
Satu bulan sudah waktu yang terlewati oleh Sofiana. Tidak ada romantis-romantisan seperti pasangan suami istri baru, yang ada dia hanya sibuk dengan kegiatan boxing, karate, dan latihan menembak. Awalnya tentu saja sangat sulit untuk menyesuaikan diri, tapi karena tekad dan juga semangat dari Feng, Sofiana perlahan-lahan mulai terbiasa.
Satu bulan terakhir ini, Erick juga tak menemani Sofiana sebagaimana mestinya karena masalah pekerjaan, ditambah lagi rumitnya hubungan keluarganya. Tapi untunglah, Sofiana selalu ditemani oleh dua orang kepercayaan Erick untuk menjaganya, dan mengajarinya latihan menembak, juga olah raganya.
" Aku tidak menyangka, keponakan sudah menikah, tapi tidak mengenalkan kepada kami semua. Apa kami bukan keluarga bagimu? " Suara seorang lelaki paruh baya yang selama ini di anggap lintah darat oleh Erick, nyatanya adalah kakak kandung dari Ayahnya yang sudah lama meninggal.
Erick tersenyum miring, dia melipat kedua lengannya, lalu meletakkan di dadanya.
" Terkadang, orang yang seharunya di anggap keluarga adalah orang yang harus diwaspadai. "
Pama Erick yang bernama Wiliam Curent, melemparkan senyum sinis nya. Memang kenapa kalau iya? toh, yang sedang ia perjuangkan adalah apa yang dia anggap miliknya.
" Kau masih tidak berubah ya? Apakah pelajaran yang diberikan Kakek masih kurang? Apa kau ingin menikmati penjara bawah tanah seperti tujuh tahun lalu? "
Erick menghela nafas tanpa mau menatap paman, dan juga anggota keluarganya lainya yang seolah terwakilkan dengan apa yang di ucapkan oleh Wiliam Curent.
" Kakek sudah sangat tua, jika dia masih buta, dan tidak bisa membedakan mana ular berbisa dan mana yang naga, maka itu sangat menyedihkan. "
Wiliam Curent mengeraskan rahangnya. Erick memang jarang berbicara panjang lebar, tapi setiap kali berucap, yang keluar dari mulutnya hanyalah sindiran, atau hinaan kepadanya. Jujur, dia ingin sekali marah dan melampiaskan semua amarahnya. Tapi karena ada anak, dan juga kakak pertamanya, maka dia tidak bisa melakukan apapun selain diam dan menahan dengan baik kekesalannya.
" Jangan berbicara seolah-olah kau adalah Dewa. Hari ini kita berkumpul karena memenuhi undangan kakek, jadi kau tidak boleh merusak momen penting ini. "
Erick tersenyum miring, momen penting? Pasti yang di sebut penting oleh Wiliam Curent adalah, tentang pembagian harta.
" Aku hanya akan menontonnya dengan baik. Sampai saatnya aku bertepuk tangan, kalian juga tidak boleh melakukan apapun. "
" Maksudmu, kau percaya bahwa Ayahku akan mewariskan semua hartanya untukmu? " Wiliam Curent terkekeh seolah meremehkan hipotesanya sendiri.
Erick juga tak bisa menahan senyum dingin yang seolah mengejek Wiliam Curent.
__ADS_1
" Aku bisa hidup tanpa harta dari kakek, sementara kau, dan juga kalian semua, apakah bisa? Setiap hari kalian selalu berdoa agar kakek cepat mati, laku bisa mengambil hartanya kan? "
" Dasar- "
" Wiliam! Hentikan! " Cegah anak pertama dari kakeknya Erick. Wiliam Curent hanya bisa menahannya lagi-lagi, dan kini juga dia harus mencoba setenang mungkin karena Ayahnya, atau Kakek dari Erick akan segera di bawa ke ruang keluarga.
" Kalian semua diam, dan dengarkan saja kakek saat bicara. Tidak ada yang boleh membantah, dan juga tidak ada yang boleh memprotesnya. " Ucap paman pertama Erick yang bernama Wenshon Curent.
Kau sangat tenang, dan juga terlihat perhatian. Tapi kau, adalah serigala pembunuh yang sebenarnya.
Erick terus menatap Wenshon Curent dengan tatapan yang tidak biasa. Iya, dia tahu benar apa saja yang dilakukan oleh paman yang selama ini di anggap anak kebanggaan kakek, dan orang paling layak mendapatkan warisan karena ketenangan, dan juga toleransinya yang amat tinggi. Sadar akan tatapan tajam dari Erick, Wenshon kini juga hanya bisa kembali berpura-pura tak menyadarinya meski sempat beberapa detik mereka saling menatap.
