Terpaksa Menikahi Wanita Malam

Terpaksa Menikahi Wanita Malam
Harus Bahagia


__ADS_3

Satu bulan telah terlewati, kini tidak ada lagi Ibu Mila yang sinis dan galak, karena sudah sebulan ini Ibu Mila memperlakukan Veren dengan baik, terutama Denzo. Dari pagi sampai malam, Ibu Mila hanya sibuk dengan Denzo. Pergi belanja membawa Denzo, bahkan pergi arisan juga Denzo di bawa untuk dikenalkan dengan teman-temannya.


Hal yang aneh sebulan ini juga tengah dirasakan Veren. Tidak tahu mengapa, tubuhnya sangat mudah lelah akhir-akhir ini. Untungnya Ibu Mila selalu membawa Denzo kemanapun dia pergi, jadi dia memiliki banyak waktu untuk istirahat.


" Istri, masih ingin tidur? " Tanya Alex yang baru saja sampai dirumah. Padahal dua jam lalu dia sempat menghubungi Veren, dan Veren bilang dia tengah tertidur sebelum mengangkat panggilan dari Alex.


Perlahan Veren mengerjap dan membuka mata.


" Suami? "


Alex tersenyum dan membantu Veren untuk bangkit dari posisinya.


" Maaf, aku tidur sampai lupa waktu. "


" Tidak apa-apa, aku mandi dulu ya? Kalau kau masih ingin tidur, kau tidur saja lagi. " Ucap Alex seraya mengusap kepala Veren pelan.


Setelah selesai mandi, Alex kembali tersenyum dan menggeleng heran. Iya, lagi-lagi Veren tertidur dengan lelapnya. Tak mau mengganggunya dulu, Alex berjalan pelan menuju lemari dan mengambil sepasang baju tidur untuk ia gunakan. Setelah selesai, barulah dia kembali mendekati Veren karena Veren harus makan malam.


" Istri, bangun ya? Kita makan malam dulu, nanti kalau sudah makan malam kau bisa tidur lagi. "


Veren kembali bangun, dia berjalan pelan menuju kamar mandi untuk mencuci muka, dan karena Alex merasa khawatir Veren terpleset, Alex mengikuti langkah kaki Veren hingga selesai urusannya di kamar mandi.


" Ibu? Apa Ibu sakit? " Tanya Denzo saat melihat wajah lesu Ibunya.


" Tidak, sayang. Ibu hanya merasa sangat lelah belakangan ini. " Jawab Veren seraya mengambil posisi duduk setelah Alex menarik kursinya agar Veren lebih mudah duduk.


" Sebaiknya kau coba pakai alat uji kehamilan. " Usul Ibu Mila.


" Ha? " Veren mengeryit dengan tatapan kaget. Memang sih bulan kemarin dia sempat kehabisan pil pencegah kehamilan, tapi dia dan Alex sepertinya sudah hati-hati. Hah! dia baru ingat memang pernah tidak sengaja sekitar dua kali di bulan kemarin.


" Bagaimana? Bulan ini kau juga belum datang bulan kan? " Alex menatap Veren dengan tatapan khawatir. Sebenarnya bukan tidak ingin memiliki anak, hanya saja dia sangat mengkhawatirkan Veren yang memiliki trauma masa lalu.


Veren terdiam memikirkan usulan Ibu Mila, tapi lebih baik di coba saja agar bisa tahu pastinya.


" Nanti setelah ini akan dicoba. "

__ADS_1


Setelah selesai makan malam, Alex meminta Veren untuk menunggunya saja di kamar. Sementara itu dia bergegas ke apotik untuk membeli alat penguji kehamilan di apotik yang tak jauh dari rumahnya.


Beberapa saat kemudian. Alex kembali dengan sekantung kecil yang berisi alat penguji kehamilan degan berbagai merek. Bukanya bingung mau membeli yang mana, hanya saja dia membeli beberapa merek untuk lebih memastikan jika satu saja kurang meyakinkan.


" Istri? " Alex menghela nafasnya, lagi-lagi Veren tertidur. Tapi sudahlah, toh penjaga apotik tadi mengatakan untuk memakainya setelah bangun tidur. Alex meletakkan di meja kecil yang ada disamping tepat tidurnya, lalu mengambil posisi untuk berbaring disebelah Veren, dan memeluknya.


Pagi harinya.


