
Satu bulan, tiga puluh hari yang penuh dengan kegiatan. Bahkan Erick sudah mondar mandir ke empat negara untuk urusan bisnis. Tidak mengandalkan uang keluarga, dia bisa sampai ke titik ini juga atas jerih payah yang ia lakoni selama ini. Menjadi tukang bersih-bersih jalanan, menjadi pelayan restauran, berjualan koran, bahkan menjadi pengamen juga pernah ia lakoni demi satu tujuan yaitu, terlepas dari keluarga Curent yang selama ini menjeratnya seolah mereka adalah keluarga yang begitu tertib dan saling perduli.
Selama perjalan menuju apartemen, Erick tiba-tiba memikirkan apa yang tengah dilakukan Sofiana sekarang ini? benar, selama sebulan penuh, Erick sama tidak pernah berbicara langsung kepada Sofiana karena semua dia sampaikan melakui Feng.
" Semoga saja keahlian menembak gadis lemah lembut itu sesuai dengan harapanku. " Gumam Erick tanpa sadar mendapatkan senyaman dari Feng yang merasa sangat bahagia. Iya, meski masih bersikap dingin kepada istrinya , tapi setidaknya Erick terus menanyakan kabar Sofiana, dan juga selalu memastikan keselamatannya karena beberapa minggu lalu ada suruhan pamannya ingin menyakiti Sofiana dengan tujuan memberi Erick peringatan. Tapi untunglah, orang-orang yang bekerja untuk menjaga Sofiana begitu sigap dan bisa di andalkan.
" Feng, apa ada pergerakan dari Wenshon? "
" Belum ada, Tuan. Sepertinya dia dan Wiliam akan bersitegang karena anda mengatakan untuk memberikan warisan anda kepada salah satu di antara mereka. Anda benar-benar pintar sekali mengadu domba, Tuan. "
Erick tersenyum miring.
" Mereka sangat mencintai uang, sampai-sampai mereka akan melupakan bahwa mereka memiliki darah yang sama. Menjijikkan bukan? cara itu juga adalah hukuman bagi kakek yang selama ini gemar memenjarakan ku di ruangan kumuh itu. Biarkan dia melihat anak-anaknya saling bersiasat untuk membunuh sampai dia menutup mata selamanya. " Feng menelan salivanya. Oh, seramnya... Batin Feng.
Sesampainya di apartemen, Erick berjalan menuju kamarnya untuk mengganti baju. Sementara Feng ikut masuk untuk meletakkan segala barang-barang milik Tuannya.
" Tuan, barang-barang anda sudah selesai aku taruh. Apa boleh saya kembali ke tempat saya? "
" Kembali saja, lagi pula apartemen kita bersebelahan kan? kenapa seolah-olah kau akan pergi ke Antartika? " Feng menggaruk tengkuknya sebelum dia mengangguk dan meninggalkan apartemen Erick.
" Sudah pulang? " Sapa Sofiana saat keluar dari kamar mandi.
" Iya. " Jawab Erick simpel.
" Biar aku bantu. " Sofiana berjalan cepat, dia membantu Erick melepaskan kemeja, lalu cepat menaruhnya di tempat baju kotor.
" Apa kau sudah makan? mau minum teh? atau kopi? " Tanya Sofiana.
" Aku mau mandi, tidak mau yang lain. "
" Oh, begitu? baiklah. " Baru saja selesai bicara, tanpa aba-aba Erick menanggalkan celananya dan tersisa celana pendek ketat sepaha yang tersisa.
" Ya ampun! " Sofiana menutup kedua matanya menggunakan telapak tangan.
" Kenapa? bukanya aku masih memakai celana? " Tanya Erick heran.
" Anu, maaf. "
Memang masih pakai celana, tapi benjolannya terlalu nyata!
Sofiana menarik nafas, lalu menghembuskan perlahan setelah beberapa saat Erick masuk kedalam kamar mandi. Sungguh dia sangat gugup saat ini, karena dia sudah berjanji juga kepada Veren beberapa waktu lalu melalui sambungan telepon bahwa dia harus lebih mendekatkan diri dengan Erick selama Erick berada di dekatnya. Bahkan, Veren juga menyarankan untuk segera melakukan hubungan badan, atau setidaknya kontak fisik seperti, sebuah ciuman.
__ADS_1
Ya ampun! bagaimana ini caranya? apa aku langsung saja mengajak Erick untuk berhubungan badan?
Sofiana membenahi duduknya untuk mempraktikkan cara mengajak Erick untuk berhubungan badan.
" Erick, ayo kita berhubungan badan! "
Sofiana memggeleng cepat. Dia bahkan belum pernah menyebut nama Erick sekalipun di hadapan pria itu.
