
Setelah mempertimbangkan dengan masak-masak, akhirnya Ibu Mila memilih untuk menemui Seli yang akan dia gunakan sebagai jembatan untuk memisahkan Alex dengan Veren. Awalnya dia sempat memikirkan berbagai macam cara, hingga berniat mendatangkan salah satu anak dari sepupunya, tapi saat dia teringat dengan keluhan Angel yang selalu saja cemburu dengan kedekatan Seli dan Alex sebagai Bos dan bawahannya. Maka dari itu, untuk sekedar memisahkan saja, Ibu Mila akan menggunakan Seli, nanti setelah tujuannya terwujud, baru dia akan mendatangkan putri dari sepupunya agar bisa dinikahkan dengan Alex.
Di sebuah restauran, Ibu Mila dan Seli kini duduk berhadapan. Dua gelas berisikan teh hijau yang masih mengeluarkan asap.
" Bagaimana dengan tawaran dariku? " Ibu Mila menanyakan pendapatnya karena Seli masih belum menanggapi.
Sebenarnya ini adalah hal yang inginkan Seli, tapi kalau jalannya harus melalui Ibu Mila, atau Ibu dari Bosnya, entah mengapa dia justru merasa khawatir. Bagaimana mungkin bisa tercetus ide semacam itu dari seorang Ibu, dan mertua? begitu menyeramkan nya kalau sampai dia yang ada di posisi Veren saat ini.
" Saya, saya rasa itu tidak akan berhasil, Nyonya. Apalagi cara yang anda gunakan terlalu ekstrim, dan beresiko. Kalau di pikirkan lagi, bukankah nantinya akan berdampak dengan pekerjaan, pribadi, bahkan juga keluarga, dan lingkungan saya? Kalau boleh, bisakah anda mengganti rencana anda? "
Ibu Mila sontak berwajah dingin.
" Ekstrim? Bukannya kau terlalu memikirkan harga dirimu? Bahkan jika kau melakukan semuanya secara natural, kau juga tahu apa hasilnya kan? Alex adalah anakku, aku tahu benar bagaimana dia. Dia amat sangat menghargai wanita, jadi dia tidak akan merendahkan wanita. Kalau kau masih saja ragu, maka aku hanya perlu mencari pemeran baru yang siap untuk melakukanya. "
Seli meremas kedua tangannya yang berada dipangkuannya. Hah! sungguh sangat yakin dia hanya akan digunakan sebagai pemisah saja. Tapi kalau dia melewatkan kesempatan ini, dia juga akan kehilangan harapan. Benar, masalah bagaimana Ibu Mila nanti, dia akan memikirkan setelah berhasil memisahkan Alex dan Veren, lalu mengisi posisi Veren di hati Alex.
" Baiklah Nyonya, saya akan mencobanya. "
Ibu Mila tersenyum penuh arti.
" Bagus, mulai sekarang kau tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan. "
Setelah pertemuannya dengan Ibu Mila, Seli kini telah berada di kantor. Seperti biasanya, dia selalu ikut dan kemana Alex pergi untuk meeting atau mengunjungi pabrik untuk peninjauan.
" Tuan, anda akan kembali ke kantor, atau akan langsung pulang saja? " Tanya Seli.
Alex menaikkan lengan kemejanya untuk melihat pukul berapa sekarang ini.
" Aku langsung pulang saja, pekerjaan di kantor yang belum selesai akan aku kerjakan setelah makam malam nanti di rumah. "
Seli tersenyum sembari mengangguk. Iya, saat berada di pabrik tadi, dia sudah melakukan upaya yang disarankan oleh Ibunya Alex. Dia berpura-pura pusing, lalu menjatuhkan tubuhnya di tubuh Alex, dan meninggalkan bekas lipstik di kemeja yang Alex kenakan. Tentu tujuannya adalah untuk memberikan benih-benih kecurigaan untuk Veren, lalu setelah itu, barulah dia akan bertindak lebih jauh.
" Ayah! " Denzo memeluk Alex setelah mendapati Ayahnya pulang.
__ADS_1
" Dimana Ibu? " Alex mengecup kening Denzo lalu mengusapnya setelah melontarkan pertanyaan.
" Ibu sedang di dalam kamar mandi. " Jawab Denzo.
" Baiklah, lalu apa yang kau makan dengan mulut belepotan seperti ini? " Alex mengusap sisa makanan di dekat bibir Denzo dengan jempolnya.
" Aku makan pasta buatan Ibu, rasanya enak sekali, Ayah. "
Setelah berbincang sesaat, Denzo akhirnya melanjutkan kegiatan makannya, sementara Alex masuk kedalam kamar untuk mandi, barulah dia bisa makan dengan nyaman.
