
" Ibu, apa kita temui mereka saja? " Tanya Veren yang saat ini tengah bersama dengan Nyonya Nehra di rumah sakit, dan tak sengaja melihat Tuan Haris tengah mendorong kursi roda Ibu Mila.
" Tidak usah, Veren. Laki-laki itu hanya akan marah, dan mengira aku mengikutinya karena aku merasa curiga dengannya. Biarkan saja dia melakukan apa yang ingin dia lakukan. " Jawab Nyonya Nehra.
Sebenarnya Veren juga tidak tahu kalau akan melihat Ibu Mila dan Tuan Haris di rumah sakit sebesar ini. Pada awalnya dia hanya ingin menemani Nyonya Nehra mengecek kesehatannya, tapi sepertinya setelah melihat ini Nyonya Nehra tidak baik-baik saja. Mulut boleh mengatakan tidak apa-apa, dan biarkan saja. Tapi bagaimana matanya menatap seolah mengisyarakatkan betapa kecewanya dia terhadap suami yang lebih dari dua puluh tahun hidup bersamanya.
" Ibu, mungkin ini tidak seperti apa yang kita lihat. " Veren mencoba untuk membuat Nyonya Nehra berpikir positif dulu meskipun dia sendiri juga ragu. Tapi sungguh dia hanya ingin rumah tangga mertuanya baik-baik saja apapun yang terjadi.
Nyonya Nehra tersenyum kelu.
" Veren, aku tidak ingin berpikir positif karena aku tidak mau menyimpan banyak harapan. Entah itu sesuai dengan apa yang kita lihat atau tidak, pada nyatanya dia masih tidak bisa menempatkan diri sebagai Suami, dan mantan suami. Aku ini sudah bersiap dengan sangat yakin, kalau terus terikat dengan pria itu, aku hanya akan menganggap diriku wanita pajangan saja. "
Nyonya Nehra menatap Veren, dia sebisa mungkin tersenyum meski dia tahu sulit sekali tersenyum saat hati ingin menangis.
" Veren, aku juga ingin dihargai sebagai seorang wanita. Aku ingin orang melihatku dengan cara yang tulus, bukan karena terpaksa menatap ramah karena aku istri dari Haris. Aku sudah sangat lelah, Veren. "
Veren memeluk erat tubuh wanita cantik yang kini menjadi Ibu tirinya.
" Ibu, apapun keputusan Ibu, aku akan menjadi putrimu juga, boleh kan? "
Nyonya Nehra tersenyum.
" Tentu saja, aku juga akan meminta jatah waktu setiap minggu bersama Denzo. "
Veren dan Nyonya Nehra melepas pelukannya.
" Jadi, apa rencana Ibu selanjutnya? " Tanya Veren.
" Aku sudah menyewa sebuah apartemen, dan juga sudah menyewa toko di pinggir jalan. Rencananya, aku akan membuka toko roti, bagaiamana menurutmu? "
Veren mengangguk setuju.
" Bagus juga, aku akan membantu. "
" Terimakasih. " Nyonya Nehra tertawa kecil.
Setelah kembalinya mereka kerumah masing-masing, kini Veren tengah membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Iya, tidak ada lagi yang bisa dilakukan, karena Denzo juga sedang tidur siang saat ini. Veren menghela nafasnya saat lagi-lagi teringat obrolannya dengan Nyonya Nehra.
__ADS_1
" Rasanya pasti sangat menyakitkan untuk Ibu Nehra. Menikah, tapi seperti tak berkuasa atas status istri, bertahun-tahun hidup dengan kekang dari berbagai pihak. Ya Tuhan,... Bagaimana ini? " Veren mengusap wajahnya kasar, lama dia terus melamun sembari berpikir, hingga tanpa sadar dia terlelap tidur sampai masuk waktu malam.
Cup...
Sebuah kecupan singkat mendarat di bibir Veren. Merasa terganggu, Veren mulai membuka matanya, dia perlahan bangun dari posisinya dan mencari siapa yang tadi menciumnya meski dia sendiri sudah bisa menduganya.
" Suami? "
Alex menoleh lalu tersenyum.
" Kau terganggu ya? "
" Iya, pukul berapa sekarang? "
" Tujuh malam. "
Veren terperangah kaget, benar-benar lupa daratan rupanya. Perlahan Veren bangkit dan mendekati Alex yang kini tengah menukar bajunya. Dia juga meletakkan satu setel baju di tempat tidur.
" Kau mau pergi lagi? " Tanya Veren.
