Terpaksa Menikahi Wanita Malam

Terpaksa Menikahi Wanita Malam
Kesepakatan


__ADS_3

Cantik? tentu saja. Veren adalah wanita yang paling populer dikalangan nya. Bukan hanya cantik, tapi Veren memang memiliki sikap dan tutur kata yang begitu anggun. Jika dia hidup fi masa kerajaan, maka Veren pasti adalah keturunan bangsawan ataupun bisa jadi dia adalah salah satu putri raja yang memiliki kesempurnaan. Tapi di mata sebagian orang, Veren tak lain hanyalah seorang wanita murahan yang dengan suka rela menjajakan dirinya demi rupiah. Dan lebih parahnya lagi, para tetangga sering kali memakinya dan menyumpahinya dengan berbagai macam kata yang menyakitkan. Mulai dari memperingati untuk jangan memberi makan Denzo uang haram, dan semakin menjadikannya haram baik darahnya ataupun hidupnya juga haram. Miris? tentu saja! kebanyakan orang hanya menilai apa yang dia lihat tanpa perduli kebenaran dan sebab utamanya. Sungguh sudah biasa bagi Veren menghadapi mulut Para penggosip seperti itu. Tapi untunglah, mulai sekarang dia tidak perlu lagi memikirkan mulut-mulut sampah yang tida berguna itu.


" Ibu, hari ini aku punya teman baru. " Denzo menceritakan banyak hal di hari keduanya bersekolah. Mulai dari menyebutkan nama teman barunya, Karisa, Maria, Clara, Iris, Sofie, Bhetti, Dania, dan beberapa nama lagi setelah itu.


" Denzo, kenapa semua nama Yaang kau sebut adalah nama gadis kecil? " Tanya Veren sembari menahan tawa. Sebenarnya Veren juga bahagia karena Denzo terlihat bahagia di sekolah barunya. Tapi sungguh, dia sama sekali tidak menyangka kalau Denzo akan digemari dan bersahabat dengan banyak gadis kecil.


" Mereka semua mengajak ku berteman, Ibu. Tapi aku punya satu teman baik yang duduk di sebelah ku. Namanya adalah Arfan. Dia adalah anak yang lucu. " Denzo masih dengan semangat menceritakan bagaimana bahagianya dia bermain dengan Arfan. Dia juga menceritakan bagaimana guru memujinya karena dia dapat menyelesaikan semua soal dengan cepat dan tepat. Sungguh, ini adalah pertama kalinya Veren melihat Denzo begitu semangat dan terlihat bahagia dengan memiliki banyak teman seperti sekarang ini.


" Ibu, tapi ada beberapa murid yang tidak menyukai ku. " Denzo memang terlihat agak kecewa, tapi setidaknya sama sekali jauh berbeda saat beberapa waktu lalu dia menceritakan tentang teman-temannya di sekolah yang lama.


Melihat putranya yang sedikit tidak baik, Veren sontak meraih tubuh putranya lalu memeluk dengan erat. Dia memberikan kecupan beberapa kali di pucuk kepalanya lalu mengusapnya pelan.


" Sayang, kau adalah anak yang hebat. Di usia mu yang baru tujuh tahun, kau sudah membantu Ibu melewati masa-masa sulit yang penuh dengan kesedihan. Kau juga menyaksikan dengan mata kepala mu sendiri bagaimana para tetangga kita menghakimi Ibu dengan kata-katanya. Kau begitu kuat, jadi hal sekecil ini pasti tidak akan membuat mu merasa rendah diri. Kau harus tunjukkan bahwa kau pantas di sukai dengan dirimu yang apa adanya. " Denzo memeluk erat tubuh Ibunya lalu megangguk.


Setelah Denzo kembali ceria, Veren memutuskan untuk meminta pendapat kepada putra semata wayangnya tentang apa yang tengah ia pikirkan saat ini.


" Denzo, kalau Ibu menikah bagaimana? "


Denzo yang sedang memainkan ponselnya tiba-tiba menghentikan kegiatan nya dengan tatapan mata kaget.


" Ibu serius? " Veren tersenyum lalu mengangguk.

__ADS_1


" Apa dengan paman Erick? "


" Bukan. " Jawab Veren setelah menghela nafasnya.


" Lalu dengan siapa Ibu akan menikah? " Tanya lagi Denzo. Tentu dia tahu benar siapa laki-laki yang selama ini dekat dengan Ibunya. Bahkan Denzo juga tahu dengan pasti kalau pria yang dekat dengan Ibunya hanyalah Erick saja.


