
Mendengar ucapan Ibunya, Alex benar-venar membelalak kaget. Dia bahkan sama sekali tidak bisa berkata-kata karena merasa jika Ibunya sangat berbeda dari biasanya. Bagaimana bisa dia memberikan masukan yang seperti itu? meskipun Veren tidak ia inginkan do dalam hidupnya, tapi Veren memiliki dunianya sendiri, cara bahagia dan segalanya sendiri. Sungguh tidak masuk akal kalau harus mengirim veren keluar negeri, lagi pula nantinya akan ada gosip-gosip aneh yang berkembang. Ditambah lagi,dengan sekali melihat Veren, Alex sedikit mengerti jika Veren adalah wanita yang bisa melakukan apapun demi tujuannya.
" Ibu, jangan menambah masalah lagi. Meskipun aku tidak pernah menceritakan banyaknya masalah diantaranya aku dan Angel, tapi sungguh, aku dan Angel benar-benar sudah banyak masalah. " Ucap Alex frustasi.
" Itulah kenapa kita perlu menyingkirkan Veren tanpa kau harus bercerai. "
" Ibu, sudahi saja pemikiran Ibu yang tidak masuk akal itu. biarkan aku tenang dulu sekarang. " Alex bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar tidurnya.
***
Sesampainya di apartemen Erick, Veren langsung saja masuk kedalam karena sudah diberitahu oleh Erick kode pintu apartemennya. Setelah sampai di dalam, perlahan Veren melangkahkan kaki di ruangan yang hampir tanpa cahaya itu. Cukup lama Veren berjalan hingga sampailah dia di dekat balkon. Dari sana dia bisa melihat Erick yang tengah berdiri sembari memegangi segelas wine yang ia sukai. Entah bagaimana ekspresi wajahnya karena Veren hanya bisa melihat tubuh tinggi besar itu dari belakang. Veren meletakkan tasnya perlahan dan berjalan mendekati si pemilik tubuh yang tingginya sekitar seratus delapan puluh lima, atau bisa jadi lebih karena lumayan jauh dari tinggi badan Veren yang hanya seratus enam puluh sembilan sentimeter.
Grep..
Veren memeluk tubuh Erick dari belakang sembari menghirup aroma pria yang selama ini selalu setia untuknya. Pria dingin yang hanya akan menjadi hangat saat bersama dengan Veren. Pria berwajah garang tapi tampan yang akan hanya menjadi lembut saat bersama dengan Veren.
" Jangan bergerak! aku masih ingin memelukmu dengan posisi seperti ini. " Titah Veren saat Erick hendak memutar tubuhnya ketika lengan Veren memeluk era tubuhnya.
" Aku juga ingin memelukmu. " Ucap Erick yang tentu saja Veren tidak tahu bagaimana tatapan pria itu sekarang. Tahu, Veren tentu sangat tahu jika Erick pasti akan tetap merasa kecewa padanya, tapi ini juga suatu pilihan yang sulit di dapatkan jika tidak ada keberuntungan.
" Erick, maaf. Tapi sungguh, aku tidak bisa memberitahumu lebih awal karena aku juga tidak sanggup. " Erick masih diam tak menjawab. Barulah ketika Veren melepaskan pekukannya, Erick langsung membalikkan tubuh dan memeluk wanita yang sangat ia cintai itu.
" Aku marah, aku juga kecewa. Tapi, aku juga mempercayai wanitaku. " Erick erat memeluk tubuh Veren, membenamkan wajahnya di leher jenjang Veren sembari menikmati aroma tubuh yang ia rindukan selama tiga hari terakhir.
__ADS_1
" Kau mau membunuh ku ya? " Ucap Veren karena merasai eratnya Erick memeluk tubuhnya.
" Maaf, Vero ku. " Erick mengendurkan pelukannya, meletakkan segelas wine yang sedari tadi berada di genggamannya, lalu membawa Veren untuk duduk dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
" Sekarang katakan, apa yang membuatmu melakukan ini semua. " Pinta Erick setelah mendapatkan posisi nyaman ketika Veren sudah berada di pangkuannya. Dengan seksama, Erick mendengarkan segala yang di ucapkan oleh Veren. Mulai dari Karina, sampai pertemuan dengan Nyonya Nehra, dan sampainya ke pernikahan itu.
