
Alex yang jatuh bersimpuh di lantai, kini semakin terisak tak berdaya. Sungguh dia tidak bisa membayangkan seberapa luka dan sakitnya Veren karena ulahnya. Selama ini dia begitu menghargai dan menghormati seorang wanita karena tahu bagaimana Ibu dan Ayahnya berpisah. Wanita, adalah korban dari ke-egoisan laki-laki. Memalukan! selain melakukan hal tidak terpuji dan menghancurkan masa depan Veren, dia juga kehilangan satu anaknya, padahal sekalipun dia belum pernah melihatnya.
Prang!
Alex meninju lagi meja kaca yang tadi retas karenanya. Sekarang bukan lagi retak, tapi sudah hancur menjadi kepingan-kepingan kecil yang tajam.
" Alex! tenangkan dirimu! " Pinta Tuan Haris yang tidak tega melihat bagaimana terpukulnya Alex karena kenyataan ini.
Tangan yang berdarah-darah itu kini mengotori wajahnya. Suara tangis yang tadinya hanya sebuah isakkan, kini begitu terdengar jelas seolah dia tengah kesakitan oleh luka hati yang amat sangat dalam.
" Ah! " Teriak Alex karena tidak tahan merasa benci dengan dirinya sendiri. Dia memukuli tubuhnya dengan tangan yang terus mengucurkan darah, menampar wajahnya berkali-kali.
" Alex! " Teriak semua orang termasuk juga Veren. Tanpa memperdulikan banyaknya pecahan kaca yang berhamburan memenuhi lantai, Veren berjalan mendekati Alex. Iya, kini dia tahu bahwa dia tidak boleh lagi membenci Alex. Laki-laki yang telah memberikan dua anak, laki-laki yang telah memaksanya menjadi dewasa, dan laki-laki yang mampu menggetarkan hatinya belakangan ini. Terlebih, nyawa manusia adalah milik Tuhan, maka kematian kedua orang tuanya, dan juga Deniza pastilah karena kehendak Tuhan.
" Alex, jangan seperti ini. Hentikan! " Bentak Veren karena Alex masih saja memukuli wajahnya. Bahkan, sisi bibir Alex sampai mengeluarkan darah karena pukulannya sendiri.
Mendengar Veren membentaknya, Alex sontak berhenti dan mulai perlahan untuk tenang. Sejenak Veren menatap Tuan Haris, dan Tuan Haris memberikan arahan agar Veren mengajak Alex untuk pindah ke ruang keluarga, barulah ruang tamu bisa dibersihkan.
Setelah diruang keluarga, Veren mulai mengobati luka Alex akibat pecahan-pecahan kaca yang menggores punggung tangannya. Hah! bahkan ada satu pecahan kaca kecil yang sampai menusuk masuk ke dalam kulit, syukurlah Veren bisa menyingkirkannya.
" Nak, kita kerumah sakit saja dulu ya? " Ajak Ibu Mila meski suara gemetar karena menahan tangis melihat putranya diam tak berdaya seperti kehilangan arah kehidupan.
Belum sempat tangannya menyentuh pundak Alex, satu tangan Alex menepis kasar jemari Ibunya. Tentulah ini menjadi pukulan menyakitkan bagi Ibu Mila, terlebih untuk Angel. Wanita yang dinikahinya pertama kali, kini hanya bisa diam dan menangis saja. Jika Ibunya saja diperlakukan dengan dingin, apalagi dia? batin Angel.
Setelah Veren selesai melilitkan kain perban di kedua tangan Alex, barulah Tuan Haris mencoba untuk membuat Alex lebih bisa berpikir jernih.
" Alex, sekarang kau bisa mencoba memperbaiki semuanya. Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri. "
__ADS_1
Alex terdiam sejenak memikirkan ucapan Ayahnya.
" Jangan menyalahkan diri sendiri? memperbaiki semua? " Alex menatap Ayahnya penuh tanya.
" Bagaimana bisa aku memperbaiki semua ini? kehidupan Veren, orang tuanya? dan, " Alex mengeraskan rahangnya, dan jemarinya lagi-lagi menggenggam gemetar hingga kain perban dan baru saja melilit lukanya kembali basah karena darah dari tangan Alex kembali mengalir.
