
Halo kesayangan? apa kabar? semoga sehat selalu ya.....
Btw aku mau ingetin untuk kasih like dan komen di setiap episode, supaya aku semangat trs ya :)
Happy Reading.....
Malam hari, Alex berjalan agak sempoyongan karena lumayan banyak meminum alkohol. Harapan terbesarnya adalah melupakan masalah gila yang baru saja terjadi. Antara rasa bersalah karena tidak bisa menjadi suami yang baik, kecewa karena saat penting itu bukan dirinya yang menyelamatkan Veren. Iya, jujur dia juga bersyukur karena Veren terhindar dari bencana itu. Dia juga kesulitan menahan diri untuk tidak marah kepada Angel. Sepanjang hari dia hanya pusing memikirkan Angel yang semakin menjadi.
Dia kembali menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskan pelan saat dia sampai di lantai dua, tepat dimana kamar Veren dan Angel berdampingan. Dilain sisi dia ingin melampiaskan kekesalannya kepada Angel, tapi dia juga ingin menemui Veren. Marah, atau khawatir? Seperti itulah perumpamaan di antara dua istrinya.
" Kemana aku masuk sekarang? " Gumam Alex yang masih terdiam memandangi, serta menimbang pendapatnya sendiri. Sesaat tak ada suara, hanya detik jarum jam, dan juga hembusan nafasnya saja. Dia memilih diam memikirkan baik-baik kemana dia akan masuk sekarang.
Angel yang baru saja pulang dari makan malam bersama teman-temannya tersenyum mendapati Alex yang berdiri tak jauh dari kamarnya. Dia berjalan cepat ingin menghampiri Alex, berharap bisa membuat kemarahan sang suami mereda. Tapi sayang sekali, Veren yang entah dari mana menyalip langkah kaki Angel sembari membawa segelas air. Mungkin, dia dari dapur untuk mengisi air. Tentu saja Angel kesal, tapi mau mencegah pun sudah tidak sempat karena langkah kaki Veren lebih cepat darinya.
" Suami? " Veren meraih lengan Alex, melingkarkan lengannya, lalu menyenderkan kepalanya disana. Alex tersentak pada awalnya, tapi saat menatap mata Veren, dia hanya bisa tersenyum tipis karena mendapati bibir indah Veren tersenyum padanya. Iya, sudah cukup dia memaklumi Angel selama ini, sudah waktunya dia menjadi tegas dan sedikit egois agar bisa merasakan bagaimana rasanya mencintai seseorang.
" Apa yang kau lakukan? kau tidak ingin masuk? apa kau sedang menimbang kemana kau akan masuk? " Veren bertanya, lalu tersenyum setelahnya.
Alex tersenyum, dia mengusap rambut Veren, lalu meraih jemari Veren untuk menggenggamnya.
" Bukankah sekarang aku sudah tahu harus kemana? "
Veren dan Alex kembali tersenyum bersamaan.
" Kalau begitu, tempat tidurku akan hangat malam ini. " Ujar Veren yang tujuannya hanya untuk menggoda Alex, dan memprovokasi Angel yang berdiri di ujung tangga.
" Malam selanjutnya juga akan begitu. " Alex mulai membawa Veren untuk masuk kedalam kamar. Sesaat Veren menoleh ke belakang, dia tersenyum mendapati Angel yang menangis. Hah! masa bodoh kalau dia disebut istri kedua yang tidak tahu diri dan jahat. Toh, semua tidak akan menjadi seperti ini jika Angel tidak memulai segalanya.
Sesampainya di dalam. Alex mengubah posisi mereka menjadi menempel dan berhadapan. Tatapannya lekat kepada sepasang mata indah milik Veren. Tangannya terangkat meraih pipi lembut nan tirus miliki Veren, jemari Alex kini mulai mengusap pipi itu pelan hingga jemarinya menyentuh bibir mungil dan montok yang selalu nampak manis entah bagaimana Veren berekspresi.
__ADS_1
Veren menahan jemari Alex.
" Suami, kau mabuk? "
" Aku memang minum, tapi aku masih sangat sadar. "
" Kalau begitu, mandilah dulu. " Titah Veren.
" Tidak mau! aku akan mandi setelah ini. " Alex kembali meraih wajah Veren, membenamkan bibir nya ke bibir Veren. Lembut, bahkan rasanya seperti krim yang hangat saat bibir mereka menyatu.
Veren terdiam sesaat sembari berpikir. Dia ingin mendorong Alex dan menolaknya secara halus, tapi sial karena tubuhnya enggan melakukannya. Beberapa detik, gerakan bibir Alex mulai mengganas, lidahnya juga sudah masuk memenuhi rongga mulut Veren, masih jelas terasa sisa rasa dan aroma wine.
