
" Ibu mertua! " Pekik Veren begitu mendapati Ibu Mila terjatuh di lantai sembari memegangi dadanya. Tak lagi memikirkan berapa banyak kesalahan yang dilakukan oleh Ibu Mila, Veren langsung saja memanggil sopir untuk menyiapkan mobil, lalu membantu Ibu Mila untuk bangkit.
" Ibu, tolong bertahanlah sebentar ya? " Veren berlari meminta bantuan pelayan untuk mengangkat tubuh Ibu Mila ke mobil. Barulah setelah itu dia memegangi tubuh Ibu Mila saat mobil mulai melaju dengan cepat.
" Ibu mertua, sebentar lagi sudah akan sampai, bertahan ya? "
Disaat itulah Ibu Mila merasakan hal yang tidak biasa. Iya, dadanya sangat sakit, tapi dia cukup tersentuh dengan perlakuan Veren yang terlihat benar-benar khawatir padanya.
Sesampainya dirumah sakit, tak lama Ibu Mila mendapatkan penanganan segera, sementara Veren kini tengah menunggu kabar sampai Dokter selesai memeriksa kondisi Ibu Mila.
" Istri? "
" Alex? " Veren berlari memeluk Alex yang nampak khawatir. Tadinya Alex ingin langsung bertanya bagaimana kondisi Ibunya, tapi merasakan tubuh Veren yang gemetar hebat, Alex menahannya sebentar untuk menenangkan Veren.
" Tidak apa-apa, Ibu akan baik-baik saja. " Mungkin orang lain bis tenang, tapi bagaimana mungkin Veren bisa melakukan itu? Pengalaman yang membuat hidupnya kehilangan orang tua, dan anaknya juga.
" Keluarga Pasien? " Panggil Dokter yang tadi menangani Ibu Mila. Veren dan Alex bergegas mendekat untuk tahu bagaimana keadaan Ibunya sekarang ini.
" Bagaimana keadaan Ibu saya, Dokter? " Tanya Alex.
" Ibu anda mengalami serangan jantung, untunglah Ibu anda segera di bawa kerumah sakit, dan segera mendapatkan penanganan. "
Veren mendesah lega, begitu juga degan Alex yang langsung memeluk Veren.
" Terimakasih, istriku tersayang. Aku benar-benar berhutang banyak padamu. "
Setelah beberapa saat Veren dan Alex kini sudah bisa bertemu dengan Ibu Mila yang masih terbaring di brankar rumah sakit.
" Ibu? " Sapa Alex seraya berjalan mendekati Ibunya. Alex tersenyum, lalu mencium pipi Ibunya.
__ADS_1
" Terimakasih karena Ibu baik-baik saja. " Ucap Alex penuh rasa syukur.
" Tolong, biarkan Ibu bicara dengan Veren. " Pinta Ibu Mila. Alex mengangguk setuju dan meninggalkan Veren beserta Ibu Mila disana.
" Terimakasih, berkat kau aku bisa selamat, dan memiliki waktu lagi untuk bersama dengan Denzo. "
Veren tersenyum dengan tulus. Benar-bena baru pertama kali Ibu Mila berbicara dengan nada suara yang begitu lembut dan tulus.
" Tidak apa-apa, Ibu mertua. Itu adalah kewajiban ku, dan aku juga tidak ingin Denzo kehilangan neneknya. "
Sungguh rasanya Ibu Mila ingin memeluk Veren dan meminta maaf atas apa yang dia lakukan selama ini. Tapi sayang, tubuhnya yang lemah hanya bisa mewakili niatnya dengan tangisan.
" Ibu mertua? Kenapa menagis? " Tanya Veren khawatir.
" Aku, aku minta maaf untuk semua yang aku lakukan. " Ibu Mila tertunduk malu. Iya, dia sangat malu dan tidak berdaya karena keegoisan yang tidak bisa dia tahan. Benar, setelah dipikikan kembali, Veren tidak akan kehilangan orang tuanya, anaknya, dan tidak mungkin juga mnejadi pekerja malam kalau saja dia memilih untuk mementingkan dirinya sendiri.
" Ibu mertua, jujur aku sangat marah kalau mengingat itu semua. Tapi aku juga tidak bisa mengelak bahwa semua yang terjadi adalah karena kehendak Tuhan. Semuanya sudah terjadi, kita hanya tinggal saling memaafkan dan hidup dengan bahagia. " Ibu Mila semakin terisak haru, begitu juga dengan Veren.
