
Kesal, tapi harus menahannya. Seperti itulah yang di rasakan Alex. Sudah sepuluh menit dia menemani Seli tanpa obrolan yang jelas. Bahkan dengan percaya dirinya Seli menceritakan semua kenangan saat mereka melakukan perjalanan bisnis bersama. Entah itu yang ke luar kota, di satu daerah, juga saat di luar negeri. Muka tembok! rasanya kata-kata itu sangatlah cocok untuk Seli saat ini.
" Tuan, maaf karena sedari tadi tuan hanya mendengarkan saya menceritakan hal yang tidak penting bagi Tuan. Ngomong-ngomong, ini adalah anggur kesukaan Tuan, bagaimana kalau Tuan mencobanya? "
Alex mengeryit seolah dia menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Ya ampun! dia benar-benar kesal sekali harus menemani Seli bermain-main seperti ini.
" Aku sedang tidak ingin minum anggur. " Alex membiarkan saja anggur itu bertengger di meja. Sungguh dia tahu benar apa rencana Seli saat ini, menjebaknya untuk datang ke hotel, memberi anggur yang sudah diberi obat, lalu berharap akan terjadi hal mesum kan?
" Tuan, cobalah sedikit saja. "
" Aku tidak ingin meminum anggur! "
" Apa anda takut saya racuni? " Seli menenggak habis anggurnya, lalu meraih gelas yang berniat untuk diberikan kepada Alex, lalu menuangkan setengahnya ke dalam gelasnya.
" Tuan, saya akan membuktikan jika tidak ada apa-apa di anggur ini. " Seli menenggak habis anggur itu, tatapannya yang se-lah begitu meyakinkan membuat Alex mau tak mau menenggaknya meski dia tahu jika Seli berbohong. Iya, dia memiliki rencana sendiri untuk menyelesaikan masalah ini, dan memberikan efek jera kepada Seli yang masih belum akan menyerah.
Seli tersenyum begitu melihat anggur di gelas Alex ludes tak tersisa barang setetes pun.
" Tuan, saya sedikit pusing. Bolehkah saya minta tolong. " Ucap Seli setelah beberapa menit menenggak anggur dari gelas Alex.
" Tolong apa? " Tanya Alex yang juga mulai terpengaruh oleh obat yang dibubuhkan kedalam anggurnya tadi.
" Tolong antar saya ke kamar tiga kosong satu. Saya sudah memesan kamar karena saya berniat untuk menginap dengan Ibu saya. " Seli mengibaskan telapak tangannya mengipas wajahnya yang mulai memerah karena menahan panas.
Alex menatap ke arah Veren, dan saat dia mendapatkan jempol dari Veren, barulah dia menyetujuinya.
__ADS_1
" Baiklah. " Alex membantu Seli untuk berdiri, lalu membantunya untuk berjalan menuju lift. Setelah sampai di kamar yang dia tuju, Alex bergegas menjauhkan tangannya dari lengan Seli.
" Tuan, bisakah bukakan pintu untuk saya? Dan, sekalian tolong papah saya sampai ke sofa. " Seli menyerahkan kartu akses untuk membuka pintu hotel.
" Tentu saja. " Alex membuka pintunya, dia sengaja membiarkan Seli masuk terlebih dulu, barulah seorang pria yang sedari tadi berada di belakang mereka bersama Veren bergegas masuk bersamaan kartu akses yang ia terima dari Alex.
" Selamat bersenang-senang.... " Veren melambaikan tangannya bermaksud mengucapkan itu untuk Seli.
" Dimana kamar kita? " Tanya Alex yamg sepertinya mulai sulit mengendalikan diri. Veren tersenyum laku menunjuk pintu kamar hotel yang ternyata tak jauh dari kamar yang dipesan Seli. Bergegas Alex meraih pergelangan tangan Veren, menariknya menuju pintu hotel.
" Em! " Tak memberi jeda, Alex langusung saja menyergap bibir seksi milik istrinya yang semakin terlihat menggoda dan indah dengan kondisinya sekarang ini.
" Sialan! " Kesal Alex saat dia kesusahan membuka penutup celananya.
" Tenang, tenanglah dan santai sedikit. " Ucap Veren seraya membantu Alex membuka ikat pinggangnya, lalu juga penutup celananya.
