Terpaksa Menikahi Wanita Malam

Terpaksa Menikahi Wanita Malam
Harus Bagaimana?


__ADS_3

" Ah.....! " Angel membuang semua barang-barang yang ada di kamarnya. Dia mengacak-acak apa yang bisa tangannya gapai. Sudah entah seperti apa berantakannya kamar yang kini ia tinggali, tapi untunglah karena dia sudah pindah ke apartemennya, tidak akan ada orang yang satu ruangan akan merasa terganggu. Pagi hari, pagi yang ia harapkan akan membawa kabar baru yang mengenakkan, nyatanya justru malah membuatnya semakin terpuruk. Bukan hanya bukti-bukti rekaman kamera pengawas saat ada di hotel dan apartemen bersama Reyn, tapi kini malah bermunculan photo-photo fulgar nya yang memenuhi beranda media sosial.


Perasaan marah, dan kecewa dengan keadaan seolah tak bisa untuk ia bendung lagi. Iya, dia tahu kalau apa yang dia lakukan memang tidak benar. Tapi kenapa Alex membalasnya dengan begitu kejam. Memang Alex maupun Veren tidak ada yang muncul ke media demi mengklarifikasi mengenai gosip yang hangat di bicarakan beberapa waktu lalu, tapi dengan semua bukti yang kini bermunculan tentu saja sudah cukup untuk membersihkan nama Veren dan beralih memborbardir nama Angel.


" Bagaimana ini? bagaimana aku bisa menjalani hari-hariku seperti biasa? agensi memutuskan kontrak secara sepihak. Rencana kerja sama juga sudah di batalkan, bagaimana aku akan menjalaninya? " Angel menjatuhkan tubuhnya seraya membiarkan air mata yang sedari jatuh terus menerus membasahi pipinya. Sudah lebih dari satu pekan, tapi gosip tentangnya, dan juga komentar buruk masih saja berbondong-bondong menyerangnya. Sudah tidak ada pilihan lain, mungkin ini juga adalah waktunya untuk melepaskan Alex, dan kembali ketempat yang seharusnya, ' Keluarga '


" Alex, jika sekali saja kau mengatakan untuk jangan pergi dan bertahan, aku benar-benar akan bertahan dan menerima Veren tanpa keluhan. " Angel meraih ponselnya yang tergeletak di lantai. Meski layarnya retak, tapi sepertinya masih bisa digunakan untuk menghubungi Alex. Beberapa kali tak mendapat jawaban, mungkin karena nomor yang digunakan Angel asing di ponsel Alex, begitulah bunyi batin Angel yang masih belum menyerah untuk terus menghubungi Angel.


Di apartemen Alex.


Bangun pagi nyatanya mereka masih belum selesai dengan kegiatan ranjang mereka.


" Suami, ponselmu terus-terusan berdering, coba saka angkat sebentar. " Ucap Veren saat bibir Alex terlepas dari bibirnya.


" Em! tidak mau! nanti mood ku jadi rusak. "


Veren tentu saja sudah tidak konsentrasi karena suara dering ponsel Alex yang sedari tadi berbunyi. Tak lagi melarang Alex yang masih menghentakkan pinggangnya, Veren meraba sebentar, dan akhirnya berhasil mendapatkan ponsel Alex.


" Ha-lo? " Ucap Veren tersentak saat dengan sengaja Alex menghentakkan dengan kuat pinggangnya.


Angel terdiam sesaat, awalnya dia tidak merasa ada yang aneh, meskipun yang menjawab telepon adalah Veren, tapi dia juga tidak bisa menyerah begitu saja kan?


Veren, bisa aku berbicara dengan Alex?

__ADS_1


" Angel? " Veren menantap Alex yang sedikit mengeryit menatapnya meski dia masih tak mau menghentikan kegiatannya.


" Alex, dia- Em! " Alex tentu saja tahu kalau Angel pasti ingin berbicara dengannya, tapi dia benar-benar tidak ingin terganggu saat ini, jadi dia memilih membungkam mulut Veren, dan mengacuhkan saja telepon masuk itu.


" Suami! Ah! " Veren lagi-lagi tak bisa berkata-kata dengan lancar meski bibirnya sempat terlepas. Iya, sekarang dia mengerti bahwa Alex benar-benar tidak ingin memperdulikan yang lain.


Beberapa detik setelah Veren tak bicara, Angel kini hanya bisa menahan suaranya yang tercekat di tenggorokannya. Sungguh dia benar-benar hancur saat dia mendengar suara Veren dan Alex yang saling mengeluh nikmat.


