
Seli mengepalkan kedua tangannya kuat. Gemuruh dadanya begitu mendengar kalimat yang keluar dari mulut Veren. Iya, dia juga tahu kalau apa yah dia lakukan bukanlah hal benar, bahkan dia sendiri juga menyesal sekarang ini. Ditambah lagi, Alex malah semakin dingin dan menjaga jarak dari dirinya yang membuatnya serba salah dan semakin menyesal atas apa yang dia lakukan kemarin.
" Seli, pada saat pertama kita bertemu, jujur aku bisa melihat bahwa kau adalah gadis yang hebat. Kau pekerja keras, kau juga terlihat berwibawa, aku bahkan sepat merasa jika kau adalah wanita yang sempurna. Eh, tapi aku juga melupakan hal yang paling penting yaitu, tidak ada satupun manusia yang memiliki kesempurnaan tanpa celah. Entah sehebat apapun seseorang, orang itu tetaplah manusia. Tapi kalau manusia sudah bertindak diluar akal sehat, para manusia lainnya akan menganggap manusia itu sebagai binatang. "
" Maksud anda, saya disamakan dengan binatang? "
Veren tersenyum.
" Tidak, itu hanyalah sebuah nasehat. Lagi pula, kau kan asistennya suamiku, kenapa juga aku menyamakan mu dengan binatang? "
Seli mengigit bibir bawahnya dengan tatapan marah. Marah, tapi juga tidak bisa melampiaskan kepada Veren karena ada Alex disana yang sedari tadi berpura-pura tak mendengar, dan memilih untuk fokus dengan dokumen yang ada di mejanya.
" Saya harap, anda lebih hati-hati saat menyusun kata-kata saat ingin berbicara. Kalimat ada tadi, benar-benar sangat menekan seseorang untuk merasakan ketidakberdayaan. "
" Pft! " Veren menutup bibir menggunakan punggung tangannya saat menahan tawa.
" Begitu ya? Kalau begitu, maaf deh. Aku memang kurang konsentrasi, itu semua gara-gara kucing liar yang menggigit bibir suamiku, selain demam dan muntah-muntah, pagi tadi aku terpaksa harus bangun lebih pagi dan menemani suamiku untuk suntik anti rabies dan kekebalan tubuh. Mood ku kacau karena kurang istirahat. " Veren memijat pelipisnya seolah dia benar-benar merasa begitu lelah, tapi saat Seli melihat senyum miring seolah mengejeknya secara tidak langsung, bangkitlah kekesalan yang sedari tadi Seli tahan.
" Anda lagi-lagi menyamakan saya dengan bintang?! Saya bisa terima dengan ketidaksukaan anda, tapi saya tidak akan tinggal diam saat harga diri saya direndahkan, bahkan sampai disamakan dengan bintang. " Seli menatap Veren dengan begitu tegas. Dia sungguh tidak merasa harus diam meskipun ada Alex meski Alex adalah atasan, serta Veren sebagai istri dari atasan yang lebih tepatnya adalah Bos di tempat dia bekerja.
Veren tersenyum seolah meremehkan ucapan Seli barusan. Alex sebenarnya ingin bangkit karena merasa tidak terima saat Seli berbicara dengan begitu tidak sopan, tapi mau bagaimana lagi? Nanti ujung-ujungnya Veren akan merasa kesal kalau dia ikut campur.
" Kau mengakui, kalau kau adalah kucing liar itu? " Veren tersenyum dingin. Sementara Seli, kini menjadi gugup karena tanpa sadar dialah yang telah mengakui apa yang dia lakukan.
" Dengar Seli, orang yang memaklumi ketidaksukaan adalah aku. Awal kita bertemu, kau sudah menatapku dengan tatapan yang begitu menghinaku. Kau boleh menyebutku ' Anda ' dalam setiap kata yang kau tujukan padaku. Tapi, otak dan hatimu tidak menerima bahwa aku sebenarnya adalah istri dari Bos mu. Awalnya aku tidak marah, tapi apa yang kau lakukan beberapa hari terakhir membuatku merasa bahwa, kau tidak berbeda dari wanita murahan sepertiku. "
Seli menatap Veren tajam seolah begitu tidak setuju dengan ucapannya.
