
Veren tersenyum menatap Ibu Mila dan Angel bergantian. Tadinya Alex sudah tidak mau berlama-lama lagi di rumah itu, tapi karena Veren memintanya untuk membiarkan Ibu Mila dan Angel bicara, maka Alex hanya bisa mengikuti saja apa yang di inginkan Veren.
Tak segarang sebelumnya, tatapan Ibu Mila dan Angel kini lebih terlihat sedih dan kecewa. Terlebih Ibu Mila, begitu tahu Alex datang untuk mengemas barang-barangnya, dia begitu kaget hingga tidak membiarkan Alex keluar dari rumah.
Alex masih tak mau mengawali pembicaraan dan memilih diam berpura-pura sibuk dengan ponselnya. Dia bahkan sama sekali tak mau melihat ke arah Angel ataupun Ibu Mila barang sedetik.
" Alex, kenapa kau begitu berubah hanya karena ini? aku adalah Ibumu, kau tahu benar itu. Kenapa kau membangun dinding pembatas yang begitu tebal di antara kita? Ibu tahu apa yang Ibu lakukan tidak sesuai dengan yang kau inginkan. Tapi cobalah berpikir dari sisi Ibu. Ibu hanya ingin melindungi nama baikmu, menjagamu dari amukkan Ayahmu, dan juga melindungi dari pandangan buruk masyarakat tentangmu. "
Alex terdiam mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Ibunya, setelah tahu ingin mengatakan apa, barulah dia mematikan layar ponsel agar lebih fokus berbicara dengan Ibunya.
" Terimakasih banyak, Ibu. Tapi aku tidak meminta itu, bahkan Ibu juga tidak mendiskusikannya denganku. Jangan salah paham, aku tidak berterimakasih untuk yang Ibu lakukan, tapi aku berterimakasih karena Ibu sudah menunjukkan padaku seperti apa Ibuku yang aku anggap malaikat hidupku. " Alex menjeda ucapannya.
" Ibu, aku pernah ingat. Dulu Ibu mengajarkan tentang kejujuran, dan juga keikhlasan. Lalu bagaimana Ibu lupa dengan apa yang Ibu ajarkan? Dulu aku pikir, Ayah adalah orang yang dingin dan menakutkan, tapi melihat Ibu sekarang, aku justru lebih takut dengan Ibu. "
" Alex! " Bentak Ibu Mila.
Alex tak lagi terlihat ingin bicara. Sebenarnya dia tahu benar jika tidak pantas berbicara semacam itu kepada Ibunya, tapi jika dia terus diam dan membiarkan saja Ibunya meyakini hal yang salah, tentu sebagai anak dia juga ingin mengingatkan dan membawa Ibunya ke arah yang benar. Tapi ya sudahlah, mungkin inilah waktunya untuk belajar lebih sabar menghadapi Ibunya, mungkin ini juga kondisi dimana Tuhan menginginkan Ibunya belajar dari ini, dan memperbaiki sikap agar mnejadi lebih baik.
" Veren, ayo kita pergi. " Ajak Alex yang tak ingin lebih lama berdebat dengan Ibunya.
" Suami, boleh biarkan aku bicara sebentar? kau boleh kembali menemani Denzo dulu. " Pinta Veren. Alex terdiam sesaat sembari menatap Ibu Mila dan Angel, barulah dia mengangguk setelahnya, dan berjalan keluar untuk menemani Denzo di mobil.
Setelah kepergian Alex, Veren kini memfokuskan pandangannya kepada Ibu Mila dan Veren secara bergantian.
" Apa yang ingin kau bicarakan? apa kau bahagia dengan semua ini?! " Tanya Ibu Mila yamg terlihat kesal.
" Tidak. " Veren tersenyum seolah kata-kata Ibu Mila sama sekali tidak mampu mempengaruhinya. Dia bahkan tidak segan-segan menatap Angel dengan tatapan yang tak biasa.
__ADS_1
" Sebenarnya, aku ingin menghukum kalian lebih lama lagi, tapi karena Alex tidak mau tinggal disini lagi, mau tidak mau aku tidak bisa bermain dengan kalian lagi. "
" Dasar wanita jahat! " Angel membentak dengan mata berkaca-kaca. Tentu saja sangat sakit mendengar perkataan Veren. Entah apa status Angel di mata Alex sekarang, tapi tentulah dia butuh di hormati karena dia adalah wanita pertama yang di nikahi oleh Alex.
