
Setelah apa yang terjadi beberapa saat lalu, kini Seli memutuskan untuk menghubungi Ibu Mila agar bisa menceritakan segalanya. Tentu dia tahu kalau sekarang ini peluang untuknya dipandang baik di mata Alex sudah sangat sulit, dan dia membutuhkan dukungan besar dari Ibu Mila selaku Ibu kandung dari pria yang selama ini dia kagumi.
" Nyonya? " Sapa Seli saat sambungan teleponnya terhubung.
katakan!
" Nyonya barusan Veren datang ke kantor. " Seli menceritakan segala yang terjadi, tidak hanya itu saja, dia juga menambahkan beberapa kata untuk membela dirinya.
Bodoh! bagaimana bisa kau berbuat nekat seperti itu?! Aku bilang untuk perlahan dan jangan terlalu menonjol kan?! Dasar tidak berguna! Sekarang kau tahu kan bagaimana hasilnya jika kau terlalu mengedepankan obsesi mu itu?!
" Maafkan saya, Nyonya. Tapi kalau bergerak selambat yang Nyonya sarankan, aku takut perasaan Alex justru akan semakin dalam seiringnya waktu. " Seli mengusap dahinya yang berkeringat karena perasaan panik.
Sudahlah, sudah tidak ada harapan lagi.
" Nyonya, tolong bantu aku sekali lagi. Aku sudah pasti akan dipecat cepat atau lambat, dan aku sudah mengorbankan hal itu, tentu aku tidak mau kalau tidak membuahkan hasil. "
Mau bagaimana lagi?! Kau lah yang terlalu ceroboh dan tida bisa berpikir jernih.
" Nyonya, aku mohon bantu aku sekali lagi, aku tidak mau kalau harus gagal. "
Ada satu lagi cara, tapi tidak tahu akan berhasil atau tidak.
" Katakan, Nyonya. Aku janji akan membuat rencana itu berhasil. "
Baiklah, tapi ini sangat beresiko.
" Tidak masalah, Nyonya. "
Bagus! buat Alex menemui mu di hotel X. Aku akan mengatur segala cara, dan kau hanya perlu memastikan Alex meminum minuman yang disuguhkan nantinya.
" Baik, Nyonya. "
Setelah menutup teleponnya, sekarang Seli sudah bisa merasa lega. Iya, tidak apa-apa dipecat, toh kalau bisa bersama dengan Alex dia juga akan tetap berada disana kan?
" Alex, kau harus menjadi milikku, bagaimanapun caranya. "
Di balik pintu ruang kerja Seli.
__ADS_1
" Milikmu? Mimpi saja! " Veren tersenyum miring, tak mau lagi terlaku lama meninggalkan Alex yang ia tinggalkan dengan alasan ke toilet, dia bergegas kembali ke ruang kerja Alex. Sungguh sesuai dengan perkiraan Veren, sesampainya di ruangannya, Seli akan langsung menghubungi orang yang menuntunnya untuk melakukan semua tindakan rendahan ini.
Ibu mertuaku sayang, kenapa masih saja mengajakku berperang? Tapi ya sudahlah, bagaimanapun kau adalah Ibu mertuaku, jadi aku hanya akan membalasnya sedikit saja.
Berbeda dengan Veren yang begitu kembali ke ruangan Alex langsung bermesraan, Seli kini justru sibuk memikirkan bagaimana caranya untuk bisa mengajak Alex untuk bertemu di hotel X. Cukup lama dia merasa pusing, tapi dia tersenyum saat mendapatkan ide yang pasti bisa membawa Alex untuk datang kesana.
" Ibuku, aku hanya perlu menggunakan nama Ibuku kan? " Seli tersenyum miring.
Hari semakin gelap, Veren dan Alex kini sudah akan langsung kembali ke apartemen karena Nyonya Nehra mengirim pesan untuk membiarkan Denzo menginap di kediaman Tuan Haris Dardan.
" Suami, aku benar-benar ingin tahu apa yang mereka pikirkan saat menatapku seperti itu. " Ucap Veren pelan saat menyadari begitu banyak tatapan yang terarah kepadanya dan Alex yang kini berjalan sembari saling bergandengan tangan.