" Erick, apa aku salah mengambil keputusan? kenapa wajah my seperti itu? " Veren menegakkan wajah Erick dan membuat tatapan mereka saling bertemu.
" Vero, bagaimana aku di matamu? " Tanya Erick sembari menatap lurus bola mata Veren yang juga menatapnya. Sesaat Veren menundukkan pandangannya, bagaimana? bahkan dia sendiri tidak tahu apa yang dia rasakan kepada Erick. Cinta kah? tapi dia sama sekali tidak mengingat bagaimana rasanya jatuh cinta setelah sekian lama.
" Apa aku tidak memiliki arti? " Erick menatap Veren dengan tatapan yang sama sekali tidak bisa diartikan lain selain kekecewaan.
" Vero, tatap aku dan katakan bagaimana aku di matamu. Aku tidak akan menanyakan bagaimana hatimu untukku. "
" Alu memang tidak tahu apa yang hatiku rasakan untukmu. Tapi, aku bisa menjelaskan apa yang aku rasakan, tapi tidak tahu bagaimana mengartikannya. "
" Katakan. "
" Aku tidak perlu berpura-pura saat berada di dekatmu. Aku tidak perlu menjadi kuat dan memaksakan diri untuk kuat saat bersamamu. Aku bisa menangis dan tertawa seperti apa yang aku rasakan. Aku, juga merindukan mu saat tidak melihatmu untuk beberapa waktu lama, aku juga mengkhawatirkan mu saat kau tidak memberiku kabar. " Veren berucap dengan begitu lantang dan percaya diri.
Erick tersenyum melihat tatapan Veren yang begitu bersungguh-sungguh.
" Vero, ini adalah kali pertama kau mengungkapkan apa yang kau rasakan padaku. Jadi jangan salahkan aku jika aku ingin melalukan lebih padamu. "
__ADS_1
" Apa yang akan dilakukan oleh pria brengsek ini? " Veren tersenyum sembari menjalankan jari telunjuknya di wajah Erick.
" Menurutmu, pria brengsek ini bisa melakukan apa? " Erick mulai mendekatkan wajahnya, tangannya juga bergerak memeluk pinggang Veren agar tubuh mereka saling bersentuhan dengan erat.
" Em... " Veren mulai merasai tangan Erick yang sudah berada di dadanya. Tapi sontak dia teringat sesuatu.
" Babe, kau tahu ini tanggal berapa kan? " Tanya Veren setelah berhasil melepaskan pangutannya.
" Sial! " Erick menjadi kesal seketika saat teringat bahwa ini adalah pertengahan bulan, sudah pasti Veren sedang datang bulan.
" Apa kau kecewa? perlu bantuan ku? " Veren tersenyum karena tidak ingin kalau sampai laki-laki yang tengah memasang wajah kesal itu semakin kesal.
" Maaf merepotkan mu, Vero ku. "
***
Di kamar Alex kini tengah memijat pelipisnya karena merasa pusing. Heh! lucu sekali jika dipikir-pikir. Sekarang ini dia memiliki dua istri, tapi sudah malam begini tidak ada satupun istrinya yang berada di rumah. Tidak tahu apa saja yang mereka lakukan. Angel memang sempat membalas pesan dan mengatakan jika dia sedang ada pemotretan setelah acara fashion show. Sementara wanita yang baru ia nikahi tidak tahu kemana perginya. Selain tidak tahu apapun tentang informasi Veren, dia juga tidak memiliki nomor ponsel istri mudanya.
Merasa sangat lelah, Alex kini merebahkan tubuhnya ditempat tidur sembari menatap langit-langit. Entah apa alasannya, dia tiba-tiba mengingat Veren yang mencium pipinya tadi. Suamiku, kata panggilan dari bibir Veren itu benar-benar membuatnya tidak bisa berkata-kata. Tapi yang anehnya, bibirnya malah tidak bisa menahan untuk tidak tersenyum. Apakah hatinya bahagia karena mendengar kata panggilan itu dadi Veren? padahal Angel memanggilnya dengan sebutan yang lebih modern, tapi kenapa? kenapa hanya dengan satu kata yaitu, Suamiku! rasanya sangat menyenangkan. Ditambah lagi, bibir hangat Veren tadi terasa begitu lembut ketika bersentuhan dengan kulit pipinya.
Veronika? Veren? kenapa aku merasa tidak asing dengannya?
TBC
__ADS_1