
Disebuah gedung perkantoran, tempat dimana banyak para pekerja mengais rejeki dengan keahliannya, tempat dimana Alex harus berjuang demi banyak orang.
Tak banyak berubah rutinitas hari ini, hanya ada satu yang berubah yaitu, sikap Alex kepada Seli yang semakin dingin. Tentu saja Seli menyadari benar bahwa Alex tengah membuat batasan yang amat kekal untuk mereka. Sedari pagi, Seli yang biasanya membuatkan teh juga telah digantikan oleh orang lain. Tugas untuk mengantar dokumen juga diserahkan kepada orang lain, kecuali pekerjaan yang harus melibatkan dirinya, barulah Seli akan turun tangan. Tapi tentunya juga titah itu disampaikan oleh orang yang Alex utus.
" Hendi, bawa proposal ini karena aku tidak akan tertarik. Satu hal lagi, minta Dedi untuk menjemput istriku di rumah Ayahku sekarang. "
" Baik, Tuan. "
***
Di ruang keluarga, Veren dan Nyonya Nehra kini tengah menikmati secangkir teh hangat bersama dengan kue kering yang tadi pagi Nyonya Nehra buat. Mereka saling bercerita tentang banyak hal di masa lalu, terutama Nyonya Nehra.
" Veren, apa kau memiliki rencana untuk hamil lagi? "
Veren tersenyum meski pertanyaan sederhana itu membuatnya hati keibuannya sedikit nyeri.
" Aku belum siap, Ibu. Ingatan saat Deniza meninggal masih begitu jelas. Apalagi saat melihat dia kejang, merintih kesakitan, dia menangis tanpa suara karena tubuhnya yang sangat lemah, rasanya aku belum bisa untuk merelakannya. Aku takut kalau aku memiliki anak lagi, aku akan merasakan hal yang sama seperti Deniza. "
Nyonya Nehra meraih punggung tangan Veren, lalu menggenggamnya.
" Jangan terbebani dengan pertanyaan ku barusan ya? Aku hanya sekedar membayangkan saja, bagaimana kalau kau dan Sofiana hamil bersamaan? Itu lucu bukan? tapi kalau kau tidak siap, kau juga tidak perlu memaksakannya, sudah ada Denzo yang mengisi hidup kalian kan? " Veren mengangguk setuju.
" Ngomomg-ngomong apakah hubungan Ibu dan Ayah mertua sudah membaik? "
Nyonya Nehra tersenyum pahit, membaik? Malah rasanya itu tidak akan mungkin terjadi.
" Veren, suamiku itu masih meletakkan hatinya pada jeratan masa lalu. Tentu bukan kesalahannya, itu semua karena kesalahanku. Aku tidak mampu membawanya untuk merasakan hatiku, aku tidak bisa membuatnya merasakan nyaman saat bersamaku. Dua puluh dua tahun, nyatanya waktu selama itu tidak membuat hatinya tergerak olehku. "
Veren menatap wajah Nyonya Nehra yang nampak kecewa. Entah masa lalu seperti apa yang terjadi, rasanya luka yang terlihat dari wajah Nyonya Nehra seolah menyampaikan akan betapa pasrahnya dia mengenai suaminya.
" Ibu, apa separah itu? Tapi dari apa yang aku lihat, Ayah mertua perduli dengan Ibu. "
Nyonya Nehra menghela nafasnya.
" Veren, dulu sekali, aku adalah seorang gadis yang diselamatkan oleh Haris dari rumah bordil. Dia tahu aku dijebak, dan kasihan kepadaku. Dia membawaku pulang untuk dijadikan pelayan rumah. Selama aku tinggal disana, aku bisa melihat bagaimana hangatnya Haris memperlakukan Nyonya Mila. Dia selalu tersenyum saat bersamanya, dan dia juga akan selalu meluangkan waktu untuknya kapanpun Nyonya Mila menginginkannya. "
__ADS_1
Veren terdiam sembari menerka di dalam hati. Jadi dulunya Nyonya Nehra juga memiliki masa lalu yang menyedihkan?
" Menikah dengan Haris juga bukan keinginanku, tapi aku tidak diberikan pilihan oleh Ibunya Haris. Sungguh aku tidak tahu pasti alasan Haris dan Nyonya Mila bercerai, tapi sebagai sesama wanita aki sudah berusaha sebaik mungkin agar tidak menjadi pengganggu di antara mereka. " Nyonya Nehra tersenyum kelu. Iya, dia tahu benar apa yang hatinya rasakan saat itu. Julukan pelayan lelaki hidung belang, wanita rendahan, wanita murahan, perusak hubungan rumah tangga, tentu masih belum bisa hilang dari namanya.
