
Setelah acara pernikahan selesai. Veren dan Alex kini harus tinggal disebuah kamar hotel yang sudah disediakan.
" Ah! " Veren menghempaskan tubuhnya ditempat tidur karena merasa lelah dengan segala sandiwara pernikahan mewah yang menyenangkan ini. Sementara Alex, pria tampan berwajah blasteran itu terus saja menghela nafas lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Dia terlihat tak berniat mendekati veren meski Veren sudah menggunakan gaun yang terbilang menggoda.
Veren memiringkan tubuhnya membelakangi Alex yang masih betah berada di sofa yang ada di samping jendela kaca. Tentu saja pria tampan itu memikirkan istri kesayangannya, tidak tahu lah, tapi membayangkan betapa sedih nya Alex dan Angel saat ini, rasanya Veren benar-benar bahagia. Apalagi membayangkan Angel yang pastinya akan menangis sedih, ya ampun! kok bahagia sekali ya? Veren tersenyum lalu mulai meraih selimut untuk menyelimuti tubuhnya.
Disisi lain, Alex masih saja tidak bisa menerima ini semua. Sungguh dia merasa begitu bingung dan tidak mengerti bagaimana jalan pikiran Ayah kandungnya sendiri. Tiga tahun sudah di dan Angel menikah, tapi masih saja dia memusuhi Angel dan keluarganya hanya karena dendam masa lalu yang seharusnya sudah harus dilupakan. Alex menghela nafas saat mengingat bagaimana wajah sedih Angel hari ini, rasanya Alex benar-benar tidak berdaya. Sakit? iya dia tentu saja merasa sakit saat sumpah pernikahan dilaksankan, padahal dia sudah berjanji untuk segera mendaftarkan pernikahan mereka ke sipil, tapi musibah ini benar-benar diluar ekspetasinya.
" Bagaimana harus menghadapi semua ini mulai sekarang? " Gumam Alex lalu kembali mengusap wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya. Diliriknya lagi Veren yang mulai tertidur lelap, tidak tahu juga apa alasannya, Tapi Alex sama sekali tidak membenci wanita itu meski dia ingin sekali membencinya. Bahkan dia sama sekali tidak bisa walau hanya sekedar menatap tajam.
Sebenarnya ada apa denganku? kenapa aku begitu tidak berdaya seperti ini? bahkan aku juga sampai mengabaikan Angel hari ini. Sial! dia pasti sangat sedih sekarang.
Malam semakin larut, tapi kedua mata Alex masih saja terbuka lebar dengan segala pemikiran yang tidak bisa hilang dari pikirannya. Mulai dari melihat Angel yang menitihkan air mata, melihat Angel yang terlihat begitu terpukul, bahkan dia juga harus melihat Ibu yang memegangi dadanya karena merasa tidak rela dengan semua ini. Alex yang kini sudah berada si posisi berbaring di sofa matanya lekat menatap langit-langit dan beberapa kali sudah ia menghela nafas.
Sebenarnya, kenapa Ayahku memilih wanita itu? apa yang membuatnya yakin untuk menikahkan ku dengannya? sayang sekali aku tidak bisa menyelidiki latar belakang wanita itu, bahkan aku tidak bisa menemukan apapun tentang dia. Pasti Ayah yang melakukanya kan? aku jadi penasaran, hal besar apa yang disembunyikan dariku?
__ADS_1
Alex menggerakkan kepalanya menatap Veren yang kini sudah berubah posisi jadi menghadap ke arahnya. Memang cantik, tapi sepertinya Veren sangat penting bagi Ayahnya, sehingga masa lalunya saja tidak ada yang bisa ia dapatkan walau hanya sedikit saja. Lama Alex menatap Veren hingga tanpa dia sadari, dia mulai memposisikan tubuhnya menghadap ke Veren dan matanya juga mulai terpejam karena kantuknya tiba-tiba saja datang dan tak tertahankan.
