
Di sebuah gedung perkantoran, bertuliskan AD Furniture, atau biasa dikenal dengan ADF. Sebuah perusahaan yang berkembang di dunia furniture. Enam tahun sudah Alex memimpin ADF, membawanya ke masa sekarang yang bisa dibilang cukup jaya. Bukan hanya satu atau dua perusahaan bergerak di bidang properti yang sudah langganan menjalin kerja sama dengan ADF, beberapa Hotel besar berbintang lima, bahkan banyak sekali para miliarder yang secara khusus meminta bantuan ADF untuk mendesain dan memesan furniture untuk hunian mereka.
Memandangi pembatas ruangan yang terbuat dari kaca transparan, menyuguhkan suasana siang hari yang begitu panas, nampak juga beberapa manusia yang berlalu lalang menjalankan aktifitas hariannya. Beberapa kali Alex menarik nafas lalu mengehembuskan dengan kasar, berharap segala penat yang ia rasakan beberapa hari terakhir ini mereda dan kembali membuatnya tenang. Ponsel yang berdering tiba-tiba membuatnya tersadar. Dia memutar kursinya untuk meraih ponsel yang sedari tadi tergeletak di meja kerjanya. Sesaat menatap layar ponsel untuk mengetahui siapa yang menghubunginya, barulah dengan cepat dia menggeser tombol agar panggilan suara itu terhubung.
" Bagaimana? " Tanya Alex setelah sambungan telepon terhubung.
Dari pagi sampai sekarang, Nona Veronika masih berada di apartemen milik Karina, Bos. Saya sudah menyelidiki pemilik apartemen ini, dia tinggal bersama seorang anak laki-laki, mungkin itu anak beliau. Tapi pemilik apartemen tidak berada di dalam karena sedang bekerja, kemungkinan Nona Veren menemani anak wanita pemilik apartemen.
" Apa ada tamu yang datang? " Tanya Alex.
Tidak ada, Bos. Saya akan tetap berjaga sampai Nona Veronika keluar.
" Baiklah, pastikan dia baik-baik saja. Hubungi Aku jika terjadi sesuatu dengan dia. "
Baik.
Alex meletakkan kembali ponselnya dengan perasaan yang begitu lega. Kenapa? tidak tahu! dia sendiri kebingungan dengan apa yang dia rasakan. Mungkinkah dia menyukai Veren? ataukah ini hanyalah reaksinya untuk berperan sebagai suami, dan melindunginya? Entahlah, Alex sama sekali tidak bisa memperkirakan kemana condongnya perasaan yang ia rasakan.
Setelah merasa cukup untuk membuang-buang waktu, Alex akhirnya melanjutkan kembali pekerjannya yamg sudah mulai menumpuk. Bahkan, desain lampu hias yang sudah di setorkan oleh Sindi dari pagi tadi. Beruntunglah, dia sekarang merasa lebih bisa berkonsentrasi dengan baik. Mungkin, ini karena sudah mendapatkan kabar tentang Veren?
***
Seharian Veren menemani Denzo yang sedang flu dan demam. Dengan telaten layaknya Ibu-Ibu lainya, Veren merawat Denzo. Bahkan dia benar-benar tidak ingin pulang meski setiap hari selalu menemui Denzo.
" Ibu, Ibu tidak pergi? " Tanya Denzo yang sudah bisa bermain game dengan ponselnya.
__ADS_1
" Ibu masih ingin bersamamu. " Veren mencium pucuk kepala Denzo, lalu membaringkan tubuhnya disamping Denzo yang tengah duduk ditempat tidur sembari memainkan ponselnya.
" Ibu, sekarang aku sudah baik-baik saja. Apa tidak masalah jika Ibu tidak kembali? "
" Tidak, tempat Ibu kembali hanya padamu Denzo ku. Ini hanya untuk sementara, dan lagi, tidak ada yang bisa dibandingkan dengan dirimu di mata Ibu. " Denzo tersenyum lalu mencium pipi Ibunya.
***
" Bagaimana? " Tanya Angel yamg sudah seharian ini menunggu kabar tentang masa lalu Veren yang dia harapkan akan bisa ia gunakan untuk mengancam Veren demi keuntungan dirinya.
Tidak ada informasi yang bisa di gali, Nyonya. Tapi, salah satu temanku mengatakan jika Veronika adalah bintang di surga malam. Dia adalah primadona disana.
