Terpaksa Menikahi Wanita Malam

Terpaksa Menikahi Wanita Malam
Berdebat


__ADS_3

Satu minggu kemudian di pagi hari. Veren kini sudah mulai membiasakan diri dengan situasi rumah yang seperti neraka jahanam itu. Uh! berlebihan memang mengartikan seperti apa rasanya rumah itu, hanya saja memang begitulah anggapan Veren. Tatapan mata yang tajam dari Ibu mertua dan seniornya, hinaan, bahkan sindiran juga setiap hari terdengar jelas di telinganya. Marah? marah tentu, tapi melawan mereka dengan kata-kata tentu saja sudah menjadi kebiasaan bagi Veren.


" Sayang, kau mau makan salad atau sandwich? " Tanya Angel. Iya, wanita benar-benar sangat berbeda selama seminggu ini. Kenapa? karena dia sangat perhatian dengan Alex. Sementara Veren, dia lebih memilih untuk pergi setelah sarapan, lalu pulang setelah makan malam. Kemana? tentu saja berbelanja kebutuhannya. Mukai dari baju, tas, sepatu, perawatan kulit, dan masih banyak beberapa hal yang lain. Oh, bahkan dia juga lebih memilih menyimpan makanan kaleng yang ia beli sendiri karena tidak ingin banyak menelan makanan yang disediakan dari rumah itu.


" Angel, ambilkan saja sandwich. " Jawab Alex dengan wajah datar, tapi tatapan matanya selalu terarah kepada Veren meski sembunyi-sembunyi ia lakukan.


" Ok, sayang. " Seperti yang di pinta Alex, Angel mengambil satu sandwich untuk Alex, dan tak lupa juga menuangkan susu ke gelasnya.


Veren tersenyum dengan tingkah Angel yang jelas sekali sedang dibuat-buat.


" Aku pikir hanya model saja, ternyata memiliki bakat akting yang lua biasa. " Gumam Veren lalu menggigit sandwich yang baru saja ia ambil.


" Jangan merusak nafsu makan ku yang sedang bagus! " Ucap Ibu Mila, tatapannya tentu saja masih sama. Tajam, seperti singa yang sedang menandai mangsanya.


" Ck! " Veren menusukkan jari kelingking ke dalam lubanh telinganya, memutar nya beberapa kali.


" Barusan itu ada suara ya? " Tanya Veren dengan nada mengejek. Tentu saja Ibu Mila kesal, begitu juga dengan Angel. Sementara Alex, pria itu masih memasang wajah datarnya.


" Aku dengar, kau hanya lulus sekolah menengah pertama ya? ckckck... pantas saja sikap dan perilaku mu itu seperti preman jalanan. " Ibu Mila memicingkan matanya lalu tersenyum mengejek.


Brak....!


Veren menggebrak meja. Tentu semua orang terkejut dengan aksi gila Veren di waktu sarapan.


Tatapan Veren menajam, bibirnya sedikit gemetar seolah menahan amarah yang begitu sulit untuk dikendalikan oleh dirinya.


" Menurutmu, kenapa aku hanya lulus sekolah menengah pertama? "


Ibu Mila sebenarnya lumayan tertekan dengan tatapan tajam Veren, tapi walau bagaimanapun, dia adalah Ibu mertua yang seharusnya dia hormati, maka tentu saja dia tidak akan mengalah begitu saja.

__ADS_1


" Tentu saja karena orang tuamu enggan membiayai sekolah anak yang tidak tahu malu sepertimu. "


Veren tersenyum mengejek dengan tatapan yang masih tajam.


" Akan kuberi tahu, aku memang hanya sekolah sampai menengah pertama, orang tuaku juga meninggal karena hal yang bersangkutan, tapi, mereka selalu mencintaiku, menyayangiku, melindungi ku sampai maut membawanya jauh dariku. Dan kau tahu siapa penyebab itu semua? " Veren mengepalkan kedua tangan menatap tajam dan marah ke wajah Ibu Mila.


" Ma, mana aku tahu! memang aku Tuhan yang bisa mengetahui hidup manusia tidak penting sepertimu. "


" Kau memang tidak tahu apapun, dan kau juga tidak perduli apapun. Dari awal, kau.. " Veren menghentikan ucapannya karena teleponnya berbunyi. Erick?


" Babe? " Jawab Veren sengaja di hadapan mereka.