" Alex, apa kau benar-benar tidak perduli lagi denganku? apakah selama bertahun-tahun kita bersama kau tidak memiliki rasa sedikitpun untukku? sebenarnya aku harus bagaimana untuk membuatmu luluh? kau bilang aku tidak berkorban? aku berkorban banyak Alex, hanya saja itu semua tidak terlihat di matamu. Aku mengorbankan keluargaku, tenagaku untuk berusaha membuatmu mencintaiku, aku juga rela berbohong dan di tekan hanya untuk bersamamu. Kenapa kau tidak bisa mengerti? "


***


Suasana sakral setelah sumpah pernikahan di ambil, kini Erick dan Sofiana telah resmi menjadi suami istri. Tak banyak tamu yang di undang, hanya ada Alex, Veren, Denzo, Feng, dan dua orang sahabat baik dari Tuan Haris sebagai saksi pernikahan. Awalnya Nyonya Nehra memang terlihat berat melepas putrinya untuk menikah di usia yang muda seperti dirinya, tapi mau bagaimana lagi? mungkin semua ini adalah suratan takdir yang telah ditentukan untuk putrinya. Di dalam hati seorang Ibu, tentu dia menginginkan yang terbaik untuk putrinya meski merasa was-was pada awalnya. Syukurlah, setelah mendengar cerita Veren tentang Erick, kini seorang Ibu yang berusia empat puluh dua tahun itu sudah bisa melepas putrinya dengan lega.


" Huh....! Haris, kau pasti amat sedih ya karena putrimu sudah menjadi milik suaminya? apalagi kalau aku lihat, menantu mu adalah pria yang sangat hebat. " Ujar salah satu sahabat Tuan Haris.


Hebat? Alex sempat melirik sebentar memastikan bagaimana istrinya berekspresi. Jujur, dia sebenarnya agar kurang nyaman dengan tatapan Erick yang sempat beberapa kali ia lihat tengah menatap Veren meski sebentar. Sebentar? sebentar kalau sering artinya banyak kan?


Veren tak terlihat aneh, dia hanya tersenyum seperti yang seharunya sebagai seorang kakak ipar ikut merasakan kebahagian.


Waktu semakin berlalu, tiba waktunya bagi Erick dan Sofiana untuk pergi ke apartemen Erick. Iya, Erick sudah memberi tahukan bahwa setelah acara pernikahan selesai, dia akan langsung kembali ke apartemennya.


Sesampainya di apartemen, Erick tak mengatakan apapun, dia seperti tak menganggap ada Sofiana yang terus mengikuti langkah kakinya hingga sampailah mereka di kamar.

__ADS_1


" Kau mau tidur sekamar denganku? " Erick bertanya seraya melepaskan jas yang sedari tadi melekat di tubuhnya.


Sofiana sebenarnya sangat canggung dan tidak tahu harus bagaimana, tapi sungguh dia banyak berguru selama dua hari terakhir dengan kakak iparnya, Veren. Untuk mengimbangi Erick, tentu dia harus mengikuti apa yang disarankan Veren kepadanya.


" Apa kita akan tidur terpisah? "


Erick terdiam sesaat. Ah sial! dia sama sekali tidak tahu harus menjawab apa! pisah tidak ya? kalau pisah, apakah gadis itu akan mengadukannya kepada Veren?


" Mau mu bagiamana? "


Sofiana menelan salivanya sendiri. Maunya? maunya ya tentu saja tidur terpisah, tapi lagi-lagi ucapan Veren menggema di kepalanya.


Layani dia dengan baik, dia adalah orang yang dingin, tapi dia sangat haus akan kasih sayang, dan kehangatan sebagai keluarga. Tidak perlu merasa terbebani, jalani saja semuanya, dan ingat jadilah dirimu sendiri. Aku tahu kau adalah anak yang manja, jadi kau tidak perlu menjadi Sofiana yang sebelumnya, bersikap manja dan agak tidak tahu malu juga bukan salah, karena dia adalah Suami mu!


" Aku, aku tidur dengan mu saja. "


Erick terdiam tanpa bisa menanggapi lagi kata-kata Sofiana barusan. Baiklah, tidak usah terlalu dipikirkan. Erick tak mau banyak berpikir, dia memilih untuk membuka dulu pakaiannya, agar bisa dengan cepat membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.


" Biarkan aku membantumu! "


Bantu? bantu yang bagaimana? melepas pakaian? atau bantu memandikan?


TBC

__ADS_1


__ADS_2