
Angel duduk termangu setelah wajahnya selesai di make up. Pikirannya kembali terarah kepada kata-kata Alex pagi tadi. Sebenarnya bukan hal baru bagi mereka untuk berselisih, tapi setelah adanya Veren di dalam hidup mereka, masalah semakin runyam dan di luar kendalinya. Angel menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan pelan. Mungkin, ini adalah kesekian kalinya dia kehilangan semangat karena pertengkaran dengan Alex, tapi sungguh dia tidak menerimanya. Kalau saja bukan karena Veren biang masalahnya, bukan dia tidak akan se-kesal sekarang ini.
" Veren, boleh saja kau senang karena sudah menggoyahkan Alex, tapi aku masih punya cara untuk membuat kalian menjauh. "
Angel meraih ponselnya, dia menghubungi seseorang dan memintanya untuk melakukan sesuatu.
" Veren, jangan salahkan aku berbuat nekat. Kau yang tidak mau pergi, maka aku tentu saja akan membuatmu tidak akan bertahan lama lagi. " Ucap Angel setelah sambungan teleponnya terputus.
***
Setelah kepergian Alex ke kantor, Veren kini mulai merasa bosan. Dia mulai merapihkan diri, karena memutuskan untuk menemui putranya. Aneh! itulah yang di rasakan oleh Veren, entah mengapa tidak ada satu pun taksi yang lewat setelah tiga puluh menit menunggu.
" Akhirnya,... " Gumam Veren saat ada satu taksi yang berjalan ke arahnya. Tak membuang kesempatan, Veren menghentikan taksi itu, lalu masuk kedalam taksi.
" Pak, ke apartemen Royal Blue ya. "
" Baik. " Pria itu tersenyum jahat, lalu melajukan taksinya menjauh dari kediaman keluarga Alex.
Veren yang tak mencurigai sopir taksi itu memilih fokus dengan ponselnya untuk membalas pesan dari Denzo. Sepuluh menit berlalu, sekarang Veren mulai menyadari jika jalan yamg dilalui oleh taksi yang ia tumpangi justru berlawanan arah.
" Berhenti! " Bentak Veren.
" Baik. " Pria itu menepikan mobilnya, tapi saat Veren hendak keluar dari mobil, dua pria datang dari kedua sisi nya, mengapit tubuhnya, membungkam mulut Veren dan kembali menutup pintu taksi. Setelah Veren mulai tidak sadarkan diri, pria yang bertugas melajukan mobil itu kembali menginjak pedal gas dan mulai menuju kesebuah tempat yang sudah dijanjikan oleh sang penyuruh.
Ketiga pria itu rupanya sudah mempersiapkan semuanya dengan matang. Setelah sampai di parkiran hotel, dia mengangkat tubuh Veren, lalu mendudukkan ke kursi roda yang sudah mereka siapkan.
" Pakaikan penutup wajah, kaca mata hitam. Jangan sampai ada orang yang curiga. Kalau resepsionis bertanya, atau siapapun itu, katakan saja dia tertidur karena kelelahan. Bawa dia ke kamar tiga sembilan dua, kami berdua menunggu disana. " Ucap salah satu dari ketiga pria itu.
Seperti yang sudah di intruksi kan, Veren di bawa ke kamar yang sudah mereka tentukan. Tapi saat berjalan menuju kamar tersebut, Erick beserta asistennya berjalan dari arah berlawanan. Awalnya dia merasa tida tertarik untuk memperhatikannya, tapi saat melihat satu sendal wanita yang berada di kursi roda itu tidak ada, Erick menjadi sedikit curiga. Dia mengendarakan pandangan, hingga sampailah pandangan Erick ke pergelangan tangan wanita itu.
Vero?
Erick terkejut, iya di hafal sekali gelang yang tidak pernah lepas dari pergelangan tangannya. Gelang yang ia tahu adalah buatan Deniza. Erick mendorong pria itu hingga menabrak tembok.
__ADS_1
" Tahan orang ini! " Ucap Erick kepada asistennya yang langsung sigap menjalankan titah Erick.
Dengan cepat Erick melepas kaca mata, dan juga penutup wajah yang digunakan wanita itu.
" Vero? "
Erick kembali menatap pria dengan tatapan tajam.
" Bawa masuk pria itu ke kamar yang aku gunakan semalam. "
" Baik. "
Sesampainya di dalam kamar yang semalam digunakan Erick setelah lelah bekerja, Erick meletakkan tubuh Veren ke tempat tidur, tidak ada yang mengkhawatirkan, Veren hanya sedang tidak sadarkan diri karena bius. Erick bangkit, lalu berjalan menuju di pria tadi.