" Bagus sekali! saat ini aku sedang sangat kesal. Kirim aku banyak uang, aku ingin berbelanja lagi sampai emosiku luntur. "


" Terimakasih, Babe. "


Ibu Mila dan Angel terperangah heran. Babe? sudah gila atau apa? Sementara Alex, pria itu menahan kesal yang begitu memuncak. Dia bangkit dari meja makan saat Veren mulai berjalan pergi meninggalkan meja makan.


" Jangan ikuti aku! " Cegah Alex sebelum dia bena- benar pergi. Kesal? tentu saja Angel kesal, padahal dia sudah mengikuti saran dari Risa untuk menjadi istri yang baik dan pengertian selama seminggu ini, tapi yang dia dapatkan malah selalu penolakan. Bahkan, Alex juga selalu beralasan saat Angel mengajaknya untuk berhubungan badan. Memang, dulu dia juga sering mengelak, tapi Alex terlihat sekali ingin menghindari kontak fisik dengannya.


Alex berjalan cepat untuk menyusul Veren, setelah jarak mereka dekat, Alex meraih lengan Veren dan menarik paksa agar mengikutinya ke garasi mobil. Sesampainya disana, Alex membuka pintu untuk Veren masuk dan duduk disana. Tentu saja Veren mencoba untuk melepaskan diri, tapi tenaganya kalah jauh dari Alex. Hati boleh tangguh, tapi kalau fisik dia memang tidak sekuat hatinya. Setelah mereka sama-sama berada di dalam mobil, Alex langsung saja melajukan mobilnya tanpa mau mendengar Veren berbicara.


Satu jam kemudian.


" Turun! " Ucap Alex setelah membuka pintu mobilnya. Veren yang sudah lelah bertanya kepada Alex, akhirnya memilih aja untuk diam dan mengikuti saja apa yang ingin dilakukan oleh pria yang kini sudah menjadi suaminya.


Pantai? Veren terdiam memandangi hamparan pasir putih yang begitu bersih. Angin lauk yang berhembus mengenai wajahnya begitu terasa menyejukkan. Dalam-dalam Veren menarik nafas, lalu menghembuskan perlahan. Lain dari Veren,Alex justru terus memandangi wajah Veren dengan segala pemikirannya sendiri.


" Kenapa membawaku kesini? " Tanya Veren setelah merasa cukup tenang.

__ADS_1


" Ada yang ingin aku bicarakan. " Jawab Alex.


Veren tersenyum, tapi tatapannya masih terarah kepada gulungan ombak yang datang silih berganti.


" Untung saja ditempat seperti ini, lumayan bisa membuatku berpikir jernih. "


Alex mengalihkan pandangan, dia kini mengikuti arah pandangan Veren.


" Veren, aku tahu tujuan Ayahku menikahkan kita adalah untuk memisahkan aku dengan Angel. Tapi, aku juga bisa melihat dengan jelas. " Alex menatap Veren.


" Veren, aku tahu kau bukan wanita yang menggilai uang. Aku juga tahu, kau memiliki sesuatu yang tidak bisa kau katakan kepadaku, atau mungkin belum waktunya. Tapi, bisakah kau menghargai dirimu sendiri? maaf jika aku lancang, tapi bisakah kau jangan seperti ini? "


Veren menoleh ke arah Alex.


" Apa maksud mu? "


" Veren, aku tahu kau tidak nyaman dengan situasi ini. Tapi bisakah jangan memiliki hubungan dengan pria lain selama kita terikat dengan tali pernikahan? " Meskipun awalnya ragu-ragu, tapi niat bulatnya mampu melibas keraguan itu.


Veren tersenyum tipis lalu kembali menatap ombak yang datang lagi menerpa hamparan pasir putih.


" Apa yang bisa kau berikan kepadaku? "


" Apa yang kau inginkan dariku? " Tentu Alex tahu jika bukan uang yang diinginkan Veren, begitu juga dengan kedekatan mereka layaknya suami istri yang jelas kalau Veren juga enggan untuk melakukannya.


Veren mengepalkan kedua tangannya lalu kembali menatap Alex. Tatapan yang tidak biasa, seolah menggambarkan banyak luka yang begitu sampai kepada Alex.


" Aku bukan hanya ingin memisahkan mu dan Angel, tapi aku juga akan mencoba sekuat tenaga untuk menghancurkan mu dengan caraku. "


Alex terdiam sesaat. Jujur dadanya terasa begitu nyeri dan sesak.

__ADS_1


" Veren, apakah aku pernah menyakitimu? "


TBC


__ADS_2