Terpaksa Menikahi Wanita Malam

Terpaksa Menikahi Wanita Malam
Kesempatan


__ADS_3

Masih jauh dari kata menyerah, kini Seli memberanikan diri menggunakan pakaian yang lebih ketat dari sebelumnya. Tak hanya itu, dia bahkan sengaja tak mengancingkan kemejanya hingga belahan bagian dadanya begitu jelas terlihat. Rambut yang biasanya terikat dengan rapih, kini ia biarkan terurai dengan model Curly yang indah. Riasan yang lebih jelas dari biasanya sengaja ia gunakan untuk lebih membuat garis wajahnya lebih terlihat tegas dan menggoda. Tak ada yang berubah dari cara ia bekerja, dia masih lah Seli yang ulet, teliti, dan sigap dalam menjalankan pekerjaannya.


" Tuan, ini adalah beberapa hasil desain yang sudah lulus seleksi. Seperti yang anda minta, sudah ada tiga desain terbaik untuk guci hias, dan tiga desain terbaik untuk lampu hias bergaya klasik. " Seli menyodorkan berkas itu dengan kedua tangannya terulur dan membuat bagian dadanya tertekan, lalu terlihat agak menyembul keluar. posisi sedikit membungkuk juga semakin mendukung gerakannya menjadi begitu menggoda.


" Iya, kau sudah boleh keluar. " Alex berusaha untuk tidak mengindahkan Seli yang aneh hari ini. Jujur, melihat hal seperti itu malah membuatnya ingin segera pulang, lalu merengkuh tubuh Veren yang begitu indah.


Seli terdiam dengan tatapan yang sedikit kesal. Padahal dia sudaha bertindak sejauh ini, tapi masih aja tak bisa membuat Alex melirik kepadanya. Hah! benar-benar harus bertindak gila rupanya.


" Baik, Tuan. " Setelah mengatakan itu, Seli bergegas keluar dari ruangan Alex, lalu kembali ke ruangannya sendiri. Benar, sekuat apapun dia menggoda Alex tidak mudah untuk tergoda. Jadi, yang harus dilakukan adalah melangkah lebih jauh, atau melakukan kontak fisik yang mungkin akan meninggalkan kesan, dan membuat Alex terus teringat kepadanya.


Di ruangan Alex.


Setelah melihat beberapa hasil desain yang masuk kedalam jajaran tiga terbaik dari dua model furniture yang akan dia produksi bulan depan, Alex memutuskan untuk menghubungi Veren dan menanyakan kegiatannya bersama Denzo di apartemen. Seperti biasanya, dia akan mengobrol sebentar dengan istri dan anaknya, lalu kembali fokus dengan pekerjaannya. Begitulah Alex setiap dia berada d kantor, sebisa mungkin dia akan meluangkan waktunya untuk menyapa anak dan istrinya yang dia tinggalkan di apartemen. Bukanya tidak mengizinkan mereka pergi keluar, hanya saja Veren sendirilah yang tidak ingin pergi jika tidak ada kegiatan yang ingin dia lakukan. Bahkan, dia juga meminta pekerja salon untuk datang kerumahnya, barulah kalau Denzo meminta untuk jalan-jalan, Alex akan datang untuk membawanya pergi kemana yamg Denzo inginkan.


" Tuan, sore ini anda memiliki janji dengan Tuan Zain. " Ucap Seli setelah mengetuk pintu sebelum dia masuk kedalam ruangan Alex.


" Baik, kau tidak perlu ikut karena aku akan membawa Hendi dan Dedi bersama ku. "


" Apa anda yakin? "


" Iya, Hendi juga tidak boleh ketinggalan terlalu jauh darimu. " Alex tak menatap Seli sama sekali, dia bahkan bangkit dari tempat duduk, lalu berjalan seolah tak menganggap Seli ada.


Seli mendesah sebal karena Alex keluar begitu saja, padahal dia masih ada di dalam ruangannya. Tapi sungguh dia menganggap itu adalah sebuah peluang yang amat besar karena dia tidak sengaja melihat ponsel Alex tergeletak di meja. Iya, sepertinya dia lupa setelah menghubungi istrinya tadi.


Seli tersenyum jahat, dia meraih ponsel itu dan membukanya. Hah! benar-benar beruntung karena ponsel Alex sama sekali tidak di kunci. Seli membuka salah satu aplikasi yang sering digunakan Alex, lalu mengirim pesan kepada Veren.


