
" Veren? " Alex menepuk pelan pundak Veren setelah menimbang keputusannya. Masih juga tak bergeming, Alex menghela nafas lalu perlahan membuka pintu disamping Veren agar memudahkannya saat memindahkan Veren ke kamarnya. Perlahan-lahan membuka sabuk pengaman. Tapi saat dia membuka sabuk pengaman yang dikenakan Veren, tiba-tiba mata Veren terbuka sempurna membuat Alex terkejut tapi juga tak bergeming. Veren tersenyum lalu mencium bibir Alex.
Veren, aku benar-benar tidak akan membiarkan ini berlangsung lama. Dari jarak yang tak jauh dari mereka, Angel dengan jelas melihat bagaimana mereka berdua berciuman.
Tentu saja Veren bisa melihat adanya Angel melalui jendela kaca. Pastinya, saat ini Angel pasti sudah terbakar api cemburu yang luar biasa tak tertahankan. Dia juga sudah bisa menebak kalau pada akhirnya, Angel akan melakukan banyak hal untuk menyingkirkannya.
Alex sebenarnya tidak ingin melepaskan ciuman itu, tapi untuk menghindari dirinya agar tidak memiliki keinginan lebih, dia menjauhkan diri tapi tidak dengan kasar. Dia sebisa mungkin berusaha agar tidak terlihat gugup setelah kembali ke posisi duduknya yang awal.
" Masuklah, tadi aku hanya ingin memindahkan mu karena aku tidak tega kalau meninggalkanmu disini. "
Veren tersenyum lalu mengangguk.
" Ok, suami. Tapi kita masuk bersama ya? aku takut Ibumu akan mengigit ku. " Veren tersenyum seolah apa yang dia katakan adalah hal lucu.
" Ibuku bukan hewan! jaga bicaramu. " Alex turun dari mobil begitu saja tanpa mengindahkan lagi adanya Veren. Kecewa? tida! sama sekali tidak! Veren tahu benar bagaimana caranya menarik ulur pria seperti Alex. Iya, Alex memang tidak memiliki sifat kasar, tapi dia sedikit dingin dan sensitif mengenai Ibu dan juga Angel. Tapi tetap saja, Veren adalah Veren yang tidak akan begitu mudah menyerah apalagi menerima sebuah kekalahan.
" Aku tahu, kau memiliki sedikit ketertarikan denganku, tapi aku perlu menarik ulur perasaanmu, membuatmu begitu jatuh cinta padaku, aku akan membawamu merasakan indahnya cinta, lalu menjatuhkan mu ke lembah penuh magma panas yang akan membakar habis dirimu. " Veren meraih handle pintu, membukanya cepat lalu berjalan menyusul Alex.
__ADS_1
" Suami, maaf. " Veren melingkarkan lengannya memeluk lengan Alex. Tak bicara apapun, Alex membiarkan saja tangan Veren disana tanpa mau menanggapi apapun yang dilakukan Veren. Setelah sampai dia kamar mereka, Veren masuk ke kamarnya, Alex masuk ke kamarnya juga.
" Sayang? " Angel memeluk langsung tubuh Alex saat pria itu sampai kedalam kamar mereka.
" Angel, tubuhku sudah sangat lengket, biarkan aku mandi dulu. " Alex menjauhkan pelan tubuh Angel. Benar-benar bukan karena tidak ingin dipeluk, tapi dia sungguh merasa tidak nyaman dengan tubuhnya yang lengket karena keringat seharian. Angel tersenyum lalu melepaskan tubuh Alex. Barulah setelah itu, Alex mengecup kening Angel lalu berjalan meninggalkan Angel untuk menuju ke kamar mandi. Angel hanya bisa menatap punggung Alex yang menjauh darinya dengan perasaan sedih. Iya, sedih karena semua hal berjalan tidak sesuai dengan harapannya, sedih karena harus membagi Alex, bahkan dia sudah dua kali melihat Alex dan Veren saling berciuman, hati wanita mana yang tidak sakit melihat prianya berciuman dengan wanita lain? bahkan sekalipun memang itu istri mudanya.
Beberapa saat kemudian, Angel tersenyum menyambut sang suami yang sudah keluar dari kamar mandi. Masih sama, tubuh Alex yang kekar dan tinggi, serta wajahnya juga begitu tampan, tentu saja cukup membuatnya terkesima setiap hari.
