Terpaksa Menikahi Wanita Malam

Terpaksa Menikahi Wanita Malam
Bertemu Deniza


__ADS_3

Dengan kedua tangannya yang gemetar, Alex memeluk erat tubuh putranya yang baru saja dia ketahui. Dia bahkan tidak tahan lagi menahan air matanya, dan kembali menangis tersedu-sedu. Entah bagaimana menjelaskan apa yang dirasakan hatinya. Bukan haha sekedar kecewa semata, tapi seperti ada rasa marah. Marah, karena kehilangan banyak momen bersama anak-anaknya. Untuk pertama kali dia mengetahui jika dia sudah memiliki anak, tapi pertama kalinya dia memeluk anaknya saat dia sudah berusia tujuh tahun. Tentu saja dia sangat menyesal karena tidak tahu bagaimana wajah anak-anaknya saat bayi, balita, hingga tumbuh sebesar sekarang ini.


" Maaf, maafkan Ayah yang tidak berguna ini. Maaf, karena tidak bersamamu, menjagamu, dan juga adikmu. Maaf. "


Denzo tadinya tak merasakan apapun saat pertama kali memeluk tubuh Alex. Tapi saat dia mendengar kata-kata barusan, dia menjadi tidak tahan untuk tidak menangis. Denzo mengeratkan pelukannya, dia juga membiarkan saja airmatanya jatuh membasahi baju yang dikenakan sang Ayah. Alex tentu menyadari jika putranya menangis, maka dia mengurai pelukannya, mencium kedua tangan Denzo, bahkan seluruh wajah anak itu, lalu kembali memeluknya.


" Ayah, sebenarnya Deniza pernah mengatakan sesuatu padaku. "


Alex menyeka air matanya, dia mengurai kembali pelukannya, dan menatap Denzo.


" Apa yang dia katakan? "


" Deniza bilang, jika suatu hari aku bertemu dengan Ayah, dia ingin aku menyampaikan bahwa dia merindukan Ayah selama ini. Dia akan selalu meminta kepada Tuhan agar Ayah selalu baik-baik saja dan menemui kami. "


Alex mengangguk di barengi air mata yang deras menetes.


" Maaf, maafkan Ayah yang sudah sangat terlambat. "


Veren menyeka air matanya, dia berjalan mendekati Alex dan Denzo.


" Kau masih bisa menemuinya. Aku tahu, rasanya berbeda karena kau tidak bisa melihat langsung wajahnya, tapi kau pasti akan lebih tenang nanti. "


Alex mengangguk setuju. Tapi tiba-tiba dia kembali teringat dengan ucapan Veren bahwa dia pernah memohon untuk bertemu dengannya.


" Tunggu! kau bilang kau pernah memohon untuk bertemu dengan ku di saat Deniza akan meninggalkan kan? kapan? kenapa aku tidak tahu? "


Veren kini menatap Angel dan Ibu Mila yang terlihat ketakutan.


" Satu setengah tahun lalu, di malam hari yang sedang hujan deras, aku turun dari taksi yang mogok di tengah jalan. Aku berlari sekuat tenaga untuk sampai dirumah mu. Dan pada saat aku sampai, aku melihat Ibumu, dan Angel keluar dari taksi. Aku mendekati mereka dan memohon untuk bertemu denganmu karena aku melihat mereka akan masuk kedalam setelah penjaga membukakan pintu gerbang. Aku benar-benar berharap bisa memenuhi keinginan terakhir putriku. Tapi sayang, mereka justru mengusirku dengan sangat tidak berperasaan. Meskipun aku memohon, bahkan aku sampai bersujud di kaki mereka berdua, mereka justru menendang ku untuk menjauh dan tidak kembali. Aku sudah berusaha, aku terus berteriak memohon saat penjaga menahan tubuhku dan membiarkan mereka berdua masuk ke rumah dengan nyaman. Aku terus mencoba, sampai aku memanjat pagar, mengancam untuk bunuh diri di depan rumah, berteriak seperti orang gila, bahkan suaraku sampai habis hanya untuk memohon. "

__ADS_1


Alex menatap Angel dan Ibu Mila dengan tatapan marah. Jika saja tidak ada Denzo, mungkin Alex benar-benar akan menggila disana.


" Jaga ucapan mu! itu semua bukan salahku! kau datang dengan baju yang kotor, wajah yang penuh lumpur, memang siapa yang tidak akan menganggap mu orang gila dengan penampilan semacam itu?! " Kesal Ibu Mila. Iya, awal melihat Veren saat akan menikah dengan Alex benar-benar tidak menyangka kalau Veren adalah gadis yang waktu itu datang dengan penampilan berantakan.