" Dengan seseorang yang dikenalkan oleh seseorang. " Denzo nampak berpikir sejenak. Tentu dia ragu akan keputusan ini. Selain karena dia mengkhawatirkan Ibunya, dia juga takut kalau laki-laki yang akan menikah dengan Ibunya akan mendapatkan amukan dari Erick yang selama ini menjaga Veren serta menghidupi Veren dan Denzo.


" Ibu, bagaimana dengan paman Erick? "


" Ibu akan membicarakannya, Ibu yakin, dia akan mendukung apa yang akan Ibu lakukan. Selain dirimu, dia juga begitu memahami Ibu. " Sebenarnya Veren sendiri tidak merasa yakin dengan keputusan yang akan di dapatkan dari Erick. Tapi, dia juga begitu ingin menghancurkan kehidupan Alex dan Angel yang katanya begitu harmonis dan saling mencintai itu.


Setelah mendapatkan restu dari Denzo, buru-buru Veren menghubungi Bibi Nehra untuk menyampaikan kabar bahwa dia menyetujui rencana untuk menikah dengan Alex dan membuat Alex serta angel bercerai. Tidak tahu bagaimana caranya nanti, tapi ya g pasti, Veren sama sekali tidak akan pernah meragukan kekuatannya sendiri.


Dua hati setelah itu.


Veren kini tengah bersama dengan Bibi Nehra dan juga suaminya. Tentu tujuan mereka bertemu dengan Veren adalah untuk membahas tentang pernikahan Alex Dardan dan dirinya yang tidak akan mungkin bisa gagal.


" Veren, istriku banyak bercerita tentang dirimu. Aku tidak ingin mengotak atik masa lalu mu. Tujuan utama ku adalah membuat Alex putraku,dan istrinya berpisah karena suatu hal dan kau juga sudah tahu apa itu. Selama kau menikah dengan Alex, biarkan aku mengirimi uang setiap bulannya. Bukan tanpa alasan, karena bisa saja Alex tidak akan memberikannya. "


" Baik Tuan. " Sungguh sangat dingin dan tidak berbosa basi, berbanding terbalik dari Bibi Nehra yang begitu sopan dan lemah lembut. Tentu saja, hawa seperti itu membuatnya tidak bisa berkata-kata lagi dan memilih untuk menunduk sembari menjawab iya di semua perkataan orang itu.

__ADS_1


" Aku tidak akan memprotes tindakan apapun yang akan kau lakukan setelah menjadi istrinya Alex. Hanya ingat satu hal, Alex dan Angel harus berpisah entah bagaimana pun caranya. " Ucap lagi Tuan Haris tanpa ekspresi. Sebenarnya Veren tidak masalah dengan syarat yang sebenarnya begitu menguntungkan dirinya. Maka dia lagi-lagi mengangguk setuju.


" Aku memiliki satu pertanyaan yang wajib kau jawab. "


" Iya, Tuan. "


" Siapa Ayah kandung dari putra mu? "


Tidak tahu seperti apa ekspresi Tuan Haris saat bertanya tentang ini karena Veren benar-benar tidak mau menatap matanya. Pandangannya turun dan memilih untuk tidak menatap pria dingin di hadapannya, karena sudah pasti dia akan dengan mudah membedakan antara bohong atau tidak nya Veren saat menjawab. Veren menelan Saliva nya, matanya juga ia coba untuk fokus seperti pikirannya yang tengah ia fokuskan agar tidak terlihat tidak sinkron antara ekspresi dan ucapan.


" Dia, sudah mati, Tuan. " Veren mencengkram kain bajunya kuat. Entahlah, perasaan tertekan begitu ia rasakan. Mungkin itu karena Veren merasa tertekan degan sifat dinginnya Tuan Haris, atau kah ada perasaan lain yang membuatnya tidak nyaman membahas soal Denzo dengannya.


" Benarkah? " Tuan Haris terus menatap Veren yang tak berani menatapnya. Tidak tahu apa yang dia pikirkan, tapi dia tersenyum tipis tanpa sepengetahuan Veren.


" Kalau begitu, biarkan aku akan menjamin biaya pendidikan putramu hingga dia dewasa nanti. Jika putra mu membutuhkan sesuatu, kau bisa menghubungi ku. Kalau boleh tahu, siapa nama putra mu? "


" Denzo Afunzu. "


" Nama yang bagus. "


TBC

__ADS_1


__ADS_2