Terpaksa Menikahi Wanita Malam

Terpaksa Menikahi Wanita Malam
Tragedi Hotel X


__ADS_3

Sayup-sayup mata Sofiana mulai terbuka, gelap, dan sunyi. Sesekali dia menekan kedip matanya karena merasa begitu asing dengan kamar yang ia tiduri.


" Aw! " Sofiana memekik ngilu saat merasakan bagian bawahnya begitu perih dan nyeri. Sejenak dia terdiam karena ingatan tentang apa yang terjadi semalam mulai berdatangan. Setelah semuanya dia ingat dengan jelas, kini Sofiana terdiam, dia menatap lurus ujung ruangan yang sejajar dengan wajahnya menatap. Tak


mengatakan apapun, tapi air matanya berjatuhan. Di putar kepalanya untuk melihat apakah ada orang yang berbaring disebelahnya?


Sofina menatap kaget karena benar-benar ada seorang pria yang tengah berbaring dengan bertelanjang dada.


" Tidak, ini tidak mungkin. "


Sofiana memeriksa tubuhnya, iya, dia bisa dengan jelas melihat jika dia sama sekali tak memakai apapun. Sebagai seorang gadis yang jarang sekali bergaul, tentu hal semacam ini tidak pernah sedikitpun terlintas di pikirannya. Awalnya dia mengira jika itu hanya mimpi, tapi siapa sangka kejadian menyedihkan ini menimpa dirinya.


Dengan tubuh yang gemetar ketakutan, Sofiana meraih seluruh bajunya, dan mengenakan dengan segera. Setelah semuanya selesai, dia bergegas keluar dari kamar hotel yang telah menjadi saksi betapa menyedihkan kemalangan yang menimpanya.


" Bagaimana ini? Ibu, aku benar-benar tidak berniat seperti ini. Ibu, aku tidak mau seperti ini. " Rintih Sofiana yang saat ini berada di dalam lift sendirian, dan tentu saja dia masih memangis. Sungguh dia amat sangat menyesal karena datang ke hotel itu. Niat awalnya hanya ingin menjemput sahabatnya, tapi ternyata yang ia jemput adalah kesialan.


Semalam.


Erick yang tidak sanggup lagi kalau harus sampai di apartemen miliknya akhirnya memutuskan untuk menginap di hotel X. Awalnya dia ingin menanganinya sendiri, tapi saat dia berjalan menuju kamarnya, dia tidak sengaja melihat Sofiana. Iya, dia tahu benar jika Sofiana adalah adik tiri dari Alex, pria yang menikahi wanitanya. Terbesit dipikirannya untuk menjadikan Sofiana sebagai tameng untuk mengecoh musuhnya, lalu beranggapan bahwa Sofiana adalah wanita yang dia cintai, sekaligus melampiaskan kemarahannya kepada Alex karena telah merebut Veren darinya. Tak mau membuang waktu, ditambah lagi pengaruh obat yang semakin tak bisa dia tahan, Erick berjalan cepat meninggalkan Asistennya seraya memberi perintah untuk meninggalkannya. Dia mendekati Sofiana.


" Sofiana? "


Sofiana menoleh ke belakang, lalu memutar tubuhnya untuk menghadap pria yang menyebut namanya.


" Iya? anda siapa? "


Erick tersenyum miring.


" Kau akan tahu nanti. " Erick meraih pergelangan tangan Sofiana, lalu meraihnya untuk masuk ke dalam kamarnya. Asalnya Sofiana ingin berteriak, tapi dengan sigap Erick membekap bibir Sofiana dengan bibirnya. Agak aneh karena berbeda dengan Veren, tapi sepertinya tidak buruk juga, ujar Erick di dalam hati.

__ADS_1


" Brengsek! " Maki Sofiana saat berhasil melepaskan bibirnya dari Erick. Dia mencoba menyingkirkan tubuh tinggi besar itu dari pintu agar dia bisa keluar, tapi sayangnya tubuh Sofiana yang tak sebanding itu sama sekali tak mampu membuat tubuh Erick geser barang satu sentimeter.


Erick tersenyum penuh maksud. Dia mengunci pintu kamar, lalu memasukkan ke dalam saku celananya. Ditatapnya lagi manik mata Sofiana yang terlihat ketakutan, dia bahkan sudah melangkah mundur beberapa langkah sebagai bentuk perlindungan diri.


