Terpaksa Menikahi Wanita Malam

Terpaksa Menikahi Wanita Malam
Tujuh Tahun Lalu, Part 1


__ADS_3

Setelah Denzo mulai tenang, kini giliran Angel, dan Ibu Mila yang semakin menegang. Sementara Alex, dia terus memandangi wajah Denzo karena merasa tidak asing dengan wajahnya, atau karena merasa sudah pernah bertemu.


" Denzo, pergilah bersama Kakak ya? biarkan Kakek, Ibu, dan juga yang lainya berbicara sebentar. " Pinta Tuan Haris.


Awalnya Denzo terus menolak karena merasa takut kalau saja Ibunya akan dihina oleh Ibu Mila. Tapi karena Bujukan Tuan Haris, ditambah lagi Veren, akhirnya Denzo menyetujui nya. Dia pergi ke kamarnya bersama dengan Sofiana.


" Veren, tolong, tolong beritahu apa yang sebenarnya. " Pinta Alex. Sudah jelas kalau wajah Denzo mirip dengannya, tapi dia tidak berani menyapa karena dia masih belum mengerti tengang semua hal yang terjadi.


Veren terdiam sesaat. Dia menatap Ibu Mila dan Angel yang nampak gelisah. Tapi saat tatapannya terarah kepada Tuan Haris, dia tahu benar jika Tuan Haris meminta Veren untuk jujur. Veren menghela nafasnya. Sebenarnya dia masih ingin menyiksa Ibu Mila dan Angel dengan ketidaktahuan mereka, tapi situasi sekarang ini seolah tak mendukungnya.


" Baiklah, aku akan menceritakan yang sesungguhnya. "


( Tujuh tahun yang lalu. )


" Selamat ulang tahun yang ke tujuh belas, Veren. " Seorang pria bernama Brian, mengucapkan ucapan selamat ulang tahun untuk Veren. Brian adalah anak dari rekan bisnis Ayahnya Veren. Sedari mereka lahir, mereka sudah dijodohkan oleh orang tua mereka. Bahkan, pernikahan juga sudah di jadwalkan akan dilaksanakan setelah mereka lulus sekolah menengah atas.


" Thanks, Brian. "


" Bagaimana kalau nanti malam kita merayakan bersama? " Tanya Brian yang saat itu sudah duduk di bangku kelas dua belas, sedangkan Veren masih duduk di kelas sebelas.


" Em? Brian, bagaimana kalau besok saja? nanti malam teman-teman kelas sudah menyiapkan pesta untukku. Tapi kau boleh datang juga. "


" Baiklah, nanti malam aku akan datang. "


Malam harinya, Veren dan juga teman-temannya sudah sampai di sebuah kafe, tempat dimana acara di adakan. Cukup lama Veren menunggu kedatangan Brian, tapi dia hanya bisa menahan pil pahit karena Brian gak datang meski acara sudah selesai.

__ADS_1


Pukul dua puluh dua malam, semua teman-teman Veren sudah mulai meninggalkan kafe. Tak mau lebih lama menunggu, akhirnya Veren berjalan pulang. Hampir tiga puluh menit Veren menunggu datangnya taksi, tapi nyatanya selalu saja taksi yang lewat sudah membawa penumpang. Terpaksa sudah Veren harus berjalan menuju halte Bus. Sialnya, halte Bus lumayan jauh dari Halte.


" Ya ampun! sudah malam sekali. Ayah dan Ibu pasti marah saat aku sampai dirumah nanti. " Gumam Veren sembari terus melangkahkan kaki.


Tiba-tiba langkah Veren terhenti saat ada seorang pria berjalan sempoyongan di hadapannya. Tak lama berhentilah sebuah mobil mewah dan seorang sopir pengganti keluar dari mobil itu.


" Tuan, lebih baik biarkan saka saya yang mengantar anda sampai tujuan. Sepertinya anda sangat mabuk, Tuan. "


" Tidak usah! berikan kuncinya padaku. " Ucap Pria itu yang tak lain adalah Alex. Karena Alex terus menolak, sopir pengganti itu akhirnya menyerah untuk membujuk Alex.


" Sialan! " Alex menendang mobilnya, ia juga nampak sangat kacau.


Veren yang saat itu merasa kasihan datang mengetuk kaca mobil. Tujuannya hanyalah untuk memastikan saja bagaimana keadaan orang tadi. Soalnya, begitu masuk kedalam mobil, pria tersebut sepertinya tak juga melajukan mobilnya.


