Terpaksa Menikahi Wanita Malam

Terpaksa Menikahi Wanita Malam
Wajah Kusut


__ADS_3

Nyonya kembali ke rumah dengan perasaaan yang lega. Sudah seharian ini dia menghabiskan watu bersama putri semata wayangnya. Dia sudah menceritakan banyak hal, terutama tentang rencananya untuk bercerai dari Tuan Haris yang tak lain adalah Ayah kandung dari Sofiana. Tak seperti kebanyakan anak yang orang tuanya memiliki rencana bercerai, Sofiana justru mendukung penuh keputusan sang Ibu. Tentu dia sebagai anak tahu benar bagaimana Ibunya hidup, karena dia juga ikut terseret dalam kehidupan menyedihkan yang di alami Ibunya.


" Dari mana saja? Kenapa tidak menjawab telepon, atau membalas pesan yang aku kirim? "


Nyonya Nehra menghentikan langkahnya saat Tuan Haris bertanya. Sungguh dia sama sekali tidak sadar kalau Tuan Haris berdiri di ruang tamu entah sejak kapan.


" Aku bertemu dengan Sofiana, kami hanya terlalu asik mengobrol, jadi tidak sempat melihat ponselku. " Jawab Nyonya Nehra tanpa mau berekspresi. Sejujurnya dia merasa agak aneh dengan sikap Tuan Haris belakangan ini, kenapa bertingkah seperti perduli padanya di saat dia sudah menyerah dengan hubungan suami istri yang tidak masuk akal itu.


" Kenapa tidak mengajaknya pulang sebentar? Bagaimana kabarnya? " Tuan Haris memang tak jelas bagaimana dia berekspresi, tapi dari nada suaranya Nyonya Nehra seperti mendengar kalau dia sedikit kecewa tidak bertemu dengan Sofiana. Padahal dulu juga tidak pernah perduli, kenapa sekarang seperti sosok Ayah yang sangat kehilangan putrinya?


" Iya, lain waktu dia akan datang mengunjungi anda. " Nyonya Nehra beralasan, padahal sebenarnya Sofiana lah yang tidak terllau nyaman berada dirumah, terlebih jika ada Ayahnya. Tahu, bagaimanapun Tuan Haris adalah Ayahnya, disaat sedih kemarin pun dia bersikap sebagaimana mestinya. Tapi entahlah, satu atau dua perbuatan baik, dan perhatian dari Tuan Haris seolah tidak bisa langsung saja mengikis jarak diantara mereka.


Tuan Haris menghela nafasnya. Sejenak dia menatap istrinya yang terlihat enggan menatapnya dan memilih melihat ke arah lurus.


" Nehra, sampai kapan cara bicaramu itu begitu hormat padaku? Aku bukan atasanmu, jadi berhentilah menyebutku, Tuan Haris, Anda, dan apalah itu. "


Nyonya Nehra memaksakan senyumnya. Sejenak dia teringat bagaimana mulut tajam Ibu Mila berucap saat itu. Kau adalah pengemis bagi kami, maka kau harus tahu bagaimana cara bersikap seorang pengemis kepada Tuannya kan? Sudah sangat lama, tapi rasa sakitnya begitu membandel tak bisa dihilangkan begitu saja. Sebutan Tuan, dan juga Nyonya kepada Tuan Haris dan Nyonya Nehra adalah sebuah bentuk hukuman yang diberikan Nehra kepada dua orang itu agar mengingatkan mereka betapa dia terhina selama ini.


" Tuan, hal yang bukan kebiasaan akan sangat sulit ketika dipaksakan. Sudah dua puluh dua tahun, tentu tidak akan mudah merubahnya. Dan lagi, panggilan sopan lain tidak akan cocok. "


" Nehra, aku tahu apa yang terjadi di masa lalu sangat membuatmu tidak nyaman, tapi kau bisa mengubahnya mulai sekarang. " Tuan Haris berjalan mendekati Nyonya Nehra yang masih berdiri disana.


Nyonya Nehra menghela nafas panjangnya. Mengubah?


" Tuan, semuanya tentu aja akan berubah, hanya saja kau masih tidak bersedia. "

__ADS_1


" Duduk dan mari kita bicara dengan kepala dingin. " Ajak Tuan Haris yang pada akhirnya memutuskan untuk duduk di sofa menunggu Nyonya Nehra untuk duduk juga.


