Terpaksa Menikahi Wanita Malam

Terpaksa Menikahi Wanita Malam
Masa Bodoh!


__ADS_3

Setelah perdebatannya dengan Veren, Angel memilih untuk masuk kedalam kamarnya. Terkejut memang saat melihat Alex dan Ibu Mila di luar kamar, tapi sudahlah. Dia sudah cukup lelah untuk berbicara. Dia masuk ke dalam kamar lalu mencoba menata kembali pikirannya yamg tengah kacau.


" Ibu ingin menemui Angel sebentar. " Ucap Ibu Mila lalu berjalan masuk kedalam kamar Angel. Sementara Alex, sebentar dia menyeka buliran air mata yang membasahi area matanya. Dia menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskan pelan agar suasana hatinya netral kembali. Tak mau banyak berpikir, dia meraih handle pintu Veren, lalu membukanya.


" Kau masih ingin berdebat?! pergi! menjauhkan dariku, saat ini aku sedang kesulitan mengontrol emosi, kalau kau masih saja ingin berdebat denganku, jangan salahkan aku kalau aku mencekik mu sampai mati. " Veren berucap tanpa mau memutar tubuhnya. Dia yang saat ini menangis sangat tidak ingin ada yang melihatnya.


Grep!


Lengan kekar, aroma tubuh maskulin yang sudah bisa Veren tebak siapa pemilik aroma tubuh yang harum itu.


" Veren, aku sungguh tidak tahu seberapa besar rasa sakit yang kau derita karena kami. Tapi aku benar-benar minta maaf, aku tahu kata maaf sampai jutaan kali pun tidak akan bisa mengubah segalanya. Tapi aku benar-benar minta maaf. "


Veren yang tadinya masih bisa menahan suara tangisnya, lama kelamaan tidak tahan lagi dan mulai sesegukan. Entahlah, dekapan Alex membuatnya merasa jika dia tidak perlu berpura-pura kuat lagi. Lelah, rasanya sungguh lelah karena harus terlihat baik-baik saja. Padahal, sejuta luka begitu perih tak tertahankan.


" Kenapa? kenapa kau harus bersikap baik? padahal seharusnya aku membencimu, kenapa aku tidak bisa melakukannya lagi? kenapa rasa benciku berkurang?! seharusnya tidak begini, seharusnya aku tidak begini! " Veren berucap sembari menangis. Gila! dia tahu apa yang di rasakan hatinya sungguh gila. Bagaimana bisa dia begitu rapuh dan tidak berdaya hanya karena Alex. Padahal, Alex adalah laki-laki yang seharusnya ia benci. Tapi bagaimana bisa hatinya menumbuhkan rasa yang salah?


Alex semakin mengeratkan dekapannya. Entah sedalam dan sebanyak apa luka yang dirasakan Veren, tapi sungguh dia seakan merasakan sakit juga setiap ada yang mengusik masa lalu Veren. Apalagi saat melihat Veren menangis seperti ini, dadanya benar-benar berdenyut sakit dan perih, seolah-olah tertusuk ribuan belati.


" Aku salah, benci saja aku sebanyak yang kau mau. Tidak apa-apa, jika kau ingin membalas, lakukan saja. Aku akan menerimanya, aku tidak akan keberatan. " Benar, hanya itulah yang bisa Alex katakan untuk saat ini. Entah mengapa, dia merasa takut untuk bertanya setelah melihat reaksi Veren saat ini. Maka biarlah saja Veren yang memberitahunya setelah dia merasa yakin.


" Aku juga ingin melakukanya! aku ingin membencimu, sama seperti sebelum kita menikah. Tapi, tapi aku tidak bisa! " Veren semakin kencang menangis setelah mengatakan itu. Alex yamg semakin tidak tahan akhirnya mengubah posisi mereka untuk saling berhadapan, kemudian Alex memeluk erat tubuh Veren. Tentu saja Veren memberontak karena tidak ingin Alex memeluknya, tapi Alex terus saja menahan tangan Veren dan lagi-lagi membawa kedalam pelukannya.


" Menangis saja, jika kau butuh pelampiasan, kau boleh memukulku sebanyak yang kau mau. " Setelah Alex mengatakan itu, entah mengapa Veren menjadi tidak berdaya. Dia memasrahkan tubuhnya untuk dipeluk erat oleh Alex. Sialnya, pelukan Alex benar-benar membuatnya sangat nyaman. Dia seperti merasakan sebuah kehangatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Kenapa? tidak tahu apa juga alasannya, tapi saat suasana hati kacau seperti ini, pelukan Alex benar-benar membuatnya merasa begitu betah.

