Terpaksa Menikahi Wanita Malam

Terpaksa Menikahi Wanita Malam
Dirumah Tuan Haris


__ADS_3

Setelah pembicaraan selesai, Alex dan Veren kini telah sampai ke kamar. Alasan karena lengannya sakit, Alex berhasil membujuk Veren untuk membantunya mandi. Tentu saja karena merasa bersalah, Veren menuruti apa yang di inginkan Alex. Apalagi hanya perihal mandi, mandi? heh! tentu saja bukan hanya mandi yang terjadi disana. Lagi-laginkarena alasan lengannya sakit, Alex benar-benar menikmati waktu mandinya karena mendapatkan semua yang dia inginkan dari Veren.


Satu jam mereka di dalam kamar mandi, akhirnya keluarlah mereka berdua.


" Aku sungguh penasaran, kira-kira apa lagi yang di inginkan oleh suamiku? "


Alex terkekeh geli, iya dia tahu benar dia sudah keterlaluan mengenai Veren. Tapi meskipun dia sudah bergerundel seperti itu, nyatanya Veren masih saja membantunya memakai celana. Padahal Alex sendiri mengatakan jika dia bisa melakukannya sendiri. Setelah semuanya beres, mereka akhirnya sudah mulai berbaring di tempat tidur. Tak lupa, Veren meraih selimut tebal dan menyelimuti tubuh mereka


Maklum saja, Alex begitu tahan dingin berbanding dengan dirinya.


" Suami? "


" Em? "


Veren mendekatkan tubuhnya agar bisa lebih dekat dengan Alex.


" Apa kau akan benar-benar datang besok? "


Alex menyingkirkan rambut Veren yang menutupi sebagian wajahnya. Dia menghela nafas, lalu mengecup kening Veren sebelum menjawab.


" Menurut mu bagaimana? "


Veren terdiam sesaat. Sebenarnya dia sudah tidak ragu mengenai Denzo, tapi rasanya dia belum siap kalau sampai ada yang bertanya, bagaimana bisa ada Denzo, lalu menguak kembali kisah lama yang begitu menyakitkan itu.


" Suami, aku memiliki teman. Dia sangat menderita karena masa lalunya. Tapi jika satu hal terkuak, maka dia harus siap menceritakan bagaimana masa lalu itu terjadi hingga adanya hal sekarang ini. Apa pendapatmu tentang ini? "


Alex terdiam dengan segala pemikirannya. Tentu dia tahu yang di maksud Veren adalah tentang dirinya sendiri. Alex menghela nafasnya, padahal dia sudah merasa semua baik-baik saja. Dia juga sangat bersyukur karena Veren sudah tidak terlihat waspada atau membencinya dengan keadaan bibir tersenyum. Jika memang masa lalu itu melibatkan dirinya, atau bahkan dia memberikan luka yang amat dalam, bagaimana bisa dia menghadapi Veren? tapi di bandingkan itu, keyakinan akan dirinya bahwa semua salah paham, di tambah lagi nasihat Sofiana saat itu, sepertinya dia hanya perlu memikirkan bagaimana nanti dan tidak boleh terlalu larut memikirkan masa lalu yang hanya akan menggoreskan luka setiap kali menengok kebelakang.

__ADS_1


" Veren, di dunia ini tentu tidak ada manusia yang hidup tanpa masa lalu. Aku memilikinya juga, masa lalu kadang memang terasa menyakitkan, tapi apa kau tahu? yang menyakitkan bukanlah masa lalunya, tapi ingatan-ingatan akan setiap luka saat itu. Aku memang tidak tahu bagaimana perasaan teman mu, tapi yang harus diyakini adalah, semua sudah berlalu. Sesakit apapun luka saat itu, setidaknya semua adalah jalan dari Tuhan untuk di jalani. Masa lalu boleh terasa sakit, tapi biarkan masa depan mengajari bagaimana dunia ini berputar dengan dua hal. Sedih, dan bahagia. Masa lalu boleh sedih, tapi ada bahagia di masa depan. "


Masa lalu boleh menyedihkan, tapi pasti ada bahagia di masa depan?


Veren terdiam, dia memilih untuk berpura-pura tertidur. Sungguh dia semakin dilema degan dirinya. Dia kembali mengingat masa-masa menyakitkan di masa lalunya. Tentu aja rasa bahagia dan sedih selalu datang beriringan. Tapi di bandingkan itu semua, dia merasa jika kebahagiaan itu begitu pelit Tuhan memberinya.