Tok Tok Tok


" Halo? masih hidup kah? kalau sudah mati, aku panggil orang untuk mengeluarkan mu dari mobil ya? takutnya nanti tubuhmu kaku. Kan tidak lucu kalau di kubur dengan posisi duduk. "


Sejenak tak ada jawaban, tapi saat Veren mulai menyerah, pintu mobil itu terbuka. Alex meraih tangan Veren, lalu membawanya masuk kedalam mobil.


" Apa yang kau lakukan?! " Tanya Veren ketakutan saat kursi mobil didorong kebelakang.


" Melakukan apa yang kau inginkan. Kau sengaja melakukan ini kan? aku sudah menahannya, tapi kegigihan mu yang luar biasa benar-benar membuatku kagum. "


Alex membuka baju Veren dengan paksa. Seluruh kancing kemejanya berjatuhan entah kemana.

__ADS_1


" Jangan! tolong! lepaskan aku! lepas, atau aku akan berteriak, dan memberi tahu semua orang kalau kau berniat memperkosa ku! "


" Lakukan saja. Asal kau tahu, mobil ini kedap suara. Dan lagi, jangan berpura-pura menolak, kau pikir aku tidak tahu kalau ini ulah mu? "


Baru Veren akan berteriak lagi, bibir Alex sudah menyambarnya dan memangsanya dengan ganas. Tangannya juga sudah tidak bisa ia tahan lagi untuk diam. Suhu tubuh yang semakin meningkat membuatnya tak mau lagi memperdulikan rintihan, bahkan juga penolakan dari wanita yang tengah ia tindih itu. Pandangan yang meremang karena alkohol, ditambah rangsangan obat yang tidak sengaja ia minum benar-benar membuatnya hilang akal.


" Ah! sa sakit! " Pekik Veren saat Alex memaksakan bagian bawahnya agar melesat masuk ke bagian inti Veren.


Entah sudah berapa orang yang lewat dan menyadari jika mobil Alex bergoyang, tapi karena mobil itu berada di kawasan dunia malam, mereka sama sekali tidak heran akan hal itu. Ditambah kaca hitam pada mobil dan tidak ada suara yang terdengar dari luar, tentu saja mereka tidak akan menghiraukan hal itu.


Tak kenal lelah, Alex menghujam bagian bawahnya berkali-kali. Masa bodoh dengan gadis yang menangis kesakitan, masa bodoh dengan penolakan, karena hasrat yang semakin memuncak itu semakin tidak bisa dikendalikan. Hingga sampailah Alex di puncaknya, tubuh yang melemas itu terjatuh begitu saja di atas tubuh Veren yang gemetaran.


" Ibu, Ayah, tolong aku. Ibu, Brian, tolong aku. " Rintihan Veren benar-benar tidak bisa Alex dengar lagi karena dia sudah kelelahan dan tertidur begitu saja.


Setelah mendapati tenaganya yang sedikit terkumpul, Veren mendorong jauh tubuh Alex. Entah bagaimana posisi Alex saat itu, karena Veren sama sekali tidak perduli lagi. Tangan yang gemetar hebat itu dia paksakan untuk meraih kemeja yang tadinya di pakai Alex. Terpaksa sudah ia gunakan baju pria asing yang sudah merampas kesuciannya.


" Dasar jahat! aku hanya ingin menolong mu, tapi kau mencelakai ku. " Ucap Veren sembari menangis.


Dengan tergesa-gesa dia berlari meninggalkan mobil itu. Dia terus mencoba berlari dengan kedua kaki yang gemetar, mata yang terus menangis, lari, dan terus berlari. Tida mau menoleh kebelakang, tidak mau mengingat bagaimana terlukanya dia hari ini.


Sepanjang perjalanan Veren hanya diam sembari terus menitihkan air mata. Bahkan sampainya di Bus, orang-orang juga hanya menatapnya dengan tatapan aneh. Iya tentu saja wajar. Penampilan berantakan, tanda merah begitu banyak di lehernya, bibirnya yang sedikit berdarah karena gigitan Alex begitu kuat.


Sesampainya di rumah. Ibunya Veren terkejut hingga merasakan sesak di dadanya saat melihat keadaan putri semata wayangnya.


" Veren, katakan! katakan kalau ini tidak benar! katakan kalau ini bohong! cepat katakan! "

__ADS_1


TBC


__ADS_2