
Alex masih membiarkan saja Veren menangis di pelukannya. Bukanya tidak perduli, dia hanya bingung bagaimana caranya mencari tahu apa yang terjadi, dan juga bingung mau bagaimana menenangkan istrinya yang beberapa saat lalu menangis di pelukan laki-laki lain. Marah? sepertinya bukan meski dia kesal, Alex hanya merasa kecewa karena sepertinya dia belum bisa membuat Veren memutuskan hubungan dengan laki-laki itu. Kesannya tidak buruk tentang Veren, dia juga cukup sadar diri jika selama ini bukan dia yang bersama Veren untuk menjaganya.
Masih belum tahu harus bagaiman, tapi kini Veren sudah terlihat baik-baik saja meski masih menenggelamkan wajahnya di pelukan Alex.
" Tuan, apa saya harus kembali ke kantor lebih dulu? "
Hah, ya ampun! mereka berdua sampai lupa kalau ada Seli juga disana. Veren dengan cepat menyapu air matanya, barulah dia membenahi rambutnya yang sedikit berantakan.
" Maaf, aku sampai lupa situasi. " Ucap Veren setelah lepas dari pelukan Alex, lalu berusaha membuat suasananya tidak terlalu aneh.
Seli tak menjawab, dia justru memilih untuk menatap ke arah lain seolah-olah begitu enggan menanggapi Veren. Tentu Veren bisa melihat dengan jelas bagaimana tatapan tidak suka Seli terhadap dirinya. Tapi sudahlah, lebih baik dia berbicara dengan suaminya, sekaligus mencari tahu siapa wanita yang seolah mengibarkan bendera untuk siap bersaing.
" Suami, maaf aku tida tahu kalau kau sedang bersama dia. Kalau tahu aku tidak akan menghampirimu, dan bertingkah aneh seperti barusan. "
Alex menghela nafasnya, dia meraih tangan Veren dan menggenggamnya.
" Kau ini bicara apa? dia adalah asisten sekretaris ku. Kami baru saja bertemu klien, kebetulan aku melihatmu tadi. Lagi pula aku tadi berniat menghampirimu kan? "
Veren tersenyum, dia bersikap manja dengan memeluk tubuh Alex. Iya, di ingin tahu bagaimana Seli bereaksi saat itu. Hah! ternyata benar, tatapan cemburu dari matanya seolah belati tajam yang siap menghunus ke jantung Veren.
" Kau mau pulang sekarang? atau kau ada yang mau di lakukan? " Alex bertanya seraya mengusap rambut Veren dengan lembut.
" Sebenarnya aku mau ikut denganmu, tapi tentu saja aku tidak mungkin karena kau harus bekerja. "
" Tidak apa-apa jika kau mau, lagi pula sudah tidak ada kegiatan di luar kantor setelah ini. Ngomong-ngomong, Denzo dimana? " Di dalam hati Alex bergerundel, tidak mungkin kan kau meninggalkan anak sendirian hanya untuk menemui pria itu?
" Dia ada dirumah Ayah. "
" Kalau begitu, kau mau ikut aku atau mau aku antar ke rumah Ayah? " Tanya Alex.
" Sebenarnya ada hal yang mau aku bicarakan, tapi hanya berdua saja. Bisa? " Tanya Veren seraya menatap Seli dengan bibir tersenyum seolah menutupi maksudnya yang sedang mengusir secara langsung.
__ADS_1
" Kau bawa mobil? " Tanya Alex.
" Iya, ada di parkiran hotel. "
" Berikan kuncinya kepada Seli, biarkan dia kembali dengan mobilmu, nanti mobil akan di antar ke apartemen oleh Dedi. " Veren mengangguk cepat, kemudian dia meraih kunci dari dalam tas nya, dan menyerahkan kepada Seli. Lagi-lagi dia hanya bisa memaksakan senyumnya.
Seli sebenarnya sangat kesal, pergi dan berduaan saja dengan bosnya kan hal yang paling dia sukai. Kalau bukan di mobil saat akan meeting di luar, dia mana punya kesempatan untuk berdua saja. Yah, meskipun sebenarnya tidak ada hal di luar akal sehat yang dilakukan, tetap saja dia merasa kesal. Apalagi saat melihat bagaimana Veren bergelayut manja seperti itu, ditambah Alex yang terlihat tidak keberatan rasanya dia benar-benar sangat kesal hingga tanpa sadar dia begitu nyata menunjukkan ketidak sukaannya melalui tatapan matanya secara langsung kepada Veren.
" Saya permisi, Tuan. " Ucap Seli berpamitan setelah mendapatkan kunci mobil dari Veren. Jujur dia ingin sekali melempar kunci itu ke wajah Veren yang begitu jelas tengah memperingati melalui perilakunya tadi.
