
Setelah lelah seharian menjalankan aktivitas sebagai model, akhirnya Angel kini sampai di kediaman Dardan. Tempat dimana Suami dan Ibu mertuanya tinggal, tempat yang selama ini menjadikannya seorang ratu sebelum datangnya Veren kedalam rumah itu.
Angel berjalan cepat untuk mencari sang mertua dan menceritakan apa yang dia lihat hari ini.
" Ibu? " Panggil Angel saat mendapati sang Ibu mertua tengah duduk santai menikmati pijatan dari kursi pijat yang terletak di ujung kamar milik Ibu mertuanya.
" Kenapa kau begitu semangat? " Ujar Ibu Mila. Matanya masih terpejam menikmati pijatan dari kursi pijat yang tengah ia duduki.
Angel berjalan cepat, dia meraih kursi yang terletak di meja rias, lalu memindahkannya agar bisa lebih dekat dengan Ibu mertuanya.
" Ibu, apa Ibu tahu dengan siapa aku bertemu hari ini? "
" Siapa? artis Eropa kah? atau penyanyi terkenal? atau mungkin model terkenal? " Tanya Ibu Mila masih dengan mata terpejam.
" Bukan Ibu! "
" Lalu? "
" Ibu, aku bertemu dengan Sofiana dan juga adik laki-lakinya. "
Ibu Mila sontak membuka matanya lebar-lebar. Dia bangun dari posisinya dengan tatapan terkejut.
" Anak laki-kaki? "
" Iya, kalau dilihat dari wajahnya, anak itu berumur sekitar tujuh atau paling tidak di bawah sepuluh tahun. "
Ibu Mila terlihat kesal, tentu saja itu mungkin. Jika di ingat lagi, saat Nyonya Nehra dinikahi oleh Tuan Haris, usianya kan baru delapan belas tahun. Tentu saja sangat mungkin kalau anak itu adalah anaknya dan Tuan Haris.
" Kau yakin? "
" Yakin, yakin sekali Ibu! wajahnya sangat mirip seperti Ayah mertua Alex, dan kakak ipar. Dia juga tidak menyangkal saat aku menyebut mereka kakak beradik, karena anak laki-laki itu memanggil Sofiana kakak. "
Ibu Mila terdiam. Kesal sekali rasanya, selama ini dia membanggakan dirinya karena memiliki dua anak laki-laki dari Tuan Haris, tapi ternyata ada juga anak laki-laki dari Nyonya Nehra. Meskipun dia agak tidak percaya, tapi bisa saja kan mereka menyembunyikan kehamilan kedua Nyonya Nehra agar tidak diketahui olehnya.
" Tidak bisa dibiarkan! aku harus menuntut lebih untuk anak-anakku, kalau tidak, Haris pasti akan memberikan hartanya lebih banyak untuk anak laki-laki itu. "
__ADS_1
" Ibu, Ayah mertua terlalu tenang kan selama ini? apa jangan-jangan dia juga sudah menyiapkan warisan untuk dia. "
" Kemungkinan, jadi kalau anak laki-laki itu tidak ada, seharusnya Alex bisa mendapatkan sekitar satu triliunan kan? ''
Angel mengangguk setuju. Memnag benar apa yang dia pikirkan juga sama seperti apa yang di katakan Ibu mertuanya.
" Tidak bisa begini, aku harus menghubungi Haris.
***
Veren meletakkan ponselnya setelah mendapatkan telepon dari Tuan Haris. Sebenarnya dia masih tidak menyangka jika Tuan Haris akan mengatakan semua ini, meskipun pada intinya dia ingin menjaga Denzo dan memberikan kasih sayang, serta fasilitas yang lebih dari sebelumnya. Sejujurnya masih ada rasa berat hati, tapi saat Tuan Haris mengucapkan kata-kata pernyataan untuk tidak memiliki Denzo, dan tidak akan melarang kapanpun Veren akan menjemputnya, maka Veren sudah bis percaya. Memang sih, di apartemen Karina dia aman, tapi di kediaman Tuan Haris pasti akan lebih aman lagi karena ada Sofiana dan juga Nyonya Nehra, ditambah lagi pelayan serta guru privat yang akan membantu Denzo mendalami bakatnya.
Veren tersenyum saat tadi melakukan panggilan video call bersama Denzo dan Sofiana.
" Denzo, kau pasti sangat menyukai Sofiana ya? kau sampai tidak bisa berhenti tertawa saat bercanda dengannya. " Gumam Veren.
