aku akan memanaskan makanan mu. " Alex sudah akan bangkit dari atas tubuh Veren, tapi Veren menahannya.
" Suami, aku tanpa sadar membuat tanda merah di lehermu. Apa kau tidak takut? "
" Dengan siapa? " Tanya Alex.
" Dengan istri senior. "
Alex menghela nafasnya.
" Jangan bicara yang aneh-aneh, tetaplah disini, aku akan memanaskan makanan mu dulu. "
" Memang kalau tidak disini, aku harus kemana lagi? " Ujar Veren.
" Baguslah. " Setelah memakai pakaiannya, Alex kini berjalan keluar untuk menuju dapur, lalu memanaskan makanan untuk Veren.
Veren menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskan perlahan. Dia memegangi kepalanya yang mulai pusing.
" Bagaimana ini? otakku selalu ingin menggerakkan tubuhku agar bekerja sama untuk membalas dendam, tapi kenapa tubuh sialan ini berkhianat?! dengan tidak tahu malunya malah begitu menikmati. " Veren kembali menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur.
Di dapur.
Alex mengatur nafas sembari memegangi dadanya. Kenapa? dia sangat gugup setelah selesai tadi. Takut kalau Veren marah, tapi untunglah tidak seperti yang ada di bayangannya.
" Tuan, biarkan saya saja. " Ucap salah satu pelayan rumah yang melihat Alex kebingungan mencari cara untuk menyalakan kompor.
" Itu, biarkan aku saja. Tapi tolong nyalakan kompornya. "
" Baik. "
" Tuan, Bagaiamana kalau kami memasak makanan yang baru saja? " Usul pelayan itu.
" Tidak usah, istriku tidak mau memakan makanan rumah ini. "
Pelayan itu mengeryit bingung.
" Tapi Nona muda makan malam tadi. "
__ADS_1
" Veren, bukan Angel yang aku maksud. "
TBC