
" Bibi, kak Alex benar-benar tidak memberikan kesempatan sedikitpun. Aku tidak mau lagi terus berada di dekat mereka. Aku memang menyukai kak Alex, tapi aku juga tidak tahan kalau harus menanggung semua hinaan ini. Setiap kali mereka bermesraan, aku selalu merasa mereka tengah menyindirku. "
Ibu Mila menghela nafasnya, pandangannya tak teralihkan dari setangkai bunga mawar yang terletak di sebuah vas bunga miliknya. Meski tak menatap Shena dengan teliti, Ibu Mila tahu benar betapa tidak menyenangkan melihat laki-laki yang dicintainya bermesraan dengan wanita lain sama seperti yang ia rasakan dulu.
" Lalu kau ingin menyerah hanya karena hal remeh semacam itu? "
" Bibi, bagi seorang wanita, hal yang paling menyakitkan adalah melihat laki-laki yang ia cintai bersama dengan orang lain. Kalau aku terus berada di dekat mereka, bukankah sama artinya aku sendirilah yang minta untuk disakiti? "
Ibu Mila memutar tubuhnya dengan mimik yang begitu angkuh. Tatapan yang seolah menandakan tidak ada toleransi, benar-benar persis seperti yang Ibu dari Shena gambarkan tentang Ibu Mila.
" Aku memintamu datang kesini bukan untuk menyerah. Tapi jika kau begitu pengecut, kau bisa lari dan menanggung kebodohanmu karena menyia-nyiakan kesempatan yang kuberikan. "
Shena terdiam sesaat, memang Ibunya mengatakan jika ia tidak boleh membantah Ibu Mila. Tapi meskipun dia sangat menginginkan Alex, dengan keadaan Alex saat ini juga tidak mungkin baginya untuk bisa mendapatkan hati Alex.
" Bibi, kenapa Bibi begitu tidak menyukai Veren? "
Ibu Mila mendudukkan dirinya di sebuah sofa yang tak jauh dari mereka.
" Dia adalah wanita yang tidak cocok untuk menjadi menantuku. "
" Apakah maksud Bibi aku adalah orang yang cocok? "
" Tentu saja. Jadi, jangan jadi pengecut dan kejarlah Alex sampai kau dapat. "
Bagaimana aku bisa percaya? Bibi, aku tidaklah sebodoh yang Bibi pikirkan. Aku memang mencintai Alex, tapi aku tidak akan masuk terlalu jauh dan membuat diriku sendiri dalam bahaya.
Setelah perbincangan dengan Ibu Mila, Shena kini melakukan upaya terakhir untuk menenangkan hati Ibu Mila, tapi juga dia akan sekalian untuk memastikan bagaimana perasaan Alex yang sebenarnya. Shena meraih kunci mobil, lalu bergegas menuju perusahaan milik Alex. Sesampainya disana, dia meminjam nama Ibu Mila untuk lebih lancar menemui Alex, dan benar saja itu semua berhasil.
" Kak? " Panggil Shena saat pintu ruang kerja Alex mulai terbuka.
Alex yang tadinya tengah fokus menatap layar laptop nya, kini terpaksa menatap Shena dengan dahi mengeryit seolah mengisyaratkan bahwa dia keberatan dengan kehadiran Shena yang dia anggap mengganggu. Terlebih, ini juga masih terlalu pagi untuk menerima tamu.
__ADS_1
" Shena, ada apa lagi? Kenapa pagi-pagi sudah datang kesini? "
Shena tersenyum lalu berjalan mendekati meja Alex, lalu duduk berseberangan dengannya.
" Apa aku mengganggu? "
Alex mendesah sebal. Jujur, dia ingin sekali mengatakan iya dengan cepat.
" Menurutmu? "
" Maaf... " Shena tersenyum.
" Pulanglah, dan jangan mengganggu saat aku sedang bekerja. "
" Jadi kalau kakak sudah tidak bekerja aku boleh mengganggu? "
Alex mengeryit menatap Shena.
Shena sudah mulai nampak berbeda raut wajahnya. Benar, kesal juga kalau mengingat Alex sudah memiliki seorang istri, padahal dia ingin menjadi wanita yang menjadi istrinya itu.