" Jangan memarahi Ibuku! " Bentak Denzo yang tidak terima jika Ibunya di tindas.


Alex meraih tubuh Denzo dan mendekapnya.


" Jangan marah, Ayah janji ini tida akan terjadi lagi. Mulai sekarang, Ayah akan menjaga mu dan Ibu mu. "


Alex bangkit dari duduknya, tangan kirinya menggenggam erat tangan Denzo, sementara tangan kanannya merah jemari Veren dan menggandengnya untuk meninggalkan rumah Ayahnya. Baru beberapa langkah Alex melangkah, dia berhenti sejenak untuk menatap Ibu Mila dan Angel sembari mengatakan sesuatu.


" Angel, kau tahu apa posisi mu sekarang kan? " Angel megepalkan tangannya kuat. Tatapan matanya juga terlihat jelas begitu keberatan dengan apa yang dikatakan Alex.


" Ibu, terimaksih. Terimakasih karena telah menghancurkan kami. Terimakasih karena telah membuat kami menderita. "


Tanpa melihat bagaimana Ibunya bereaksi, Alex membawa anak dan istrinya pergi menjauh dari sana. Sembari berjalan Veren membalikkan wajahnya menatap Angel dan Ibu Mila. Dia tersenyum miring menatap keduanya bergantian, lalu kembali menatap ke depan.


Ibu Mila membalikkan tubuhnya untuk menatap mantan suaminya itu dengan tatapan marah.


" Kau gila?! kenapa kau melakukan ini?! "


Tuan Haris menghela nafasnya. Dia menatap Angel dan Ibu Mila bergantian.


" Bukankah sudah aku katakan sejak awal? aku tidak menerima pernikahan pertama Alex. Tentu saja aku harus menyatukan keluarga putraku yang sesungguhnya. "


" Keluarga?! apa kau lupa?! wanita itu adalah pekerja malam! entah berapa banyak pria yang tidur dengannya! jika memang anak itu adalah anaknya Alex, kau hanya perlu membawa anaknya saja kan?! "


Tuan Haris menatap dingin Ibu Mila.

__ADS_1


" Itu lebih baik dari pada menikah dengan anak dari orang licik dan tidak bermoral. "


" Haris! "


Tuan Haris tak mau lagi meladeni mantan istrinya yamg sama sekali tidak bisa diberikan masukan atau nasehat.


" Ibu, bagaimana ini? apa yang harus aku lakukan? aku tidak mau berpisah dengan Alex. " Angel menatap dengan khawatir. Tubuhnya juga sampa gemetar karenanya.


" Tidak tahu! semuanya jadi berantakan seperti ini, ini juga terjadi karena saran dari mu kan?! " Ibu Mila meraih tasnya yang terletak di sofa, lalu berjalan begitu saja meninggalkan Angel.


" Alex, biarkan aku saja yang menyetir ok? " Pinta Veren yang merasa ngeri melihat perban Alex begitu basah karena darah.


" Aku baik-baik saja, yang paling penting adalah bertemu dengan Deniza. "


" Ayah, Deniza takut dengan darah. " Ucapan Denzo barusan membuat Alex melambatkan laju mobilnya, lalu menepi setelahnya.


" Alex, aku tahu kau ingin segera sampai kesana. Tapi jika kau datang dengan rapih, Deniza pasti akan sangat bahagia melihatmu. " Bujuk Veren. Alex terdiam sesaat, lalu mengangguk.


" Kalau begitu, kita kerumah sakit dulu, lalu merapihkan penampilan mu, baru kita akan ke makam Deniza. " Ucap Veren.


Setelah mendapatkan perawatan untuk lukanya, Alex kini juga sudah rapih dengan setelan baju yang baru saja di antar oleh sopir rumahnya. Memastikan semuanya siap, Alex, Dan lainya kini sudah siap untuk berangkat ke tempat dimana Deniza dikuburkan.


Butuh waktu dua jam menuju pemakaman itu.


" Halo, princess? Ayah datang. " Ucap Alex saat dia sudah sampai di pusara sang putri. Sebuah nama yang indah terukir di batu nisan, Deniza Afunzu.


" Adik, Ayah sudah menemukan kita, kau bahagia? " Tanya Denzo.


Sayang, putri catik ku, apa kabar? maaf karena begitu terlambat membawa Ayahmu datang menemui mu. Are you happy?

__ADS_1


TBC


__ADS_2