Kembali ke kamar Ibu Mila.
Ada apa?
" Haris, ada yang ingin aku tanyakan padamu. " Ucap Ibu Mila melalui sambungan teleponnya.
" Jadi kau memiliki anak laki-laki lain? apa kau juga akan membagi hartamu dengannya? "
Tuan Haris terdiam.
" Haris?! "
Lalu kenapa?
" Jadi apa yang dikatakan Angel benar? kau memiliki anak laki-laki kan? "
Apa yang kau bicarakan?
" Berhentilah berpura-pura! hari ini, Angel melihat putrimu dan juga adiknya di sebuah pusat belanja. Apa kau masih ingin menyangkal? aku peringatkan padamu, sebaiknya kau membagi rata untuk anak-anak kita terlebih dulu. "
__ADS_1
Tidak bisa, aku punya Sofiana juga. Aku sudah memberikan seadil mungkin untuk anak-anak kita, urusan Sofiana dan anak laki-laki itu bukan urusan mu.
" Haris, Sofiana adalah anak perempuan, dia tidak membutuhkan uang sebanyak itu. Setelah menikah, dia juga akan di urus oleh suaminya kan?! "
Tidak, mau perempuan atau laki-laki, sekalinya anakku, tetap akan mendapatkan hal yang sama rata.
Ibu Mila menarik nafasnya dalam-dalam agar bisa lebih bersabar lagi.
" Bagaimana dengan anak laki-laki mu itu? "
Dia akan mendapatkan apa yang dia inginkan. Lagi pula, Alex juga pasti akan suka rela memberikan semua hartanya untuk anak laki-laki itu. Alex bukan fakir miskin yang begitu membutuhkan warisan dariku, jangan merendahkan harga diri anak mu dengan uang.
" Aku tidak merendahkan harga diri Alex, aku hanya ingin hak anak ku! "
Memberikan segalanya untuk anak laki-laki itu juga adalah kewajiban Alex.
" Mana bisa begitu! dia adalah anak mu! kenapa kau merampas seolah Alex begitu mencintai adiknya yang sampai saat ini dia saja tidak tahu. "
Terserah kau saja.
Panggilan telepon terputus.
Prang....
Ibu Mila melempar ponselnya ke dinding, lalu jatuh ke lantai dengan bentuk yang sudah tidak karuan. Sungguh tidak masuk akal, bagaimana bisa mantan suaminya itu terkesan tidak memperdulikan Alex, kalau anak pertamanya tahu, dia juga tidak akan tinggal diam kan? tapi mau bagaimana lagi? setelah perceraian kedua orang tuanya, dia lebih memilih untuk tinggal bersama kakek dan neneknya di luar negeri, bahkan sudah memiliki keluarga juga jarang sekali datang untuk mengunjunginya.
" Ibu, tenangkan diri dulu. Jika tidak bisa menekan Ayah mertua, bukanya kita bisa menggunakan Bibi Nehra? "
Ibu Mila terdiam lalu menatap Angel setuju.
" Benar, dia itu sangat penurut dan cukup tahu diri karena tidak berani membantah ku selama ini. "
***
Setelah persetujuan dari Veren, sekarang Denzo sudah langsung di bawa kekediaman Tuan Haris. Kedatangan Denzo benar-benar merubah suasana menjadi lebih hangat dan ceria. Sofiana dan juga Nyonya Nehra nampak terhibur dengan cara bicara Denzo yang sangat mirip dengan Veren. Wajah tampannya yang mirip Alex, ditambah lesung pipi yang dalam membuat wajah itu begitu sedap di pandang.
__ADS_1
Tuan Haris terdiam sembari menatap Istri dan juga anaknya yang nampak bahagia. Iya, dia sadar benar jika belum pernah melihat mereka tertawa bahagia seperti sekarang ini. Dua puluh dua tahun dia habiskan bersama Nehra, selama itu pula dia hanya bisa melihat wajah Nyonya Nehra yang nampak tak berdaya. Tidak mengeluh saat merasa tersakiti, bahkan dia juga tidak seperti Ibu Mila saat akan melahirkan. Dia hanya diam, tak sekata pun keluar dari mulutnya, padahal Tuan Haris tahu benar jika itu sakit, tapi tetap saja Nyonya Nehra memilih untuk menyimpannya sendiri apa yang dia rasakan.
TBC