
Hari demi hari telah terlewati, dan rencana-rencana indah Veren sama sekali tidak ada yang bisa dia penuhi. Karena kehamilan ini benar-benar membuat Veren menjadi istri rumahan yang hanya berbaring dan tidur. Untunglah, Ibu Mila yang sekarang adalah Ibu mertua yang pengertian, dia sama sekali tidak mempermasalahkan Veren yang hanya menghabiskan waktu untuk tidur. Sementara Denzo sekarang jadi semakin dekat dengannya, bahkan tak jarang mereka sampai tidur di ranjang yang sama. Sungguh, kehadiran Denzo benar-benar mengisi hari-hari Ibu Mila yang beberapa waktu sempat terasa kosong dan menyedihkan.
Alex juga tak kalah repot sebagai mana para suami yang tengah menghadapi istri hamil. Hanya saja Veren terlalu banyak tidur, sehingga asupan gizi untuk si bayi dirasa kurang. Itu semua tentu diperkuat oleh pemeriksaan bulanan yang menunjukkan bahwa Veren tidak bertambah berat badannya saat trisemster pertama terlewati. Sehingga itu semua menjadi tugas terberat bagi Alex. Iya, tiap kali dia membangunkan Veren untuk makan, atau meminum vitamin hamil, Veren akan marah-marah hingga menangis karena merasa kesal saat tidurnya terganggu.
" Sayang, bangun ya? Ini sudah hampir datang makan siang, tapi kau bahkan belum sarapan. Nanti setelah makan, baru tidur lagi ya? "
Sebenarnya Alex agak takut untuk membangunkan Veren, tapi dia juga terpaksa karena tidak mungkin membiarkan istrinya tidak makan dan meminum vitaminnya.
" Alex, lagi-lagi kenapa membangunkan ku? "
Alex mencoba sebaik mungkin untuk membuat emosi Veren tidak naik seperti biasanya meski dia bisa melihat dengan jelas bibir Veren yang merengut kesal.
Alex mengusap rambutnya pelan, tersenyum senatural mungkin, lalu mengecup keningnya dengan lembut.
" Istriku sayang, makan dulu ya? Ibu tadi menghubungi ku dan memberi tahu bahwa kau belum sarapan. Sayang, kau tidak boleh seperti ini terus menerus ya? Kasihan bayi kita yang membutuhkan asupan gizi yang cukup agar tidak terganggu perkembangannya. "
Sejenak Veren mulai berpikir, iya! Selama ini dia begitu egois karena tidak mendengarkan anjuran Dokter dan sibuk tidur karena tubuhnya seolah selalu mengajaknya untuk terus tidur. Benar, seharusnya dia menyisihkan waktunya sebentar untuk makan makanan bergizi, dan meminum vitamin agar bayinya sehat dan tidak mengalami apa yang dialami Deniza.
" Ayo makan, sayang! " Alex mulai menyodorkan sendok yang sudah di isi dengan nasi dan salmon kukus kesukaan Veren. Tak mau terus egois, Veren akhirnya mulai menerima suap demi suap yang diberikan suaminya. Sungguh dia sangat terharu dengan perlakuan Alex selama dia hamil. Meskipun Veren sadar benar bahwa dia kekanak-kanakan, nyatanya kesabaran Alex mampu membuatnya semakin kagum dengan sosok pria yang beberapa saat lalu sempat dia benci.
" Terimakasih ya, suami. Maaf karena keegoisan ku kau harus pulang setiap kali jam makan siang. "
Alex tersenyum seraya mengusap sisi bibir Veren karena noda makanan yang tertinggal disana.
" Aku tentu saja tidak merasa keberatan, dan kau juga tidak boleh minta maaf. Kau sedang berjuang menjaga kehidupan anak kita, maka aku juga harus membantumu. Istriku, aku tentu akan selalu berusaha melakukan yang terbaik untukmu, dan anak-anak kita. Jadi percayalah padaku, dan mari bantu aku, kita berusaha yang terbaik untuk anak-anak kita agar mereka hidup bahagia, dan kita juga bisa menjadi orang tua yang utuh dan akan selalu memberikan contoh yang baik untuk mereka kelak. "
__ADS_1
Veren menyeka air mata harunya. Sungguh dia tidak menyangka kalau akan mendapatkan suami yang begitu memperlakukannya dengan sangat baik seperti ini.
