Terpaksa Menikahi Wanita Malam

Terpaksa Menikahi Wanita Malam
Beri Kesempatan


__ADS_3

sayup-sayup mata Veren mulai terbuka. Dia menggerakan tangannya, mengangkat tangannya untuk menutup wajah dari silaunya terpaan sinar matahari yang menembus jendela kaca. Perlahan Veren mulai menguasai dirinya, dia mengedarkan pandangan meneliti suasana ruangan yang asing baginya. Seperti rumah sakit, batin Veren seraya mencoba untuk bangkit dari posisi berbaring. Tatapannya terpaku saat mendapati Alex tertidur dengan posisi kepalanya yang berada di pinggiran Brangkar.


Veren menjalankan jemarinya untuk menyingkirkan rambut Alex yang menutupi bagian dahinya. Dia tersenyum meski dia tidak menyadarinya. Tapi saat dia teringat kejadian sebelumnya, dia tersentak dan tanpa sadar membuat gerakan reflek, dan membuat Alex terbangun.


" Veren? kau sudah sadar? " Tanya Alex sembari mengudap wajahnya agar cepat hilang rasa bangun tidurnya.


" Bagaimana aku bisa sampai disini? " Tanya Veren.


Alex terdiam sesaat, sebenarnya dia sangat tidak ingin menjawab, tapi kalau dia tidak jujur juga bukan hal yang baik.


" Seorang pria membopongmu saat aku hampir sampai ke kamar hotel, jadi aku merebut mu dan membawamu ke rumah sakit. "


" Hotel? kenapa bisa? lalu, kemana tiga pria yang menculik ku? "


Alex mengeryit bingung. Menculik? bukankah informasi yang dikirimkan padanya adalah kabar tentang Veren yang sedang menemui laki-laki di hotel?


" Maksudnya? "


Veren menatap Alex dengan tatapan serius. Dia menelan salivanya terlebih dulu, meraih pundak Alex untuk mendapatkan jawaban yang dia inginkan.


" Apa, sesuatu terjadi pada tubuhku? "


Alex menghela nafasnya.


" Maaf karena melakukan nya tanpa izin, tapi tadi kau sudah menjalani visum di bagian inti. "


" Bagaimana hasilnya? "

__ADS_1


" Akan keluar sebentar lagi, tapi kau bilang kau di culik, sebenarnya apa yang terjadi? "


Veren menceritakan kronologi saat dia keluar dari rumah, sampai tiba-tiba ada dua pria yang menahannya, lalu membiusnya.


" Menurutmu, aku jujur atau tidak? " Veren menatap Alex yang hanya diam mendengarkan. Ekspresinya sangat sama seperti seseorang di masa lalu saat dia mengalami sebuah kejadian yang tidak menyenangkan.


" Sepertinya, seseorang sedang ingin membuat kita bertengkar. " Ucap Alex. Veren terkejut seraya menatap Alex, meskipun dia tidak mengerti apa maksud ucapan Alex, hanya saja dua paham akan satu hal. Yaitu, Alex mempercayainya meski ucapannya terdengar mengada-ngada.


" Seseorang juga mengirim pesan padaku, dia mengatakan jika kau sedang bersama pria di sebuah kamar hotel, awalnya aku tidak ingin percaya, tapi saat menghubungimu, nomor ponselmu tidak aktif. Maka aku bergegas pergi dan datang ke hotel itu. "


Veren mengusap wajahnya dengan kasar, dia sudah berusaha mengingat apa yang terjadi setelahnya, tapi sungguh dia tidak ingat apapun. Veren menarik nafas dalam-dalam, dia mulai merasai tubuhnya agar dia bisa menebak apakah terjadi sesuatu atau tidak dengan tubuhnya, terutama di bagian intinya. Tidak! itulah yang jelas Veren rasakan.


" Lalu bagiamana ini? siapa yang ingin mencelakai ku? "


Alex bangkit dari kursinya saat dia melihat satu pesan dari nomor tak di kenal masuk ke ponselnya. Di sana juga tertera sebuah keterangan, pengakuan penculiknya Veronika. Dia kini duduk di pinggiran Brangkar sembari menatap Veren yamg terlihat tidak biasa.


Veren mengeryit.


" Pria? siapa? "


Alex mengeluarkan ponselnya yang baru saja bergetar karena sebuah rekaman suara masuk ke ponselnya. Alex memutar rekaman suara itu bersamaan dengan Veren.


