Terpaksa Menikahi Wanita Malam

Terpaksa Menikahi Wanita Malam
Final Episode


__ADS_3

Lima tahun kemudian.


Disebuah pusara, tempat dimana Deniza dikebumikan, Alex, Veren, Denzo dan juga anak ke tiga mereka yang kini sudah berusia empat setengah tahun, dan diberi nama Daniza tengah mengunjungi makan seperti kebiasaan mereka setiap akhir pekan.


" Kakak? Apa kabar? Hari ini aku datang lagi, apa kakak merindukanku? Oh iya, kakak. Sekarang aku sudah mulai bersekolah, dan teman serta guruku bilang kalau aku sangat cantik. " Ucap Daniza lalu tersenyum sembari mengusap batu nisan sang kakak.


Alex dan Veren kompak tersenyum, sudah lima tahun, dan perasaan cinta serta rindu untuk Deniza masih saja terasa di hati. Untunglah, adanya Daniza yang begitu mirip dengan Deniza mampu mengobati sedikit sedikit kerinduan terhadap kembaran Denzo itu.


" Deniza, kakak juga sudah mulai bersekolah menengah pertama. Kakak juga selalu memiliki peringkat meskipun tidak selalu jadi yang pertama, apa kau bangga? Deniza, kau baik-baik dan bahagia selalu disana ya? Sampai saatnya kita berkumpul, tolong lihat dan berbahagialah bersama kami dari atas sana. " Denzo mencium batu nisan sang adik kembarnya, sembari menahan air mata kerinduan.


Sebenarnya ini adalah saa-saat yang selalu ditunggu oleh Veren dan Alex, yatu menemui Deniza. Tapi setelah sampai dipusara sang putri, rasanya dada mereka sesak, dan selalu merasa bersalah tiada henti.


" Sayang, baik-baik di surga ya? Bahagialah selalu, dan ikutlah berbahagia bersama kami. Ibu, sangat merindukan mu. Sabar dan tunggu saatnya kita bertemu ya? "


Alex menyeka air mata yang hampir melesat jatuh dari sisi matanya. Dia adalah seorang Ayah dari Deniza, tapi dia bahkan tidak pernah melihat secara langsung wajah cantik sang anak, rindu, sungguh dia sangat rindu hingga hampir setiap hari dia berdoa untuk bertemu Deniza di dalam mimpinya.


" Sayang, apa yang akan Ayah katakan masih sama seperti minggu kemarin, Ayah menyayangimu, dan akan selamanya begitu meski Ayah sudah tidak hidup lagi. "


Alex, Veren, Denzo, dan Daniza kini saling memeluk hingga suara wanita paruh baya membuat mereka terkejut.


" Kalian! Kenapa kalian melupakan Ibu?! " Ibu Mula berjalan cepat sembari menjinjing gamis panjangnya agar lebih mudah melangkahkan kaki.


" Ibu? "


" Nenek? "

__ADS_1


" Kalian kenapa meninggalkan ku? " Protes Ibu Mila.


Alex menghela nafasnya lalu tersenyum.


" Bukankah Ibu bilang akan ada acara? "


" Kau pikir acara ku lebih penting dari pada menemui cucuku? " Sebal Ibu Mila seraya mendekati nisan Deniza.


" Hai cucu nenek yang cantik? Apa kabar mu hari ini? Maaf nenek datang terlambat, itu semua karena Ayah dan Ibu mu yang meninggalkan nenek. " Ibu Mila mulai bercerita tentang kekesalannya kepada Alex, dan juga Veren yang selalu saja melarangnya dalam banyak hal. Mulai dari makanan, dan juga kegiatan yang berlebihan.


Selesai mengunjungi makam Deniza, tibalah saatnya mereka mengunjungi makan orang tua Veren. Seperti sebelumnya, mereka akan menanyakan kabar, lalu bercerita hal-hal lucu disana.


" Ibu, Ayah, aku dan juga cucu kalian sudah hidup dengan bahagia. Terimakasih karena telah melahirkan ku ke dunia ini, terimakasih karena sudah bersedia memiliki anak sepertiku. "


Alex memeluk Veren yang mulai ingin menangis.


