
Diruang tengah, Veren tengah membantu Alex untuk mengoleskan obat. Untunglah, lukanya tidak terllau dalam dan juga tidak sampai robek kulitnya. Maka membersihkan dengan alkohol, lalu mengoleskan obat saja itu sudah cukup. Sebenarnya Veren sengaja agak menekan agar Alex kesakitan. Tapi sayangnya, Alex sama sekali tidak berekspresi, dia hanya diam dengan pandangan yang seperti menelusur dan tengah memikirkan sesuatu yang entah apa itu Veren juga mana tahu masalah pria yang berstatus suaminya.
" Apa sudah selesai? " Tanya Alex saat menyadari jika Veren sudah mulai meletakkan alat yang di gunakan untuk mengoleskan obat.
" Tunggu! " Veren kembali mendekatkan wajahnya, dia meniup-niup bagian yang ia oleskan obat. Sebenarnya ini adalah hal yang biasa, hanya saja posisi Veren saat ini begitu tidak biasa. Dia meletakkan satu lututnya ditengah-tengah paha Alex yang sedikit melebar, dengan posisi dia menungging dengan lutut yang menahan tubuhnya sejajar dengan posisi Alex. Ditambah lagi, bagian dada Veren yang lumayan terbuka pas sekali ada di depan wajahnya. Alex tentu saja tidak bisa menggerakkan kepalanya begitu saja karena Veren tengah meniup bekas olesan obat agar cepat kering. Tapi kalau tidak menghindar dari pemandangan ini, bisa-bisa dia gila sendiri.
" Apa rasanya perih? " Veren mengubah posisi wajahnya menjadi berhadapan dengan Alex. Senyum manis itu begitu jelas terlihat di mata Alex hingga dia tidak mampu berbicara dan hanya bisa menggeleng saja.
" Kau, apa masih betah dengan posisi seperti ini? " Tanya Alex yang sudah tidak tahan lagi. Kenapa? karena saat Veren mengubah posisi wajahnya, lutut Veren juga sedikit bergerak dan membuatnya tanpa sengaja menyentuh bagian sensitif Alex. Veren menautkan alis karena dia sama sekali tidak sadar dengan apa yang terjadi di bagian bawah. Tapi karena dia mengira kalau Alex tidak nyaman terlalu dekat dengannya, maka Veren mengubah posisinya menjadi berdiri tegak di hadapan Alex.
" Terimakasih. " Ucap Alex sembari membenahi posisi duduknya.
" Suami, kau tidak kembali ke kamar? " Tanya Veren yang sudah jelas tahu jawabannya, tali berpura-pura perduli juga tidak apa-apa kan?
" Tidak, kau tidurlah di kamar tamu. Aku akan keruang kerja. " Alex mulai bangkit dari posisinya dan hendak berjalan. Tapi dengan sigap Veren meraih lengan Alex agar langkah kaki pria itu terhenti.
" Suami, sebenarnya aku tidak biasa tidur sendiri. Boleh minta tolong temani aku? " Veren menetap dengan tatapan memohon.
__ADS_1
" Maaf, aku tidak bisa. " Alex mencoba menjauhkan tangan Veren yang menahan lengannya. Tapi bukanya terlepas, Veren malah memeluk lengan itu dengan erat.
" Kalai begitu, aku ikut ke ruang kerjamu ya? aku janji tidak akan membuat keributan. Ya? boleh ya? "
Alex menghela nafasnya. Sebenarnya apapun alasan mereka menikah, Veren tetap adalah istrinya. Tapi dengan keadaan angel sekarang, dia sama sekali tidak berminat untuk menghindari istri pertamanya itu.
" Wanita, "
" Veren! panggil aku Veren! ingat ya? Veren. "
" Baiklah, Veren. Tolong jangan seperti ini, keadaan angel sekarang sangat tidak baik, jadi tolong pengertiannya. "
Alex menghela nafasnya karena sepertinya, dia mulai menyadari jika memiliki dua istri adalah hal yang sangat menyeramkan. Sungguh tidak bisa membayangkan bagaimana caranya pria bisa memiliki empat atau bahkan lebih sekaligus. Dia memang pernah menonton sebuah acara di televisi tentang seorang pria yang bisa membuat ke empat istrinya akur dan saling membantu serta menyayangi satu sama lain. Tapi saat dia baru saja menikahi satu istri lagi, kepalanya sudah berdarah. Besok-besok apa lagi yang akan berdarah?