Cukup! aku benar-benar tidak bisa menahannya lagi.
Veren yang sudah mencoba menahan diri akhirnya tumbang juga pertahanan dirinya. Dia mulai mengimbangi ciuman Alex yang sudah sangat jelas kalau dia membutuhkan pelampiasan dari ciuman itu.
Alex dan Veren sama-sama menjatuhkan tubuh mereka di atas tempat tidur dengan posisi Veren berada di bawah kungkungan Alex. Tak mau banyak membuang waktu, Alex menarik paksa dress tipis yang Veren gunakan, barulah setelah itu dia mulai melepas satu persatu pakaian yang melekat di tubuhnya.
Beberapa menit setelah itu, hanya suara erangan yang saling bersahutan, menandakan sebuah aktifitas yang jelas sekali apa itu.
Angel terdiam dengan air mata bercucuran. Dia terus memandangi pintu kamar Veren yang tertutup. Jika saja tidak ada masalah antara dia dan Alex, dia pasti akan mendobrak pintu itu dan membuat mereka menghentikan kegiatan mereka.
Veren, tidak perduli apa yang terjadi di masa lalu, tapi Alex hanyalah milikku. Kau tidak berhak mengambilnya dariku.
Tak tahan lagi mendengar suara Alex dan Veren, Angel memutuskan untuk segera masuk kedalam kamarnya. Sekuat tenaga dia membanting pintu agar mengganggu keduanya dan berhenti. Tapi sepertinya itu percuma saja, karena mereka masih saja bersuara.
" Tidak bisa! aku harus mencari cara untuk memisahkan Veren dan Alex sebelum Alex benar-benar jatuh cinta dengan Veren. " Angel tersentak karena terkejut dengan ucapannya sendiri. Jatuh cinta dengan Veren? apa mungkin rasa itu sudah tumbuh di hati Alex?
" Tidak mungkin! Alex bukan pria yamg begitu mudah jatuh cinta, mereka bertemu belum lama, bagaimana mungkin? tidak, tidak! aku benar-benar harus segera memisahkan mereka. "
__ADS_1
Angel kini berjalan kesana kemari sembari memikirkan rencana apa yang bisa ia gunakan untuk membuat Alex membenci Veren. Memang agak sulit, karena terbukti Alex tidak mempermasalahkan pekerjaan Veren sebagai wanita penghibur. Angel tersenyum saat mendapati sebuah ide. Dia berjalan menghampiri tempat tidur untuk meraih tasnya, lalu mengeluarkan ponsel miliknya.
" Dengar, mulai besok kau ikuti kemanapun Veren pergi. Kalau dia sedang bersama pria, jangan lupa mengambil photo dan rekaman video. Baik, jangan sampai kecolongan seperti tiga pria bodoh sebelumnya. " Setelah memutuskan sambungan teleponnya, Angel kini sudah bisa sedikit tersenyum. Memang belum tahu apakah rencana ini berhasil atau tidak, tapi kalaupun Veren tidak menemui laki-laki lain, bukankah bisa diciptakan situasi itu?
Di kamar Veren.
Alex kini tengah memeluk tubuh Veren setelah kegiatan mereka selesai. Jemarinya masih bergerak memainkan rambut Veren.
" Mau mandi bersama? " Tanya Alex karena dia tahu jika Veren kini tengah kelelahan.
" Baik, tapi kau harus membopongku. " Alex mengangguk sembari tersenyum.
Di dalam kamar mandi. Mereka kini tengah berendam bersama di bathub. Sebenarnya Veren sudah curiga kalau laki-laki mengajak mandi bersama, tapi tadi dia hanya mencoba positif thinking saja, eh ternyata benar saja apa yang menjadi firasat kini malah menjadi kenyataan. Bahkan parahnya mereka melakukan itu di bathub.
" Suami, kedua kakiku gemetar. Kau benar-benar harus bertanggung jawab penuh saat aku kesulitan jalan nanti. "
Saat ini Veren duduk di pangkuan Alex. Alex tersenyum tanpa menghentikan kegiatan tangannya yang tengah membasuh punggung Veren.
" Tentu saja. "
" Ingat janji mu ini! "
" Baik, sayang. "
Veren terdiam karena terkejut dengan panggilan sayang dari Alex. Begitu juga Alex, kata-kata itu lolos begitu saja dari mulutnya. Tapi sudahlah, agar tak membuat suasana menjadi canggung. Alex mencoba untuk mengalihkan perhatian dengan menanyakan pertanyaan.
" Kenapa kau mentato bagian bawah perut mu? "
TBC
__ADS_1