
Setelah bertemu dengan Denzo, Tuan Haris memutuskan untuk membiarkan putrinya menghabiskan lebih banyak waktu dengan Denzo. Dia memilih untuk melanjutkan pekerjaannya di kantor setelah beberapa saat menundanya.
Tak seperti orang yang baru pertama kali bertemu, baik Denzo maupun Sofiana benar-benar terlihat akur. Karina bahkan merasa terheran-heran melihat kedekatan keduanya. Tapi dia juga bersyukur dengan semua ini, setidaknya Denzo tidak lagi sendirian, mulai sekarang dia akan lebih sering bertemu dengan Sofiana.
Karina duduk terdiam menatap ke arah luar setelah puas melihat bagaimana dekatnya Denzo dan Sofiana. Dia kembali teringat dengan apa yang direncanakan oleh Tuan Haris tadi. Sebenarnya bukan dia tidak mengizinkan, hanya saja Veren adalah Ibu kandungnya, jadi dia tahu jika hanya Veren lah yang pantas menentukan bagaimana akan memberikan masa depan untuk Denzo.
" Kakak? " Sapa Sofia sembari berjalan ke arah Karina.
" Sofia? ada apa? kemana Denzo? " Tanya Karina yang tak mendapati Denzo di ruang tengah lagi.
" Denzo sedang ada di kamar mandi. Kak Karina, bagaimana menurut kakak tentang apa yang Ayahku bicarakan tadi pagi? "
Karina terdiam sesaat, barulah setelah itu dia tersenyum, lalu menepuk ruang kosong dimana dia duduk.
" Duduklah, jangan hanya berdiri saja. "
Sofia mematuhi apa yang di katakan Karina.
" Baik, terimakasih, kak. "
Karina tersenyum.
" Sepertinya kau tumbuh menjadi gadis yang sangat lembut dan penurut ya? "
Sofiana memaksakan senyumnya, memang dia tumbuh menjadi seperti itu. Dia begitu mengagumi sosok Ibunya, maka sedari kecil dia berusaha mencontoh sikap Ibunya, dan kini menjadikan dirinya seperti ini.
" Terimakasih kak. "
" Sofia, seperti yang aku katakan kepada Ayahmu, aku hanyalah seorang Bibi, yang lebih pantas mengambil keputusan tentu adalah Veren selaku Ibu kandungnya. "
Sofiana nampak sedikit kecewa. Dia bahkan begitu jelas menampakkan senyum terpaksa nya.
" Ayah bilang, dia akan membicarakan ini dengan kak Veren nanti. "
" Semoga saja Veren setuju dengan usulan Ayahmu. " Ujar Karina.
" Iya kak. Aku benar-benar berharap, Denzo akan tinggal di rumahku, aku akan mengantarnya ke sekolah, menjemputnya juga, dan aku akan menghabiskan waktu luang ku bersama Denzo. " Ucap Sofiana dengan begitu semangat. Iya, Karina jelas bisa melihat bagaimana tulusnya Sofiana.
" Iya, kalau kau ingin mengajaknya jalan-jalan sekarang juga tidak masalah. Selain aku tidak ada kerjaan, Denzo juga sedang libur sekolah kan? "
__ADS_1
Sofiana mengangguk cepat, bahkan matanya juga berbinar bahagia dengan tulus.
" Tentu saja! ayo kita jalan-jalan kak. "
Setelah memutuskan untuk berjalan-jalan, Karina dan Sofiana membawa Denzo untuk ke sebuah pusat belanja mewah di tengah-tengaj jantung kota. Cukup seru bagi mereka, mulai dari mengunjungi tempat bermain, membeli banyak makanan, dam juga beberapa pakaian untuk Denzo.
" Denzo, apa kau menyukai es krim? " Tanya Sofiana.
" Suka, Bibi. "
" Baiklah, kau suka rasa apa? "
" Aku suka vanila. " Jawab Denzo.
Sembari menunggu Karina yang sedang membeli pakaian kerja, Sofiana dan Denzo menikmati es krim dengan bahagia.
" Bagaimana rasanya, Denzo? " Tanya Sofiana.
" Enak sekali, Bibi. " Jawab Denzo lalu kembali menikmati es krimnya.
" Ngomong-ngomong, jangan panggil Bibi lagi ya? panggil saja kakak, Bagaiamana? " Denzo mengangguk setuju. Iya, meskipun tidak terlalu paham apa bedanya Bibi dan Kakak, tapi baginya itu adalah panggilan untuk orang lebih tua darinya. Maka apapun itu, dia hanya perlu menyuruhnya saja. Denzo begitu semangat menikmati es krim vanila hingga matanya tak sengaja melihat boneka raksasa berbentuk salah satu tokoh anime yang ia sukai.