" Baiklah, hanya sampai kau tidur. " Veren mengangguk dengan tatapan bahagia.
Karena tidak ingin mendengar kemarahan Angel lagi, Veren dan Alex memutuskan untuk pergi ke kamar tamu yang berada di lantai satu. Seperti yang sudah dijanjikan, Alex menemani Veren tidur. Tapi dia hanya duduk ditempat tidur sembari memainkan ponsel yang sedari tadi memang berada di dalam sakunya. Degan tubuh yang menyender, Tentu lama-lama membuat Alex mengantuk juga. Dilihatnya Veren masih saja belum tertidur.
__ADS_1
" Veren, kapan kau akan tidur? ini sudah lebih dari tiga puluh menit. " Protes Alex.
" Suami, biasanya aku dipeluk oleh pacarku. Kalau seperti ini, aku sama sekali tidak bisa tidur. " Alasan Veren yang tentu saja jelas kalau dia berbohong. Alasan sesungguhnya dia tidak bisa tidur juga dia sama sekali tidak tahu kenapa. Mungkin malah karena Alex yang tidak biasa baginya.
Alex kembali menghembuskan nafas kasarnya. Di dalam hati menggerutu, ya sudahlah. Mau di apakan lagi, yang penting tidak terjadi apa-apa kan?. Alex membenahi tubuhnya sejajar dengan Veren.
" Kau bisa memelukku, saat kau tidur nanti baru aku akan ke ruang kerjaku. "
Veren yang kadung berbohong tentu saja hanya bisa memenuhi titah Alex. Dia mulai mendekatkan tubuhnya hingga masuk kedalam dekapan Alex. Jujur, ini memang asing bagi keduanya. Tapi entah apa alasannya, mereka benar-benar merasa nyaman dengan posisi seperti ini. Ditambah lagi, hujan yang lumayan deras seolah mendukung kegiatan ini. Hangat, batin keduanya. Lama, semakin lama mereka tanpa sadar mulai mengantuk dan masuk kedalam alam mimpi dengan tenang. Alex yang tadinya ingin keruang baca, malah tidak berdaya karena kenyamanan dan hangatnya tubuh Veren membuatnya tak bisa menahan mata untuk tidak ikut terlelap.
Pagi harinya. Angel terbangun dengan keadaan yang kacau karena ulahnya semalam. Barang-barang yang ia obrak abrik juga masih utuh seperti itu. Ada pecahan-pecahan vas bunga yang berhamburan memenuhi lantai kamar nya. Untung saja dia tidak langsung turun dan mengamati lantai terlebih dulu. Kalau tidak, sudah pasti kakinya akan berdarah-darah pagi ini. Sedikit menahan sakit kepala akibat mabuk semalam, Angel mulai mengingat kejadian semalam yang membuatnya melakukan ini semua. Mulai dari adegan Alex dan Veren yang berciuman penuh nafsu, lalu Angel yang mengobrak abrik isi kamar hingga vas bunga terlempar ke kepala Alex, bahkan masih banyak lagi kata-kata tidak pantas yang ia lontarkan untuk Alex.
" Alex? " Dengan hati-hati Angel mulai bangkit dari tempat tidurnya. Kepalanya yang sakit benar-benar membuatnya harus terus berusaha menajamkan mata agar tidak menginjak pecahan Vas bunga.
" Alex? " Panggil lagi Angel setelah berhasil keluar dari kamarnya. Dia mulai berjalan hati-jati menuruni anak tangga untuk menuju meja makan. Iya, siapa tahu Alex ada disana, batin Angel.
" Ibu, Alex dimana? " Tanya Angel yang tak mendapati Alex di meja makan. Seketika Angel kembali teringat dengan Veren yang juga tidak ada di meja makan.
__ADS_1
" Kenapa kau mencari Alex? memang Alex tidak tidur dengan mu? " Tanya Ibu Mila.
TBC