" Suami, sudah pulang? " Sapa Veren setelah keluar dari kamar mandi, dan mendapati Alex berada di sana tengah melepaskan pakaiannya. Veren berjalan cepat, lalu membantu Alex untuk membawakan pakaiannya ke tempat pakaian kotor.
" Aku mandi dulu ya? " Alex mengecup singkat bibit Veren sebelum masuk kedalam kamar mandi.
" Ini lipstik siapa? norak sekali warnanya. " Gumam Veren yang mendapati bekas lipstik itu di kemeja Alex, tepatnya di pundak kemeja itu. Veren terdiam sesaat sembari berpikir, apakah suaminya memiliki wanita lain?
Tidak mungkin kan? apa aku harus bertanya? apa mungkin Alex akan jujur?
Alex,lebih baik kau jangan mengecewakan aku. Karena sebesar apapun kenyamanan yang kau berikan untukku dan Denzo, aku tidak akan segan-segan pergi saat di selingkuhi.
Tak mau lagi banyak berpikir, Veren meletakkan kemeja itu di bagian bawah, lalu menutupinya dengan kajian yang lain. Setelah itu, barulah dia keluar untuk menemani Denzo yang cukup lama juga ia biarkan sendiri di ruang tengah karena tengah makan tadi.
Beberapa saat kemudian, Alex keluar dan bergabung bersama mereka. Tam ada yang berbeda, dia masih seperti Alex yang sebelumnya. Begitu perhatian kepada anak, dan juga istrinya. Dia juga menemani sang anak untuk bermain game, bercanda, menonton TV sembari memakan camilan kesukaan mereka, dan menemani Denzo sampai dia benar-benar tidur, barulah dia masuk ke kamar untuk menemani Veren.
" Hei, apa yang kau pikirkan? " Tanya Alex yang melihat Veren nampak seperti melamun saat dia tengah berbaring do tempat tidur. Alex mengambil posisi berbaring tepat di samping Veren, lalu memeluk seperti biasanya saat dia akan tidur.
" Tida ada, hanya saja belum bisa tidur. Denzo sudah tidur? "
" Sudah, kalau belum aku pasti belum kesini. " Alex mengecup tengkuk Veren setelah mengalihkan rambutnya.
" Apa saja yang kau lakukan hari ini bersama Denzo? "
" Setelah pulang dari sekolah, aku hanya menemaninya bermain game, lalu tidur siang, makan, ya hanya begitu saja. "
__ADS_1
Alex tersenyum seraya mengeratkan pelukannya.
" Aku merindukan mu. "
" Aku punya firasat buruk setiap kali kau mengatakan rindu padaku. " Ujar Veren. Benar saja, baru saja selesai mulutnya berbicara, sekarang Alex mulai mengubah posisi dan sudah berada di atas tubuhnya.
" Bisakah aku artikan, kau merindukan tubuhku? "
" Keduanya. " Alex tak lagi mau mendengar, atau lebih banyak berbicara karena kegiatan itu sudah tidak mau dia undur lebih lama.
Esok harinya.
Semua berjalan lancar hari ini. Produk yang akan diluncurkan akhir bulan, nyatanya sudah beres di pertengahan bulan ini. Pekerjaan di kantor juga sudah tak sebanyak beberapa saat lalu sebelum lampu hias yang mereka produksi rampung.
" Selamat sore, Tuan? " Sapa Seli setelah mengetuk pintu, lalu membukanya.
" Sore, ada apa? " Tanya Alex yang merasa agak aneh dengan cara Seli berdandan. Padahal beberapa saat lalu dia tidak berdandan seheboh ini.
" Tuan, saya ada makan malam keluarga besar, boleh saya minta izin pulang lebih cepat? " Tanya Seli yang kini sudah berada di dekat Alex.
Sejujurnya Alex merasa aneh, kalau mau izin kenapa juga harus sedekat ini?
" Uhuk! Uhuk! " Alex terbatuk-batuk saat Seli menyemprotkan parfum ketujuhnya, laku mengenai wajah Alex.
" Ah, maaf Tuan! saya terlalu antusias. "
" Sudahlah, kau boleh pulang sekarang. "
Setelah mengucapkan terimakasih, kini Seli berbalik ingin meninggalkan ruangan Alex. Bibirnya tersenyum miring seolah puas dengan yang ia lakukan.
Veren, sedikit demi sedikit, aku akan membuat kalian berdua berselisih, lalu berpisah.
TBC
__ADS_1