Jangan biarkan siapapun menggangguku! aku ada hal yang penting, terlebih keluargaku, pastikan mereka tidak ada yang boleh masuk sebelum aku memberikan instruksi.


Setelah itu, barulah dia menghapus pesan yang dia kirimkan melalui ponsel Alex.

__ADS_1


***


Veren yang baru saja selesai mengajari Denzo untuk mengerjakan PR nya, kini meraih ponsel dan mendapati pesan yang dikirimkan oleh Alex. Veren mengeryit bingung dengan isi pesan itu, sungguh sangat jelas sekali kalau isi pesan itu bermakna Alex sedang melakukan perbuatan mesum di ruang kerjanya.


" Ini Alex bodoh atau apa? bagaimana bisa orang yang akan berselingkuh salah mengirim pesan kepada orang yang paling tidak boleh tahu. " Veren terdiam sejenak memikirkan isi pesan itu, lalu memutuskan untuk menghubungi Alex.


Halo?


Mendengar suara perempuan, Veren kini menjadi sebal dibuatnya.


" Dimana Alex? "


Dia sedang mandi, ini siapa?


'' Kau bisa melihat nama yang tersimpan di ponselnya kan? "


Oh, maaf. Disini tidak ada namanya, apa ada perlu?


" Kalau begitu, panggil saja Alex Dan katakan Veren menghubunginya! "


Maaf, Veren. Alex benar-benar tidak ingin diganggu kalau belum beres semua kegiatannya. Kalau mau ada perlu, hubungi saka satu jam lagi ya?


Veren menjauhkan ponselnya begitu aja dengan wajah kesalnya. Rasanya dia tidak ingin percaya, tapi apa yang terjadi belakangan ini seolah menjurus bahwa Alex sedang berselingkuh.


" Hah! ya ampun! bisa gila aku memikirkan ini, lebih baik aku tanya saja dia. " Meskipun gelisah dan gregetan ingin menghampiri Alex saat ini juga, tapi itu juga tidak akan baik bagi Alex sebagai seorang pimpinan. Veren menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskan perlahan untuk membuat suasana hatinya membaik. Lagi pula, dia juga tidak ingin Denzo terpengaruh kalau suasana hatinya buruk.


Beberapa jam kemudian, Alex kembali ke ruangannya setelah pertemuannya dengan Tuan Zein. Begitu sampai di meja kerjanya, dia langsung melihat beberapa notifikasi, berharap salah satunya adalah dari istrinya. Hah! tapi nyatanya tidak ada sama sekali.


" Selamat sore, menjelang malam, Tuan? " Sapa Seli dengan senyum manis yang begitu merekah di wajahnya.

__ADS_1


" Sore, ada apa? "


" Saya mau memastikan, apa ada janji lagi setelah ini? takutnya saya melewatkan sesuatu. "


" Tidak ada, aku hanya perlu memeriksa lagi berkas dari Tuan Zein, baru setelah itu aku akan pulang. "


" Baik, kalau begitu biarkan saya membuatkan anda teh. " Alex tak lagi menjawab ucapan Seli saat ini. Dia masih saja fokus melihat beberapa pesan penting yang terlewat karena ponselnya ketinggalan tadi.


Beberapa saat kemudian, Seli kembali dengan secangkir teh hangat. Dia berjalan mendekati Alex yang kini mulai fokus mengerjakan pekerjannya. Dia sengaja berdiri di samping kursi yang Alex duduki sembari meletakkan cangkir teh di meja Alex.


" Ah! "


Bruk!


Seli berpura-pura keseleo, lalu jatuh di di pangkuan Alex. Sungguh Alex tidak ingin menahan tubuhnya, tali tubuh Seli tertahan karena kedua pahanya. Mata Alex menatap kaget dengan dahi mengeryit, sementara Seli menatapnya lekat selah penuh kekaguman. Tak mau membuang kesempatan, Seli menyambar bibir Alex, dan dengan ganasnya dia mengigit bibirnya.


Bruk!


Alex memundurkan kursinya, dan membuat Seli jauh ke lantai.


" Apa yang kau lakukan?! " Alex melotot marah sembari mengusap bibir dengan punggung tangannya.


" Ma maaf, Tuan. Maafkan saya, saya terbawa suasana. " Pinta Seli dengan tubuh yang gemetar ketakutan.


" keluar! "


" Tuan, saya- "


" Keluar! " Bentak Alex yang benar-benar marah.

__ADS_1


TBC


__ADS_2