" Kenapa? Memang apa yang bisa mereka lakukan? Kau kan istriku, kalau mereka berani membuat ulah, ataupun berani membicarakan mu, aku tidak akan segan-segan memecat mereka. " Ucap Alex yang juga bernada pelan.
Veren menghela nafasnya. Iya memang sih dia itu istri dari bos mereka, tapi kalau di tatap semacam itu, tentu saja akan merasa risih, dana penasaran dengan apa yang sedang mereka pikirkan.
Di perjalanan pulang.
Alex meraih ponselnya yang mendapatkan notifikasi. Dia membuka pesan yang dikirimkan oleh mantan Asisten Sekretaris yang tak lain adalah Ibunya Seli.
" Ibunya Seli, dia meminta untuk bertemu di tempat makan yang ada di hotel X, tumben sekali. " Ucap Alex yang memang benar dia merasa aneh.
" Lalu, kau mau menemuinya? "
Alex menghela nafasnya.
" Iya, aku penasaran sekali kenapa Ibunya Seli meminta untuk bertemu disana, dan juga memastikan sesuatu. "
Veren membatin di dalam hati.
Langsung bertindak hari ini juga rupanya.
" Apa yang ingin kau pastikan? " Tanya Veren.
" Cara mengetik pesan singkat ini memang sedikit mirip, tapi tatanan katanya jauh berbeda. Entah ini kebetulan, atau ada rencana yang sudah disiapkan disana. "
Veren memeluk lengan Alex, lalu menyenderkan kepalanya disana.
__ADS_1
" Temui saja, aku akan melihat dari jauh. "
" Baiklah, lagi pula di pesan ini dia mengharap aku datang sendiri karena ada hal penting mengenai perusahaan yang harus dirahasiakan. "
Veren tersenyum mengejek buruknya cara Seli menyusun rencana.
Dasar bodoh! trik semacam ini anak sekolah dasar juga pasti akan curiga, kau benar-benar kurang ajar karena menganggap suamiku orang bodoh.
" Suami, bagaimana kalau kita sekalian menginap di hotel itu? lagi pula kita kan belum pernah melakukannya di hotel. " Veren cekikian setelahnya.
" Kau benar-benar sedang mencoba meruntuhkan pertahanan ku ya? " Alex merangkul pundak Veren lalu memberikan banyak kecupan di pipi istrinya.
Dedi mendesah lesu.
Lagi-lagi begini, sudah satu bulan di angkat menjadi asisten pribadi Tuan Alex, tapi tetap saja aku deg-degan kalau melihat ini. Ya ampun, kasihan sekali para bujangan sepertiku yang memiliki Bos semacam ini.
Sesampainya di hotel X.
Alex ternyata datang lebih dulu, tapi sebisa mungkin dia tak menimbulkan gerak-gerik aneh. Dia berjalan lalu duduk di meja yang sudah di pesan oleh Ibunya Seli, oh! maksudnya hanya atas nama Ibunya Seli saja.
" Sialan! sejak kapan aku memiliki waktu luang untuk menunggu orang yang mengajak bertemu? " Gumam Alex kesal. Dari sudut ruangan juga sudah ada Veren yang duduk dengan santai. Dia menggunakan kaca mata hitam, dan juga masker yang menutupi sebagian wajahnya.
" Tuan? "
Alex menaikkan pasangannya saat seorang wanita berhenti di meja yang sama dengannya. Tentulah dia tahu suara siapa itu karena dia sudah bekerja bersama orang itu selama beberapa tahun belakangan.
" Seli? "
Seli tersenyum dengan begitu manis, tampilannya juga terlihat jauh berbeda. Dia dengan bangganya menggunakan baju yang lumayan terbuka di bagian atasnya. Rambut lurus yang ia warnai coklat itu ia biarkan terurai, bibir yang kini merah merona mengembang membentuk senyuman yang indah dan menggoda.
" Dimana Ibumu? " Alex memilih untuk bertanya karena tidak mau membuang tenaga untuk menatap Seli yang sama sekali tidak ada pesona di matanya.
" Dia, dia akan datang sebentar lagi. " Sungguh Seli begitu kecewa karena Alex sama sekali tak terpengaruh oleh penampilannya. Padahal dia sudah berusaha semaksimal mungkin.
" Cih! bagian dadanya pasti banyak disumpal kaos kaki. " Gumam Veren dengan tatapan kesalnya.
TBC
__ADS_1