
Alex mengecup bibir Veren berkali-kali untuk membangunkannya. Hari sudah hampir siang, tapi wanita yang kini telah menjadi istrinya itu malah nampak begitu lelap. Entah karena lelah, atau karena betah karena sudah lama juga tida tidur di tempat tidur miliknya itu. Perlahan-lahan Veren mengerjapkan mata, dan terbuka sempurna setelahnya. Sejenak dia menatap wajah Alex, lalu tersenyum setelahnya. Iya, semua ini seperti mimpi, baik baginya ataupun juga bagi Alex. Padahal, dulu dia sama sekali tidak memiliki niat untuk hidup bersama pria yang dulu menghancurkan hidupnya. Tapi siapa sangka kalau laki-laki itu justru mampu menyembuhkan lukanya juga.
" Masih ingin tidur? " Tanya Alex seraya mengusap wajah Veren dengan lembut. Bibirnya juga tertarik membentuk senyuman menghiasi wajah tampannya.
" Apa boleh? "
" Sarapan dulu, setelah itu kau bebas ingin melakukan apapun yang kau mau. "
Veren bangkit dari posisinya, dan kini sudah dengan posisi duduk di tempat tidur. Dia mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya, mengusir pergi sisa rasa kantuk yang masih membuat matanya berat untuk di buka.
" Pukul berapa sekarang? "
" Sembilan, siang. "
Veren kaget menatap Alex.
" Sembilan pagi maksudnya? "
Alex tersenyum, dia memberikan kecupan di kening Veren setelahnya.
" Bagi seorang pekerja, ini sudah sangat siang. "
Beberapa saat kemudian setelah sarapan selesai, beberapa orang tiba-tiba berkerumun memenuhi pelataran rumah milik orang tua Veren. Tak mau menambah rasa khawatir, terutama kepada Denzo yang kini ketakutan, Alex dan sopir yang bernama Deden memutuskan untuk segera keluar.
" Ada apa ini? " Tanya Alex setelah membuka pintu.
" Selamat pagi? saya adalah lurah di kampung ini. Saya mendapat laporan kalau Veren membawa dua pria muda kerumahnya, jadi saya dan warga datang untuk memastikan. " Ucapnya.
Alex menatap dingin satu persatu wajah yang kini berdiri angkuh dengan tatapan menghina, seolah Veren benar-benar wanita yanag tidak baik di mata mereka.
" Lalu? "
__ADS_1
" Melihat anda berdua keluar dari rumah, sepertinya kecurigaan warga terbukti. Untuk itu, mohon kerja samanya, agar kami bisa menindak lanjuti masalah ini. " Ucap lurah yang jelas mewakili warganya.
Alex menarik nafasnya dalam-dalam, dia tersenyum meski dia tahu kalau dia sangat enggan melakukannya.
" Baik, kami akan bekerja sama. "
" Kalau begitu, boleh minta identitas anda berdua? "
" Untuk apa? " Tanya Alex dingin.
" Tentu saja kami harus tahu siapa, dan dari mana asal anda, dan bagaimana bisa kalian bermalam disini tanpa lapor kepada pengurus setempat. "
Alex tersenyum dengan sorot mata yang dingin. Kini dia semakin tahu jika istri dan anak-anaknya selalu di perlakukan tidak baik selama ini. Alex mengambil kartu pengenal, begitu juga dengan Dedi.
" Kalian dari kota? "
Alex mendesah sebal. Kesal juga berlama-lama menghabiskan waktu bersama orang tidak penting.
" Jangan banyak bicara! arak saja mereka bertiga! " Ucap salah satu warga. Tentu saja Alex melotot kesal mendengarnya, di arak? kalau begitu dia berniat mempermalukan istrinya?
" Tutup mulutmu, atau aku tidak akan membiarkan mu bisa bicara lagi. " Ancam Alex. Karena suasananya yang semakin panas, Alex akhirnya tak mau lagi berakting sopan kepada mereka. Dia menyalakan layar ponselnya, lalu menunjukkan photo pernikahannya bersama Veren.
" Kami menginap disini untuk mengunjungi makam putriku, Deniza. Jadi jangan asal menyimpulkan, apalagi memiliki niat untuk mempermalukan orang lain dengan di arak, anda benar-benar bukan manusia. " Alex menatap pria yang tadi mengusulkan rencana untuk itu.
Setelah Alex berbicara, dan menunjukkan identitas nya sebagai suami, sekaligus Ayah dari anak-anak Veren, para warga kembali bergosip ria.