" Iya, Ibuku masih belum pulih, kenapa? Kau sudah sangat merindukanku? " Goda Alex.
" Oh iya, kalau siang siapa yang menjaga Ibumu? "
" Ada pelayan rumah, kenapa? "
" Tidak, tidak kenapa-kenapa. "
" Kau bertanya pasti ada sebabnya, katakan ada apa? "
Veren nampak berpikir sebentar.
" Ayahmu apa sudah menjenguk Ibumu? "
" Em,.. Tadi pagi mereka seharusnya bertemu sih. "
Veren memaksakan senyumnya.
__ADS_1
" Oh, begitu ya? "
" Iya. "
" Suami, nanti kalau Ibumu memintamu memilih antara aku dan dia, bagaimana? " Iya, ini adalah salah satu pertanyaan yang ingin sekali Veren tanyakan kepada Alex sebenarnya.
Alex menghela nafasnya, dia meraih pundak Veren, lalu membuat posisi mereka saking berhadapan.
" Tentu saja memilih kalian semua. Kau dan Ibuku adalah orang terpenting dalam hidupku, bagaimana bisa aku memilih salah satunya. "
" Seandainya dia memaksa? "
Alex tersenyum seraya mengusap rambut Veren.
" Itu berarti tugas kita untuk bisa meluluhkan hati Ibuku agar dia tidak akan memintaku lagi memilih salah satu di antara kalian. Nanti kalau Ibu sudah keluar dari rumah sakit, kita coba pelan-pelan ya? " Veren tersenyum, lalu mengangguk.
***
" Apa-apaan ini, Nehra?! Kau sedang membuat ulah apa lagi huh?! " Kesal Tuan Haris saat membaca selembar kertas yang diberikan oleh Nyonya Nehra. Iya, kertas itu berisikan permohonan cerai, dan sudah ditanda tangani oleh Nyonya Nehra.
" Selama ini, aku sudah mengabdikan hidupku untukmu, dan mendiang orang tuamu. Sudah dua puluh dua tahun aku menerima semua hal yang cenderung menyakitkan untukku, sekarang aku hanya minta satu saja permintaan, tolong tanda tangani dan biarkan aku pergi. " Nyonya Nehra menatap lurus ke arah jam dinding yang ada depannya. Sementara Tuan Haris, dia kini berdiri dengan wajah kesalnya sembari menatap Nyonya Nehra.
" Kau ini sudah gila ya? Apa sebenarnya masalahmu? Aku sudah membiarkan mu dengan nyaman, kau merasa kurangnya dimana? " Tuan Haris kini mulai memelankan suaranya, entah apa bisa membuat hati istrinya tersentuh, tapi dia ingin mencobanya.
Nyonya Nehra memaksakan senyumnya.
" Masalahnya? Bolehkah aku jujur, Tuan Haris? " Nyonya Nehra bertanya dengan tatapan yang begitu miris.
" Aku dari awal bukan perusak hubungan rumah tanggamu, aku juga sudah menolak untuk dinikahkan denganmu, aku juga selalu melakukan apa yang kau katakan. Tapi, pernahkah kau memikirkan bagaimana perasaanku saat orang lain menatapku benci? Menyakitkan, tapi yang lebih menyakitkan lagi adalah saat kau memilih diam, padahal kau tahu semuanya, seolah-olah kau lupa aku adalah istrimu. Aku sungguh lelah menceritakan masa lalu itu, sekarang ini tolong tanda tangani saja, maka semua masalahnya akan segera terselesaikan. "
Tuan Haris kembali ke posisi duduk, dia memijat pelipisnya karena kepalanya terasa pusing. Benar, apa yang dikatakan istrinya memang sebuah kenyataan, tapi dia memiliki alasan tersendiri yang tidak bisa ia jelaskan. Dan saat ini, dia sungguh tidak ingin kalau sampai bercerai dengan Nyonya Nehra.
" Nehra, semua anggapan itu sudah berlalu, kenapa kau harus membahasnya sekarang? "
" Kau salah, Tuan. Mantan istrimu yang kau cintai itu terus saja memprovokasi teman-temannya, membuat ku bahan sindiran saat bertemu mereka. Tapi sudahlah, ini salahku yang terlalu mudah tersinggung. Intinya, aku tetap dengan keputusanku. "
" Aku tidak akan menandatanganinya, itu berarti kau juga tidak akan bisa bercerai denganku. "
__ADS_1
" Ternyata, sampai saat ini anda masihlah begitu egois. "
TBC