" Aku harus memanggilnya siapa? Erick? kakak? suamiku? babe? atau apa? "
Klek...
Sofiana tergerak cepat untuk membenahi posisinya agar terlihat santai. Sementara Erick langsung berjalan, dan mengambil satu setel baju yang sudah di siapkan Sofiana untuk dia tidur.
" Bagaimana latihannya? " Tanya Erick setelah memakai baju lengkap.
" Lumayan. " Jawab Sofiana seraya membalikkan tubuhnya karena dia masih belum terbiasa melihat Erick dengan tubuh polos.
" Besok aku harus melihat langsung hasilnya. "
" Hasil dari latihan yang mana? menembak? bela diri? atau tugas lain sebagi istri? " Sofiana bertanya dengan polosnya.
Erick mengeryit seraya menatap Sofiana yang sepertinya berbeda maksud dengan apa yang dia pikirkan.
" Iya, aku sudah tahu caranya mencuci baju, membersihkan rumah, memasak, dan aku juga sudah mulai bisa membuat cake. " Jawab Sofiana.
" Yang kau bicarakan itu tugas istri, atau tugas pelayan? "
" Eh? " Sofiana menatap Erick bingung.
Erick berjalan mendekati Sofiana, lalu memegang dagunya dengan senyum miring yang membuat Sofiana gugup.
" Tugas istri bagiku adalah, melayani di atas tempat tidur. Apa kau sudah belajar tentang itu? "
Sofiana menelan salivanya sendiri.
" A aku belum belajar, kalau harus belajar dulu, aku akan meminta Feng mengajariku, baru kalau sudah mahir, aku akan memberitahumu. " Sungguh, yang di maksud Sofiana adalah meminta Feng memberikan buku tentang cara melayani suami, bukan untuk praktek.
Erick mengeryit, tapi tatapannya juga terlihat tak suka.
" Feng? kau ingin belajar tentang teknik ranjang bersama Feng? "
__ADS_1
" I iya. "
Erick melepas dagu Sofiana, dia meraih kedua lengannya, agar Sofiana berdiri di hadapannya.
" Tidak perlu merepotkan Feng kalau tentang itu, karena aku sendiri yang akan mengajarimu. "
Erick meraih tengkuk Sofiana dan langsung menyambar bibirnya penuh hasrat. Tak tahu harus bagaimana bereaksi, tapi sekarang ini Sofiana memilih untuk mengikuti saja yang Erick lakukan.
Bruk!
Tubuh mereka kini telah berada di atas tempat tidur dengan Erick yang tengah mengungkung tubuh Sofiana.
" Dengar, jangan berani-beraninya mengatakan lagi, kalau kau akan belajar tentang teknik ranjang dengan orang lain. " Tak menunggu Sofiana menjawab, Erick sudah lebih dulu membenamkan bibirnya kembali.
" Ah! sakit! " Pekik Sofiana saat Erick memaksakan bagian bawah mereka menyatu.
" Hanya sebentar. "
Ah! Vero, bolehkah aku membayangkan wajahmu saat ini? apakah kau akan marah jika kau tahu?
***
Lagi, Veren semakin kesal karena mendapati kemeja Alex yang meninggalkan bau parfum milik wanita. Rasanya ingin sekali dia marah, tapi kalau melihat wajah Alex, dan juga cara dia memperlakukan Denzo dan dirinya, kenapa dia menolak percaya dengan apa yang dia lihat.
" Apakah bau parfum ini juga harus aku anggap tidak sengaja? Hah! kesal sekali hanya dengan menerka-nerka. " Veren menaruh baju kotor Alex dan kembali menemui Alex yang kini tengah memakai baju setelah mandi.
" Ada apa? Sepertinya ada yang kau pikirkan? " Tanya Alex saat mendapati istrinya seperti ada yang dipikirkan.
Veren melirik sebentar, lalu menghela nafas setelahnya.
" Suami, sahabatku tadi menghubungiku. Dia bercerita jika menemukan beberapa hal mencurigakan. "
" Maksudnya? "
" Iya, sahabatku bilang mungkin saja suaminya tengah berselingkuh. "
Alex manggut-manggut saja karena memang dia tidak tertarik mendengar cerita seperti itu.
" Suami, kalau kau berselingkuh, aku benar-benar tidak akan hidup bersamamu. Aku akan membawa Denzo pergi, lalu hidup berdua saja selamanya. Tapi sebelum itu, aku akan meminta orang agar mengkebiri mu terlebih dulu. "
Alex ternganga kaget.
__ADS_1
" Yang berselingkuh kan suaminya sahabatmu, kenapa aku yang kena sih, istriku! Masalah perselingkuhan aku tidak akan melakukanya, jadi jangan sembarangan kalau berbicara. "
TBC