" Nehra, semua ini bisa kita selesaikan tanpa harus bercerai. " Tuan Haris menatap dengan tatapan memohon. Sungguh ini tidak biasa bagi Nyonya Nehra yang biasanya hanya akan mendapatkan tatapan datar, atau juga tatapan dingin.


" Tuan, masalah kita ini sudah aku bicarakan dengan Sofiana. Dia mendukung keputusan ini, dan juga berharap bahwa anda akan menyetujuinya. "


Tuan Haris menatap Nyonya Nehra marah. Iya, marah tapi dia juga tidak bisa melampiaskan kemarahannya begitu saja di saat seperti ini.


" Nehra, kau bahkan sudah sampai memberitahu Sofiana? "


" Iya, meskipun aku tidak ingin mengakuinya, tapi putri kita, anak kandungmu yang awalnya meminta agar aku dan anda bercerai. "


" Apa?! " Tuan Haris menatap Nyonya Nehra kaget juga marah. Bagaimana bisa putrinya memikirkan hal semacam itu? Bagaimana bisa dia tidak menyayangkan sama sekali perceraian orang tuanya?


" Tuan, Sofiana hidup dan selalu bersamaku sepanjang waktu. Dia melihat bagaimana Ibunya dihina, di caci bahkan dipukul. Dia sangat marah, dia marah terhadap dirinya sendiri, dan juga marah terhadap anda yang tidak membela Ibunya saat Ibunya bersedih. Sofiana selalu merasa gagal menjadi seorang anak karena tidak bisa melakukan apapun saat Ibunya disakiti. Tuan, aku juga tidak ingin anakku terus menyalahkan dirinya, menyalahkan Ayahnya, juga membenci Nyonya Mila. Maka tolong kabulkan keinginanku, Tuan. Mari kita hidup dengan cara kita sendiri. "


" Tuan, aku kembali ke rumah ini untuk mengambil semua pakaianku. "


Lagi, Tuan Haris seolah tak bisa berkata-kata dan terpojokkan oleh kenangan masa lalu yang hanya bisa membuatnya terdiam.


***


" Kau baru saja bertemu dengan Ibumu, tapi tampang mu sangat tidak enak dilihat. Kenapa kau hanya menarik dan membuang nafas? Apa kau berniat mengotori oksigen di sini? " Sindir Erick yang kini sudah berada disamping Sofiana yang sedari tadi sibuk mengganti nafasnya di balkon apartemen.


" Maaf, apa kau membutuhkan sesuatu? " Sofiana tercekat memperbaiki posisinya menatap Erick yang nampak cuek dengan penampilan Sofiana yang lusuh saat ini.

__ADS_1


" Tidak, selain jangan menunjukkan wajah menyebalkan mu seperti saat ini. Saat kau kembali ke apartemen, kau tidak boleh berwajah menyebalkan karena aku mudah terganggu dengan itu. "


Sofiana menarik nafas panjang, membuangnya perlahan, lalu mencoba tersenyum sebaik mungkin.


" Apa seperti ini sudah bagus? " Sofiana mendekatkan wajahnya dan memamerkan senyumnya itu kepada Erick.


" Sudah cukup! " Erick mendorong jauh wajah Sofiana menggunakan satu tangannya.


" Cepat mandi dan tidurlah! Aku tidak bisa tidur kalau partner di atas tempat tidurku bau. "


" Baik. " Sofiana meninggalkan kecupan di pipi Erick sebelum dia meninggalkan Erick disana.


" Dasar aneh! " Maki Erick degan nada pelan sembari menyentuh pipi yang baru saja dikecup oleh Sofiana.


Setelah Sofiana selesai mandi dan menggunakan baju tidurnya, dia kembali ke balkon karena tak mendapati Erick di kamar. Benar saja, Erick masih disana menikmati rokok yang bertengger di jemarinya.


" Apa mau kopi? " Tanya Sofiana.


" Tida usah! " Erick mematikan puntung rokok yang sudah setengah dia hisap tadi.


" Kemarilah! " Pinta Erick sembari menepuk pangkuannya.


Tidak terbiasa, tapi dia juga tidak mau menolak. Dengan patuh Sofiana mengikuti apa yang diperintahkan kepadanya.


" Bagaimana kalau mempraktekkan pelajaran ranjang yang aku ajarkan padamu? "

__ADS_1


TBC


__ADS_2