" Maka bantulah aku, dan biarkan aku melakukan apapun malam ini. "
Heh! bukanya setiap malam aku juga membiarkan mu melakukan apapun?
Alex menaikkan bagian bawah dress yang Veren kenakan, melepas cepat kain penutup bagian inti istrinya, lalu melesakkan bagian dari dirinya yang sudah sulit di tahan.
Hal yang sama kini juga terjadi di kamar yang sudah Seli pesan. Awalnya dia kaget karena bukan Alex yang masuk, tapi pria yang entah siapa. Tentu saja dia mencoba untuk memberontak dan melepaskan diri, tapi obat yang mempengaruhi tubuhnya seolah tak mengizinkan itu terjadi. Mulutnya selalu mengatakan ' tidak! Jangan! Berhenti!, tapi tubuhnya menggelinjang seolah begitu menikmati sentuhan dari pria yang Veren sewa untuk memuaskan Seli, alias gigolo yang paling tampan di surga malam.
Tak lagi perduli dengan apapun lagi, Seli kini malah begitu semangat memposisikan dirinya agar segera mendapatkan kepuasan dan mencapai puncak dari kegiatan itu. Entah belajar dari mana, padahal ini juga adalah yang pertama baginya. Ataukah karena obat yang mempengaruhi tubuhnya memberikan rangsangan agar mengerti bagiamana dan apa yang harus ia lakukan di saat melakukan kegiatan terlarang itu. Benar, awalnya memang terasa menyakitkan, bahkan pria yang berprofesi sebagai gigolo itu juga melakukannya dengan pelan karena tahu itu menyakitkan untuk si wanita. Tapi siapa sangka, beberapa saat setelah itu justru Seli yang begitu aktif dan mendominasi dengan sempurna bersama gigolo itu.
__ADS_1
Pagi harinya.
Seli berjalan cepat menuju kamar mandi meski langkah kakinya gontai karena gemetar dan menahan rasa perih di bagian intinya.
Bruk!
Seli menjatuhkan dirinya di lantai dengan posisi duduk dengan mata yang kini sudah mulai mengeluarkan tetesan-tetesan air penanda kesedihan.
" Kenapa bisa seperti ini? " Sesal Seli. Saat bangun tadi, dia amat terkejut mendapati seorang pria tengah tidur disampingnya dengan dada yang polos tanpa baju. Dia lekas mengecek tubuhnya yang ternyata juga begitu polos tanpa sehelai benangpun di tubuhnya. Sungguh dia tak kuasa lagi menahan tangis yang menyesakkan dada. Padahal dia berharap apa yang terjadi semalam bukanlah seperti ini. Atau minimal, dia ingin apa yang terjadi semalam hanyalah mimpi buruk saja.
" Hancur! Semuanya sudah hancur! Bagaimana ini? " Seli sesegukan karena tak tahu lagi bagaimana nasibnya kelak. Alex? Sudah jelas sekali dia tidak akan memiliki harapan, sekarang semua sudah hancur, kebanggaannya sudah rusak di tangan orang yang tidak ia kehendaki.
" Suami, ini sudah waktunya sarapan! " Kesal Veren karena masih saja Alex tak mau kehilangan kesempatan. Malam tadi padahal sudah dua kali, pagi pun juga harus melakukanya lagi.
" Sebentar lagi. " Ucap Alex yang masih saja melanjutkan kegiatannya meski sang istri kini sudah merengut sebal.
Beberapa saat kemudian. Tak mau berlama-lama lagi, Veren dan Alex harus segera meninggalkan hotel karena beberapa saat lagi mereka akan menjemput Denzo, dan Alex juga berniat datang ke kantor setelahnya.
" Oh! Seli? kau ada disini? " Tanya Veren berpura-pura kaget melihat Seli juga keluar dari kamar hotel.
Tak menjawab, Seli memilih diam dan menyembunyikan matanya yamg begitu bengkak karena menahan tangis.
" Ya ampun! banyak sekali tanda merah di lehermu, bahkan di kuping, dan di bagian rahang mu juga ada! Wah, kau pasti habis melakukan kegiatan menyenangkan ya? "
" Diam! " Seli tak berani menatap Alex, dia berlari cepat menuju lift dan pergi terlebih dulu.
__ADS_1
TBC