Terpaksa Menikahi Wanita Malam

Terpaksa Menikahi Wanita Malam
Bertemu Masa Lalu


__ADS_3

" Bibi, Alex bukan pria bodoh, tentu saja dia tahu aku datang karena Bibi. Jadi dia hanya mengikuti saja permainan Bibi. Tapi lihatlah kenyataannya Bibi, Alex semakin jauh dari Bibi kan? dalam bulan ini, aku yakin Alex tidak pernah menghubungi Bibi kan? "


Ibu Mila terdiam memandangi photo keluarganya yang masih terlihat apik bertengger di dinding. Dua anak laki-laki yang kini kompak menjauhinya, satu lagi photo pria yang sudah lama tidak hidup bersamanya. Jujur, dia memang paham betapa egoisnya dia sebagai seorang Ibu. Berharap dapat menyelamatkan anaknya, tapi dia juga tidak perduli dengan dengan anak lainya yang juga memiliki orang tuanya yang mencintai. Tapi mau bagaimana lagi? toh semua yang terjadi tidak akan bisa diubah lagi. Sekarang mau tidak mau dia hanya bisa berdoa saja supaya Alex dan Veren bercerai, lalu Alex kembali tinggal bersama dengannya lagi. Seperti yang diucapkan Shena, Alex seperti sengaja menjauhkan diri dari Ibu Mila untuk memberikan sebuah peringatan keras, maka dia yang seorang Ibu tentu tidak bisa mengabaikan peringatan itu.


Tak banyak yang berubah dari Alex dan keluarga kecilnya, yang ada mereka malah semakin harmonis setiap harinya. Meski percekcokan antar suami dan istri sering terjadi, Denzo yang sering mendapatkan ocehan dari sang Ibu, nyatanya itu semua tak bisa menghentikan bertambahnya rasa cinta dan sayang di setiap harinya.


" Ibu, kapan aku akan punya adik bayi? " Tanya Denzo yang tiba-tiba saja, padahal mereka sedang sarapan. Apakah melihat sarapan mirip seperti melihat adik bayi? Atau game yang dimainkan Denzo bertemakan adik bayi?


Alex terdiam, sama seperti Veren.


" Ayah, apa membuat adik bayi itu sulit? " Tanya lagi Denzo. Kalau pertanyaan Denzo sudah seperti ini, tidak mungkin juga Alex tidak menjawab kan?


Alex meletakan sendok dan garpu yang tengah ia pegang, lalu tersenyum menatap Denzo.


" Sayang, membuat adik bayi itu sulit, dan juga sulit untuk Ibu. "


" Kenapa Ibu yang sulit? "


" Karena kalau akan punya adik bayi, ibu nanti akan sering muntah, tidak nafsu makan, lemas, perut Ibu juga akan membesar sekitar enam bulan. "


Denzo terdiam, dia menunduk lesu.


" Tapi, Ibunya temanku perutnya juga besar waktu itu. Dia masih bisa mengantar jemput ke sekolah, temanku juga sudah memberikan pesan semalam kalau dia sudah punya adik bayi. "


" Kita tunggu adik bayi dari kakak Sofiana saja bagaimana? " Usul Alex agar Denzo tidak merasa kecewa dengan keinginan Veren yang tidak ingin memiliki anak lagi.


Tadinya Denzo masih ingin kekeh adik dari Ayah dan Ibunya, tapi saat melihat Ibunya menunduk sedih, dia tidak berani lagi untuk memintanya.


" Tadi, aku hanya berbohong. Ayah dan juga Ibu jangan percaya begitu saja, tadi aku hanya bohongan kok. "

__ADS_1


Alex memaksakan senyumnya, dia mencium kening Denzo lalu mengacak rambutnya.


" Lanjutkan sarapannya ya? "


Terimakasih, Denzo. Terimakasih karena kau sudah memahami Ibumu.


Setelah sarapan mereka selesai, Denzo sudah berangkat lebih dulu bersama dengan Dedi. Sementara Veren, dia membantu Alex untuk bersiap sembari menunggu Dedi kembali.


" Ucapan Denzo tadi, jangan terlalu dipikirkan ya? Dia hanya merasa iri saja dengan temannya. "


" Aku bukanya tidak ingin memiliki anak lagi, tapi aku takut kalau anak yang lahir nanti memiliki riwayat sakit seperti Deniza. Aku tidak sanggup kalau harus mengalaminya lagi. "


Alex menghampiri Veren yang masih terdiam di pinggiran tempat tidur.


