
Setelah pembicaraannya dengan Angel, kini Risa duduk di ruang make up Sembari berpikir keras. Dia benar-benar bingung saat ini. Dilain sisi dia tidak ingin mencelakainya orang lain, tapi di sisi lain dia juga tidak tega membiarkan Angel bersedih seperti itu. Risa mengingat kembali betapa baiknya Angel yang dia kenal beberapa saat lalu, Angel yang penyayang dan pengertian. Tapi saat dia mengenal Alex, Angel menjadi buta hati dan sering kali melakukan hal-hal diluar akal sehat.
" Ya ampun! " Risa mengusap wajahnya kasar karena masih tidak tahu harus melakukan apa. Dia sudah mendengar cerita bahwa Veren bisa masuk kerumah itu berkat dukungan dari Tuan Haris Dardan. Tentu saja Risa bukanlah tandingannya. Jika ia nekat, bisa saja dia akan kehilangan segalanya karena hukuman dari Tuan Haris Dardan.
Angel, apa kau sedang menjadikan aku tumbal? aku benar-benar tidak bisa berpikir sekarang.
***
Disebuah gedung perkantoran. Hari ini Alex mengerjakan semua pekerjaan dengan suasana hati yang lebih baik dari beberapa hari kemarin. Sebenarnya hari ini cukup melelahkan dibanding kemarin, Silvi saja sampai khawatir dari pagi karena takut jika Alex akan stres. Maklum saja, yang ia tahu beberapa hari semenjak pernikahan keduanya digelar, Alex sama sekali tidak pernah terlihat baik. Tapi melihat Alex hari ini, dia cukup meras lega karena Alex sama sekali tidak terlihat stres.
" Silvi? "
" Iya, Tuan. "
" Kau sudah selesai kan? "
" Ya? " Silvi mengeryit menatap kr arah Alex.
" Kau sudah cukup lama berdiri disana, apa ada yang belum kau sampaikan? " Tanya Alex, tatapannya tak beralih dari lembaran dokumen yang tergeletak di meja kerjanya.
Silvi tersenyum setelah menelan susah payah saliva yang tersangkut di kerongkongan nya.
" Maaf, Tuan. Saya akan kembali sekarang. " Silvi berjalan keluar, sebelum menutup rapat pintu ruangan Alex, sejenak dia memandangi Alex.
__ADS_1
Ada! ada hal yang belum bisa aku sampaikan padamu. Aku, mencintai mu, Alex. Aku sangat mencintaimu hingga takut untuk mengungkapkan bagaimana rasa hati ini kepada mu.
Setelah pintu itu tertutup, barulah Alex mengangkat wajahnya menatap pintu yang kini sudah tertutup rapat. Tentu dia sadar benar kalau Silvi memiliki perasaan tersendiri untuknya, tapi Alex yang memang bukan seorang playboy tentu tidak akan memanfaatkan itu. Sebenarnya ada beberapa temannya yang sudah menikah tapi juga bermain belakang dengan asistennya, jika saja Silvi bukan anak dari mantan Sekretarisnya, mungkin dia tidak akan memilih untuk bekerja bersama Silvi. Memang benar, Silvi sangat mirip dengan Ibunya saat bekerja, tapi adanya perasaan yang tidak biasa itu membuat Alex tidak nyaman.
Alex menghela nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nafasnya melalui mulut. Dia menarik lengan kemejanya untuk melihat pukul berapa sekarang ini. Pukul lima sore? Alex kembali teringat dengan Veren. Apa sia sudah akan pulang? apakah boleh dia menjemputnya? hah! Alex menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena merasa bingung sendiri dengan apa yang dia rasakan. Tiba-tiba begitu bersemangat hanya dengan mengingat Veren, sebenarnya apa setiap laki-laki akan ada masanya untuk tidak setia dengan cinta lamanya?
Cukup lama Alex menimbang-nimbang pendapatnya, apakah perlu menghubungi Veren untuk menanyakan kapan dia akan pulang? apakah Alex harus langsung datang kesana? sudahlah, kalau tiba-tiba dayang tanpa kabar, itu mungkin akan membuat Veren tidak senang. Alex mengeluarkan ponsel dari dalam saku jasnya.
" Tunggu dulu! aku kan tidak pernah meminta nomor telepon Veren. " Alex mendesah sebal. Sudahlah, lebih baik dia berangkat saja kesana, lalu menunggu Veren keluar dari apartemen. Bergegas Alex bangkit dari duduknya, meraih kunci mobilnya, dan berjalan keluar untuk menuju ke parkiran.