Beberapa saat setelah itu, Kakek masuk kedalam ruang keluarga yang sudah dipenuhi oleh anak dan cucunya. Kursi roda yang ia duduki kini semakin mendekat saat seorang perawat khusu mendorongnya untuk terus masuk, dan bisa lebih dekat dengan anggota keluarganya. Dia mengedarkan pandangan untuk menatap satu persatu anak, serta cucunya yang tengah duduk berjejer dengan tatapan lembut, ada juga terlihat khawatir saat menatapnya. Tapi saat matanya menatap Erick, lelaki tua itu hanya bisa berdehem kesal karena Erick terlihat acuh, dan memilih untuk menatap ke arah lain.
" Kau sengaja mengabaikan ku? " Tanya Kakek kepada Erick.
Erick tentu tahu jika pertanyaan itu untuknya. Di tatap lah kedua bola mata berwarna grey itu. Kerutan-kerutan di area matanya sungguh sangat jelas, tubuh yang dulunya kekar kini menjadi renta dan gemetar. Erick menghela nafasnya terlebih dulu, barulah dia menjawab pertanyaan dari sang kakek.
Semua anggota keluarga menatap Erick kesal, tapi tidak dengan kakek. Dia nampak lesu, dan terlihat kecewa. Benar, selama ini dia sudah banyak menyakiti Erick, sering kali juga membedakan Erick dengan cucu lainnya. Tapi di usia senja seperti ini dia baru menyadari kesalahannya, dan tentu saja dia menyesal.
" Kau tidak membawa istrimu? "
" Membawa istri? untuk apa? untuk dipenggal oleh kalian? " Erick melirik sinis ke arah Wiliam, dan juga Wenshon.
" Erick! kau boleh saja membenci kami, tapi kau tidak boleh melampiaskan kepada Ayahku! " Ucap Wenshon yang jelas mendapatkan anggukan setuju dari Wiliam.
" Apa sudah selesai acara keluarganya? kalau sudah, aku harus segera kembali untuk melindungi istriku, takutnya akan ada yang mencoba menembaknya lagi seperti beberapa minggu lalu. " Erick bangkit dari duduknya, dan ingin segera melangkah.
" Tunggu! " Kakek menatap Erick dengan tatapan yang lembut. Cukup membuat Erick merasa aneh, karena yang ia tahu kakeknya adalah orang yang tegas dan juga pemarah.
__ADS_1
" Ini belum selesai, Erick. Kakek ingin menyampaikan tentang warisan keluarga. Jadi duduklah dulu! " Pinta Kakek.
Tak mau banyak berargumen lagi, kini akhirnya Erick menuruti saja apa yang diinginkan Kakeknya.
***
" Tuan, setelah rapat selesai ini, apa kita akan survey pabrik lampu hias? " Tanya Seli seraya berjalan mengikuti langkah kaki Alex setelah keluar dari ruang rapat.
" Tunda saja, aku akan menemui anak dan istriku, mereka sudah menunggu untuk makan siang. "
Seli terdiam menahan kecewa. Dulu Angel, dan sekarang ada Veren.
" Tuan, mengenai anak yang saya lihat di sosial media, apakah benar anak anda, atau anak tiri anda? "
Alex menghentikan langkahnya, dengan dahi mengeryit dia membalikkan badan untuk berhadapan langsung dengan Seli.
" Maksudmu? "
" Ma maaf, Tuan. Saya hanya ingin tahu saja. " Kilah Seli.
" Dengan melihat wajahnya, seharusnya kau tahu jawabannya kan? "
Seli terdiam sesaat. Memnag benar mereka mirip, tapi manusia yang tidak memiliki hubungan darah juga bisa mirip kan? Seli benar-benar merasa kesal dan heran, bagaimana bisa Bos nya begitu mempercayai seorang wanita yang dulunya melayani pria hidung belang? padahal kan bisa saja anak itu bukan anaknya Alex.
" Maaf Tuan, tapi manusia kan memang sering kali memiliki kemiripan meski tidak memiliki DNA yang berhubungan. "
Alex menatap Seli kesal.
" Seli, jagalah bicaramu. Kau seharusnya tahu jika kata-katamu barusan adalah hinaan bagi istriku. "
__ADS_1
TBC