" Jahat? aku? " Veren terkekeh.
" Aku bahkan belum melakukan apapun yang disebut jahat, tega sekali menjuluki ku dengan kata jahat. "
" Sebaiknya kau jangan banyak bicara, dan pergilah sesegera mungkin! " Ucap Ibu Mila.
" Tentu saja aku akan pergi, tapi aku ingin mengatakan sesuatu sebelum aku pergi. Kalian boleh saja berkomplot untuk menyingkirkan ku, tapi Alex akan lebih percaya padaku di bandingkan dengan kalian berdua. " Veren menatap manik mata Ibu Mila dan Angel bergantian.
" Aku belum melupakan bagaimana kalian menghinaku, menampar, dan memukuliku saat itu. Aku sengaja tidak memberi tahu Alex, karena aku ingin memberikan bom di lain hari. " Veren bangkit dari duduknya, dia tersenyum miring, lalu bergegas meninggalkan Angel dan Ibu Mila disana.
" Veren! " Bentak Ibu Mila marah.
" Ayah, Ibu, aku akan menemui temanku yang menginap di hotel x. Dia akan tinggal beberapa hari dirumah kita sampai dia menemukan kos, atau apartemen. Tempat tinggal lamanya sudah disewakan oleh orang lain. " Izin Sofiana.
" Perlu Ibu temani? " Tanya Nyonya Nehra.
" Tidak perlu, Ibu. "
***
Prang!
Erick menghancurkan semua benda-benda yang ada di apartemennya. Belum juga selesai masalah keluarga tirinya yang ingin sekali menghabisinya, sekarang dia harus menerima kenyataan nawa Veren nampak sangat mesra dan akur dengan suaminya. Marah, kecewa, bahkan rasanya begitu menusuk di hati.
__ADS_1
" Tuan, mohon tenangkan diri anda. " Pinta Asisten yang selalu menemani Erick.
Erick mengusap wajahnya dengan kasar.
" I love her so much, but i can't.. " Erick menatap sendu bingkai photo yamg terletak di mejanya. Photo nya bersama dengan Veren, wanita pertama yang mampu menggetarkan hatinya, wanita pertama yang memberikan warna di dalam hidupnya yang selama ini begitu kelam.
" Tuan, setelah semua halangan ini kita kalahkan, ada bisa kembali mengejar Nona Veren. " Saran Asisten Erick.
" No! kau tidak ingat? para lintah darat itu sudah berapa kali mencoba membunuh Veren. Kalau kita tidak sigap, Veren pasti sudah celaka, bahkan bisa saja mati. Walaupun kita menyingkirkan sebagian dari mereka, tetap saja Veren akan tetap berada di dalam bahaya. Meskipun aku sangat ingin merebut Veren dan memuaskan egoku, tapi nyawanya jauh lebih penting. Aku tidak bisa mendekati Veren sebelum yakin semua sudah baik-baik saja. Kalaupun nanti semua sudah aman, aku tidak yakin Veren akan datang padaku. "
" Jadi bagaimana dan apa yang harus kita lakukan selanjutnya, Tuan? "
" Tetap jaga Veren diam-diam. Dan sekarang, pergi ke hotel x untuk mengikuti permainan para lintah darat itu. Mari kita lihat, sejauh apa dia akan bertindak. "
Tak menunggu lama, Erick dan Asistennya menuju hotel x untuk memenuhi undangan dari salah satu orang yang mengaku saudara, atau yang biasa Erick sebut si lintah darat.
Obrolan masih berlangusung, tapi Erick kini mulai menyadari jika ada yang tidak beres dengan dirinya.
" Tuan? " Tanya Asisten Erick yang tahu benar jika Tuannya sedang tidak baik-baik saja.
" Bawa aku pergi, sekarang! "
" Apa yang terjadi? " Tanya Asisten Erick berbisik.
" Wine, mereka mencampur dengan obat perangsang. "
TBC
__ADS_1