" Kau tidak akan bisa lari, jadi percuma saja kau memberontak. Hanya dengan satu gerakan saja, aku bisa menguasai tubuhmu. "


Sofiana menggeleng ketakutan. Bahkan dia sama sekali tidak memiliki teman laki-laki, tentu saja dia ketakutan sekarang ini. Ditambah lagi dia berada di dalam kamar hotel yang terkenal elit dan memiliki peredam suara di tiap kamarnya.


" Tuan, aku mohon jangan menyakitiku. Aku tidak kenal anda, aku mohon biarkan aku pergi. " Pinta Sofiana.


Erick terus melanjutkan langkahnya mendekati Sofiana yang terus mundur hingga tubuhnya membentur dinding tembok. Dia ingin bergegas lari, tapi satu tangan Erick sudah cukup untuk menahannya, bahkan juga mampu membawa tubuh Sofiana ke tempat tidur.


" Dia memaksa wanitaku saat itu, maka aku juga ingin membuatmu merasakan bagaimana rasanya di paksa, takutlah, karena melihatmu ketakutan membuatku sangat bergairah. "


" Aku tidak tahu apa yang anda katakan, tolong jangan begini, Tuan. Tolong lepaskan saya, tolong, Tuan. " Pinta Veren seraya sesegukan karena tak mampu menahan takut saat posisi tubuhnya berada di bawah kungkungan pria yang tidak pernah ia kenal sebelumnya.


Kamar yang diterangi dengan cahaya redup dari lampu tidur, kini hanya menjadi saksi bisu bagaimana Sofiana menangis memohon untuk dilepaskan, bahkan dia sampai menjanjikan banyak uang, tapi pria itu justru meremehkan ucapannya seolah tak membutuhkan uang yang ditawarkan olehnya.


" Bagus, teruslah menangis dan memohon seperti ini, aku benar-benar menyukainya. " Erick membuka penutup dada dan penutup bagian inti Sofiana dengan kasar. Tak lagi menghiraukan bagaimana Sofina terus memohon, dia kini mulai melucuti pakaiannya yang sudah begitu lembab karena keringat yang terus bercucuran.


" Ah! sakit! jangan! tolong, jangan! " Pinta Sofiana saat Erick terus memasukkan untuk menyatukan bagian bawahnya dengan Sofiana. Tak kenal lelah, bahkan rintihan karena rasa sakit yang Sofiana rasakan malah dia anggap sebagai suara merdu khas orang bercinta.


" Pingsan? " Erick mengamati wajah, serta tubuh Sofiana yang tak lagi melakukan aksi apapun.


" Ck! terserah saja! aku hanya akan berhenti saat aku sudah merasa cukup. " Erick masih melanjutkan aksinya hingga dia benar-benar merasa tuntas.


Pagi Harinya.


Erick sebenarnya sudah terbangun saat Sofiana mulai bangun dari tidurnya. Dia memilih untuk tetap menutup mata, dan membiarkan saja Sofiana pergi jika dia memang ingin pergi. Tapi untung juga Sofiana pergi sepagi itu, karena dengan perginya Sofiana, dia telah menyelamatkan reputasi Erick yang hampir saja akan di hancurkan oleh anggota keluarga tirinya.

__ADS_1


" Tuan, para wartawan yang di bayar oleh paman anda sudah dibereskan. Semuanya semakin mudah karena mereka tidak mendapati anda sedang bersama wanita seperti yang di rencanakan paman anda. "


Erick menjauhkan ponsel yang sedari tadi ia gunakan.


" Dimana wanita yang dibayar oleh lintah tua itu? "


" Sudah di urus, Tuan. "


Erick menghela nafasnya.


" Satu bertindak, dan gagal. Maka tidak lama lagi akan ada rencana baru. " Ujar Erick.


" Lalu, apa rencana selanjutnya Tuan? "


" Rencana? tentu saja mengikuti permainan mereka. Tapi bedanya, aku sudah memiliki tameng, dan setidaknya bisa mengurangi resiko bahaya untuk Vero ku. "


" Maksud anda? gadis yang semalam? "


" Bagaimana menurutmu? "


Asisten Erick terdiam sesaat.


" Tuan, bisakah anda pikirkan kembali? "


" Apa yang ingin dipikirkan lagi? bukankah kakak laki-lakinya melakukan hal yang sama kepada Veroku dulu? "


" Tapi, gadis itu- "


" Apa kau Ibunya? kenapa kau begitu khawatir padanya? "

__ADS_1


" Tidak, maaf, Tuan. "


TBC


__ADS_2