Alex juga terdiam. Dia tahu jika Veren sengaja berpura-pura tidur, jadi Alex tidak lagi bertanya kepada Veren.


" Veren, maafkan aku. "


Pagi harinya.


Seperti yang sudah direncanakan, Angel, Ibu Mila, Alex dan Veren berangkat untuk mendatangi rumah Tuan Haris. Awalnya Alex sangat malas untuk ikut, tapi saat Veren juga mengatakan akan datang, maka dia tidak punya pilihan lain selain mengikuti Veren pergi.


" Sayang, aku berangkat bersama dengan mu ya? " Pinta Angel saat mereka kompak berjalan menuju ke bagasi mobil.


" Aku tahu, Veren bisa bersama dengan Ibu kan? "


" Tidak bisa,Veren harus menjaga lenganku. " Tak bicara lagi, Angel hanya bisa menatap Alex dan Veren yang masuk ke dalam mobil. Padahal yang mengemudi Veren, bukanya dia juga bisa mengemudi? apakah Alex sengaja mencari alasan?


" Berhentilah memandangi mereka, nanti akan ku bantu mendapatkan perhatian Alex kembali, sekarang kita harus fokus dengan urusan ini dulu. " Ucap Ibu Mila lalu masuk ke dalam mobil. Tak menjawab, tapi Angel hanya bisa mengikuti saja apa yang dikatakan Ibu mertuanya. Padahal, mobil pribadi milik Ibu Mila adalah mobil mewah yang bisa menampung Veren dan Alex juga, apa begitu tidak sudi nya Alex dekat dengannya?


Hampir satu jam waktu yang mereka habiskan diperjalanan, sekarang sampailah mereka di kediaman Tuan Haris Dardan. Karena sudah mengenali kendaraan Alex selaku anak dari Tuannya, penjaga langsung saja membukakan pintu gerbang utama dan disusul oleh mobil Ibu Mila dibelakangnya.


Sesampainya disana Ibu Mila mematung sejenak menatap rumah milik matan suami beserta istrinya. Sudah lama sekali dia tidak menginjak halaman rumah itu, sekarang ada juga masanya dia akan masuk. Ibu Mila menghela nafasnya, kesal itulah yang dia dapatkan saat terus memandangi rumah itu. Kenangan-kenangan ya.g tidak mengenakkan seolah memprovokasi dirinya sendiri untuk marah.


" Ibu? " Panggil Angel yang merasa aneh karena Ibu mertuanya malah terdiam begitu.

__ADS_1


" Ayo kita masuk. " Ucap Ibu Mila. Ini juga pertama kali bagi Angel mendatangi rumah Ayah mertuanya. Memang tidak sebesar rumah yang dia tinggali, tapi kalau dilihat dari semua furniture rumah itu, harganya pasti jauh lebih mahal dari rumah yang dia tinggali bersama Ibu mertua dan suaminya.


Kedatangan yang tiba-tiba tanpa kabar, tentu saja membuat seisi rumah terkejut. Tapi untunglah ini adalah hari minggu, semua anggota keluarga lengkap ada dirumah.


" Ibu, mereka semua datang. " Ucap Sofiana setelah membuka pintu kamar Nyonya Nehra.


Nyonya Nehra yang kebetulan hari ini tidak enak badan, hanya bisa mengeryit menatap putrinya sembari berbaring di tempat tidur.


" Siapa nak? "


" Ibunya kak Alex, istrinya, dan kak Veren. "


Nyonya Nehra mengangguk mengerti. Sepertinya keberadaan Denzo benar-benar membuat mantan istri dari suaminya tidak tenang. Nyonya Nehra bangkit dari posisinya meski dia masih merasa pusing.


" Ibu, aku hanya memberi tahu saja. Ibu tidak perlu menyambut wanita itu. "


" Tidak apa-apa, sayang. "


Sementara di ruang tamu. Alex dan yang lain kini tengah duduk bersama Tuan Haris yang baru saja sampai setelah di beri tahu oleh salah satu pelayan rumahnya.


Lumayan lama Tua Haris menatap Veren. Iya dia binginh harus bagaimana, tapi mau menyembunyikan sampai kapan? toh, semua akan terbongkar juga.


" Ibu! "


Baru saja Tuan Haris membatin, Denzo dari kejauhan memanggil Veren dan sudah berlari ke arahnya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2