" Orang gila mana yang memiliki otak seperti binatang? " Veren bertanya dengan dirinya sendiri, tatapannya juga terlihat tidak percaya. Iya, sungguh sangat tidak bisa diterima oleh akal sehat. Bagaimana bisa seseorang membayar tiga pria untuk melecehkan Veren dan membuatnya menjadi rekaman video?


Alex juga tak kalah kesal, dia sungguh tidak habis pikir dengan orang itu. Tapi setelah dia memikirkan sesaat, dia mulai menebak-nebak siapa target keduanya. Alex tentu tahu kalau Erick tadi seperti berpura-pura membenci Veren, tapi sial bagi Erick yang tidak bisa menyembunyikan tatapan khawatir, dan juga tatapan sedih karena wanitanya bersama pria lain. Alex menjadi berpikir, apakah si dalang ingin membuatnya dan Veren bertengkar, atau dalang itu ingin membuat Veren dan Erick bertengkar?


" Sudahlah, jangan terlalu banyak berpikir. Sudah jelas kalau pria itu sudah datang sebelum terjadi apapun padamu. Istirahat saja, aku akan berusaha mencari siapa dalang dari kejadian ini. "

__ADS_1


Veren terdiam, dia tahu benar kalau suara pria yang menginterogasi pria penculik adalah Erick. Karena hanya Erick yang akan memalsukan suara nya. Dia memang tidak tahu bagaimana sulitnya hidup Erick, tapi Erick benar-benar berjasa di dalam hidupnya.


" Veren, aku tahu ada yang tidak biasa dengan hubungan mu dan pria yang membopongmu, tapi aku berjanji akan berusaha sebaik mungkin agar kau tidak lagi membutuhkan siapapun, selain aku, suami mu. "


Veren terdiam karena dia bingung bagaimana harus merespon ucapan Alex. Dia tidak berani mengatakan tidak, tapi juga tidak bisa mengatakan iya. Bukan bimbang karena perasaan spesial yang berhubungan dengan hati, tapi ikatan yang terjalin karena hutang budi sungguh sangat menjeratnya dengan kuat.


Alex meraih tangan Veren, dia menggenggam tangan itu, dan menyalurkan kehangatan yang menyeruak dari pori-pori kulitnya.


Hangat, dan lembut, Itu lah yang dirasakan tangan Veren saat tangan Alex menyatu dengan tangannya. Bahkan kehangatan itu seperti menjalar keseluruh tubuh, bahkan juga kebagian dalam dadanya.


" Sekarang, tolong terima aku yang serba kekurangan ini. Biarkan aku membuktikan padamu, layak atau tidakkah aku menjadi suami mu. "


Veren tersenyum tipis, kata-kata gombal seperti ini benar-benar membuatnya sedikit terhibur. Padahal, bisa saja pria-pria yamg menggodanya dulu mengatakan ini. Tapi entahlah, saat kata-kata itu keluar dari bibir Alex, rasanya Veren ingin sekali mempercayainya.


" Lalu, bagaimana kalau aku diculik lagi nanti? apa kau akan seperti Superman yang datang menyelamatkan wanita pujaannya? " Tanya Veren menggoda.


" Meskipun aku tidak suka tokoh Superman, tapi aku akan mencontoh nya mulai sekarang. " Alex tersenyum membalas bagaimana indahnya bibir Veren yang kini juga tersenyum kepadanya.


Dari balik pintu yang memiliki cela kaca ditengah bagian atas, Erick terdiam melihat bagaimana Veren tersenyum, bagaimana Veren menatap Alex, bagaiamana Veren berbicara santai seperti mereka sudah mulai dekat. Erick berbalik arah, dia mulai melangkahkan kaki menjauh dari kamar itu.


Vero, aku sungguh tidak rela, tapi aku belum bisa menemui mu, dan memelukmu disaat seperti ini.


" Tuan, apa perlu saya membuat jebakan, dan juga alibi agar mereka terkecoh? dengan begitu anda bisa menemui Nona Veren. " Ucap asisten Erick yang merasa kecewa melihat Tuannya bersedih.


" Tidak, nyawa Vero dipertaruhkan kalau kedekatan kami nampak nyata. Orang dibalik ini berhubungan dengan pria itu. Biarkan dia menyelesaikannya sendiri, kita jangan ikut campur karena banyak orang dari kita yang mulai berkhianat. Pastikan saja Veroku baik-baik saja, itu sudah cukup bagiku. "


TBC

__ADS_1


__ADS_2