" Veren, aku ditampar, dipukul, dan ditendang di hadapan Haris, tapi pria itu hanya diam. Aku tahu benar dia tidak bisa melarang Nyonya Mila, dan memilih untuk buta saat aku tersiksa. "
" Ibu. " Veren menggenggam erat tangan Nyonya Nehra dengan kedua tangannya. Sungguh sangat gemetar tangan Ibu mertuanya, tapi wajah yang begitu santai seolah menunjukkan bahwa semua itu adalah hal yang sudah biasa ia rasakan, atau bisa dibilang kebal untuk Nyonya Nehra.
Nyonya Nehra tersenyum seolah menjelaskan bahwa dia baik-baik saja.
" Veren, Sofiana selalu menghubungiku, dari nada bicaranya sepertinya dia cukup bahagia dengan kehidupan rumah tangganya. Sekarang sudah tidak ada lagi yang aku takutkan. Aku bisa memilih pilihanku sendiri, aku bisa memilih jalan mana yang ingin aku tuju, aku ingin bebas dari belenggu menyakitkan ini. "
" Ibu mertua, apa sudah yakin dengan keputusan besar itu? "
Nyonya Nehra mengangguk, lalu dia menarik nafas dalam-dalam sembari menyeka air matanya.
" Veren, dulu sekali hal yang aku dambakan adalah cinta dari suamiku. Tapi sekarang, aku sangat ingin bebas. "
" Selamat sore, Nona Veren? " Sapa Dedi yang baru aja sampai disana.
" Dedi, ada apa? "
" Tuan meminta saya untuk menjemput Nona. "
" Oh baiklah. "
Veren menatap sang Ibu mertua yang kini sudah berwajah biasa.
" Ibu, aku pergi ke tempat Alex ya? "
Nyonya Nehra mengangguk.
" Bolehlah membuatkan Denzo tinggal? Rasanya sangat sepi kalau dia juga ikut pergi bersamamu. "
" Baiklah, aku temui Denzo sebentar untuk izin dulu ya? " Nyonya Nehra mengiyakan dengan anggukan.
__ADS_1
Setelah menemui Denzo dan memberitahu kalau dia akan pergi menemui Ayahnya, Denzo juga setuju untuk tinggal bersama Nyonya Nehra disana.
" Suami? " Sapa Veren seraya membuka pintu ruang kerja Alex.
Alex sontak bangkit dari duduknya seraya menjauhkan berkas-berjas yang tengah ia baca. Dengan langkah kaki cepat, Alex menghampiri Veren dan langsung memeluknya erat.
" Aku merindukanmu, kenapa tidak mengangkat telepon dariku? "
Veren memberikan kecupan di pipi Alex, lalu mengurai pelukannya.
" Maaf, tadi aku sedang mengobrol dengan bibi Nehra, dan aku tidak membawa ponsel ke ruang keluarga. "
" Pembicaraan apa yang membuatmu begitu serius dan mengabaikan ku? " Alex mencubit pipi Veren pelan karena merasa gemas.
" Masalah wanita! " Veren menjauhkan tangan Alex yang semakin menjadi karena semakin kuat menekannya.
Tok Tok
Suara pintu di ketuk, tapi sepertinya Alex sudah tahu siapa yang akan masuk ke ruangannya. Iya, dia adalah Seli. Karena beberapa saat lalu, Alex membutuhkan Seli untuk masalah proposal.
" Masuk! " Jawab Alex yang kini tengah duduk di meja menghadap ke Veren yang duduk di kursinya.
" Selamat- " Ucapan Seli terhenti begitu melihat Veren yang duduk di kursi Alex. Kesal, dan juga cemburu itulah yang tengah ia rasakan. Entah ilmu apa yah digunakan Veren, tapi sepertinya Veren semakin berani muncul di kantor. Heh! pasti tujuannya adalah untuk memata-matai Alex kan! karena tidak mungkin jejak yang sengaja ia ciptakan tidak membuat Veren curiga.
" Hai, Seli? Kenapa bengong disitu? Tidak mungkin kan kau mengharap suamiku merentangkan tangan untuk menyambut mu? " Veren tersenyum miring.
Seli menarik nafas sebentar, dia mencoba untuk membuat mimik wajahnya menjadi santai seperti biasanya.
" Anda terlalu banyak berpikir, mana mungkin saya berani mengharapkan hal semacam itu. Terkecuali, anda memiliki kecurigaan terhadap pasangan anda. "
Veren terkekeh.
" Curiga? Mana mungkin? " Veren bangkit dari duduknya, dia berjalan mendekati Seli yang masih berdiri tak jauh darinya.
" Kemarin, ada kucing liar yang mencium suamiku, dan suamiku jadi demam serta muntah-muntah karena itu. "
__ADS_1
TBC