" Dan bagaimana dengan satu anakku yang meninggal? bagaimana caranya? bagaimana kalau kami bertemu, lalu dia membenciku di akhirat nanti? bagaimana aku bisa menghadapi putriku dengan kenyataan ini? bagaimana kalau dia bertanya, kenapa aku tidak menemui dia di saat-saat terakhir? apakah aku harus menjawab, Nak, Ayah tidak tahu kalau Ayah memiliki anak? " Alex kembali meneteskan air matanya. Sungguh ini bukan karena dia cengeng dan gampang menangis. Untuk pertama kali setelah dia dewasa, dia merasakan gejolak luka yang sama sekali tidak bisa ia terima jika benar ia yang melakukanya.
Tuan Haris menghela nafasnya, dia terdiam karena tidak bisa lagi berkata-kata. Tentu saja dia sendiri bingung, karena dia sama sekali tidak pernah berada di posisi Alex. Tapi melihat bagiamana Alex begitu menyesal, marah, dan kecewa dengan keadaannya ini, sebagai seorang ayah tentu doa merasa tidak tega. Apalagi saat melihat Alex berdarah-drmarah dan terus memukuli dirinya sendiri, dia cukup hancur melihatnya. Sedari kecil, Alex memiliki sifat yang penyendiri tapi juga lembut. Sangat berbeda dengan kakaknya yang ketus dan blak-blakkan menyampaikan apa yang dia rasakan.
Veren terdiam sembari berpikir. Sangat sakit juga rasanya melihat Alex begtu kecewa dengan dirinya sendiri. Meskipun pada awalnya dia menyalahkan semua yang terjadi karena Alex, tapi semakin dekat dengan Alex, dia semakin paham bagaimana sifat Alex yang sesungguhnya.
Veren bangkit dari duduknya, dia berjalan meninggalkan Alex dan yang lain, lalu menuju kamar yang ditempati Denzo.
" Sayang? " Panggil Veren setelah membuka pintu kamar yamg ditempati Denzo.
" Ibu, apa yang terjadi? tadi aku mendengar suara kaca pecah sangat keras. Apa nenek jelek itu menyakiti Ibu lagi? " Tanya Denzo sembari mendongak menatap Ibunya.
Veren tersenyum, dia mengurai dekapan Denzo, lalu memposisikan dirinya agar sejajar dengan tubuh Anaknya.
" Tidak, bukan itu. " Veren meraih kedua tangan Denzo, menciumnya, lalu menggenggamnya erat-erat.
" Sayang, kau lihat paman yang duduk disebelah Ibu kan? " Denzo mengangguk.
Veren kembali tersenyum, kini tangannya beralih menangkup wajah mungil putranya.
" Dia, dia adalah Ayah mu. "
__ADS_1
Denzo terdiam memandangi wajah Ibunya. Sebenarnya dia sama sekali tidak lagi mengharapkan untuk bertemu dengan Ayahnya lagi, mengingat bagaimana sedihnya wajah Ibunya saat dia dan Deniza menanyakan perihal Ayahnya dulu.
" Denzo, saat ini Ayah mu sangat sedih. Dia baru tahu kalau adikmu sudah meninggal, jadi tanpa sadar dia memukul meja sampai tangannya berdarah. " Veren menatap manik mata putranya dengan sungguh-sungguh.
" Denzo, apakah kau ingin bertemu Ayahmu? apakah kau menyayangi Ayahmu? " Denzo mengangguk, iya dia hanya ingin bertemu dengan Ayahnya. Perihal menyayangi Ayahnya, tentu saja dia tidak tahu.
Veren mengecup kening Denzo.
" Kalau begitu, bisakah menghibur Ayah seperti kau menghibur Ibu saat sedih? " Denzo kembali mengangguk.
Veren bangkit dari posisinya, meraih tangan Denzo untuk menggandengnya menuju ruang keluarga. Sofiana tersenyum memandangi punggung Veren dan juga Denzo yang berjalan keluar. Iya, dia berharap semua akan menjadi lebih baik mulai sekarang.
Sesampainya di ruang tamu. Denzo dan Veren masih terdiam di ambang pintu karena Denzo menghentikan langkahnya.
" Ibu, itu Ayahku? kenapa dia terlihat seperti itu? " Tanya Denzo yang terlihat ketakutan melihat ada banyak noda darah di baju Alex.
" Iya, Ayahmu sangat sedih hingga tanpa sadar mencelakai dirinya sendiri. "
Diam sejenak, lalu Denzo kembali melangkahkan kakinya. Alex yang menunduk tak berdaya itu sampai tak menyadari jika Denzo berada tepat di hadapannya.
" A Ayah? "
Alex mengangkat wajahnya, begitu pula Denzo langsung memeluk Alex.
" Ayah, jangan bersedih lagi. Deniza akan sedih juga kalau Ayah bersedih. "
TBC
__ADS_1