Terpaksa Menikahi Wanita Malam

Terpaksa Menikahi Wanita Malam
Obrolan Saat Sarapan


__ADS_3

Suasana rumah kini kembali sibuk saat Ibu Mila sudah di bawa pulang pagi tadi. Alex juga sengaja menemani Ibunya hari ini dirumah, bersama dengan beberapa pelayan rumahnya. Masih seperti kemarin, Ibu Mila tetap diam dan tak mengatakan apapun, bahkan dia juga tidak bicara saat membutuhkan sesuatu, termasuk saat akan pergi ke kamar mandi.


" Ibu, apa Ibu membutuhkan sesuatu? " Bukanya menjawab, Ibu Mila justru memalingkan pandangan dan memilih untuk menatap jendela kaca yang ada di kamarnya. Tentu Alex harus lebih sabar, meski terkesan kekanak-kanakan, toh dia adalah Ibu kandungnya yang tidak bisa dia abaikan begitu saja.


" Ibu, kalau Ibu memang tidak membutuhkan apapun saat ini, aku akan keluar untuk mengecek pekerjaanku. Nanti kalau Ibu membutuhkanku, Ibu tinggal tekan tombol ini saja ya? " Tunjuk Alex kepada salah satu tombol alarm yang sudah dipasang sebelum Ibunya sampai dirumah tadi. Tujuannya tentu saja untuk mempermudah Ibunya agar tidak perlu beranjak dari tempat tidur.


***


Suasana tenggang masih berlanjut di kediaman Dardan. Setelah pembicaraan semalam yang tidak menemukan ujung kesepakatan, mereka kini justru saling tak menyapa, alias perang dingin. Kegiatan sarapan mereka juga hampir seperti biasanya, yaitu tenang tanpa adanya suara selain dentingan sendok.


" Apa yang akan kau lakukan hari ini? "


Nyonya Nehra mengeryit tanpa mau menatap si pemilik suara yang tak lain adalah suaminya sendiri. Sudah selama ini mereka diam, apa mungkin dia bertanya kepadanya? Hah! Tapi masih saja Nyonya Nehra enggan untuk menegakkan pandangan karena merasa aneh jika pertanyaan itu ditunjukan padanya. Yah, paling dia sedang berbicara melalui sambungan telepon.


" Nehra? Apa kau sengaja tidak mau menjawabnya? "


Oh, ternyata bertanya padanya, batin Nyonya Nehra. Tak langsung menjawab, Nyonya Nehra memilih untuk menatap manik mata suaminya Yanga kini juga menatapnya dengan sedikit kekesalan yang nampak.


" Aku tentu saja ingin melakukan apa yang ingin dilakukan. "


Tuan Haris mendesah sebal mendengarnya, padahal dulu Nehra sama sekali tidak pernah se-ketus ini. Benar-benar pengalaman hidup mampu merubah seseorang menjadi tidak bisa dikenali lagi.


" Nehra, aku sudah memikirkan tentang ini, mulai sekarang aku akan lebih memprioritaskan mu. Aku akan berusaha memperbaiki semuanya perlahan. "


Nyonya Nehra tersenyum miring. Andai saja kata-kata itu dia dengar sebelum semua rasa kecewa itu menggunung, mungkin dia akan merentangkan tangannya, menyambut hangat suaminya yang bersedia menoleh kepadanya. Tapi sayang, bahkan untuk memikirkan kata bersama sudah sangat membuatnya muak, jadi bagaimana mungkin dia bisa mengiyakan hal yang membuatnya pusing sendiri.

__ADS_1


" Sudahlah, jangan membicarakan hal yang tidak mungkin, sekarang ini aku tidak tertarik untuk membicarakan tentang hubungan kita. "


Tuan Haris menjauhkan piringnya yang masih bersisa lumayan banyak makanan. Dia menatap Nyonya Nehra yang kini memilih untuk fokus menikmati sarapan miliknya yang tinggal sedikit.


" Nehra, usia kita tidak lagi muda, untuk apa kita bercerai? Dan lagi, kau tidak memiliki saudara, apa yang akan kau lakukan kalau kita bercerai? "


" Tuan Haris, yang tidak lagi muda itu anda sendiri. Usia empat puluh dua tahun aku rasa masih terbilang pantas jika ingin memiliki suami baru, dan dengan penampilanku, tentu aku yakin tidak akan sulit mendapatkan pasangan baru. "


" Apa kau jatuh cinta dengan seseorang? " Sesungguhnya Tuan Haris sangat kesal dengan pertanyaannya sendiri, tapi ucapan Nyonya Nehra barusan seolah menjerumus ke arah sana.


