
Setelah seharian Alex menata kembali pikirannya, akhirnya dia memutuskan untuk segera kembali pulang kerumah. Untunglah, Sindi dengan sabar membantu Alex mengerjakan semua pekerjaannya.
" Tuan, anda sudah akan pulang? " Tanya Sindi yang sedari pagi setia menemani Alex. Dia tahu benar jika Alex sedang dalam suasana hati yang tida bagus. Adanya istri muda di dalam rumah tangganya pastilah akan membuat guncangan yang hebat. Tapi yang tida dia sangka adalah temponya yang terlalu cepat dari perkiraannya.
" Iya. " Alex meraih ponselnya lalu bangkit untuk meninggalkan ruang kerjanya. Seperti biasa, Sindi akan berjalan dibelakang Alex dan mengikuti kemana kaki Alex melangkah. Sindi adalah Asisten sekaligus sekretaris Alex yang sudah bekerja selama tiga tahun menggantikan Ibunya yang dulu adalah asisten sekretarisnya Alex.
" Tuan, apa anda akan baik-baik saja mengemudi sendiri? apa anda membutuhkan sopir? atau, biarkan saya yang mengemudi untuk anda. " Tanya Sindi.
" Tidak, Sindi. Kau tahu benar bagaimana Angel kan? " Tanya Alex yang terus menjalankan kakinya. Iya, Angel sudah puluhan, bahkan ratusan kali cemburu kepada Sindi. Memang benar Sindi memiliki perasaan tersendiri kepada Alex, tapi dia hanya berusaha menutupnya rapat-rapat dan menjadikan rasa itu sebuah rahasia yang tidak boleh terungkap sama sekali.
" Baiklah kalau begitu, Tuan. " Sebenarnya Sindi masih khawatir, tapi dia juga tidak mungkin memaksa Bosnya kan?
Sesampainya di parkiran, Alex langusung mengemudikan mobilnya melesat jauh meninggalkan Sindi yang menatap mobil Alex hingga tak lagi nampak. Sindi menghela nafas yang terasa penat, memijat pelipisnya, dan kembali menjalankan kakinya untuk menuju ke mobil pribadinya.
" Tuan, aku tidak menyangka jika semua akan jadi seperti ini. " Gumam Sindi sebelum melanjutkan mobilnya.
Sesampainya dirumah, Alex langsung menuju ke kamarnya untuk mandi dan bersiap makan malam. Tidak adanya Angel di kamar sudah pasti dia ada di meja makan,batinnya. Bergegas Alex mandi, setelah itu memakai setelah rumahannya, dan berjalan keluar berniat menuju makan. Tapi saat sudah menutup pintu kamarnya, dia kembali teringat Veren. Perlahan dia mendekati pintu kamar Veren, meski ragu-ragu pada awalnya, tapi nekat saja Alex mengetuk pintu kamar Veren. Tak menunggu lama, pintu terbuka dan itu adalah Veren.
" Suami? kenapa? apa merindukan ku? apa mau tidur denganku? Ah! sayang sekali aku sedang datang bulan. " Mendengar suara dan melihat wajah Veren, sebenarnya Alex agak terkejut. Kalau di lihat bagaimana ekspresinya sekarang, Veren seperti tidak terlibat sedih seperti tadi pagi. Heran? tidak! sekarang Alex semakin mengenal Veren, iya! wanita yang baru beberapa hari menjadi istri keduanya itu adalah orang yang biasa menyembunyikan luka dibalik wajah yang seperti sekarang ini. Wajah yang seolah tidak tahu malu, dan juga berani.
" Kau sudah makan? " Taya Alex. Iya, mau Jawab apa lagi? pertanyaan Veren tadi kan sangat menjurus ke arah mesum. Makanya dia lebih memilih untuk mengalihkan topik pembicaraan dengan maksud atau tujuan awal di mengetuk pintu kamar Veren
" Belum, aku tidak mau makan apapun hari ini. " Jawab Veren dengan nada yang agak manja.
__ADS_1
" Kita turun bersama, yang lain sudah menunggu di bawah. " Ajak Alex yang tahu benar kalau Veren pasti tidak makan seharian ini. Selain pernah mengatakan secara langsung tidak mau memakan apapun yang disediakan rumah itu, kejadian hari ini juga tidak mungkin membuatnya nyaman menelan makanan.