" Saya tahu, di mata kalian istriku adalah wanita yang tidak baik. Tapi jika dibandingkan dengan kalian semua yang suka menggunjingnya, maka aku yakin istriku jauh lebih baik dari pada kalian. Sekarang semuanya sudah jelas, jadi tolong tinggalkan tempat ini, kami harus bersiap untuk kembali sebentar lagi. "
Tak mau mendengar ucapan apapun lagi dari para warga, Alex memilih untuk kembali masuk kedalam rumah, lalu sesegera mungkin untuk menuju ke tempat tinggal baru mereka nanti. Bukanya tidak betah dengan rumah itu, tapi lingkungan semacam itu tidak mendukung untuk pertumbuhan psikologis Denzo. Maka cepat pergi adalah pilihan terbaik.
Beberapa jam kemudian, Alex dan yang lain sudah berada di rumah lamanya. Tadinya memang berniat langsung ke apartemen, tapi mengingat banyaknya berkas dan juga beberapa hal penting yang harus diambil, mau tidak mau Veren dan Alex masuk ke dalam rumah. Sementara Denzo tetap di dalam mobil bersama Dedi, berjaga-jaga seandainya terjadi percekcokan nantinya, dan tentu tidak baik juga kalau Denzo mendengar.
__ADS_1
" Suami, perlu aku bantu? " Tanya Veren yang tentu saja tidak tahu berkas mana yang akan di ambil Alex.
" Tidak perlu, kau duduk saja. Atau kalau tidak, kau bisa mengambil barangnya di kamar. " Veren mengangguk setuju, dia mulai berjalan meninggalkan ruang kerja Alex. Saat dia sudah berada di luar, dia kini terdiam karena kaget melihat Angel berdiri di depan pintu. Tak menyapa ataupun apa, Angel menerobos masuk ke dalam untuk bicara dengan Alex.
" Alex? " Panggil Angel dengan nada pilunya, langkah demi langkah dengan pelan ia dorong agak semakin dekat dengan Alex yang terdiam tak mengindahkan keadaannya.
Ditatapnya wajah Alex yang begitu dingin seolah enggan dengannya.
" Alex, sayang, aku tahu aku sudah melakukan kesalahan yang sangat besar, tapi sungguh aku hanya mencintaimu. Aku hanya melakukannya demi cintaku, aku ingin hidup bersamamu, bahagia bersamamu, aku tahu aku terlalu mementingkan diri sendiri, tapi kau kan juga pernah mencintaiku, jadi aku mengambil kesimpulan kalau kau pasti akan memiliki perasaan itu lagi. "
Alex menutup dokumen yang sedang ia lihat. Kini tatapannya berpindah menatap Angel yang nampak menyedihkan dengan kedua mata yang bengkak.
" Apakah kau bahagia? apakah aku bahagia? kau tahu benar apa jawabannya. Setiap kali aku memintamu untuk berkorban, bahkan kau sama sekali tidak memperdulikannya, kenapa harus aku yang selaku kau jadikan pemuas mu? selama ini aku terus mencoba untuk mencintaimu karena tuntutan mu, sampai aku berpikir, mungkin adanya anak bisa mengubah hatiku. Tapi untunglah kau tidak setuju, jadi aku tidak perlu memenuhi janji yang kau paksakan untukku. "
Angel menutup bibirenggunakan telapak tangan menahan tangis.
" Kita, mari kita punya anak, ok? "
Alex mengeryit menatap Angel.
" Kau waras? kau pikir aku masih memikirkan tentang itu? seharusnya kau tahu benar, setelah semuanya terkuak, hubungan yang terjalin karena sandiwara darimu, seharusnya kau tahu apa yang harus kau lakukan. "
Angel menggeleng tidak setuju. Dia mencoba meraih tangan Alex tapi ditepisnya.
" Angel, jika kau masih ingin tetap disini, kau boleh saja melakukannya. Tapi yang harus kau ingat dengan jelas adalah, Veren istriku satu-satunya. "
" Tidak, Alex, aku mohon jangan begini, beri aku kesempatan sekali lagi. "
Alex yang tadinya sudah akan membuka pintu, mini berhenti sejenak dan menoleh kepada Angel.
" Kesempatan? maksudmu kau ingin aku bertahan karena rasa kasihan? maaf, aku tidak tertarik. " Alex meraih handel pintu dan keluar dari sana.
__ADS_1
TBC