" Jatuh cinta? " Nyonya Nehra memaksakan senyumnya, dia mulai menjauhkan piringnya setelah dia meletakkan sendok dan garpu di atasnya. Entah keberanian dari mana, tiba-tiba dia dengan yakin menatap Tuan Haris yang terlihat gelisah dengan pertanyaannya itu.


" Setelah diseret masuk ke dalam hidupmu, sekarang aku bahkan tidak memiliki hasrat untuk jatuh cinta. Aku merasakan sakit di dua puluh dua tahun hidup bersama suamiku, semua rasa sakit itu cukup untuk membentuk rasa trauma yang tidak akan bisa hilang dari pikiranku. "


Tuan Haris menghela nafasnya, sebenarnya dia ingin sekali memeluk wanita yang sebelas tahun lebih muda darinya itu. Tapi dengan semua yang terjadi selama mereka bersama, pelukan seperti itu justru akan terasa aneh untuk Nyonya Nehra. Sekarang setelah mendengar ucapan Nyonya Nehra, dia jadi sangat paham kalau hidup bersamanya di artikan kesialan oleh istrinya sendiri.


" Dari mana kau bisa menjamin bahwa perceraian bukanlah hal baik untuk kita? Padahal saat kita bercerai, kau juga bisa bebas, dan kau juga bisa kembali bersama dengan mantan istrimu kan? " Nyonya Nehra tersenyum setelah selesai berbicara.


" Kau, apa yang kau katakan? Kembali bersama dengan Mila? Kau ini sedang omong kosong apa? " Tuan Haris berbicara dengan dahi yang mengeryit seolah tak terima dengan kata-kata Nyonya Nehra barusan.


" Maaf kalau aku salah bicara, soalnya semua orang juga bisa menilai bahwa kau sangat mencintai Nyonya Mila meskipun kalian sudah berpisah. Aku bahkan sempat merasa iri, tapi untunglah aku cepat sadar diri siapa diriku, jadi aku tidak perlu menyimpan rasa cemburu. "


" Nehra, kebaikan ku kepada Mila tidak boleh disalah artikan. Aku bersikap baik, bukan karena masih mencintainya, tapi karena dia adalah Ibu dari anak-anakku, dan juga aku sudah berjanji kepada mendiang kakaknya untuk memperlakukan Mila dengan baik. "


" Iya, tentu saja aku harus mengerti. "

__ADS_1


" Nehra, kau benar-benar sudah gila karena dugaan mu sendiri. "


" Begitulah anda, Tuan. Setiap kali kita membahas sesuatu, pada ujungnya kau akan menganggap ku terlalu banyak berpikir, terlalu suka melebih-lebihkan, dan yang paling sering adalah, aku yang tidak dewasa dalam bersikap. Kadang aku berpikir, apakah aku perlu menjadi seperti Nyonya Mila yang suka merendahkan orang lain, memukul, dan memusuhi orang agar dianggap dewasa oleh anda. "


Tuan Haris terdiam tapi tatapan matanya masih tertuju kepada Nyonya Nehra. Padahal bukan itu maksudnya juga, dia hanya ingin Nyonya Nehra menyudahi perdebatan dan fokus dengan kelangsungan hubungan mereka, tapi malah masalahnya melebar kemana-mana, dan sampai ke Ibu Mila segala.


***


" Apa yang sedang kau pikirkan? " Tanya Erick seraya melemparkan handuk ke sembarang arah setelah rambut di kepalanya mulai kering.


" Hanya sedang membaca pesan dari Ibu. " Jawab Sofiana, kemudian dia bangkit dari duduknya untuk memungut handuk yang tadi di jatuhkan Erick, lalu meletakkan di tempatnya.


" Jika kau merindukan Ibumu, kau bisa menemuinya. Tapi ingat, kau hanya boleh pergi bersama Feng, atau pelatih mu. " Erick kini mulai merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


" Iya, aku akan menemui Ibu saat Ibu pindah ke apartemen. "


Erick mengeryit bingung.


" Maksudnya? " Tanya Erick yang merasa bingung kenapa Ibu mertuanya akan pindah ke apartemen? padahal kediaman Dardan sangat nyaman sepertinya.


" Ibu meminta cerai, tapi belum tahu bagaimana dengan Ayahku, entah dia setuju atau tidak, tapi kalau melihat situasinya, sepertinya Ayahku tidak akan keberatan. "


Erick tersenyum dingin.


" Ayahmu tidak akan mungkin menyetujui itu. "

__ADS_1


TBC


__ADS_2