Terpaksa Menikahi Wanita Malam

Terpaksa Menikahi Wanita Malam
Berkunjung


__ADS_3

Setelah memastikan keadaan Ibu Mila baik-baik saja, Alex memutuskan untuk membawa Denzo, dan juga Veren untuk pulang kerumah Ibu Mila. Meskipun dia tahu akan ditolak, tapi dia juga tidak boleh menyerah begitu saja. Bagi Alex sangat penting mendekatkan istri serta Ibunya agar tidak akan pernah terjadi hal yang dia takutkan.


Tekanan darah normal, gula darah juga sudah mulai menurun, makan juga sudah mulai banyak, iya begitulah Alex memastikan keadaan Ibunya sebelum benar-benar menatap membawa Denzo dan Veren untuk berkunjung, bahkan bila perlu mengajak anak dan istrinya untuk menginap disana.


" Se selamat pagi, nenek? " Sapa Denzo yang ragu juga takut. Takut, karena ingat dengan benar bagaimana jahatnya mulut Ibu Mila saat berbicara dengan Ibunya. Gugup, karena dia sulit berbohong jika ia harus berpura-pura ramah sesuai dengan permintaan Ayahnya.


Bukan tidak ingin menjawab, hanya saja dia belum terbiasa karena disapa oleh cucu yang selama ini dia acuhkan. Sebenarnya dia ingin sekali memeluk Denzo, tapi mengingat siapa Ibu dari bocah itu, rasanya semua itu hanya bisa dia tahan saja.


" Ibu mertua, bagaimana kabar anda? " Sapa lagi Veren saat sapaan sang anak tak mendapat respon.


" Ibu, bagaimana keadaan Ibu pagi ini? " Tanya Alex berbosa-basi saja karena dia kan juga sudah memastikan keadaannya dulu sebelum datang tadi.


" Berhentilah berpura-pura perduli, aku sudah tidak membutuhkan apapun lagi selain sendirian untuk istirahat. "


" Baiklah kalau begitu, kamu akan menunggu selesai Ibu mertua istirahat. Nanti aku akan datang lagi, dan menjaga Ibu mertua. " Ucap Veren lalu tersenyum setelahnya.


Entah bagaimana Veren berekspresi, tapi dari nada bicaranya, dia tidak sedang merencanakan hal aneh.


" Pergilah sana! lebih cepat lebih baik. " Ujar Ibu Mila.


" Ibumu pasti sehat sekali ya Suami? " Ucap Veren setelah meninggalkan kamar sang Ibu mertua.


" Dari mana kau tahu? "


" Kalau dia bisa berwajah kesal, pasti dia baik-baik saja. "


Alex tersenyum seraya meraih tangan Veren dan Denzo berniat membawa mereka ke kamar lamanya dengan Veren.


" Kita tunggu Ibu disini saja ya? "


" Iya, kau tidurlah! Aku tahu kau kurang tidur beberapa hari ini, aku janji akan menjaga Ibumu dengan baik. Dan kau Denzo ku tersayang, setelah nenekmu bangun nanti, kita temui bersama-sama ya? "


" Baik, Ibu. "


" Terimakasih, kesayangannya Ayah. "

__ADS_1


Seperti yang dikatakan Veren, setelah beberapa saat Ibu Mila memencet bel untuk meminta air hangat, Veren meminta pelayan rumah agar membiarkan saja dia melakukannya. Awalnya memang Ibu Mila nampak kesal, tapi dia masih bisa menahan agar tidak bicara. Tak sampai disitu, karena setelah beberapa saat mengantarkan air hangat, Veren kembali dengan sepiring potongan buah. Denzo juga tak mau kalah, dia ikut masuk ke dalam, lalu mengajak sang nenek untuk bicara.


" Nenek, apa nenek sudah bisa bicara? Apa nenek sudah bisa pergi bermain denganku? "


Ya Tuhan,.... Ibu Mila rasanya ingin sekali mengusap kepala cucunya itu, dan memeluknya. Tapi karena lagi-lagi Ibu dari anak itu membuta semuanya ia tahan di dalam angan-angannya saja.


" Nenek, sebenarnya aku datang kesini karena ingin meminta maaf. Waktu dulu aku membentak nenek, tapi aku sungguh tidak sengaja. Kalau nenek masih belum mau memberi maaf, nenek boleh menarik kupingku. "


Ibu Mila menatap sepasang bola mata Denzo yang nampak tulus dan polos. Sejenak hatinya berkecamuk dengan rasa egois yang sulit untuk ia kalahkan, tapi melihat bagaimana wajah Denzo yang begitu mirip dengan putranya, dia tahu benar jika dia tidak boleh se-egois ini terhadap cucunya sendiri. Perlahan dia mengangkat tangannya, lalu mengusap rambut tebal Denzo.