" Bagus, apa kau memiliki buktinya? "
" Bagus! kirimkan padaku! " Angel langsung mematikan sambungan teleponnya untuk menunggu photo dikirim padanya. Hah! benar saja, itu benar-benar Veren. Wanita yang sudah berhasil merebut perhatian Alex darinya. Bibir Angel terbentuk sebuah senyum bahagia juga seolah merasa puas. Dengan bukti ini, tentu akan lebih mudah untuk menghancurkan Veren kan? Setelah puas dengan beberapa photo yang dia dapat, Angel meminta orang tersebut untuk terus mencari tahu dan jangan sampai berhenti sampai disini.
"Veren, aku akan menghancurkan mu, sama seperti kau menghancurkan rumah tanggaku. " Ucap Angel lalu tersenyum puas menatap pantulan dirinya di cermin yang berdiri tepat dihadapannya.
Malam hari.
Veren yang tadinya tidak ingin pergi, kini terpaksa harus pergi demi sebuah rencana yang harus segera dia selesaikan. Dipandanginya lekat wajah tampan Denzo, mengusapnya pelan, lalu memberikan kecupan sayang sebelum dia pergi. Semoga saja Denzo tidur dengan nyenyak, dan pagi nanti dia akan kembali menemani putranya.
" Karina? " Panggil Veren setelah keluar dari kamar Denzo dan mendapati Karina tengah duduk diruang tengah ditemani laptop yang bekerja seiringan dengan jemari lentik seorang Karina.
" Veren? kau akan pulang? " Tanya Karina sesaat memalingkan wajahnya menatap Veren, lalu kembali ke laptopnya.
__ADS_1
" Iya. Maaf karena akan merepotkan mu untuk waktu yang lama. " Veren kini duduk tak jauh dari Karina.
" Apa yang kau katakan? " Karina kini mengacuhkan laptopnya.
" Kau dan aku adalah saudara. Jangan terlalu merasa tida enak, kehadiran Denzo benar-benar tidak mengganggu. Aku justru bahagia karena memiliki teman di hari libur. Denzo juga anak yang mandiri dan dewasa. Ditambah lagi, orang tuaku, dan juga paman sangat menyukai Denzo, tentu aja kami tidak akan keberatan. Liburan semester nanti, mereka bahkan sudah mengatur jadwal untuk membawa Denzo pergi bermain, jadi jangan khawatirkan tentang Denzo. "
Veren tersenyum lalu mengangguk paham.
" Aku benar-benar merasa beruntung memliki sahabat dan keluargamu yang memperlakukan ku seperti saudara sendiri. "
Karina menghela nafasnya.
" Denzo juga sudah aku anggap sebagai anak sendiri, tentu saja mereka juga adalah cucu orang tuaku. Sekarang kau khawatirkan saja dirimu, mungkin suatu saat Denzo akan memintaku menjadi Ibunya. " Veren dan Karina tertawa bersamaan. Setelah dirasa cukup berbincang dengan Karina, Veren akhirnya memutuskan untuk kembali kesebuah rumah mewah yang terkutuk itu. Buruh waktu kurang lebih satu jam untuk sampai, tapi untunglah jalanan tergolong lancar dan Veren bisa tiba sebelum malam begitu larut.
" Masih berani pulang?! " Hah! suara melengking bak sirine itu jelas sekali adalah suara Ibu mertuanya. Dari nada bicaranya, lalu dari cara Angel tersenyum seperti itu, Veren sudah bisa menebak kalau ada suatu hal yang terjadi. Entah apa juga yang dipikirkan Alex, pria itu hanya duduk diam dengan tatapan datar yang tak terbaca.
" Jika boleh jujur, aku malah sama sekali tidak suka berada fi rumah ini. " Veren tersenyum, tentu saja Ibu mertuanya dan si istri pertama dari Alex bisa melihat bagaimana tidak mudah membuat Veren merasa takut.
" Apakah karena kau lebih nyaman berada di surga malam? " Angel tersenyum miring, iya dia pikir dia bisa menyudutkan Veren dan bisa menang telak dari wanita angkuh seperti veren.
" Ya ampun, bagaimana bisa senior sangat tahu? hah! aku memang benar-benar merindukan tempat itu. " Veren tersenyum setelah berpura-pura terkejut.
" Dasar rendahan! " Maki Angel. Iya,dia kesal dan juga tidak habis pikir bagaimana bisa Veren setenang ini?
TBC
__ADS_1