" Jika anda meragukan diri saya, anda bisa mengetes keperawanan saya. "
__ADS_1
" Memang apa gunanya keperawanan? "
Seli tersenyum bangga.
" Setidaknya, saya bisa menjaga diri saya dengan baik. Bagaimana dengan anda? "
Veren mengeryit sebentar, lalu terkekeh setelahnya.
" Hah! ya ampun, bangga sekali masih perawan di usiamu sekarang? "
" Bangga, karena saya akan dengan percaya diri memberikan hal paling berharga kepada padangan saya kelak. " Seli kembali mencibir lewat tatapannya.
" Ya ampun! " Veren kini menatap Alex yang masih saja berpura-pura sibuk.
" Suami, kau adalah pria yang merebut keperawanan ku, sekarang kembalikan padaku, agar aku bisa melawan asisten mu yang masih perawan padahal sudah mau tiga puluh tahun. "
" Istri, jangan aneh-aneh, kalau kau tetap perawan, lalu dari siapa Denzo dan Deniza lahir? "
Veren menghela nafasnya. Kini dia tersenyum menatap Seli yang nampak menatap tak percaya.
" Seli, usiaku baru dua puluh empat tahun, tapi aku sudah memiliki anak yang berumur tujuh tahun. Kau menang karena sudah mempertahankan tubuhmu hingga menjelang tiga puluh tahun. Iya, mau bagaimana lagi? Aku benar-benar tidak berdaya karena ucapanmu ".
Seli tak bisa lagi menahan diri setelah mendengar itu semua.
" Anda hebat sekali ya? Di usia anak-anak, anda sudah mengenal hal seperti itu. " Seli menatap jijik kepada Veren.
" Seli! " Alex bangkit dari duduknya, dia berjalan mendekati Veren, dan berdiri tepat berhadapan dengan Seli.
" Istriku sudah banyak mengalami penderitaan karena ulahku. Jika kau mencibirnya untuk hal itu, maka salahkan saja aku, benci dan nistakan aku sesukamu. Tapi sekali saja kau menghina istriku lagi, aku tidak akan segan-segan memberikan pelajaran yang tidak akan kau lupakan seumur hidupmu. "
__ADS_1
Seli menahan dirinya yang ingin sekali menangis. Lagi? hanya karena wanita pekerja malam itu, dia harus merasakan bagaimana tembok pembatas antara dia dan Alex semakin menebal.
Memang apa bagusnya dia? hanya cantik saja kan? bagaimana bisa aku tidak bisa dibandingkan dengan wanita pelayan lelaki hidung belang? padahal, entah sudah berapa ratus pria yang menjamah tubuhnya, kenapa bisa kau begitu percaya padanya? apa hanya karena dia memiliki anak yang mirip denganmu?
" Seli, keluarlah! Aku sudah mendiskusikan dengan Ibumu, dan kau juga boleh menanyakan pendapat Ibumu. " Ucap Alex.
" Baik, dan maaf atas kekacauan yamg terjadi karena saya, Tuan. " Setelah mengucapkan itu, Seli berjalan keluar seraya menyeka air matanya.
" Sayang, padahal asisten mu cantik juga, apa kau tida sedikitpun tertarik padanya? " Tanya Veren seraya memeluk Alex yang kini berdiri menatapnya.
" Kau, tida akan bisa dibandingkan dengan wanita manapun. "
Seli yang baru akan menutup pintu ruang kerja Alex mendengar itu semua.
Veren, kau benar-benar wanita yang menjijikkan.
Veren tersenyum miring saat dia tahu kalau Seli mendengar itu semua.
Seli, semua belum berakhir, dan aku akan menemanimu bermain, sampai kau menuntunku untuk menunjuk dari dua orang yang aku duga.
" Kenapa tidak mengajak Denzo juga? " Alex mengusap rambut Veren, lalu menuntunnya untuk kembali duduk di sofa yang berada tak jauh dari jendela di ujung ruangan.
" Ibu Nehra memintanya untuk tinggal, dan lagi aku kan mau memberi pelajaran kepada kucing liar, kalau Denzo mendengar semua itu, bisa hilang image ku sebagai Ibu yang baik untuknya. "
Alex tersenyum lali kembali membawa Veren ke dalam pelukannya.
" Kau adalah Ibu, dan juga istri yang paling baik untuk kami. "
TBC
__ADS_1