
" Wanita yang sedang kau peluk itu, jika ada kesempatan, aku akan memukulnya lagi. Maka berhati-hatilah, jaga dia dengan baik, bila perlu sediakan sepuluh penjaga untuk menjaganya dariku. " Setelah berucap, Veren masuk kedalam kamarnya, dan menutup pintu dengan kuat. Setelah pintu tertutup, tubuh Veren mulai bergetar hebat, suhu tubuhnya juga berubah menjadi dingin, air matanya mulai menetes. Perlahan di berjalan mendekati tempat tidurnya, tapi karena tubuhnya yang begitu hebat gemetar, dia jatuh duduk begitu saja dilantai.
" Deniza... " Veren terisak sembari memegangi dadanya yang terasa amat sakit.
" Maaf, sayang. Maaf karena Ibu tidak bisa membuat hidupmu lebih lama, maaf karena Ibu tidak bisa memenuhi keinginan terakhirmu. " Tangis Veren kini semakin pecah. Sebelah tangannya menggenggam erat sebuah gelang yang di buat oleh mendiang putrinya, dan selalu Veren kenakan kemanapun dia pergi.
***
Alex kini tengah membantu Angel untuk mengompres pipinya agar lebih cepat membaik. Ibu Mila yang baru mengetahui setelah kejadian melalui cerita Angel, awalnya ingin mendatangi Veren dan mrlapiaskan kemarahannya, tapi niatnya itu tidak bisa terlaksana karena Alex melarangnya.
" Benar-benar wanita rendahan. Bagaimana bisa dia bertingkah seolah-olah dia adalah istri pertama. Kalau aku ada disana tadi, aku pasti akan menghajar habis wanita itu. " Berbeda dengan Ibunya, Alex adalah orang yang rasional. Tentu dia tidak akan banyak berkomentar dan membutuhkan keterangan dari kedua belah pihak. Kalau dari cerita Angel, dia lebih condong menyalahkan Veren. Tapi saat melihat ekspresi Veren tadi, jelas sekali Veren murka karena sesuatu yang sangat menyinggungnya. Memang, Veren berbeda dengan Angel, dia sama sekali tidak membela dirinya.
" Sebentar lagi Dokter akan datang untuk memeriksa wajahmu. Kau istirahat saja dulu disini, nanti setelah kamar kita rapih, baru kau bisa pindah kesana. " Titah Alex yang langsung mendapatkan anggukan setuju dari Angel.
" Baiklah, aku tinggal sebentar. "
" Mau kemana? " Angel menahan lengan Alex saat pria itu hendak pergi keluar dari kamar tamu yang saat ini digunakan oleh Angel.
" Menemui Veren. "
" Kenapa? untuk apa? " Tanya Angel dengan tatapan sendu seolah-olah dia tidak ingin Alex pergi menemui Veren.
__ADS_1
" Untuk menanyakan apa yang terjadi sebenarnya. " Jawab Alex.
" Aku kan sudah memberitahumu, kenapa harus menemuinya? "
" Karena aku tidak mau menyalahkan atau membenarkan yang tidak tepat. "
Angel menghela nafasnya.
" Awalnya aku hanya bertanya apa yang dia lakukan semalam, lalu dia menjawab bahwa dia melakukan hubungan badan. Memang siapa yang tidak akan marah kalau mendengar itu? jadi aku asal bicara, dan dia akhirnya marah. "
Alex mengeraskan rahangnya. Veren memang terlihat transparan saat berbicara, tapi dia tidak menyangka kalau yang diucapkan itu benar. Jika saja benar pada malam itu dia tidur dengan laki-laki lain, hah...! Alex menghela nafas untuk bisa membuat dirinya tenang. Tidak tahu sebenarnya apa yang dia rasakan dengan wanita yang baru saja resmi menjadi istri barunya itu. Tapi rasa tidak nyaman saat menduga yang dilakukan Veren benar, rasanya sulit untuk menghilangkan ketidak nyamanan itu.
Ada apa denganku? kenapa aku merasa sakit melihatnya menangis? kenapa aku malah ingin memeluknya, bahkan aku ingin meminta maaf. Ada apa ini?
Alex masih mematung menatap punggung Veren yang bergerak sesuai nafasnya saat menangis. Alex yang semakin lama semakin tidak tahan, dia memutuskan untuk menutup pintu kamar itu perlahan-lahan agar tidak menimbulkan suara. Dia dengan langkah cepat berjalan menuju bagasi, menyambar kunci mobilnya, lalu bergegas menjalankan mobil dan melesat menjauhi rumahnya.
Bug Bug
Alex memukuli setir kemudian nya karena merasa kesal. Kenapa dia tidak berdaya seperti ini? kenapa hubungan rumah tangganya selalu rumit? sebelum adanya Veren, mungkin dia masih bisa memperlakukan Angel dengan baik sesuai dengan janjinya. Tapi kenapa setelah Veren hadir, dia sering tidak bisa mengutarakan apa yang dipikirkannya, dia bahkan sudah beberapa kali menjaga perasaan Veren meski ujungnya menyakiti Angel.
Mobil masih melesat menjauh hingga sampailah disebuah jalan yang sepi dan jarang dilewati oleh orang. Alex menghentikan mobilnya lali keluar dari sana.
__ADS_1
" A..........! " Teriak Alex mencoba menghilangkan segala penat yang ia rasakan. Setelah mengulang kegiatan itu, Alex memutuskan untuk menemui seseorang, setelah itu barulah dia akan ke perusahaannya.
***
" Ibu, apakah menurut Ibu aku salah bicara? " Tanya Angel setelah dengan rinci menceritakan kepada Ibu mertuanya.
" Angel, jika Veren hamil dan saat anak itu lahir, anak itu juga adalah cucuku. Bagaimana bisa kau menyumpahi anak? meskipun aku memaklumi karena kau marah, tapi tidak baik menyumpahi seorang wanita menggunakan anak yang akan dilahirkannya nanti. " Setelah berucap, Ibu Mila menghela nafas. Sebenarnya dia juga merasa kalau kata-kata Angel itu sangat menyakitkan, tapi mau bagaimana lagi? dia juga tidak bisa membenarkan tindakan Veren yang memukul Angel. Dia tidak ingin Angel mengalami apa yang dia alami karena dulu juga dia memukul seseorang, lalu membuatnya berpisah dengan suaminya.
" Ibu, apakah Ibu benar-benar menginginkan cucu? " Angel bertanya dengan raut wajah sedih. Ini adalah dilema terberat yang ia rasakan, selain suatu hal yang melarangnya melahirkan anak dari Alex, ada beberapa masalah lain yang belum bisa membuatnya yakin untuk memiliki anak.
" Tentu saja. Usia kalian bukan lagi muda. Kalian sudah sama-sama berusia tiga puluh tahun, apakah masih ingin menundanya? "
Angel terdiam tak berani menatap bola mata Ibu mertuanya.
" Bukankah Ibu tahu bagaimana rumitnya hubungan keluargaku dan keluarga Alex? "
Ibu Mila menghela nafas. Dia bangkit dari duduknya dan berniat meninggalkan Angel untuk istirahat. Tapi sebelum ia benar-benar pergi, Ibu Mila mengucapkan beberapa kata yah sukses membuat dada Angel berdenyut.
" Dari awal, kau lah yang bersikeras. Alex dan Ibu sudah memberi tahu konsekuensinya. Maka takdirmu harus berada ditengah-tengah dan mengontrol banyak hal. "
TBC
__ADS_1