" Jangan terbebani apapun mulai sekarang. "


Veren memaksakan senyumnya.


" Kemana kau akan pergi hari ini? " Tanya Alex yang tahu benar kebiasaan Veren kalau sedang tidak baik.


" Hari ini aku ingin menemui Karina, sekalian makan siang juga. Boleh kan? "


" Tentu saja. "


Seperti yang sudah direncanakan, setelah menjemput Denzo dan menitipkannya kepada Nyonya Nehra, Veren langsung menuju kesebuah restauran dimana Karina telah menunggunya.


" Maaf terlambat, apa kau sudah lama menunggu? " Tanya Veren seraya memeluk dari belakang tubuh sang sahabat yang tengah fokus dengan ponselnya.


" Hei? Tidak juga, aku baru sekitar lima belas menit disini. " Jawab Karina.

__ADS_1


" Nyonya muda Dardan ini benar-benar tambah cantik saja. " Ledek Karina.


Cukup lama mereka mengobrol seperti biasanya, bahkan sampai makanan yang mereka pesan sudah habis juga belum cukup rasanya untuk mengobrol bersama karena akhir-akhir ini Karina sering dinas keluar kota, juga keluar negeri.


" Kenapa kau tidak membawa Denzo? Padahal aku kangen sekali loh. " Ujar Karina.


" Iya, Ibu Nehra sangat menyukai Denzo, jadi setiap aku pergi, dia selalu meminta Denzo untuk tinggal. Bahkan akhir pekan juga Denzo tinggal disana. "


Karina mendesah lega. Akhirnya, setelah sekalian banyak dia melihat air mata kesedihan dari mata Veren, kini Veren sudah bisa tersenyum dengan begitu lepas. Tidak ada lagi Veren yang suka berpura-pura bahagia padahal merasakan banyak luka. Karina meraih punggung tangan Veren, menggenggamnya dengan tatapan yang hangat dan penuh syukur.


" Veren, aku bahagia melihatmu yang sekarang ini. Meskipun pada akhirnya kau jatuh cinta dengan laki-laki yang menghancurkan hidupmu dulu, tapi laki-laki itu juga sudah membawa senyummu kembali. Teruslah seperti ini, Veren. "


Veren mengangguk dengan senyum yang mengembang di wajahnya.


" Terimakasih Karina, kau sudah menjadi bagian penting dalam hidupku. Kau membuatku memiliki keluarga disaat aku kehilangan segalanya saat itu. "


" Tentu saja, semua itu kan karena kita keluarga. " Karina dan Veren saling terkekeh bahagia.


" Veren? "


Veren dan Karina tersentak mendengar suara laki-laki yang sepertinya tidak asing ditelinga mereka. Awalnya Veren ingin membiarkan saja, tapi saat melihat wajah Karina yang tidak biasa menatap di balik punggung Veren, mau tidak mau Veren akhirnya menoleh ke belakang.


" Brian? "


" Apa kabar, Veren? " Laki-laki itu tersenyum, matanya sedikit memerah seolah dia menahan tangis karena rindu yang begitu dalam kepada sosok Veren yang dulu hampir menjadi istrinya.


Veren terdiam sesaat. Padahal, baru saja dia selesai menceritakan masa lalu, sekarang datang pula orang dari masa lalu. Rasa-rasanya dia sudah mulai melupakan bagaimana rasa sakit akan trauma masa lalu, tapi hadirnya Brian seolah mengorek luka lama dan membuatnya kembali berdarah. Veren harus lagi mengingat bagaimana orang tua Brian menghancurkan bisnis Ayahnya, membuat Ayahnya kehilangan sumber daya karena kebencian orang tua Brian yang begitu buta.


" Brian, bukankah akan lebih baik jika kau tidak menyapa ku? " Veren membuang wajahnya agar terhindar dari tatapan Brian.

__ADS_1


Brian mengusap wajahnya karena dia benar-benar baru menyadari akan hal itu. Hari ini adalah hari pertama dia kembali ke negara asal setelah hampir delapan tahun berada di luar negeri, tapi saat dia ingin menemui temanya sebentar, ternyata dia melihat Veren yang tengah mengobrol bersama Karina. Tanpa berpikir panjang, Brian berjalan cepat menghampiri Veren, berharap dia akan mendapatkan sambutan hangat dari wanita yang sedari kecil sudah mengisi hatinya.


TBC


__ADS_2