__ADS_1


Setelah Veren mulai tenang, Alex berjalan meninggalkan kamar Veren sebentar untuk mengambilkan air. Ternyata disana sudah ada Ibu Mila yang tengah menantinya keluar dari kamar Veren.


" Ibu pikir, kau akan keluar tiga hari kemudian. " Sindir Ibu Mila. Alex memilih untuk diam dan gak menjawab. Dia kembali melanjutkan langkahnya untuk menuju dapur dan mengambil sebotol air mineral dingin yang tersimpan di dalam lemari es.


" Alex! " Panggil Ibu Mila dengan suara lantang. Untunglah mereka sudah ada di dapur, jadi Veren tidak bisa mendengarnya.


" Kenapa? " Alex menoleh sebentar kearah Ibunya, tapi segera dia kembali fokus dengan apa yang ingin dia ambil dari lemari es.


" Kau sudah gila?! istri mu yang sungguhan adalah Angel, bagaimana bisa kau memilih untuk menenangkan Veren?! "


Alex yang sudah akan meninggalkan dapur mengentikan langkahnya, dia menatap Ibunya tak suka.


" Istri sungguhan? " Alex tersenyum miris.


" Alex, wanita itu adalah pekerja malam. Bukan hanya satu, dia pasti juga tidur dengan banyak pria. Apa kau sungguh tidak merasa jijik? "


Alex mencengkram kuat botol air mineral yang tadi ia ambil. Iya, awalnya dia juga merasa menyesal dan jijik jika membayangkan itu. Tapi sekarang, semuanya seolah tidak berarti apa-apa baginya. Mungkin, keterpaksaan menikahi wanita malam itu, adalah sebuah jalan baginya untuk keluar dari dunia sandiwara. Dan sekarang, dia hanya perlu untuk fokus meluluhkan hati Veren agar dia mau menceritakan bagaimana kesalahan yang pernah ia lakukan di masa lalu, lalu menebusnya dengan segala cara agar bisa membuat Veren merelakan masa lalu dan berdamai dengan rasa sakitnya.


" Ibu, aku tidak perduli lagi dengan pekerjaan Veren. Entah itu pekerja malam, atau apapun. Sekarang ini Veren adalah istriku, kami terikat dengan hubungan pernikahan yang sah. Dari pada sibuk mengurusi ku, lebih baik Ibu pikirkan lagi kesalahan apa yang Ibu lakukan kepada Veren. "


" Alex! "


Tak mau mendengar lagi, Alex memilih untuk berjalan cepat menuju kamar Veren. Perlahan dia membuka pintu, ternyata sama. Veren masih duduk di sofa dan memandangi arah luar.

__ADS_1


" Minumlah, Tenggorokan mu pasti sudah kering. " Alex menyerahkan sebotol air mineral kepada Veren. Diluar dugaan Alex, rupanya Veren menerima air itu dan langsung menenggaknya. Padahal, tadi Alex sempat mengira kalau air itu pasti akan di tepis.


" Terimakasih. " Ucap Veren tapi tak mengalihkan pandangannya dari jendela.


" Hanya air, tidak usah sampai berterimakasih. " Alex mengusap rambut Veren lembut.


" Hentikan! atau aku akan salah paham nantinya. " Ucap Veren.


Alex tersenyum, dia kini duduk disamping Veren dan menatapnya.


" Kau bebas melakukan apapun yang kau mau, bahkan salah paham juga tidak masalah. "


Angel melirik sebentar, hah! ternyata Alex tidak menutup pintu kamar dengan benar, batin Veren saat tidak sengaja melihat ke arah pintu. Karena sekarang, Angel tengah melihat mereka berdua dengan jarak yang lumayan dekat.


" Benarkah? " Tanya Veren.


" Iya. "


" Kalau begitu, cium aku! " Ucap Veren dengan nada pelan. Tentu saja Alex terkejut, dia juga menelan salivanya karena takut salah dengar.


" Kenapa? kau tidak berani? "


Masa bodoh saja! Alex mendekatkan posisi wajahnya, dia perlahan meraih tengkuk Veren dan mulai membenamkan bibirnya disana.

__ADS_1


TBC'


__ADS_2