Alex menguping dari celah pintu yang tidak ia tutup rapat tadi, kini juga tak kuasa menahan air mata harunya.
" Terimakasih, Tuhan. "
Setelah kembalinya Ibu Mila ke rumah, Veren semakin mengurus Ibu Mila dengan baik. Mulai dari menu makanan yang sesuai dengan arahan Dokter, olah raga ringan, bahkan Veren juga selalu mengingatkan Ibu Mila untuk meminum obat dan vitaminnya. Memang masih cerewet karena makanan yang hambar, tapi cara dia mengomel sudah tidak ada rasa judes lagi seolah sudah menganggap Veren sebagai anak kandungnya sendiri.
***
Nyonya Nehra membuka jendela kaca apartemennya lebar-lebar, lalu mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskan pelan. Dua hari sudah dia pindah ke apartemennya, memang bukan apartemen elit dengan fasilitas mewah, hanya saja Nyonya Nehra lebih merasa hidup dengan keadaan seperti sekarang ini. Tidak ada yang berubah selama dua hari ini kecuali kadang merasa tempatnya agak sepi.
" Baiklah, ini waktunya datang ke kios untuk melihat sampai dimana tahap renovasinya. " Ucap Nyonya Nehra yang sudah menyiapkan daftar kesibukannya hari ini.
__ADS_1
Seperti yang sudah dia rencanakan, hari ini dia akan datang untuk melihat bagaimana perkembangan renovasi kios yang rencananya akan dibuka toko roti itu. Senyum Nyonya Nehra nampak mengembang sempurna begitu melihat calon toko rotinya sudah akan rampung didekorasi.
" Nehra, inikah hidup yang kau inginkan? Padahal aku bersedia memberikan mu kenyamanan, aku juga sudah menjanjikan mu perubahan sikapku, tapi kenapa kau malah memilih kehidupan yang seperti ini? Apakah kemewahan yang kuberikan tidak membuatmu merasa bahagia? " Tuan Haris memandangi Nyonya Nehra dari jarak jauh dan duduk di dalam mobilnya. Sudah dua hari dia merasa begitu gelisah karena kepergian istrinya. Dia pikir, Nyonya Nehra akan merasa bahwa tidak betah berada jauh darinya, tapi kenyatannya justru menamparnya dengan sangat keras. Istri yang selama ini tidak pernah tersenyum kepadanya, kini terlihat cantik dengan senyum yang mengembang indah hanya karena melihat toko pinggir jalan yang berukuran kecil.
" Tuan, apakah anda akan turun untuk menyapa? " Tanya asisten Tuan Haris yang juga menjadi sopir kemanapun dia pergi.
Tua Haris menghela nafasnya. Tatapannya tak lepas dari Nyonya Nehra yang tak henti-hentinya tersenyum bahagia, dan berbicara dengan begitu cantik kepada pria muda yang tengah mendekor toko kecilnya.
" Kalau aku turun dan menemuinya, apa yang akan aku bicarakan? Dia juga pasti tidak ingin melihatku. Meskipun aku ingin sekali menemuinya dan bicara, obrolan kami hanyalah tentang perceraian. Aku benar-benar tidak ingin membicarakan itu dengannya. "
Asisten Tuan Haris ikut menatap istri dari Tuannya itu. Benar, Nyonya Nehra pasti tidak akan menyukai kedatangan Tuan Haris, karena dilihat dari senyum indah istri Tuannya itu, rasanya sudah cukup menjelaskan bahwa kehidupan sederhana juga mampu menyuguhkan kebahagiaan.
" Tuan, apa rencana anda selanjutnya? Apakah anda sungguh ingin mengabulkan permintaan Nyonya? "
Tuan Haris menghela nafasnya terlebih dulu sebelum mengatakan apa yang dia rasakan sesungguhnya.
" Aku tidak ingin bercerai. Aku ingin membawanya kembali untuk hidup bersama, dan menghabiskan sisa waktu kami bersama-sama. "
" Wuah, kalau begitu Tuan akan mulai mengejar Nyonya ya? "
" Mengejar? "
" Iya, mengejar cinta istri. " Asisten Tuan Haris tersenyum geli.
" Memang, bagaimana caranya mengejar cinta wanita? " Tanya Tuan Haris polos karena dia memang tidak tahu bagaimana caranya.
" Akan saya beri tahu, Tuan. " Asisten Tuan Haris tersenyum.
TBC
__ADS_1