" Mereka menunggu mu, bukan menungguku. Aku tidak lapar, suami. Jadi pergilah makan, aku akan kembali tidur. "
" Kenapa kau menyiksa dirimu sendiri? apa kau mau membuatku tersandung isu karena membiarkan seorang istri kelaparan? "
Veren tersenyum, dia meraih lengan Alex lalu memeluknya mesra. Dia bahkan tida segan-segan menyenderkan kepalanya dipendam Alex.
" Jadi kau sadar kalau aku istrimu ya? kalau begitu, cepat panggil aku istri! "
Alex mendesah sebal, dia menarik tangannya pelan agar terlepas dari Veren agar lebih leluasa dalam berbicara.
" Mengoceh dan membual seperti ini membutuhkan banyak tenaga kan? maka makanlah dulu, baru setelah itu kau bebas berceloteh dengan semangat. "
" Suami, kau pengertian sekali ya? tapi aku benar-benar tidak ingin makan. Terlebih, makanan dari rumah mu. Nanti kalau aku tiba-tiba kejang, lalu mati bagaimana? aku masih terlalu muda loh, belum juga puas bermain dengan pria, aku tidak rela. "
" Ah! " Pekik Veren sembari memeluk erat lengan Alex seolah-olah tidak ingin terjatuh karena kakinya yang kehilangan keseimbangan. Tentu saja Alex dengan segera menahan tubuh Gaby berharap agar tidak mengalamai cedera.
" Kau tidak apa-apa? " Tanya Alex.
" Tidak apa-apa, tapi kakiku agak sakit. " Veren memeluk manja lengan Alex.
" Apa kau sedang beralasan untuk tida pergi ke meja makan? " Alex menatap kedua bola mata Veren menyidik benar atau tidak dugaannya.
__ADS_1
" Bukan kok. "
" Itu pasti karena kau tidak makan dari pagi. " Ujar Alex lalu perlahan berjalan mendekati meja makan karena harus mengimbangi langkah Veren.
Angel yang melihat semua itu tentu saja merasa marah. Jelas-jelas Veren hanya berpura-pura, tapi kenapa Alex begitu mempercayai Veren?. Ibu Mila juga sama, kehadiran Veren benar-benar membuat selera makannya hilang.
" Sayang? kau sudah pulang kenapa tidak memberitahuku? " Angel berpindah tempat duduk, dan kini sudah berada di kiri Alex, sementara Veren berada si sisi kanannya.
" Tidak apa-apa, kau kan sudah berada di meja makan. Lagi pula aku hanya mandi dan mengganti baju, kau tidak usah merasa bersalah. " Ucap Alex sembari mengambil makanan yang ingin ia makan. Dan momen ini digunakan Veren dengan sangat baik.
" Suami, biar aku saja! " Veren bangkit lalu meraih sendok nasi yang tengah dipegang Alex lalu mengambil alih kegiatannya. Dengan sigap dia mengambilkan nasi ke piring Alex.
" Apa kau mau sayur? " Tanya Veren ya g sukses membuat Alex menelan salivanya. Kenapa? karena kegiatan Veren benar-benar membuat Angel geram, terbukti dari kuatnya tangan Angel yang mencengkraman lengan kirinya.
" Alex tidak suka sayur! " Angel yang menjawab.
" Kalau begitu, makan sayurnya ya suami? " Veren meletakkan sayuran yang sudah ia sendok tadi kedalam Pring Alex. Tentu saja veren tahu kalau Angel sedang berbohong, dilihat dari kekarnya tubuh Alex, dia pasti menjalani hidup yang sehat, dan otomatis juga memakan sayur.
" Suami, mau ikan bakar? "
" Dia tidak menyukai ikan bakar! " Saut Angel saat Alex belum sempat mengatakan apapun.
" Em? kalau begitu makan ya suami? " Veren meletakan satu ikan bakar ke piring Alex.
__ADS_1
Nikmatilah pemanasan ini, selagi aku masih santai, maka jangan terlalu emosi. Puncak permainan akan segera terjadi saat kau, berada di ujung kemarahan yang tidak bisa kau tahan lagi.
TBC