Bug!
Seli memukul setir mobil dengan perasaan kesal yang sedari tadi ia tahan.
" Hanya seorang wanita pekerja malam, kenapa begitu menyebalkan? hanya karena memiliki wajah cantik, lantas kenapa tingkahnya seperti Nyonya kaya yang terhormat?! Dia memang tidak Seperti Angel yang gampang marah, dan suka memaki sembarangan. Tapi sepertinya dia sangat berarti bagi Alex, aku benar-benar tidak percaya bisa melihat tatapan Alex yang begitu tulus. "
***
Alex terdiam menatap bola mata Veren yang begitu cantik. Iya, jujur saja dia memang kesal, tapi kalau melihat bagaimana kondisi, dan apa yang terjadi di antara mereka sebelumnya, bukankah tidak pantas Alex untuk marah?
" Kalau aku bertanya, apa kau akan menjawabnya? apa kau tidak akan tersinggung? "
Veren terkekeh, ya ampun! kenapa Alex begitu takut melakukan apa yang seharusnya dia lakukan?
" Kenapa tertawa? " Alex mengeryit bingung menatap Veren. Sungguh di luar dugaan, padahal dia takut sekali kalau Veren tersinggung, makanya dia tidak mau bertanya.
" Suami, kalau kau tidak bereaksi melihat ku berpelukan dengan pria lain, apa perlu kau melihatku seranjang dengan pria lain baru bereaksi? "
Alex melotot kaget menatap Veren yang begitu serampangan kalau berbicara, apalagi mengenai hal-hal dewasa seperti ini.
" Gila ya?! memang aku tidak cukup memuaskan? "
__ADS_1
Veren kembali tertawa.
" Oh, kalau aku jawab tidak puas bagaimana dong? "
Alex menarik nafas dalam-dalam, yah semoga saja bisa mendapatkan kesabaran menghadapi mulut Veren ini.
" Aku janji, besok aku akan pergi ke Dokter dan meminta vitamin terbaik untuk stamina ku. "
Veren tersenyum menatap kedua mata Alex yang terlihat sungguh-sungguh. Sudahlah, tidak usah bermain-main lagi, lebih baik dia menjelaskan persoalannya agar tidak ada salah paham di masa mendatang. Karena nantinya kan Erick akan sering bertemu dengan Alex.
" Suami, kau mau mendengar penjelasan ku kenapa aku datang kemari? " Meski ragu-ragu, akhirnya Alex mengangguk. Yah, dia memang sangat penasaran, tapi sebelumnya dia takut untuk bertanya, tapi untunglah Veren bersedia memberitahu sendiri.
Pelan-pelan Veren menceritakan semua yang terjadi kepada Sofiana, mulai dari apa yang dia lihat saat di rumah mertuanya tadi, sampai pembicaraan dengan Erick.
" Suami? " Veren menyentuh pundak Alex karena pria itu justru terdiam dengan tatapan yang aneh.
" Suami, kenapa kau diam saja? "
" Veren, maaf, jika bukan karena kesalahan ku, semua pasti tidak akan seperti ini. Bahkan Sofiana yang tidak ada hubungan dengan ini juga harus ikut merasakan efek dari kesalahan ku. "
Eh? Veren terenyuh sendiri mendengar ucapan Alex. Jika di urut kan, memang bersangkutan dengan apa yang dilakukan Alex, tapi itu juga bukan keinginan Alex kan?
" Apa yang kau bicarakan? berhentilah menyalahkan dirimu sendiri, lebih baik kita pikirkan saja cara menyelesaikan masalah ini. " Veren tersenyum menatap wajah Alex yang terlihat begitu bersalah.
" Iya, aku sudah janji untuk tidak menyalahkan diri sendiri terus menerus. Aku akan kerumah Ayah setelah ini. " Alex tersenyum setelag mengucapkan kata-kata itu. Tapi saat dia sadar jarak wajahnya dengan Veren begitu dekat, dia tak mau kehilangan kesempatan untuk mengecup bibir istrinya yang menggoda itu.
***
Angel membuang ponselnya ke sembarang arah setelah menerima pesan yang berisi gambar Alex dan Veren yang tengah berciuman. Degan kekesalan yang memuncak, dia mengeluarkan satu lagi ponselnya untuk menghubungi seseorang.
" Naikkan sebuah artikel, suami dari Angelice Redita telah berselingkuh dengan wanita malam. Bukti-buktinya akan segera aku kirim, pastikan besok pagi beritanya sudah naik. "
__ADS_1
TBC