
Mendengar suara Denzo yang memanggil namanya, tentu saja Veren tersentak. Sejenak dia terdiam karena bingung harus melakukan apa. Bukanya malu mengakui Denzo sebagai anaknya, hanya saja dia masih agak ragu kalau sampai nanti Alex bertanya dan dia harus menjawabnya.
Untunglah, Sofiana berlari ke arah Denzo, lalu menggandeng tangannya. Memang Denzo nampak bingung, tapi saat Sofiana mengangguk penuh arti, Denzo akhirnya memilih diam dan berjalan bersama Nyonya Nehra yang baru saja sampai kepadanya. Seperti Sofiana, Nyonya Nehra menggenggam satu tangan Denzo. Mungkin inilah waktunya semua harus terungkap, tapi dia juga berharap semua akan berakhir baik demi Denzo.
" Lihatlah, mereka benar-benar sangat kompak. " Sindir Ibu Mila. Tak perlu dipertanyakan lagi bagaimana ekspresinya, karena sudah pasti kedua bola matanya itu mengandung kebencian.
Tak ada yang menjawab, baik itu Alex, Veren atau bahkan Tuan Haris sekalipun. Kenapa? karena jika saja dia menjawab, yang ada Ibu Mila akan mengoceh panjang lebar dan tidak enak di dengar pastinya.
" Denzo, bagaimana kalau kau bermain dengan kakak saja di taman belakang? " Nyonya Nehra memberikan usulan ini agar tidak membuat Denzo mendengar kata-kata kotor dari mulut Ibu Mila. Sebenarnya Denzo masih ingin menemui Veren, tapi saat melihat Veren tersenyum tipis seolah mengiyakan apa yang dikatakan Nyonya Nehra, maka dia hanya bisa mengangguk dan mengikuti saja kemana Sofiana membawa nya pergi.
" Tidak disangka, kalian diam-diam memiliki anak laki-laki. Aku penasaran, apakah tujuannya adalah untuk mengalihkan harta padanya lebih banyak tanpa sepengetahuan anak-anak ku? " Ibu Mila bertanya dengan nada tak sukanya pasti. Sesekali dia melirik Nyonya Nehra dan Tuan Haris bergantian seolah menegaskan bahwa kata-kata itu hanya tertuju untuk mereka berdua.
" Ibu, tolong jangan selalu memprovokasi. Tujuan ku ikut datang hanyalah untuk memastikan Ibu tidak berbuat di luar batas. Jadi kendalikan diri Ibu. " Alex berucap pelan, memang dia tidak menyukai Nyonya Nehra karena menganggap wanita itu sebagai penghancur rumah tangga orang tuanya, tapi dia juga tidak suka kalau sampai ada percekcokan diantara mereka.
Tak mau banyak mendengar kata-kata Ibu Mila yang pasti ujungnya akan menghina dirinya, Nyonya Nehra memilih untuk menuju ke dapur dan membuatkan minuman untuk mereka. Bukanya tidak memegang kuasa untuk memerintah pelayan di rumahnya, hanya saja dia lebih menyukai pekerjaan rumah tangga dari pada mendengarkan ocehan Ibu Mila.
Sepuluh menit kemudian, Nyonya Nehra kembali dengan nampan minuman ditangannya. Hati-hati dia meletakkan satu persatu cangkir itu di hadapan para tamunya.
" Ibu, kenapa tidak memintaku saja yang membuatnya? " Veren bangkit lalu mencoba meraih nampan yang ada di tangan Nyonya Nehra.
" Tidak, Veren. Sungguh tidak apa-apa, hal semacam ini aku sangat menyukainya. " Nyonya Nehra tersenyum lalu menguap pipi Veren pelan.
" Pekerjaan layaknya babu memang sangat cocok untuk orang seperti kalian. Kenapa kalian tidak ke dapur saja sekarang, dan mengelap meja dapur. Siapa tahu, kotoran di tubuh kalian juga akan menghilang. "
__ADS_1
Veren dan Nyonya Nehra kompak menatap Ibu Mila. Berbeda dengan Veren yang menatap tajam Ibu Mila, Nyonya Nehra hanya bisa terdiam dan mengatakan di dalam hati, tidak apa-apa, sungguh ini sangat biasa baginya.