Bugh!
Erick memukul pria itu. Tentu pria itu hanya bisa meringis kesakitan tanpa bisa mengelak atau melawan karena kedua tangannya ditahan oleh asisten Erick.
Awalnya pria itu terus saja mengelak dan mengatakan jika dia tidak tahu apapun, dan tida mengenali siapa orang yang menyuruhnya, tapi karena terus mendapatkan pukulan dari Erick, lama kelamaan dia semakin tida tahan dan memberikan informasi yang dia ketahui.
" Saya tidak tahu siapa Tuan, saya hanya dibayar oleh kenalan saya untuk membuat Video saat kami menyetubuhi wanita itu, lalu mengirim Videonya kepada seseorang. "
Erick mengeraskan rahangnya, dia kembali memukul wajah pria itu dengan kuat.
" Kami? maksudmu kau berniat melecehkan wanitaku secara bersamaan?! "
Pria itu mulai sesegukan dan juga gemetar karena takut.
" Sumpah Tuan, saya hanya dibayar untuk melakukan itu. Saya sangat membutuhkan uang, jadi saya terima saja pekerjaan itu. "
" Dimana teman mu yang lain? " Taya Erick. Setelah pria itu menyebutkan nomor kamarnya, asisten Erick menyambangi kamar itu, tidak perlu merasa takut atau ragu, asisten Erick adalah pria yang ahli dalam bela diri, hanya dalam waktu lima menit saja, kedua pria yang sudah menunggu di dalam kamar itu berhasil dilumpuhkan. Seperti yang seharusnya, dia tidak melaporkan dulu ke polisi karena harus mencari tahu siapa yang sudah memberikan tugas mengerikan semacam ini.
Setelah mengurus semua itu, kini tinggal Erick dan Veren berada di ruangan yang sama. Erick terdiam memandangi wajah Veren, wajah yang sudah hampir dua minggu tidak ia lihat secara langsung. Dia mengusap wajah Veren pelan, setelah menimbang beberapa kali, Erick memutuskan untuk membawa Veren kerumah sakit saja karena Veren tak kunjung sadar.
__ADS_1
Veren?
Alex yang baru saja mendapatkan pesan mengenai keberadaan Veren melalui pesan singkat, bergegas mendatangi hotel itu. Tadinya dia pikir semua pasti hanyalah kebohongan saja. Tapi sekarang dia harus melihat Veren berada di gendongan pria yang ia lihat beberapa waktu lalu di apartemen milik sahabatnya Veren.
Tak mau berburuk sangka dulu, Alex kembali melajukan langkahnya untuk menghampiri Erick yang berjalan di lorong koridor yang sama dengannya. Dia berdiri tepat di hadapan Erick dan terpaksa juga Erick harus menghentikan langkahnya. Alex membuka kaca mata hitamnya, lalu memasukannya ke saku celananya. Tatapannya tajam, sama seperti mata Erick menatapnya.
Alex menatap wajah Veren yang terlihat seperti tengah tertidur.
" Berikan istriku padaku. "
" Get out! " Ucap Erick.
" Serahkan istriku padaku. " Ucap Alex dengan tatapan yang sama tajam dan dingin seperti Erick.
" Your wife? " Erick berdecih meremehkan kata-kata Alex.
" Vero, is my girl. "
Alex mengeraskan rahangnya.
" Do you have a certificate? why are you claiming her as yours? "
" Shut up! " Ucap Erick tenang, tapi dia sama sekali tak berkedip saat menatap tajam Alex.
" Kalau begitu, biarkan aku membawa istriku. " Alex meraih tubuh Veren lalu mengambil alih untuk membawa Veren. Sebenarnya, Erick masih tidak mau melepaskan Veren, tapi saat dia tidak sengaja melihat mata-mata yang sedang mengintainya, dia tidak memiliki pilihan lain selain membiarkan Veren bersama Alex.
" Katakan padanya saat sudah sadar nanti, jangan naik keranjang ku lagi. Aku tidak tertarik dengan wanita semacam itu. " Ucap Erick.
Alex mengeraskan rahangnya. Andai saja tidak sedang membawa tubuh Veren, dia pasti tidak akan segan-segan untuk memukul wajah Erick.
Maaf, Vero ku. Always be save, babe.
TBC
__ADS_1