Veren menggeliat saat merasai tubuhnya yang terasa pegal karena terlalu lama tidur dengan posisi miring. Sejenak dia tersenyum memandangi Alex yang wajahnya kini dekat dengannya. Perlahan dia mendekatkan bibirnya, mengecup pelan bibir Alex.


" Tumben sudah bangun? " Eh, ternyata Alex sudah bangun. Veren tersenyum karena merasa malu diam-diam menciumnya.


" Semalam sudah membelinya? "


Alex cukup bingung memang dengan ekspresi Veren yang tidak seperti biasanya saat membahas tentang kehamilan. Pagi ini dia nampak lebih sumringah seolah dia tidak masalah kalau sungguhan hamil.


" Iya, ada di meja. " Jawab Alex.


Veren bangkit perlahan, dia berjalan menuju meja, mengambil dua alat penguji kehamilan, lalu menuju ke kamar mandi. Alex yang masih tidak paham dengan perubahan ekspresi Veren hanya bisa menatapnya bingung.


Setelah beberapa saat, Veren keluar dengan mata yang merah, tapi bibirnya tersenyum.


" Bagaimana? " Tanya Alex yang tidak paham bagaimana maksud ekspresi Veren yang aneh itu.


Veren memberikan dua alat penguji kehamilan kepada Alex.


" Ini maksudnya bagaimana? " Alex menatap alat uji kehamilan itu, lalu menatap Veren dengan tatapan bingung.


Veren mengangguk lalu tersenyum.


" Aku hamil. "


Deg....


Alex sontak tak berekspresi lain selain kaget dengan diam. Meskipun ini sungguh anak ketiganya, tapi dia sama sekali tidak tahu harus bagaimana. Bahagiakan? atau bersedih karena ini adalah hal yang bisa saja membuat Veren sedih.

__ADS_1


" Kenapa kau diam? Apa tidak bahagia? " Tanya Veren.


" Bagaimana denganmu? Ini adalah hal yang tidak kau inginkan. Aku ingin bahagia, tapi aku juga bersedih. Lalu bagaimana? "


Veren tersenyum, dia menatap kedua bola mata Alex yang sungguh bingung harus bahagia atau sedih.


" Tadinya aku juga berharap bahwa aku tidak hamil. Tapi semalam aku bermimpi bertemu Deniza. "


Alex nampak semangat mendengar mimpi Veren.


" Benarkah? Apa dia terlihat cantik seperti biasanya? Apa dia menanyakan tentang diriku? Apa dia bilang kalau dia merindukan ku? "


Veren menyeka air matanya yang lolos begitu saja.


" Dia bilang, aku harus bahagia saat Tuhan memberikannya adik. Dia bilang dia akan hidup bersama adiknya, agar bisa menghabiskan banyak waktu bersamamu, bersama Denzo, dan bersamaku, serta semua orang yang mencintainya. Deniza juga bilang, aku tidak boleh terus bersedih karenanya karena dia juga sedih saat aku sedih. "


Alex memeluk erat tubuh Veren, dia membiarkan saja air matanya lolos membasahi pipinya. Iya, dia kini tahu bahwa dia juga harus bahagia dan jangan menjadikan kehilangan Deniza sebagai penghalang untuk bahagia.


" Selamat, sayang. Terimakasih karena sudah menerima bayi ini, aku janji akan melakukan apapun yang kau mau. Dan akan berusaha memberikan apa yang kau inginkan. "


Veren menyeka air matanya. Dia mengecup pundak Alex, merasai harum tubuh pria yang membuatnya jatuh cinta.


" Terimakasih, terimakasih karena selalu mengutamakan keinginanku. Terimakasih juga selalu mendukung ku dalam hal apapun. "


Veren mengurai pekukannya, lalu menatap Alex sebelum mengatakan apa yang ingin dia katakan.


" Suami, karena aku sedang hamil dan harus membahagiakan diri, maka mulai besok aku akan pergi ke salon setiap tiga hari sekali. Berbelanja, makan siang bersama Karina tiga hari sekali, dan duduk di toko roti Ibu Nehra setiap hari, bagaimana? "


Alex mengangguk setuju.


" Asalkan kau tidak lelah dan baik-baik saja, aku tidak akan melarangnya. Kau akan mulai dari hari ini? "


" Hoam..... Besok saja deh. Sekarang aku masih mengantuk. "


Alex terkekeh. Sepertinya jadwal yang tadi disebutkan Veren malah akan sulit terlaksana.

__ADS_1


TBC


__ADS_2