***
Pukul dua dini hari. Angel masih saja duduk di tempat tidur sembari menangis. Pada awalnya dia begitu percaya dengan hati dan keteguhan suaminya, tapi saat bertemu Veren dan mendengar ucapan Veren, tiba-tiba ketakutan itu mulai muncul. Gambaran serta dugaan yang dilakukan oleh suaminya dan Veren terus saja membuatnya takut. Apalagi saat melihat Veren dan Suaminya berciuman saat sumpah pernikahan selsai di ambil, sungguh sangat sakit hingga dia tidak bisa menahan air matanya lagi.
" Kenapa rumah tangga ku yang baru tiga tahun sudah seperti ini? belum juga selesai masalah yang lain, sekarang ada lagi masalah baru yang muncul. Parahnya, masalah baru ini benar-benar mengguncang hati ku. " Angel mencengkram kedua lututnya dengan begitu erat. Sungguh dia sama sekali tidak bisa tidur karena terus teringat Veren dan Alex yang berciuman meski itu sangat singkat. Sialnya Veren dengan sengaja tersenyum kearahnya untuk menunjukkan bahwa apapun bisa saja terjadi, apalagi hanya sekedar menggoyahkan iman seorang pria.
" Veren, kau boleh saja menjadi istri yang dinikahi secara negara, tapi aku akan tetap menjadi satu-satunya wanita yang ia cintai, aku juga satu-satunya istri yang akan tidur dengan Alex.
Pagi harinya.
Nyonya Nehra juga terdiam tapi tak sepemikiran dengan apa yang dipikirkan suaminya. Baginya, rumah besar nan mewah itu benar-benar adalah sebuah kenangan buruk yang tidak akan mungkin bisa ia lupakan seumur hidupnya. Tapi ya sudahlah, semua yang terjadi di masa lalu dan masih saja berlangsung sampai sekarang masih saja tidak dianggap oleh suaminya, maka dia yang merasa orang rendahan tentu saja hanya bisa menerima dan diam baik itu salah ataupun benar. Bodoh? tidak! Nyonya Nehra hanya lelah menjelaskan tapi tetap saja dia salah bagi semua orang.
" Ingat, jangan mengatakan apapun. Biarkan saja aku yang bicara. " Titah Tuan Haris kepada istrinya. Nyonya Nehra tentu saja mengangguk tanpa suara. Seperti inilah hubungannya dengan sang suami yang sudah dua puluh dua tahun hidup bersamanya.
__ADS_1
Setelah masuk kedalam dalam, Tuan Harus dan Nyonya Nehra disambut dengan sopan oleh para pelayan yang bekerja disana. Tentu mereka sangat menghormati Tuan Hari karena paham benar dari siapa gaji mereka dibayarkan.
" Panggil Mila dan Angel! " Titah Tuan Haris lalu mengambil posisi duduk. Sementara Nyonya Nehra, dia berdiri di samping sofa yang diduduki oleh suaminya. Jangan tanya kenapa mereka seperti hujan suami istri, karena cerita dibaliknya juga amat panjang dan tidak biasa.
Setelah mendapatkan kabar tentang kedatangan Tuan Haris dan Nyonya Nehra, Ibu Mila dan Angel bergegas menuju ruang tamu karena kedatangan mereka berdua sangatlah jarang terjadi.
" Apa yang membuat kalian yang kesini? " Tanya Ibu Mila lalu mengambil posisi duduk bersamaan dengan Angel. Setelah duduk, Ibu Mila menatap Nyonya Nehra dengan tatapan sinis yang menghina.
" Bagus sekali, kau benar-benar paham siapa dan apa posisi mu yang sebenarnya. "
Mendengar kata-kata yang jelas ditujukan untuk istrinya, tentu aja Tuan Haris meminta istrinya untuk duduk.
" Duduklah, Nehra. "
" Jangan berani-beraninya! ini adalah rumah ku! " Cegah Ibu Mila.
__ADS_1
Tentu saja Nyonya Nehra masih diam dan memilih untuk tetap berdiri. Entah sampai kapan semua ini berakhir, tapi besar sekali harapan bagi seorang wanita cantik yang berusia empat puluh dua tahun itu untuk memiliki kebebasan dan berhenti untuk mendapatkan hinaan. Bahkan menjadi istri dari seorang Haris Dardan saja tidak bisa menghentikan padangan buruk orang tentang dirinya.
TBC