
Perdebatan antara Angel, Alex dan Veren akhirnya berakhir juga. Setelah Angel terus memohon tiada henti sembari menangis, Veren meminta Alex untuk memberinya maaf. Bukan tanpa alasan Veren melakukan itu, Karena rasanya Veren belum puas menyakiti Angel, dan lagi dia juga memiliki niat untuk membalas dendam dengan caranya sendiri.
Tak mau lagi terus berdebat saat melihat Angel, Alex lebih memilih untuk menghabiskan waktu seharian di kantor, lalu lanjut ke ruang kerja pribadinya dirumah. Seperti malam ini, memang sudah larut, tapi matanya masih saja belum terasa ngantuk. Pikiran kacau yang ia rasakan benar-benar menyita segala konsentrasinya.
Alex menghela nafas panjangnya, menyenderkan tubuhnya di senderan kursi, tatapannya juga lekat menatap langit-langit ruang kerja di rumahnya. Dia kembali mengingat bagaimana sifat Angel saat dulu dia mengenalnya. Memang, selama pernikahan berjalan, Angel cukup keras kepala, pemarah, dan sangat suka cemburu untuk hal-ha kecil. Terlebih saat tahu kalau Alex keluar kota bersama Seli untuk urusan bisnis, yang ada Angel akan sangat marah dan menuduh yang bukan-bukan.
" Bagaimana ini? aku pusing sekali. " Gumam Alex.
Dia mulai bangkit dari posisinya, berjalan mendekati jendela. Sesampainya disana, dia membuka jendela itu lebar-lebar, lalu membuang nafas nya agar penat yang ia rasakan mereda. Dua puluh menit berlalu, Alex memutuskan untuk melihat sebentar bagiamana keadaan Veren.
Alex tersenyum saat melihat Veren tertidur pulas. Barulah dia kembali menutup rapat pintu kamar Veren dengan hati-hati. Sebenarnya dia ingin juga melihat bagaimana keadaan Angel, tapi kemarahan yang ia rasakan membuatnya mengurungkan niatnya. Alex kembali menuju ruang kerja, dan memilih untuk tidur disana saja.
Pagi harinya.
Sofiana yang baru mengetahui tentang Denzo dari Ayahnya secara tidak sengaja, dia kini begitu antusias untuk menemui Denzo. Dia bahkan sudah menyiapkan banyak sekali coklat dan gula-gula yang biasanya disukai anak-anak. Sebenarnya awalnya dia ketakutan saat memohon untuk ikut saat Ayahnya ingin menemui Denzo, tapi dia berpikir untuk menerima saja kemarahan Ayahnya yang penting dia bisa bertemu dengan Denzo.
" Sofia? " Panggil Nyonya Nehra setelah membuka pintu kamar Sofiana.
" Ibu? " Sofiana tersenyum bahagia.
" Kau terlihat sangat bahagia, nak. " Nyonya Nehra mengusap lembut pipi Sofiana, ditatap nya juga mata indah berseri karena kebahagiaan yamg di rasakan Sofiana.
" Iya bu. Denzo kan anaknya kakak Veren, tentu saja dia adalah keponakan ku. Aku benar-benar ingin bertemu dengannya, lalu aku akan mengajaknya ke beberapa tempat hiburan anak-anak. " Sofiana berucap dengan begitu semangat, dia bahkan sama sekali tidak terlihat murung dan selalu berkata maaf, dan iya seperti sebelumnya.
__ADS_1
Nyonya Nehra mengangguk bahagia, matanya juga berair karena merasa bahagia bisa melihat putri satu-satunya itu bahagia untuk hal yang sederhana.
" Ibu menangis? " Sofiana bertanya dengan wajah yang sedih serta khawatir.
" Tidak, Ibu merasa sangat bahagia. Ibu selalu bersamamu sedari lahir sampai kau se-dewasa ini. Tapi baru kali ini Ibu melihat kau sangat bahagia. " Nyonya Nehra menyeka air matanya yang tiba-tiba lolos begitu aja saat dia berucap.
Sofiana tersenyum, di peluknya sang Ibu yang selama ini selalu tidak berdaya. Kalau di ingat bagaimana menyakitkan menjadi Ibunya, tentu saja Sofiana juga merasa bersalah. Bersalah karena tidak bisa membela Ibunya, atau bahkan membela dirinya saat mantan istri Ayahnya menghina, bahkan pernah memukul Ibunya dia hadapannya. Tapi yang lebih menyakitkannya lagi, sikap dingin dari Ayahnya yang tidak pernah berubah membuatnya selalu mengangguk setuju saat Ayahnya berbicara karena takut yang tidak bisa ia kalahkan.
