
Satu minggu sudah waktu terlewati. Seperti yang direncanakan Ibu Mila, Shena benar-benar terampil untuk mengganggu Alex dan Veren. Awalnya memang agak membuat Veren terganggu, tapi kalau tidak diberi pelajaran, bisa saja Shena akan bertindak berani melewati batas. Dengan dalih saudara sepupu jauh, Shena bahkan tidak merasa malu datang ke apartemen setiap hari. Mulai dari beralasan kesepian tinggal di rumah Ibu Mila, kemudian ingin bermain dengan Denzo, padahal Denzo sangat tidak nyaman dekat dengan Shena. Seperti hari ini, dia yang mengetahui Alex tidak bekerja, dari pagi dia sudah berada di apartemen.
" Veren, apa kau tidak memasak? " Tanya Shena yang melihat sendiri bahwa Veren selalu memesan makanan dari restauran yang ada di dekat apartemennya.
" Tidak, aku tidak bisa memasak. " Jawan Veren singkat. Iya, dia memang tidak bisa memasak, tapi itu juga bukan kesalahan kan? Batin Veren.
" Kenapa? Bukanya seorang istri seharusnya bisa memasak untuk suami dan anaknya? Bagiamana kalau aku mengajarimu memasak? " Shena tersenyum seolah dia begitu tulus. Tapi kalau di pikirkan lagi, kata-kata Shena barusan adalah bertujuan untuk merendahkan Veren seolah-olah Veren bukanlah istri yang baik.
" Dia istriku, bukan pelayan yang diharuskan bisa memasak. Veren memiliki banyak kelebihan, dan kekurangannya hanya tidak bisa memasak. Lagi pula aku juga tidak suka kalau kuku istriku jelek. " Ucap Alex yang juga berada di antara mereka.
Shena memaksakan senyumnya.
" Kakak, aku hanya menyampaikan pendapatku, maaf kalau aku salah. "
Tak mendengarkan lagi ucapan Shena, Veren justru sibuk memeluk lengan Alex karena merasa senang dengan pembelaan yang dilontarkannya tadi. Tentu hal ini menjadi sebuah rasa kesal bagi Shena, sudah sejak dulu juga dia menyukai Alex, tapi hingga sekarang dia masih saja mendapatkan halangan. Pertama Angel, lalu sekarang Veren. Seperti yang dia lihat dengan mata kepalanya sendiri, Veren adalah wanita yang begitu berarti bagi Alex, sudah pasti juga akan sangat sulit menyingkirkan Veren dan membuat mereka berpisah.
" Istri, aku ajak Denzo mandi dulu ya? Baru setelah itu kau juga bersiap untuk makan siang bersama. "
" Iya. " Veren tersenyum setelahnya, sementara Alex bangkit dan meninggalkan kecupan di dahi Veren, lalu berjalan untuk menemui anaknya yang tengah bermain game di kamarnya.
" Veren, boleh aku ikut? "
Veren menghela nafasnya, sungguh sulit dipercaya ada wanita yang tidak tahu malu seperti Shena. Tapi ya sudahlah, semakin sering dia melihat bagaimana Alex dan dirinya bermesraan, pada akhirnya dia juga akan merasa lelah sendiri.
" Iya, boleh. "
Shena tersenyum bahagia.
" Terimakasih, Veren. "
Veren memaksakan senyumnya tap enggan untuk menjawabnya.
Satu jam kemudian, Semua sudah rapih dan hanya tinggal berangkat saja.
__ADS_1
" Kau? Mau kemana? " Tanya Alex yang merasa bingung karena Shena juga mengikuti mereka dari belakang.
" Kakak, aku sudah meminta izin dari Veren, dan dia mengizinkan aku untuk ikut makan siang bersama. "
Alex mengeryit menatap Veren yang kini tersenyum dan mengangguk kepadanya. Melihat istrinya yang mengizinkan, maka dia tidak bisa melakukan apapun dan menurutinya saja.
Sesampainya di restauran yang mereka tuju, Shena tiba-tiba menawarkan jaketnya.
" Veren sepertinya suhu di dalam sangat dingin, apa kau membutuhkan jaket? Aku membawa jaket kalau kau butuh. "
Veren lagi-lagi memaksakan senyumnya. Iya, Veren memang sudah terbiasa menggunakan baju yang terbuka seperti yang ia kenakan sekarang ini.