" Maafkan nenek yang terlambat menyapamu. "


Denzo tersenyum seraya mengangguk. Sebenarnya dia tidak terlalu perduli apakah Ibu Mila akan menyayanginya atau tidak karena dia memiliki nenek Nehra yang sangat baik, tapi melihat bagaimana Ibu Mila tersenyum padanya, Denzo jadi merasa kalau Ibu Mila juga nenek yang baik.


" Tidak apa-apa, nek. Sekarang kan aku ada disini, kalau nenek ingin aku menemani nenek terus, aku mau kok. "


Ibu Mila akhirnya tak mampu menahan senyumnya lagi. Iya, dia bahagia sekali dengan cara Denzo berucap. Entah siapa yang menyuruhnya berkata se-dewasa itu, tapi itu sungguh mampu menggoyahkan egonya untuk tetap menjaga jarak.


" Kalau begitu, bagaimana kalau kau tinggal bersama dengan nenek saja? "


Ibu Mila sontak terdiam. Tentu saja dia malas kalau Veren harus ikut tinggal bersama dengannya. Tidak tahulah, hatinya masih belum bisa menerima Veren meski dia mulai membuka hati untuk Denzo.


" Bagaimana kalau hanya kau saja yang tinggal bersama nenek? "


Denzo nampak lesu, tapi dia juga tahu kalau dia tidak boleh mengatakan secara langsung bahwa dia tidak setuju.


" Sebenarnya aku ingin, nek. Tapi aku tidak biasa jauh dari Ibu, jadi aku akan tinggal dimana Ibu tinggal. "


Ibu Mila menghela nafasnya.


" Nenek tahu kau akan menolak nya. "


" Maaf, nenek. Aku tidak bermaksud begitu kok. Nenek jangan marah ya? Nanti kalau nenek jadi jelek bagaimana? "


" Kau ini bisa saja ya? " Ibu Mila menggilitik tubuh Denzo karena gemas dengan mulut Denzo yang mirip sekali Ayahnya.

__ADS_1


Dari balik pintu kamar Ibu Mila, Veren kini tengah tersenyum bahagia. Rasanya menyenangkan juga kalau Denzo bisa sedekat ini dengan nenek kandungnya. Syukurlah,... selain Nyonya Nehra, sekarang ada lagi sosok nenek yang sudah lama tidak didapatkan Denzo.


***


" Kau tahu apa yang harus kau lakukan saat berada diluar kan? " Tanya Erick kepada Sofiana yang beberapa saat lalu meminta izin untuk bertemu dengan Ibunya.


" Sudah, Feng sudah memberitahu semuanya. Katty juga akan ikut bersama ku untuk berjaga-jaga. "


Erick mematikan puntung rokok yang sudah hampir habis ia hisap.


" Dengar, keselamatan mu ada ditangan mu sendiri. Nyawamu hanya ada satu, maka gunakan baik-baik, dan jangan terlalu sering bertemu dengan Ibumu di tempat umum. Yah, itu kalau kau menyayangi Ibumu. "


" Baik, aku mengerti. Apa aku sudah boleh pergi? "


" Pergi saja! "


Sofiana menatap sejenak Erick yang terlihat tak perduli. Sofiana menarik nafas panjangnya, lalu menghembuskan cepat. Dia melangkah mendekati Erick, lalu menjijitkan kedua kakinya untuk mengecup singkat bibir Erick.


Cup!


" A aku, berangka dulu. " Setelah berhasil mengecup bibir Erick, Sofiana berjalan cepat meninggalkan Erick disana.


" Apa-apaan sih? " Gerutu Erick. Rasanya memang aneh karena dia tidak keberatan meski mulutnya menggerutu. Setelah Sofiana benar-benar sudah tidak terlihat lagi, Erick meraih ponselnya untuk menghubungi Feng.


" Feng, kirim orang untuk menjaga wanita itu dari jauh. "


Eh, anda khawatir ya Tuan?


" Berhentilah omong kosong! "


Iya, iya! Anda tidak khawatir kok, itu tadi aku cuma salah bicara saja.


" Aneh sekali. " Gumam Erick setelah sambungan teleponnya terputus.


TBC

__ADS_1


__ADS_2