" Ibu, sebenarnya melihat Ayah tersenyum padaku, atau Ayah berbicara denganku seperti kebanyakan Ayah diluar sana, aku sudah sangat bahagia. Tapi aku tidak pernah bisa mendapatkan kebahagiaan dari itu. Apa Ibu tahu? selama ini aku bertahan untuk Ibu. Aku akan ada di mana Ibu berada. Sedih, bahagia, kita akan terus bersama-sama, Ibu. "
Nyonya Nehra memeluk tubuh putri tunggalnya erat. Sebenarnya dia juga menderita dengan hidupnya yang hanya bagai boneka. Sungguh sangat bodoh karena hutang masa lalu membuatnya tak berdaya, bahkan juga harus mengorbankan kebahagiaan putri tunggalnya.
" Ibu, seandainya aku memiliki keberanian seperti kak Veren, aku pasti tidak akan pernah melihat Ibu di tindas oleh wanita itu. "
" Yang seharusnya berbicara seperti itu adalah Ibu. Jika Bu bisa lebih kuat dan tegas, kau pasti akan tumbuh dengan bahagia. "
" Ibu? " Sofiana menatap Ibunya dengan tatapan sendu. Nyonya Nehra kembali memeluk putrinya.
Sofia, apa yang kau katakan benar, tapi Ibu tidak akan menggunakan keberanian untuk melawan mereka, karena Ibu akan melakukan hal yang selama ini Ibu inginkan. Lepas, jauh dari Ayahmu, dan juga lepas dari hidup yang selama ini menyakitkan untuk kita. Sudah dua puluh dua tahun, tapi pada nyatanya, Ibu tetaplah bukan siapa-siapa di mata Ayahmu.
Setelah pembicaraan itu, Tuan Haris Dardan dan juga Sofiana masuk kedalam mobil yang sama untuk menemui Denzo. Ini memang bukan untuk pertama kali bagi Tuan Haris Dardan, tapi dia berpikir bahwa dia ingin lebih mendekatkan diri dengan Denzo.
Tak ada pembicaraan apapun, Tuan Haris tetap diam dengan wajah dingin seperti biasanya. Sementara Sofiana memilih untuk memiringkan pandangan menatap kaca mobil dan melihat jalanan yang terus ia lewati.
__ADS_1
" Bagaimana dengan kuliah mu akhir-akhir ini? " Tanya Tuan Haris.
Sofiana tentu saja merasa kaget, karena jarang sekali Ayahnya mengajaknya bicara seperti ini. Tapi ya sudahlah, mungkin dia sedang bosan, batin Sofiana.
" Lancar. "
Tuan Haris kembali terdiam. Suasananya memang sangat canggung, selain jarang berkomunikasi, ini juga kali pertama mereka berada dimobil yang sama, dan jaraknya juga berdampingan. Sebenarnya dia tidak sengaja mendengar pembicaraan Nyonya Nehra dan Sofiana sebelum berangkat tadi, dan inilah yang membuatnya tengah berpikir keras mencari cara agar bisa lebih dekat lagi dengan putrinya.
" Apa kau kekurangan sesuatu? " Tanya lagi Tuan Haris.
" Tidak, semua yang di siapkan Ibu sudah cukup. "
Tuan Haris kembali terdiam. Benar, dia mulai menyadari betapa tidak perduli nya selama ini kepada Sofiana. Sungguh itu maksudnya untuk seperti itu, hanya saja trauma masa lalunya benar-benar membuatnya menjadi sosok yang dingin dan Angkuh.
" Jika kau membutuhkan sesuatu, kau bisa mengatakannnya kepada Ayah. "
Sofiana terdiam. Sungguh dia tidak mengerti maksud ucapan Ayah kandungnya itu, walaupun sudah berusaha untuk menebak-nebak, tetap saja dia tidak tahu kenapa Ayahnya menjadi ramah seperti ini.
" Terimakasih, Ayah. Aku janji akan terus berprestasi seperti biasanya. "
Tuan Haris menatap lurus pandangannya. Padahal bukan maksudnya untuk memaksa putrinya untuk tidak membuatnya malu dengan berprestasi. Tapi saat dia mendengar kata-kata Sofiana sungguh dia merasa amat jahat rasanya.
TBC
__ADS_1