" Kakak, biarkan aku kesana sebentar ya? " Tanya Denzo, tapi belum sempat Sofiana menjawab, Denzo sudah berlari kencang, maka mau tidak mau Sofiana hanya bisa mengejar Denzo saja.
" Ah! " Seorang wanita yang memakai dress ketat berwarna merah, memakai kaca mata hitam, rambut yang dibuat bergelombang dan berwarna coklat itu memekik kesal karena Denzo tidak sengaja menabrakkan es krim yang dia pegang ke dress wanita itu.
Denzo yang tahu berbuat salah, dia mendongak dengan tatapan memohon.
" Bibi, maaf. Aku tidak sengaja. "
Wanita itu melepas kaca mata hitamnya, dia menatap kesal Denzo lalu mendorongnya hingga Denzo terjatuh dengan posisi duduk.
" Dasar nakal! kau lihat dress yang aku pakai ini! padahal ini adalah edisi terbatas, dan lagi aku harus menggunakan dress ini untuk sesi pemotretan. "
" Denzo! " Sofiana membelalak kaget karena melihat Denzo tengah duduk di lantai sembari memegangi bokongnya. Sofiana sontak berlari, dia meraih tubuh Denzo dan membantunya untuk berdiri.
" Kau tidak apa-apa? "
" Aku baik-baik saja, kakak. " Jawab Denzo.
__ADS_1
" Kakak? " Wanita itu menatap bingung mendengar dialog keduanya. Sofiana yang mengabaikan wanita itu beserta dua orang yang ada dibelakangnya, oh, mungkin mereka adalah asisten wanita itu.
" Kak Angel? " Sofiana terdiam begitu melibat Angel lah yang ada di hadapannya.
Angel yang tadinya menatap heran, kini mulai tersenyum dengan entah apa itu maksudnya.
" Jadi, Bibi Nehra dan Juga Ayah mertua memiliki anak laki-laki lagi selain Alex dan kakaknya? pantas saja warisan untuk Alex hanya sedikit. "
Sofiana terdiam, dia meraih tangan Denzo dan menggenggamnya erat.
" Benar-benar rubah betina. Kau dan juga Ibumu benar-benar spesies penghisap harta. "
" Diam! " Bentak Sofiana. Angel tersentak karena ini adalah kali pertama dia mendengar Sofiana membentaknya. Sebenarnya Sofiana juga tidak percaya jika dia bisa membentak Angel, tapi dia sudah berjanji dengan dirinya sendiri, mulai dari sekarang, dia tidak akan diam saja ketika Ibunya dihina.
" Kakak tidak berhak menghina Ibuku. Sudah cukup kami diam selama ini, mulai dari sekarang, aku tidak akan tinggal diam kalau aku mendengar atau melihat Ibuku di hina. "
Angel berdecih meremehkan ucapan Sofiana.
" Baik kau ataupun Ibumu adalah hina. Maka jangan marah kalau ada yang menghina dan menunjukkan betapa jujurnya kata-kata itu. "
Denzo merasakan genggaman tangan Sofiana yang menguat menekan jemarinya. Iya dia tahu benar jika Sofiana kini tengah menahan marah. Denzo kembali menatap Angel.
" Bibi, aku sudah meminta maaf karena mengotori bajumu, kenapa Bibi masih marah? "
Angel tersenyum miring.
" Orang yang lahir dari rahim wanita miskin, tidak akan paham meski dia kini hidup dengan baik d keluarga kaya. "
Denzo memasakkan senyumnya.
" Bibi, Ibuku memang orang miskin, tapi wajahku tidak seperti orang miskin kan? " Denzo membalas dengan tatapan menghinanya sekarang.
" Kau hanya mirip dengan Ayahmu, dan Alex, tapi itu adalah nasibmu karena lahir dari wanita yang tidak tahu diri. "
Denzo memaksakan senyumnya. Dia juga menekan genggaman tangannya saat Sofiana akan membuka mulut agar dia berhenti dan membiarkan Denzo menanganinya sendiri.
" Bibi, wanita miskin yang Bibi sebut itu adalah wanita yang sangat cantik loh. Sebenarnya jika boleh jujur, wajah Ibuku lebih cocok menjadi orang kaya dari pada Bibi. Oh, maaf Bibi. Kemarin aku punya pengasuh, tapi wajahnya juga lebih baik dari Bibi. " Denzo menyeringai setelahnya, sementara Angel, dia menatap marah hingga tangannya meremas kesal. Bahkan, kedua asistennya juga nampak menahan tawa.
" Ayo kita pergi! bertemu dengan adik kakak ini benar-benar membuat suasana hatiku buruk. "
__ADS_1
Sialan! aku bahkan kehilangan mood untuk membahas tentang dress ini. Dasar bocah sialan! kenapa mulutnya sama persis dengan mulut Veren.
TBC