" Kak, apakah kau benar-benar mencintai Veren? "
" Pertanyaan bodoh apa lagi ini? "
" Aku hanya bertanya, kak. Kalau aku lihat-lihat, selain memilih tubuh bagus dan wajah cantik, Veren tidak memiliki kelebihan apapun lagi. Jadi, bagian mana yang tidak bisa aku kalahkan? Aku bisa memasak, mengurus rumah, aku juga yakin bisa mengurus suami, dan yang paling penting, namaku juga tidak pernah tercoreng dengan kegiatan malam. "
Alex mengeraskan rahangnya. Sial! kalau saja Shena bukan perempuan, dia pasti sudah melayangkan kepalan ke wajahnya. Memang sulit menghadapi perempuan kalau berargumen, tapi ini adalah istrinya yang dihina, tentu saja dia tidak akan diam saja.
" Jika dibandingkan dengan dirimu? Tentu saja tidak bisa, karena Veren bertugas menjadi istri yang baik sesuai seleraku. Kalau masalah mengurus rumah, dan memasak, aku juga tidak akan membiarkan istriku melakukan itu. Karena aku tidak mau saat aku pulang istriku bau dapur dan jelek. Dengan dia memiliki tubuh yang indah, serta wajah cantik itu sangat cukup bagiku. "
Shena mengepal kedua tangannya yang terletak dipangkuannya.
__ADS_1
" Kak, sepertinya kakak terlalu memanjakan dia. Sebagai seorang suami, kakak juga harus mengajari banyak hal tentang kewajiban seorang istri. "
" Aku memilih Veren menjadi istriku karena aku ingin menjadikan dia ratu di hidupku, bukan menjadikan dia babu rumah. Mengenai kewajiban, aku mempercayai prinsip ku sendiri. Asalkan kami sama-sama bahagia, asalkan kami selalu bersama dalam keadaan apapun, maka Veren sudah memenuhi semuanya.
Shena tak lagi bisa berkata-kata. Sejujurnya amat sakit mendengar semua yang dikatakan Alex, tapi semua ucapan Alex benar-benar membuatnya sadar jika dia memang tidak akan bisa menggantikan posisi Veren. Iri, tapi juga tidak ada gunanya. Padahal Ibunya selalu memberikan banyak petuah agar dia menjadi istri yang disayang suami suatu hari nanti. Maka Shena mulai belajar memasak, mengurus rumah, bahkan juga menyulam. Sedangkan Veren? Wanita itu tidak bisa melakukan apapun, yang ada hanya sibuk dengan cat kuku, perawatan wajah dan juga rambut, tak ketinggalan juga sangat suka berbelanja.
" Baiklah kak, aku harus segera kembali. "
Alex tak menjawab, tapi dia yakin benar ucapannya tadi sudah cukup membuat ego seorang Shena terluka, jadi sudah tidak perlu repot lagi memintanya untuk pergi dengan mulutnya sendiri.
Shena kembali ke rumah Ibu Mila dan langsung menghampirinya. Sudah cukup, dan dia tidak mau lagi membuang waktu mengikuti rencana aneh dan mengherankan ini. Entah mau ditendang atau apa dia juga tidak perduli.
" Kenapa sudah kembali? Apa kau gagal lagi? " Tanya Ibu Mila yang kini tengah duduk di ruang tengah dan ditemani secangkir teh hijau.
Tak menjawab, Shena meletakkan kunci mobil di samping cangkir teh miliki Ibu Mila.
" Bibi, aku bisa saja melakukan hal lebih, tapi sepertinya aku tidak tertarik lagi untuk memainkan permainan konyol ini. "
" Apa kau benar-benar menyerah? "
" Iya. "
" Kau harus tahu benar jika aku tidak akan memberikan kesempatan lagi kan? "
Shena memaksakan senyumnya.
" Bibi, putramu sangat mencintai istrinya. Bahkan aku khawatir istri dari putramu tidak memiliki rasa cinta sebesar putramu, meskipun Bibi terus mendatangkan wanita lain sebagai alat pemisah mereka, yang akan semakin jauh adalah jarak Bibi dengan putra Bibi sendiri. "
" Lancang! "
" Bibi, Alex bukan pria bodoh, tentu saja dia tahu aku datang karena Bibi. Jadi dia hanya mengikuti saja permainan Bibi. Tapi lihatlah kenyataannya Bibi, Alex semakin jauh dari Bibi kan? dalam bulan ini, aku yakin Alex tidak pernah menghubungi Bibi kan? "
__ADS_1
TBC