Satu jam lebih Alex menempuh perjalanan, akhirnya sampailah dia di tempat tadi pagi menurunkan Veren. Tadinya dia ingin turun dari mobil, tapi saat dia melihat Veren dan seorang pria, dia urungkan niatnya dan melihat saja dari dalam mobil. Sakit, atau cemburu sungguh dia tidak bisa mengartikan apa yang dia rasakan saat ini. Rasanya dia ingin sekali keluar dari mobil, lalu menghajar laki-laki yang tegah mengacak rambut Veren seolah mereka amat dekat. Tapi, bukankah aneh sekali jika dia melakukan itu? meskipun Veren adalah istrinya, tai hubungan mereka juga tidak sedekat itu. Alex tetap diam di dalam mobil dan terus memperhatikan sampai pria itu masuk kedalam mobil lalu meninggalkan Veren di Lobby apartemen.
" Alex? " Veren mengeryit menajamkan mata sembari mengamati sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari lobby. Iya, setelah beberapa saat dia baru yakin benar jika itu adalah mobil Alex. Bergegas dia menghampiri mobil Alex lalu mengetuk kaca mobilnya. Ita, tentu saja dia tahu jika Alex ada di dalam, karena saat dia turun untuk mengambil beberapa kebutuhan untuk Denzo dari Erick, mobil mewah seperti milik Alex belum ada disana. Karena Erick hanya mampir sekitar lima belas menit saja, jadi Veren meyakini itu.
" Aku hanya tidak sengaja lewat. " Ucap Alex.
" Maksud ku, aku tadinya ingin menemui salah satu teman ku yang tinggal dia apartemen ini. "
" Teman? teman yang mana? tinggal di lantai berapa? " Veren bertanya, bibirnya tersenyum tapi tatapannya jelas sedang menyatakan jika dia tidak percaya sama sekali.
" Dia, dia ada di lantai yang paling atas. " Ucap Alex. Sebenarnya Veren masih ingin mempermainkan Alex, tapi dia baru mendapat kabar bahwa Angel sudah berada dalam perjalanan pulang, setelah menghitung waktunya, akan sangat baik jika dia pulang sekarang juga.
" Suami, kalau begitu aku pulang duluan ya? "
__ADS_1
" Naiklah! "
" Bukanya tadi bilang ingin bertemu dengan teman mu? "
" Temanku tidak ada di apartemennya. "
" Benarkah? dari mana kau tahu? "
" Aku, aku sudah menerima lesan beberapa menit yang lalu. Hanya saja, tadi aku melihat mu, jadi aku menunggumu sekalian. "
Veren tersenyum lalu lalu mencolek pipi Alex.
" Suami, apa kau tidak cemburu? "
" Bicara apa kau ini? masuklah cepat jika ingin sampai dirumah sebelum larut. "
" Ok! " Veren membuka pintu Mobil, memposisikan duduknya, dan memasang sabuk pengaman. Iya, lebih baik kalau dia pasang sendiri saja, karena kalau sampai Alex yang memasangkannya lagi, bisa-bisa jantungnya kejang karena terus berdebar kencang.
Tidak ada percakapan apapun, delain karena Alex berkonsentarsi penuh, Veren juga tertidur pulas. Sesampainya dirumah, Alex sedikit kebingungan untuk membangunkan Veren. Kalau saja itu Angel, sudah pasti dia akan menggendongnya sampai ke kamar. Tapi kalau mau membangunkan, Alex tidak tega karena sepertinya Veren sangat nyenyak tidurnya. Tapi tidak mungkin juga dibiarkan saja di mobil kan?
" Veren? " Alex menepuk pelan pundak Veren setelah menimbang keputusannya. Masih juga tak bergeming, Alex menghela nafas lalu perlahan membuka pintu disamping Veren agar memudahkannya saat memindahkan Veren ke kamarnya. Perlahan-lahan membuka sabuk pengaman. Tapi saat dia membuka sabuk pengaman yang dikenakan Veren, tiba-tiba mata Veren terbuka sempurna membuat Alex terkejut tapi juga tak bergeming. Veren tersenyum lalu mencium bibir Alex.
Veren, aku benar-benar tidak akan membiarkan ini berlangsung lama. Dari jarak yang tak jauh dari mereka, Angel dengan jelas melihat bagaimana mereka berdua berciuman.
__ADS_1
TBC