
" Veren, setelah delapan tahun ini adalah kali pertama kita bertemu. Aku tahu, kau mengalami banyak kesulitan karena kedua orang tuaku, dan maafkan aku yang tidak bisa membantumu saat itu. Aku juga ingin meminta maaf untuk kesalahan yang dilakukan Ayah dan Ibuku. " Brian tertunduk tak berani lagi menatap Veren. Semua hal yang dilakukan kedua orang tuanya benar-benar sebuah beban berat di hatinya, meski sadar tidak layak meminta maaf, tapi dia juga merasa begitu bersalah hingga tidak tahu harus berkata apa selain kata maaf.
Veren tak bereaksi ketika mendengar permohonan maaf Brian yang mewakili kedua orang tuanya. Entah bagaimana menyampaikan kepada mantan tunangannya sedari kecil itu, tapi semua yang terjadi juga bukan kesalahan dari Brian.
Tak mau lagi banyak membuang tenaga untuk berpikir, Veren meraih tasnya lalu berpamitan dengan Karina.
" Karina, ini sudah akan sore, aku harus segera menjemput Denzo. Aku pamit duluan tidak apa-apa kan? "
" Iya, pergilah! Jangan lupa sampaikan salam ku untuk Denzo. " Ucap Karina.
Setelah lumayan jauh Veren pergi, Brian barulah berani menegakkan wajahnya untuk menatap punggung Veren yang semakin menjauh darinya.
Veren, kau semakin cantik. Tapi sayangnya aku bahkan tidak berani untuk menatapmu lagi.
" Berhentilah memasang ekspresi patah hati seperti itu. " Sindir Karina yang sedari tadi memperhatikan bagaimana Brian terlihat bersedih akan hubungannya dengan Veren yang berakhir seperti ini.
" Kalau itu kau, Bagaiamana kau akan berekspresi? " Brian menatap sebentar wajah Karina, lalu kembali menatap ke arah Veren yang kini mulai memasuki mobilnya.
" Kau sudah tinggal di luar negeri, apa masih belum mendapatkan pengganti? "
Brian menghela nafasnya, dia memutuskan untuk duduk sembari berisitirahat sebentar, dan juga bisa mengobrol dengan Karina yang juga adalah sahabatnya.
" Sulit menemukan gadis yang bisa membuatku melupakan Veren. "
Karina berdecih.
" Benar-benar lelaki yang setia. "
***
Alex kini tengah berjalan cepat menyusuri lorong rumah sakit untuk menuju ke ruangan dimana Ibunya tengah dirawat.
Setelah beberapa saat lalu mendapatkan panggilan telepon dari salah satu pelayan rumahnya yang memberikan kabar bahwa Ibu Mila pingsan, dan sudah di larikan ke rumah sakit. Tentu saja sebagai seorang anak dia merasa kuatir, tak lagi memikirkan rapat yamg sedang berlangsung, Alex langsung saja meninggalkan ruang rapat dan bergegas menuju ke rumah sakit.
" Ibu? " Panggil Alex lirih seraya berjalan mendekati brangkar rumah sakit yang menopang tubuh Ibunya. Tak menjawab karena belum sadarkan diri, tapi melihat Ibunya yang seperti orang tertidur tapi menggunakan alat bantu pernafasan, dan juga infus, rasanya dia begitu kasihan dan sedih.
" Selamat sore, Tuan? " Sapa pelayan yang tengah menjaga Ibu Mila.
__ADS_1
" Bagaimana keadaan Ibu ku? "
" Dokter meminta anda untuk menemuinya, Tuan. " Jawab pelayan wanita yang kini tengah berdiri dengan kepala menunduk.
Tak menunggu lama, Alex dengan cepat menuju ruang Dokter yang tadi menangani Ibunya. Sebentar mereka saling menyapa, sebelum menjelaskan tentang sakit yang di derita Ibu Mila.
" Jadi, sakit apa Ibu saya, Dokter? " Tanya Alex kepada seorang Dokter pria yang duduk diseberang nya.
" Begini, Ibu ada mengalami depresi yang lumayan parah. Tekanan darahnya naik, begitu juga dengan gula darahnya yang sangat tinggi. "
Alex terdiam, sungguh dia sangat menyesal karena telah mendiamkan Ibunya selama sebulan lebih. Asanya hanya ingin memberikan Ibunya pelajaran saja, tapi dia sama sekali tidak menyangka kalau akan jadi seperti ini.