Alex mengusap wajahnya kasar. Sungguh dia tidak habis pikir dengan Ibunya yang semakin berubah menakutkan. Dulu, kata-kata yang keluar dari mulut Ibunya adalah hal yang selalu baik dan lembut. Tapi sekarang yang dia dengar hanyalah kata-kata kasar dan makian saja.
" Hentikan ocehan mu yang menjijikkan itu! kau datang untuk memohon bukan? tolong tempatkan posisi dan perilaku mu selayaknya orang yang memohon. " Tuan Haris berbicara dengan mimik yang datar, sama seperti biasanya.
" Memohon? tidak! aku datang ke sini buka untuk memohon, tapi menuntut keadilan untuk putra-putraku yang berarti juga anak kita. "
Tuan Haris menghela nafasnya. Sungguh dilema, dia sebenarnya menunggu Veren memulai dulu, tapi sepertinya dia hanya bisa mengulur waktu untuk beberapa menit lagi.
" Sebenarnya, kenapa kau selalu membenarkan opini mu sendiri? mau aku memberi warisan untuk Denzo atau tidak, bukankah itu bukan urusan mu? oh! seharusnya kau juga berterimakasih kalau aku memberikan bagian untuk Denzo. "
Alex mengeryit, sepertinya dia pernah mendengar nama itu. Ditambah lagi, dia seperti pernah melihat anak tadi, tapi dimana? sekarang apa maksud dari ucapan Ayahnya yang mengatakan bahwa, seharunya Ibunya bersyukur kalau memberikan anak laki-laki itu bagiannya.
" Nyonya! " Nyonya Nehra yang biasanya hanya diam saja kini tidak tahan dengan ucapan Ibu Mila yang sangat jelas begitu rakus akan harta.
" Ucapan Nyonya barusan benar-benar keterlaluan. "
Ibu Mila tersenyum mengejek.
" Siapa kau? kau mulai tergoda oleh uang? anak-anak yang kau lahir kan tidak sepadan dengan anak-anakku. Dari awal akulah yang mendampingi dia, berjuang bersama hingga jaya. Kau, hanyalah wanita rendahan yang menyusup dan memaksakan untuk menggeser posisiku. "
" Hentikan! masuklah, Nehra. " Ucap Tuan Haris.
__ADS_1
Nyonya Nehra tersenyum dengan mimik yang kecewa.
" Kenapa? karena aku tidak pantas disini? "
Nyonya Nehra menatap Tuan Haris, kemudian beralih menatap Ibu Mila.
" Anda begitu mencintai uang kan? baik, aku berjanji kepada anda, putriku Sofiana tidak akan menerima se-sen pun yang dari Ayahnya. Dia adalah putriku, Bagaiamana masa depannya, biar aku yang akan menjaminnya. Jika nanti biaya hidup putriku di anggap bagian dari putra kalian berdua, tidak apa-apa. Suatu hari aku akan mengembalikannya. "
" Nehra, bukan itu maksudnya! "
" Sudahlah, maafkan aku yang terlalu frontal dalam menyampaikan apa yang aku rasakan. Sesuai dengan perintah mu, aku akan masuk ke kamar dan tidak keluar sebelum ada perintah darimu lagi. "
Tuan Haris menatap punggung Nyonya Nehra yang semakin menjauh dari ruang tamu hingga menghilang saat dia menuju ke kamarnya. Rasanya dia ingin sekali mencegahnya, tapi bagaimana bisa dia mengatakan itu setelah dia sendirilah yang memintanya untuk pergi.
Veren juga melakukan hal yang sama. Sepertinya Nyonya Nehra sudah mulai tidak tahan lagi untuk menahan kekangan yang selama ini menjeratnya. Iya, dia banyak mengetahui cerita hidup Nyonya Nehra dari cerita Nyonya Nehra sendiri. Meskipun dia memilih untuk diam menahan segala hinaan yang ditujukan padanya, bahkan suaminya sendiri tidak pernah mau mengerti bagaimana rasanya menjadi Nyonya Nehra sendiri.
Susana hening sejenak, sebelum Ibu Mila kembali berbicara.
" Bagus juga, wanita itu cukup tahu diri juga rupanya. "
" Kakak, bicaranya Nenek itu sangat jahat sekali. " Semua kompak menoleh ke arah Denzo yang kini menatap Ibu Mila. Di sana juga ada Sofiana yang terdiam dengan air mata yang memenuhi pelupuk matanya.
TBC
__ADS_1