" Sayang, bagaimana pekerjaan mu hari ini? " Angel mengambilkan piama tidur agar Alex bisa segera memakainya. Tentu saja ini agak aneh, karena yang ia tahu, Angel belum pernah melakukan ini dengan inisiatifnya sendiri. Dulu, sering kali saat Alex buru-buru, barulah dia akan meminta tolong kepada Angel untuk menyiapkan pakaian untuknya.
" Itu, semua baik-baik saja. Angel? "
" Kau, kenapa begitu aneh? " Alex terus menatap Angel yang masih saja tidak biasa baginya.
" Aku hanya ingin berusaha menjadi istri yang baik. Apa salah? " Angel menatap mata Alex tegas seolah dia benar-benar serius dengan kata-katanya.
" Tidak salah, tapi ini terlalu tiba-tiba. Aku malah jadi bingung. " Alex memaksakan senyumnya, iya dia sendiri masih tidak mengerti apa tujuan Angel, tapi kalau memang dia hanya ingin menjadi istri yang baik, tentu saja Alex tidak keberatan. Dan lagi, dia juga bisa membicarakan lagi soal anak nantinya.
__ADS_1
" Sayang, belakangan ini masalah kita menjadi banyak sekali. Aku tidak tahu bagaimana caranya menghadapi semua ini, makanya aku menjadi emosional. Setelah aku pikir-pikir, semua ini adalah akibat dari aku yang kurang mengerti dirimu. " Angel menatap mata Alex, kedua tangannya menangkup wajah Alex.
" Sayang, aku ingin menjadi istri yang seperti kau inginkan. Tapi tolong, berikan aku lebih banyak waktu. Aku janji, perlahan-lahan aku akan berusaha menjadi yang terbaik, dan bisa membuatmu bahagia. " Ucapan Angel barusan ternyata cukup menyentuh bagi Alex. Dia mengangguk saja karena memang setuju dengan apa yang Angel katakan. Iya, walau bagaimanpun, pernikahannya dengan Angel terjadi karena saling mencintai, meskipun ada Veren, tapi semua itu tidak menjamin kalau Veren akan tetap tinggal bersama dengannya, maka yang harus dilakukan adalah menjalani semua ini dengan baik, tetap menjaga kondisi agar tidak menimbulkan keributan.
Setelah kembali ke kamar tadi, entah mengapa Veren tiba-tiba merasa hampa. Rasanya lelah juga harus memandangi bulan yang berbentuk sabit menghiasi langit malam. Ingin melakukan panggilan video dengan Denzo, tapi sudah tidur. Menghubungi Karina juga dia tidak ingin mengganggu istirahat Karina. Siapa? Erick? tidak! Erick adalah pria yang tidak bisa ia hubungi kapanpun dia mau.
" Gila! aku benar-benar bosan berada di kamar ini. Apa yang harus aku lakukan? " Veren kembali menatap pelataran rumah yang banyak ditumbuhi beberapa jenis buah, tanaman hias, dan juga ada bunga-bungab langka koleksi Ibu Mila. Setelah menimbang sebentar, akhirnya dia memutuskan untuk pergi kesana dan duduk di sebuah bangku panjang berwana putih. Rupanya, Angel yang tadinya ingin mengambil air minum melihat Veren keluar dari kamar. Karena merasa takut ketinggalan informasi, akhirnya dia memutuskan untuk mengikuti Veren.
" Lumayan juga. " Veren menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskan perlahan. Lega, penatnya juga sedikit berkurang.
" Kau pasti tidak betah berada di dalam rumah ya? walau bagaimanapun, kau kan biasanya seperti kelelawar yang akan beraksi saat malam. " Angel yang tidak bisa menahan dori akhirnya datang untuk meyindir Veren.
" Jangan suka berpendapat, bukanya kau juga menyukai kegiatan berburu di malam hari? " Veren tersenyum dengan tatapan mengejek.
" Kau, dan aku jauh berbeda. Kau hanyalah seekor lalat bagiku. " Angel mendelik kesal.
" Tentu saka berbeda. Kau adalah sampah yang bahkan tidak sudi lalat menjilatinya. Oh, tidak! Kau, bahkan lebih menjijikkan dari sampah. " Veren berjalan ke arah Angel, menabrak dengan separuh tubuhnya, lalu melewati Angel begitu saja.
__ADS_1
TBC