Tak bisa menyampaikan apa yang ingin dia katakan karena terlalu banyak, Ibu Mila hanya bisa menata sendu dengan rasa bersalah yang begitu dalam. Di dalam hati dia hanya bisa mengatakan satu kata yaitu, Maaf. Maaf untuk segala hal yang telah terjadi, maaf karena keegoisan nya, Veren harus melalui hari-hari menyakitkan. Dan juga, Terimakasih. Terimakasih karena telah melahirkan putri sebaik Veren, dan dengan mudah bisa memaafkan segala hal tentang dirinya.


***


" Sayang! bantu aku menggendong Erlan! " Teriak Sofiana yang kini tengah hamil enam bulan, ditambah lagi putra pertama mereka baru berusia dua tahun, Sofiana benar-benar kesulitan mengurus Erlan yang tidak bisa diam kecuali saat matanya tertidur.


Ini juga adalah hari-hari yang tidak pernah terpikirkan oleh Erick. Dia harus mendengar ocehan Sofiana, dan menggendong anak kemana-mana, menggantikan popok, bahkan juga bangun tengah malam untuk memberikan susu kepada Erlan, serta menemaninya saat Erlan terbangun pada malam hari.


" Aku harus meeting. "

__ADS_1


" Apakah meeting lebih penting dari anakmu? " Sofiana mendelik kesal.


" Apa kau ingin aku melahirkan saat usia kandungan enam bulan? "


Erick mendesah sebal, lagi-lagi mengancam dengan ancaman yang sama setiap hari. Sudah banyak sekali pengasuh bayi yang dipekerjakan, tapi Sofiana selalu saja memecatnya karena tidak setuju dengan cara mereka mengasuh Erlan, terlebih kalau tidak cepat saat Erlan menangis, Sofiana akan memekik kesal dan membuat si pengasuh bayi ketakutan.


Jadilah Erick yang sekarang harus mendengarkan ocehan istrinya setiap waktu, untung saja ada Feng yang masih setia melajang, jadi dia bisa meminta Feng mengasuh Erlan, sementara dia bekerja dan bersantai disela waktu bekerjanya. Dan membuat Feng bergerundel terus menerus di dalam hati.


Tapi meskipun dia bergerundel, Feng benar-benar cukup bahagia melihat kehidupan Erick sekarang ini. Beberapa tahun dia menjelma menjadi seorang laki-laki yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Tak jarang Erick juga selalu mengalah saat istrinya marah, dan mengatakan banyak hal tidak masuk akal.


Semua telah berubah, berubah menjadi lebih baik dengan jalan yang mereka pilih. Begitu juga dengan sepasang suami istri yang beberapa waktu lalu masih bersitegang.


Iya, mereka adalah Nyonya Nehra dan Tuan Haris Dardan. Sudah setahun ini mereka hidup bersama dengan kehidupan yang sederhana, tapi begitu bahagia.


Tuan Haris yang dulunya selalu berwajah dingin dan datar, kini berubah menjadi penuh kasih, dan selalu memperlakukan Nyonya Nehra dengan lembut. Sebagai pemimpin sebuah perusahaan yang terbilang besar, dia tidak merasa ragu untuk membantu sang istri menjual roti di toko kecil yah sudah lima tahun ini dia rintis.


Mungkin terdengar hanya seperti mengisi waktu kosong, tapi sesungguhnya Nyonya Nehra benar-benar mengelola toko itu sepenuh hati, tanpa bantuan dari Tuan Haris Dardan. Layaknya pengusaha kecil lainya, dia juga mengalami naik turun pendapatan yang tidak bisa ditebak. Tali syukurlah, karena pada akhirnya dia mampu bertahan, dan menjadikan toko kecil itu maju serta memiliki banyak pelanggan.


" Sayang, bagaimana dengan kue buatan ku? " Tuan Haris memamerkan kue buatannya yang sedari pagi sibuk ia buat dengan resep internet tentunya.


" Iya, itu lumayan. " Nyonya Nehra tersenyum sebentar, lalu kembali melayani pembeli yang berdatangan sedari pagi.


TAMAT


Halo,.. Apa kabar kesayangan? semoga kalian sehat selalu dan bahagia juga ya...

__ADS_1


Aku mau mengucapkan banyak terimakasih atas dukungan dari kalian, dan juga kesetiaan kalian dalam mengikuti cerita yang masih jauh dari kata sempurna ini.


Sampai jumpa di novel ku yang lain ya? Terutama karya baruku yang masih on going, Spicy Wife. Jangan lupa untuk mampir, dan kasih komentar, like juga yang banyak! 😂 sampai jumpa, kesayangan Author ❤️


__ADS_2