" Saya sarankan untuk memperhatikan pola makan, terlebih menjaga kestabilan emosi Ibu anda. Tekanan darah tinggi memang adalah penyakit umum apalagi di usia pasien yang lebih dari lima pulih tahun. Jadi saya harap agar jangan membuat Ibu anda banyak berpikir, apalagi sampai stres seperti yang dialami beliau akhir-akhir ini. "
Alex masih juga terdiam. Menjaga kestabilan emosi? Bagaimana caranya? Kalau mengikuti keinginan Ibu Mila, sudah pasti dia akan meminta Alex untuk meninggalkan Veren. Tapi kalau tidak, itu juga akan sama saja dia kehilangan salah satu apapun pilihannya.
Setelah mendengarkan semua penjelasan dari Dokter, Alex kini kembali ke ruang rawat dimana Ibunya berada. Pelayan yang tadi menemani juga sudah Alex minta untuk keluar selama ada dia di dalam sana. Alex menghela nafas memandangi wajah Ibunya yang masih saja tertidur. Dia memperhatikan detail wajah Ibunya yang nampak cantik meski sudah lumayan banyak kerutan di wajahnya. Rasanya masih belum bisa paham dengan sikap Ibunya yang begitu berubah setelah adanya Veren.
" Ibu, bagaimana aku harus bertindak sekarang? Andai saja Ibu bisa menerima Veren, semua ini pasti tidak akan terjadi. " Ucap Alex seraya menggenggam jemari Ibunya.
" Bermimpilah! aku tidak akan menerima dia di dalam hidupku. "
" Ibu sudah sadar? "
Tak menjawab, Ibu Mila memalingkan wajahnya dari Alex, dam dia lebih memilih untuk menatap jendela kaca.
" Ibu, bagaimana perasaan Ibu? Apa yang tidak nyaman? Aku akan panggilkan Dokter untuk memeriksanya. " Ucap Alex membujuk Ibunya.
" Tidak perlu mengurusi ku. " Ibu Mila menarik jemarinya dari tangan Alex.
Alex terdiam sesaat untuk menatap kata agar apa yang akan dia katakan nanti tidak akan membuat Ibunya marah.
" Ibu, aku panggil Dokter sebentar untuk memeriksa Ibu ya? " Alex akhirnya keluar sebentar dari kamar itu. Sebenarnya dia ingin menanyakan apa yang menjadi beban pikiran Ibunya, tapi dia juga tidak sanggup mendengar kalau nanti Ibunya akan membahas tentang Veren.
Setelah selesai diperiksa, Alex kembali menemani Ibunya. Dia mencoba mencairkan suasana dengan menceritakan banyak hal. Mulai dari kenangan masa kecil, dan juga tentang beberapa perhiasan yang di idamkan Ibunya. Masih tak mendapatkan respon dari sang Ibu, Alex kembali berceritakan kesana kemari tanpa perduli lagi Ibunya dengar atau tidak. Sampai pada akhirnya ponsel Alex berdering, dan itu adalah Veren.
Suami?
__ADS_1
" Iya, ada apa? " Jawab Alex berbisik, dia kini berada di sudut ruangan karena tidak ingin mengganggu Ibunya.
Kenapa belum kembali? Ini kan sudah jam tujuh malam.
" Istri, aku sedang menemani Ibu di rumah sakit. Tidak apa-apa aku tidak pulang ya? "
Ibu mu kenapa?
" Dia sedang sakit karena tekanan darah, dan gula darahnya tunggi. "
Baiklah, semoga Ibu mu cepat sembuh.
" Iya, terimakasih. "
Alex kembali berjalan mendekati Ibunya, matanya tengah tertutup rapat, tapi Alex tahu kalau Ibunya tengah berpura-pura tidur.
" Tidurlah Ibu, aku akan menjaga Ibu. "
Alex, kalau Ibu tidak sakit, kau juga tidak akan sebaik ini kan? Semenjak ada Veren, kau berubah sangat jauh dari Alex yang dulu.
***
" Ibu, Ayah masih lama pulangnya? " Tanya Denzo yang tahu benar Veren menghubungi Ayahnya barusan.
" Ayah tidak pulang malam ini, nenek mu sakit. "
" Nenek? Nenek Nehra? "
" Bukan, Nenek Mila. "
" Oh. "
" Hanya Oh? "
" Iya. " Jawab Denzo.
" Ya sudah, kembalilah ke kamar. Ibu juga akan masuk ke kamar. " Veren meletakkan ponselnya di tempat tidurnya dengan perasaan aneh.
__ADS_1
Kenapa aku merasa kalau sakitnya Ibu Mila akan berpengaruh besar di dalam rumah tanggaku?
TBC