" Tenang saja, kalaupun aku merasa kedinginan, aku memiliki suami untuk menghangatkan tubuhku. "
Shena terdiam tanpa kata. Padahal dia berniat menyindir Veren karena pakaian Veren yang begitu terbuka bagian atasnya. Tapi sepertinya itu juga tidak mempan karena Alex juga tidak keberatan bagaimanapun penampilan Veren.
" Ibu, aku sudah lapar! " Ucap Denzo.
" Ya sudah, ayo kita cepat masuk. " Ucap Alex.
Andai saja kau adalah suamiku. Batin Shena yang merasa iri.
" Ayah, aku mau itu! " Tunjuk Denzo kepada salah satu hidangan.
" Iya. " Alex memberikan makanan yang diinginkan Denzo. Padahal makanannya belum juga habis karena terus melayani sang putra, tapi Alex malah sama sekali tidak terlihat kesal.
" Suami, aku sudah selesai, kau makan saja dulu, Denzo biar aku saja yang urus. " Ucap Veren yang menyadari makanan Alex belum juga habis.
" Tidak apa-apa, makanlah dulu penutupnya. "
" Aku sudah sangat kenyang. "
" Baiklah. " Alex mengusap kepala Veren, lalu melanjutkan kegiatannya.
__ADS_1
" Shena, sedari tadi kau sibuk memperhatikan kami, makanan mu masih utuh loh. " Veren tersenyum, iya bisa dengan jelas dia melihat bagaimana wajah cemburu Shena meski dia jiga tidak selalu melihat ke arahnya.
" Aku, aku tidak lapar. "
" Kalau tidak lapar, kenapa memaksakan diri ikut tadi? " Veren lagi-lagi menatap dengan maksud menyindir.
" Aku, tadi lapar. Tapi karena lumayan lama menunggu, lapar ku jadi hilang. "
" Kau sudah tidak lapar, atau kau tidak lagi berselera untuk makan? "
Shena memegang erat sendok dan garpu yang berada dikedua tangannya. Sungguh dia sangat kesal dengan Veren, tapi dia juga tidak boleh melampiaskannya terlebih di depan Alex. Pada Akhirnya Shena memaksakan dirinya untuk memakan makanannya meski dia sangat malas. Iya, tujuannya adalah untuk tidak lagi mendengar ucapan Veren yang selalu menyindirnya.
Setelah makan siang selesai.
" Istri, mau pergi jalan-jalan dulu, atau mau langsung pulang? " Tanya Alex sembari berjalan menuju mobilnya yang terparkir dihalaman restauran.
" Bagaimana denganmu, sayang? " Tanya Veren kepada sang putra.
" Aku mau pulang, aku mau bermain game. "
" Baiklah, kita pulang sekarang. Dan kau, Shena? Kau mau pulang ke rumah Ibuku kan? "
" Kakak, bolehkah aku ikut ke apartemen dulu? Malam nanti baru aku akan pulang. "
Alex nampak keberatan, tapi juga tidak mungkin mengusir Shena secara terang-terangan.
" Boleh saja sih, tapi kami ada kegiatan yang tidak boleh dilihat orang lain. Kalau kau tidak keberatan, tidak masalah kalau kau ingin tinggal. " Ujar Veren.
" Aku akan menemani Denzo, tidak akan melihat kegiatan yang kau maksud itu. "
" Baiklah. " Veren memaksakan senyumnya meski sangat ingin memaki Shena karena rasa tidak tahu malunya.
Sesampainya di apartemen, Denzo bergegas masuk ke dalam kamarnya, sementara Alex dan Veren masuk ke dalam kamar mereka untuk mengganti baju. Awalnya hanya ingin mengusir Shena secara halus, tapi siapa sangka Alex benar-benar melakukanya saat Veren mulai melucuti pakaiannya berniat mengganti bajunya. Hanya suara lenguhan setelah beberapa saat. Tanpa di sadari, Shena berdiri menguping di depan pintu kamar yang tertutup rapat. Tangannya mengepal kuat menahan kecemburuan yang menyeruak setelah mendengar suara lenguhan Veren dan Alex yang sahut menyahut.
__ADS_1
TBC