***
Di belahan dunia lain, Erick dan Sofiana kini tengah menikmati pemandangan malam dari kota Paris. Rasanya sudah berlalu beberapa bulan, tali masih saja seperti baru kemarin mereka menikah.
" Erick, kau mau mencoba ini? " Tanya Sofiana sembari menyodorkan anggurnya kepada Erick.
" Tidak! Anggur seperti itu hanyalah minuman yang biasa di minum oleh anak-anak. "
Sofiana merengut sebal, masih saja bersikap dingin, tapi kalau sudah diranjang bisa lupa dengan sifatnya saat berada di tempat umum bersamanya.
" Erick, ini sudah satu pekan kita berada di Paris, kemana lagi kita setelah ini? "
Erick menyesap batang rokoknya, seraya menatap keluar dengan tatapan datar. Beberapa bulan lalu saat dia mendengar kabar bahwa Veren hamil, rasanya dia sudah benar-benar tidak memiliki harapan lagi meski Sofiana selalu menunjukkan betapa dia ingin terus bersamanya. Sejenak hatinya cukup sakit, tapi dia juga tidak bisa merasa keberatan dengan semua ini. Veronika, wanita cantik yang lima tahun mengisi hidupnya kini semakin jauh dari jarak jangkau nya. Sejenak dia berpikir dan mengingat rencananya bersama Veren untuk berkeliling dunia. Tapi mau apa kalau takdir mengubah pasangannya?
" Tentu saja, memang apa lagi kalau tidak memikirkan seseorang. " Jawab Erick sejenak menatap Sofiana.
" Apa aku belum cukup membuatmu terus memikirkan ku? " Sofiana bangkit dari posisinya, dia melangkah mendekati Erick, lalu duduk dipangkuannya. Tatapannya berada di satu garis lurus dengan mata tajam Erick.
" Mulai sekarang, kau tidak boleh memikirkan orang lain selain aku. " Sofiana tersenyum seraya mengusap wajah Erick.
" Kau hebat sekali bisa memerintah ku. " Ujar Erick dengan wajah datarnya.
" Apa aku tidak boleh mengatur mu? "
__ADS_1
" Kau ingin jawaban? "
" Tidak usah kalau kalau tidak iya, biar aku melakukan segala cara sampai kau hanya memikirkan ku. " Sofiana mendekatkan bibirnya, menyesap ganas bibir Erick yang berisi dan hangat itu.
" Kau tahu kita dimana? " Tanya Erick sebagai peringatan bahwa mereka kini tengah berada di balkon hotel yang menghadap ke jalan raya.
" Kenapa? Tidak boleh? Kita adalah suami istri, jadi tidak perlu memikirkan mereka. "
Sofiana kembali menautkan bibirnya, dengan lihai dia memainkan lidahnya mengabsen rongga mulut Erick yang selama ini mengajarinya banyak hal tentang kegiatan panas semacam ini.
Suara decapan terdengar nyaring, Sofiana yang kini sudah mulai ahli dalam hal ini juga sudah mulai membuka satu persatu kancing kemeja yang digunakan Erick.
" Hentikan! Kita lanjutkan di dalam saja. " Cegah Erick saat tangan Sofiana sudah mulai mengusap bagian bawahnya.
" Tidak mau! Kita coba disini saja. " Sofiana kembali melanjutkan aksinya.
'' Kau gila ya? "
" Iya! Kenapa? "
" Kalau ada yang melihat tubuhmu bagiamana? Apa kau pikir tubuhmu itu tontonan?! " Kesal Erick, sementara Sofiana tersenyum bahagia. Ternyata Erick begitu tidak mau kalau tubuhnya dilihat oleh orang lain? Apakah itu bisa di artikan sebagai cemburu?
" Kalau begitu, angkat aku dan kita lanjutkan di dalam. " Pinta Sofiana.
" Kau? " Tadinya Erick ingin lebih banyak bicara untuk memperingati Sofiana, tapi belum sempat melanjutkan kata-katanya, Sofiana sudah memainkan lidahnya di leher Erick, sementara tangannya mulai lagi mengusap bagian bawahnya. Tak mau rugi kalau sampai tubuh Sofiana dilihat orang, Erick bergegas membawa tubuh Sofiana menuju tempat tidur dan melanjutkan kegiatan panas mereka.
__ADS_1
TBC